Tampilkan postingan dengan label 1855. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1855. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (12)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin memperlihatkan wajah seorang ulama di Jawa di abad ke-19, kemungkinan di sebuah area keagamaan misalnya mesjid atau pesantren. Dia mengenakan serban, sarung kotak-kotak, baju gamis yang ditutup jubahm serta sndal jepit. Dia juga membawa sebuah kitab dan tasbih.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI cukup berhasil dalam membuat lukisan Hardouin menjadi tampak realistis. Bagian-bagian dari pakaian si ulama, hingga ke kita dan tasbihnya tampak seperti hasil fotografi. AI tetapi menambahkan kumis dan janggut putih ke Pak Kyai yang membuatnya tampak lebih matang.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah seorang Tionghia yang duduk memainkan kongahyan, sebuah alat musik gesek yang kemudian menyebar ke masyarakat Betawi, Sunda, Jawa, hingga ke Bali. Pria ini digambarkan bertelanjang dada dan bertaucang dan kelihatan sedang berada di sebuah kawasan pecinan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Secara keseluruhan AI lumayan berhasil menampilkan gambaran yang lebih realistis dari lukisan Hardouin di atas. Si pemain konghayan digambarkan seperti nyata, begitu juga pria di latar belakang, kawasan perumahan hingga ke lampion yang menggantung. Kesalahan muncul di alat penggesek yang ditampilkan seperti sepasang sumpit yang panjang.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 12 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (11)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menggambarkan seorang saudagar Arab yang tiba di sebuah pelabuhan di Jawa. Dia mengenakan baju tradisionalnya, termasuk sandal khasnya. Dia ditemani oleh seorang bujang yang membawa kotak barang milik si saudagar.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI sangat bagus dalam menampilkan detail dari pakaian yang dikenakan dua orang ini. Mulai dari serban, jubah bergaris, rompi dengan ornamen, hingga ke baju dan celana si bujang berikut sarungnya.
(klik untuk memperbesar)
Secara harfiah, judul yang diberikan Hardouin adalah "seorang budak yang sedang mandi". Tetapi yang ditampilkan kemungkinan adalah seorang pembantu, atau malah seorang wanita biasa. Saat itu mandi di sungai adalah hal yang lumrah dilakukan, dan tradisi ini masih ada hingga sekarang di beberapa tempat.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI lumayan bagus dalam menampilkan si perempuan yang sedang mandi ini sehingga terkesan sangat realistis. AI juga menggambarkan tangga kayu yang di pijak, tonggak kayu di mana dua helai pakaian menumpuk, hingga ke susunan bata yang menjadi tangga menuju ke sungai. Menariknya, AI mengubah posisi mandi si perempuan lain, dan memindahkan si lelaki dari tepi air menjauh ke atas; boleh jadi agar hasil akhirnya tidak terlalu kontroversial.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 10 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (10)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menggambarkan seorang Tionghoa yang bekerja sebagai pandai besi di Jakarta. Dia sedang menempa sebatang besi di atas paron, sementara di belakangnya ada tungku pemanas, tong berisi air untuk pendingin, serta sebuah palu gada yang tergeletak di lantai. Dia memakai pakaian yang sangat minimalis, kemungkina karena hawa panas di bengkel itu, tetapi tetap mengenakan tutup kepala yang pada zaman itu tampaknya memang "wajib" untuk banyak kalangan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan mantap menggambarkan si pandai besi ini, berikut peralatannya. AI malah menambahkan beberapa perkakas lain di latar belakang.
(klik untuk memperbesar)
Hardouin melukiskan seorang serdadu bayaran asal Afrika yang menaruh nyawa untuk membela kepentingan Belanda. Orang Jawa menyebut orang semacam ini londo ireng. Dia tampaknya berada di garis depan ketika armada Belanda mendarat di sebuah pesisir dan melakukan penyerbuan. Di belakang dia tampak seorang serdadu lain yang tewas dalam aksi militer ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup bagus menampilkan si londo ireng, hingga ke sarung yang dia selempangkan dan kilatan bayonet yang terhunus di senapannya. Tetapi sabuk, celana, dan sepatu sang serdadu terkesan modern; tentunya karena si model AI ini lebih terlatih dengan bahan-bahan masa kini daripada masa lalu. Kemudian topi yang terjatuh tidak sesuai dengan tutup kepala yang dikenakan militer Belanda saat itu.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 08 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (9)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menampilkan seorang penari ronggeng di sebuah kawasan yang ramai. Wanita ini mengenakan kemben merah dengan kain penutup pundak yang juga merah. Dia memakai kain panjang, yang dipenuhi dengan untaian aneka ragam kain-kain lain yang tampaknya menjadi ciri dari penari "jalanan" saat itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI lumayan bagus menangkap apa yang kemungkinan dulu dilihat oleh Hardouin, termasuk keramaian yang terjadi di latar belakang
(klik untuk memperbesar)
Menurut Hardouin, ini adalah penari ronggeng pria, sesuatu yang sejatinya hampir selalu dikaitkan dengan perempuan. Berbeda dengan penari ronggeng perempuan, pakaian si penari pria tampak lebih kompleks. Dia mengenakan hiasan di kepala serta di dada, membawa keris, beberapa lapis kain di pinggang, serta untaian pernik yang menjuntai dari kepalanya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini sangat bagus menampilkan si penari. Pakaian, perhiasan, dan pernak-perik digambarkan dengan sangat meyakinkan. Bahkan posisi tangan yang khas dalam tarian, juga direka dengan tepat. Menariknya, AI membuat sendiri latar belakang yang terinspirasi oleh lukisan tapi memang berbeda.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 06 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (8)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah seorang pelaut Jawa dalam gambaran Harduoin. Dia memakai semacam rompi di luar pakaian lengan panjang, serta celana panjang biru. Selain ikat kepala, dia juga membelitkan seutas kain di pinggangnya, yang a.l. digunakan untuk menyisipkan sebuah parang.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rompi dan rambut panjang membuat AI menggambarkan pelaut ini sebagai seorang perempuan. Di putaran kedua, dengan permintaan untuk mengoreksi menjadi seorang lelaki, AI mengubahnya menjadi seorang pria. AI tetapi cukup bebas untuk mengubah latar belakang laut dan perahu-perahu sehingga sudut pandangya menjadi bervariasi.
(klik untuk memperbesar)
Kemungkinan besar Hardouin menampilkan gambar dari (para) narapidana yang sedang dipekerjakan di luar tahanan dalam tugas-tugas yang memerlukan tenaga, misalnya seperti penebangan pohon sebagaimana terlihat di latar belakang. Baju yang dia kenakan kemungkinan menggambarkan pakaian para narapidana di zamannya: baju panjang, celana panjang, serta ikat kepala dalam warna biru, ditambah sarung yang tampaknya menjadi semacam asesoris wajib pria saat itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup tajam menampilkan wajah seorang pesakitan di saat kerja luar. Hanya saja, jika tanpa prompt, tiga orang yang di latar belakang diterjemahkan seperti kelompok yang sedang berburu dengan menggunakan senapan.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 04 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (7)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah lukisan Hardouin tentang seorang penari perempuan di sebuah keraton Jawa. Hardouin cukup jeli untuk menampilkan banyak detail di pakaian si penari: mulai dari penutup kepala, anting-anting, ornamen di dada, hiasan di lengan atas, ikat pinggang, hingga ke motif kain batik yang dikenakan si penari.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Cukup mengagetkan bahwa AI bisa mereka ulang detail yang dijabarkan Hardouin di lukisannya, mulai dari penutup kepala hingga ke kain batik, dan instruksi ke AI sepenuhnya tanpa prompt khusus, hanya permintaan membuat lukisan menjadi semacam foto realistis.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah penjual unggas hidup yang tampaknya menjajakan dagangannya di sebuah kawasan pecinan. Dia memikul seekor kalkun, paling tidak dua ayam kampung dan satu bebek. Si pria ini berpakaian seperti lelaki kelas bawah biasa pada zamannya: telanjang dada dan nyeker, tetapi bertutup kepala, bercelana dan bersarung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup meyakinkan untuk menampilkan si penjual unggas. Si ayam kalkun bisa terdeteksi, begitu juga bilah bambu melengkung yang menjadi pikulan di pria. Hanya ayam yang di sebelah kiri tereduksi menjadi dua ekor dalam komposisi yang berbeda dari lukisan Hardouin.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 02 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (6)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Kali ini Hardouin menampilkan pengantin Sunda, yang mengenakan pakaian dasar mirip pengantin Betawi sebelumnya, yaitu baju kurung merah dengan kain panjang berwarna ungu. Perbedaan terletak di hiasan kepala yang didominasi warna perak dengan motif seperti kuda. Kemudian tampaknya zaman dulu, pengantin perempuan Sunda mengenakan juga keris, serta membawa semacam pot bunga kecil dengan sebuah pohon di dalamnya. Sang pengantin juga tidak nyeker, tetapi memakain semacam terompah, yang juga memperlihatkan bahwa dia mengenakan celana panjang putih di balik kain ungunya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI masih kental kesan lukisannya, terutama terlihat di lelaki yang berada di latar belakang. Tetapi penyajian pakaian pengantin perempuan Sunda ini sejatinya lumayan. AI bisa mereka ulang hiasan di kepala, baju kurung dengan ornamennya, kain dengan motifnya, dsb. Kekurangan ada di keris yang terlihat menjadi mainan kayu, serta terompah yang menjadi semacam sepatu masa kini, serta hilangnya celana panjang putih.
(klik untuk memperbesar)
Hardouin tidak hanya menggambarkan manusia di Jawa, tetapi juga seorang wanita yang disebut berasal dari sekitar Palembang. Dia duduk di bebatuan di tepi sebuah telaga atau sungai besar. Pakaian wanita ini memang berbeda dari yang biasa ditampilkan Hardouin untuk wanita Jawa: kain motif tenun, bukan batik, serta sepasang baju bercorak sama yang diikat sambuk, bukan baju kurung dan kain.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI lumayan bagus dalam menampilkan corak pakaian wanita dari sekitar Palembang ini
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 31 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (5)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang "nyai" menurut Hardouin, atau pengelola rumah tangga dari sebuah rumah besar, biasanya milik warga Belanda. Seorang "nyai" memiliki status yang lebih tinggi daripada warga biasa, meski kata ini juga bermakna gundik lokal yang mendampingi seorang pria Belanda. Lokasi gambar ini kemungkinan besar di Jakarta, terlihat dari kawasan pecinan di tepi sebuah kali. Nyai ini membawa payung kertas, yang menunjukkan statusnya yang lebih tinggi, serta sepatu. Pakainnya adalah baju kurung di atas sebuah sarung, dengan kain batik coklat yang menutupi pundaknya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI bisa menampilkan dengan jelas bagaimana penampilan seorang "nyai" di abad ke-19. AI juga menggambarkan jembatan dan perumahan di latar belakang dengan cukup jelas, meskipun di aslinya cukup kabur. Tapi dia keliru menampilkan kusir dan "kernet" kereta kuda, dia mana dua-duanya digambarkan duduk di bagian belakang kereta. Kemudian, atap perahu yang segitiga juga ditampilkan bundar.
(klik untuk memperbesar)
Topeng Babakan merupakan sebuah tarian yang berasal dari kawasan Cirebon. Hardouin cukup bisa menampilkan karakter khas jalur pantai utara Jawa yang muncul di tarian ini: muncul di kalangan rakyat kecil. Ini terlihat dari jenis pakaian yang dikenakan para pria, yang bukan merupakan baju perlente atau ningrat; serta kostum penari perempuan yang diramaikan oleh gantungan dari kain-kain aneka corak, musik pengiring yang sederhana, dan tentunya pertunjukannya yang di tempat ramai terbuka, bukan di gedung atau keraton.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI mendapat kesulitan untuk menampilkan tarian ini dengan benar, sehingga perlu suntingan lebih lanjut. Secara umum, subjek lukisan bisa digambarkan dengan lumayan bagus. Tetapi, dalam tarian ini, pose tangan penari, lelaki yang ikut menari, serta pemukul gendang, bukan postur tangan yang biasa terlihat sehari-hari, sehingga AI sejatinya gagal menggambarkannya. Kemudian, AI tidak melihat bahwa hidung bundar di penari lelaki merupakan bagian dari sebuah topeng, bukan benjolan daging abnormal di kepala.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 29 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (4)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah gambaran yang disajikan Hardouin tentang seorang perempuan Jawa. Dia berdiri di dekat sebuah lapangan yang tampaknya merupakan bagian dari area kantor kepala desa yang tampak di latar belakang. Lapangannya sendiri digunakan seorang gembala untuk melepas kerbau agar merumput. Si perempuan sendiri mengenakan baju kurung panjang berwarna hitam, yang mengindikasikan kemungkinan ini wilayah Priangan, serta kain batik panjang, dan selendang di atas pundak yang juga terbuat dari kain batik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI jitu membuat tampilan realistis dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar)
Gambaran Hardouin tentang seorang pengantin Betawi yang meski tinggal di perkampungan tetap mengenakan pakaian megah di hari pernikahannya. Dia mengenakan semacam baju kurung merah dengan ornamen keemasan, dengan kain ungu di bagian bawahnya, serta selendang biru muda di pundaknya. Kepalanya dihiasi dengan susuk bermotif bunga keemasan, sementara pundaknya digantungi banyak kalung. Yang tampkanya menjadi tradisi khas: Sang pengantin memegang banyak kunci yang tampknya memiliki makna tersendiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup menyajikan gambar di atas dengan cukup mendetail, termasuk ke model tikar, ubin, hingga ke wanita tua yang menengok ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 27 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (3)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah gambaran seorang bujang di sebuah rumah yang sangat mewah, terlihat dari ukuran tiang yang besar serta halaman yang luas, kemudian juga dari rumah tetangga yang tampak lumayan megah. Pakaian bujang ini tampak berlapis: selain kemeja putih, dia juga mengenakan semacam luaran berwarna ungu, disesuaikan dengan warna penutup kepalanya. Celana panjangnya, yang bermodel Obelix, juga ditutupi dengan kain batik sepaha, dan dikencangkan dengan kain berwarna keemasan dan hitam. Meski pakaiannya berlapis, bujang ini tetap tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup jitu menangkap apa yang disajikan oleh lukisan. Tapi si model AI tetap belum terlatih dengan jenis celana stirrup, sehingga dia menggambarkannya seperti celana biasa.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah gambaran tentang kesatuan keamanan bentukan Belanda bernama Jayeng Sekar. Anggotanya direkrut dari keturunan ningrat dari jajaran penguasa lokal. Mereka mendapat seragam seperti orang Eropa, termasuk sepatu dan pedang, seperti yang ditampilkan di lukisan di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI mereka lukisan di atas dengan banyak kebebasan. Subjek utama di lukisan ditampilkan dengan cukup meyakinkan; latar belakangnya tetapi bervariasi. Dari empat prajurit Jayeng Sekar, hanya dua yang ditampilkan; sementara formasi batu di tepi kawanan berkuda diterjemahkan sebagai sebuah gunung.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (2)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pendeta Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta. Berdasarkan gambar di atas pendeta ini , kemungkinan seorang perempuan dan penganut Taoisme. Dia memakai jubah abu-abu dengan mantel merah-hitam yang berisi berbagai ornamen. Tangannya memegang sebuah lonceng perangkat ritual keagamaan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan menyajikan komposisi yang disajikan oleh karya Hardouin
(klik untuk memperbesar)
Seorang bupati di Jawa yang diiringi seorang punakawan. Bupati ini mengenakan blangkon batik, pakaian kebesaran dengan banyak ornamen keemasan, keris yang dipasang di pinggang belakang, kain batik yang berurai hingga ke bawah lutut, serta celana yang panjang hingga ke bawah sepatu. Sang punakawan yang berbadan kerdil membawa payung kehormatan dari kertas, mengenakan blangkon, baju kebesaran, serta sarung selutut, tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup menyajikan gambaran yang realistis, kecuali celana dan sepatu bupati yang ditampilkan seperti zaman sekarang, dan bukan model stirrup pants yang menutupi sebagian sepatu.
(klik untuk memperbesar)
  
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 23 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (1)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pemuka warga Priangan dalam pakaian berburu. Pakaian ini terdiri dari topi caping pipih di atas blangkon, kemudian naju kebesaran berkerah tinggi dengan banyak ornamen keemasan, serta kain batik yang dikencangkan dengan kain bebat di pinggang. Dia juga memakai semacam pelindung betis dan kaki berwarna merah-kuning, tapi tanpa alas kaki. Kudanya kemungkinan besar yang sedang dipegang pawangnya di sebelah kiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI yang cukup mendekati komposisi aslinya, meski alas kakinya memiliki variasi.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kuli, kemungkinan di sebuah gudang barang di kawasan pecinan, berdasarkan model bangunan yang berada di latar belakang. Kuli ini duduk di atas sebuah kotak kayu, sementara seorang rekannya tampak berbincang dengan seorang yang berbaju lebih perlente yang mengindikasikan posisi sosial yang lebih tinggi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini secara keseluruhan bisa menangkap apa yang ditampilkan Hardouin di lukisannya. Hanya saja AI membaca "FH" bukan "EH" di kotak yang diduduki sang kuli, dan mengubah font-nya. Kemudian AI juga menempatkan kaki si kuli menapak di tanah, bukan menggantung, serta mengubah postur tangan kirinya. AI juga menambah genteng di bangunan di sebelah kiri belakang yang sejatinya tidak ada di lukisan.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: sekitar 1855 
Tempat terbit: Paris 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: