Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (2)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Keluarga Keraton Kanoman di tahun 1931: Samsoedin memperlihatkan ayahnya (Sultan Anom?), ibunya, dan saudara-saudaranya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Acara ulang tahun keponakan Samsoedin, anak dari Mochtar, yang bernama Otje
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang menunjukkan Samsoedin bersama teman-teman sekolahnya di MULO-C, saat lebaran 1931, serta bersama mobil dan anjing herder di 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara a.l. ke Surabaya, Mojokerto, dan Pantai Popoh di Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan Samsoedin bersama ayah, ibu, dan saudara mengunjungi Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, serta acara sekaten di Solo dan Yogyakarta, di samping Pasar Gede dan Sriwedari, Solo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keluarga Samsoedin di Jakarta; di bagian atas ada tiga foto yang lepas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Jakarta, Magelang, Mojokerto, Semarang, Solo, Tulungagung, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 08 Oktober 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (10)

Kemungkinan pantai selatan Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawanan sapi di sekitar kawasan Ijen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Nelayan di Popoh (Tulungagung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Popoh (Tulungagung)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Jawa Timur (a.l. kawasan Ijen, Tulungagung)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 4 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 20 Maret 2022

Foto-foto keluaran studio Kurkdjian di album milik J.J.A. van Meel (1)

Jilid album; meski bejudul Java, album ini berisi juga foto dari Bali dan Sulawesi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman pertama yang berisi nama dan pekerjaan pemilik album
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Ranu Klakah di Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Popoh, Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Trenggalek
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Ijen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: sekitar 1910-an
Tempat: Ijen, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 4 dan 5 pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 24 Agustus 2021

Dari album foto "Herinneringen aan Java 1913-1919": Pantai selatan Jawa di Trenggalek dan Tulungagung

PENGANTAR

National Gallery of Australia membeli banyak koleksi foto dari Leo Haks. Salah satunya adalah sebuah album foto berjudul Herinneringen aan Java 1913-1919 (Kenang-kenangan tentang Jawa 1913-1919) yang memuat 39 foto yang tampaknya keluaran studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya. Album ini banyak berisi foto dari kawasan Jawa Timur serta tentang hasil bumi, yang mengindikasikan bahwa pemiliknya kemungkinan adalah seorang Belanda yang aktif di bidang perkebunan/kehutanan di Jawa Timur dari tahun 1913 hingga 1919. Album ini juga berisi beberapa foto dari kawasan Priangan, Borobudur, Jogjakarta dan malah Sulawesi, yang kemungkinan menunjukkan wilayah lain di Nusantara yang pernah dikunjungi si pemilik album ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Trenggalek
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai Popoh, Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Rawa-rawa di Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Trenggalek
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1913 dan 1919
Tempat: Tulungagung dan Trenggalek (Jawa Timur)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 21 Mei 2020

Warisan Kartini: Sekolah Kartini di Bandung, Semarang, Tulungagung

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Sekitar 1930-an: Seorang biarawati membagikan buku di Sekolah Kartini di Bandung
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Sekitar 1930-an: Beberapa murid Sekolah Kartini di Bandung bersama seorang biarawati
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Tanpa catatan tahun: Para guru di Sekolah Kartini di Semarang
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Antara 1937-1939: Sekolah Kartini di Tulungagung
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Waktu: 1930-an
Tempat: Bandung, Semarang, Tulungagung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Minggu, 23 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Tulungagung, 1902

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Paling tidak ada tiga kandang harimau di sini, di mana kandang yang tengah tampak berisi si raja rimba
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Enam kandang harimau terlihatdi alun-alun ini, sementara si macan sendiri terlihat sedang berlari di alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1902
Tempat: Tulungagung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Tropenmuseum
Catatan: Foto bawah dipastikan berasal dari album perjalanan seorang Belanda bernama A.E.F. Muntz yang berada di Hindia-Belanda dari Maret 1901 hingga ke Juli 1902; sementara foto atas muncul tanpa keterangan, tetapi boleh jadi berasal dari A.E.F. Muntz juga. Di foto bawah tampak juga gerbang Tionghoa yang didirikan untuk perayaan Imlek.

Senin, 17 Desember 2018

Perayaan Imlek di alun-alun Tulungagung, 1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: kemungkinan Februari 1902
Tempat: Tulungagung
Tokoh:
Peristiwa: Foto ini berasal dari album perjalanan seorang Belanda bernama A.E.F. Muntz yang berada di Hindia-Belanda dari Maret 1901 hingga ke Juli 1902. Foto ini diberi catatan nieuwjaarsfeesten (perayaan tahun baru) dan Chinese erepoort (gerbang Tionghoa). Kemungkinan ini adalah bagian dari perayaan Imlek di tahun 1902 M, yang jatuh di bulan Februari.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: