Tampilkan postingan dengan label nasionalisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasionalisasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1957 (2)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
5 Desember 1957: "Drama tanpa kata"
Karikatur ini menggambarkan bahwa tindakan Soekarno untuk memangkas perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia hanya akan membuatnya jatuh ke pangkuan Mao Zedong dan Nikita Khrushchev dengan genggaman komunismenya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
7 Desember 1957: "Lampu ajaib Aladin: Memanggil (jin) lebih mudah daripada mengendalikannya" ditambah kutipan dari karya Goethe Der Zauberlehrling: "Arwah yang aku panggil tidak akan lepas dariku"
Karikatur ini menggambarkan bahwa kemarahan rakyat Indonesia, yang dipanas-panasi Soekarno dalam hal Irian Barat, akan membesar dan tidak bisa dikendalikan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
12 Desember 1957: "Menteri yang bertobat 'Tidak ada lagi makanan dan pakaian mewah!'"
Potongan koran menyebutkan bahwa "Soekarno, yang pertama kali muncul ke publik setelah percobaan pembunuhan tanggal 30 November, mengatakan akan ada kekurangan bahan pangan dan pakaian di masa depan, tetapi rakyat Indonesia harus tetap mempertahankan jiwa revolusinya."
Di sekeliling Soekarno ditampilkan rakyat Indonesia yang memang sudah tidak punya makanan dan pakaian yang melimpah.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
14 Desember 1957: "Orang yang akan tertimpa kelapa"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana tentara berusaha mencegah Soekarno dari menggoyang-goyangkan pohon agitasi untuk mencegah dia tertimpa kelapa Mao Zedong dan Nikita Khrushchev.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Leendert Jurriaan Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 07 Januari 2019

Corat-coret dukungan atas seruan Soekarno untuk menasionalisasi aset Belanda, 1957

Coretan "Hidup Sukarno" di kaca etalase sebuah perusahaan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Coretan "Hidup Konsepsi Bung Karno" di dinding Escompto Bank N.V.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Coretan "Hidup Konsepsi Bung Karno" dan "Hidup Revolusi '45" di etalase bertuliskan Philips
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kaca pecah di etalase yang memperlihatkan Sinterklas dan pemandangan salju
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1957
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ada kemungkinan foto terakhir berasal dari peristiwa yang lain.

Jumat, 29 November 2013

Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, sekitar 1957

Jack Garofalo | Paris Match via Getty Images
Jack Garofalo | Paris Match via Getty Images
Jack Garofalo | Paris Match via Getty Images
Waktu: sekitar 1957/1958
Tempat: Jakarta (?)
Tokoh:
Peristiwa: Beberapa aset milik perusahaan-perusahaan Belanda diambil alih dan dicoreti grafiti.
Fotografer: l.d.a.
Sumber / Hak cipta: l.d.a.

Update tanggal 28 Maret 2014

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 15 Desember 1957
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Pengepungan Bank Escompto menyusul pencanangan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda (bandingkan dengan gambar kedua di atas).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: United Press

Rabu, 17 April 2013

Warga Belanda meninggalkan Indonesia, 1957

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: Desember 1957
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa: Warga Belanda meninggalkan Indonesia setelah suasana anti Belanda merebak, mulai dari nasionalisasi beberapa perusahaan Belanda, yang beberapa tahun kemudian disusul oleh pencetusan Trikora, serta perang terbuka di wilayah Papua.
Fotografer: James Burke
Sumber / Hak cipta: Time Life
Catatan:


UPDATE:
Deskripsi posting ini direvisi berdasarkan masukan di bawah ini.

Senin, 14 Januari 2013

Grafiti anti Belanda di masa nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, 1957

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 17 Desember 1957
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa: Gedung Borsumij, salah satu dari 5 perusahaan besar milik Belanda di Indonesia, dipenuhi coretan anti-Belanda menyusul pencanangan proses nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis