Tampilkan postingan dengan label Gedung Harmonie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gedung Harmonie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang persimpangan Harmoni

Kesibukan, sejatinya ketenangan, di tempat yang sekarang menjadi persimpangan Harmoni
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1845
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tak berwarna dari lukisan di atas pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 29 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (9)

Salah satu sudut kota Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Perempatan Harmoni dengan "lapak" penjahit Perancis ternama di Jakarta ketika itu, Oger Frères, di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah jalan di Jakarta yang kemungkinan sekarang menjadi Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sebuah kampung di, saat itu pinggiran, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Selasa, 25 Februari 2025

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (5b - Jakarta)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.


Keramaian di Ryswyk, sekarang Lapangan Banteng, di mana warga Eropa dan Tionghoa berjalan dipayungi, menaiki kuda, atau mengendarai kereta kuda
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Persimpangan Harmoni, dengan pemandangan warga Erop berkuda atau menaiki kereta, sementara warga lokal berkerumun di beberapa sudut
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kawasan yang menghubungkan sungai dan laut, kemungkinan di Pintu Besar, yang sibuk dengan perahu nelayan serta perahu angkut beratap datar yang bentuknya masih bisa ditemui hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar: Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 03 Agustus 2021

Jakarta dalam lukisan Charles Theodore Deeleman, 1859-1860 (1)

PENGANTAR

Charles Theodore Deeleman adalah seorang insinyur Belanda yang memiliki bengkel besi di Batavia. Deeleman lahir di Amsterdam pada tahun 1823, dan wafat di Batavia di tahun 1884. Selain sebagai insinyur, Deeleman juga dikenal sebagai pakar irigasi, dan pelukis. Blog ini akan menampilkan beberapa karyanya.
Dan kalau nama Deeleman sangat mirip dengan kata delman, ini tidak mengherankan. Model atau konstruksi dokar/sado/bendi yang ada di Jakarta dan sekitarnya merupakan kreasi sang insinyur ini.


De Uitkijk Post, sekarang bernama Menara Syahbandar di kawasan Sunda Kelapa
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Gerbang dari area kastil/benteng Batavia, dekat Jalan Tongkol sekarang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Kawasan pecinan di Pintu Kecil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Perempatan yang kemudian dijuluki Harmoni, dengan Gedung Harmonie di sebelah kiri dan lapak penjahit masyhur milik orang Perancis, Oger Frères di sebelah kanan tengah
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat antara tahun 1859 dan 1860
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Charles Theodore Deeleman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 01 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Beberapa tempat dan hal yang kelak menjadi ikon

Sekitar 1880: Patung Gajah di depan Museum van het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, kelak Museum Nasional
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Meriam Si Jagur, sebelum pindah ke museum
(klik untuk memperbesar | © NGA)

19 Februari 1889: Koningsplein, atau Lapangan Gambir, kelak menjadi Lapangan Monas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Areal Kebun Binatang Cikini (dierentuin) sebelum dipindahkan ke Ragunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Hotel des Indes
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Gedung Harmonie (kiri) dan lapak penjahit masyhur milik orang Perancis, Oger Frères (kanan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Cikal bakal Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880 (foto nomor 1), 1889 (foto nomor 2, 3, 4)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 09 Agustus 2019

Jakarta 1860-an: Bangunan dengan arsitektur kolonial

Paleis te Rijswijk, cikal bakal Istana Negara
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pertokoan di sekitar Harmoni
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Gedung Harmonie (kiri) dan lapak penjahit ternama milik orang Perancis bernama Oger Frères (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Paleis van Deandels, sekarang Gedung A.A. Maramis di Kementerian Keuangan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kantor dan gudang perdagangan di Kali Besar
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860-an
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Woodbury & Page | Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 9 Oktober 2020

Sebelumnya posting ini menyebut foto ini sebagai "Monumen Michiel di Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng", sesuai dengan informasi dari KITLV. Penelurusan lebih lanjut menunjukkan bahwa tugu ini sejatinya adalah Monumen Michiels di Padang, yang didirikan pada tahun 1855. Memang ada konstruksi yang mirip di Lapangan Banteng, tetapi lebih pendek. Monumen di Padang ini sekarang sudah tidak bersisa karena dihancurkan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.

Monumen Michiels di Padang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

UPDATE 14 Oktober 2020: Deskripsi foto pertama "Kantor Gubernur-Jenderal, cikal bakal Istana Merdeka" sekarang sudah dikoreksi.

Selasa, 20 Mei 2014

Gedung Harmonie di tahun 1911

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1911 (atau sebelumnya)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
-  Gedung Harmonie mulai dibangun di tahun 1810 dan digunakan sebagai tempat berkumpul dan berpestanya orang Belanda.
- Di foto di atas tampak "lapak" penjahit Perancis ternama di Jakarta ketika itu, Oger Frères.
- Gedung Harmonie dirubuhkan di tahun 1985 demi pelebaran jalan. Masyarakat Jakarta sampai sekarang tapi masih menyebut kawasan itu sebagai "Harmoni".


Update tanggal 6 Juli 2014
(klik untuk memperbesar © gahetna)
Foto di atas, tampaknya lebih tua dari foto sebelumnya karena belum memperlihatkan adanya jalan trem.