Tampilkan postingan dengan label 1850-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1850-an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Mei 2023

Serakan foto dari berbagai fotografer (3)

<1940: Sebuah kompleks gedung pemerintahan yang tampaknya baru rampung dibangun
(klik untuk memperbesar | © Studio Asahi & Co. / NGA)
<1940: Seorang pria Eropa di depan rumah panggungnya, dengan mobil kebanggaan dan anjing-anjing kesayangan
(klik untuk memperbesar | © Studio Asahi & Co. / NGA)
<1940: Kemungkinan Cibodas
(klik untuk memperbesar | © Studio Nikko / NGA)
1930-an: Sebuah desa di Kintamani dengan latar belakang Gunung Batur
(klik untuk memperbesar | © Edgar / NGA)
Bali, ~1948: Ibu dan anak di atas sebuah jembatan
(klik untuk memperbesar | © Brandt / NGA)
1850-an: Seorang bangsawan Jawa bersama anak dan abdi dalem-nya
(klik untuk memperbesar | © Auguste van Pers / NGA)

Waktu: a.l. 1850-an, 1930-an, 1948
Tempat: a.l. Cibodas (Bogor), Bali, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer / juru gambar: Studio Asahi & Co. | Studio Nikko | Edgar | Brandt | Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 02 Agustus 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: para pria lagi

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Kuli (pelabuhan?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pandai besi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Petani (?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pedagang unggas
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 31 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: Para priyayi

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Seorang bupati
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Abdi dalem
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Seorang menak dengan pakaian untuk berburu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Aristokrat Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 29 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: para perempuan

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Seorang "nyai"
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pengantin Sunda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Wanita mandi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pengantin Betawi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Perempuan Palembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Perempuan Jawa (Barat?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1850-an
Tempat: Jakarta, Jawa, Palembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 27 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: Para pria

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Ulama
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kelasi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
"Jayeng sekar", pasukan kavaleri pribumi di bawah komando Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kelasi, dengan latar belakang hitam putih
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 25 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya dalam lukisan warna Ernest Hardouin: pendatang

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Saudagar Arab
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pendeta Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pemain "kong a hian"
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Serdadu dari Afrika
Catatan: Belanda mengerahkan tentara seperti ini untuk melawan Pangeran Diponegoro dan para prajuritnya.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Orang Eropa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 23 Juli 2018

Manusia di Jawa dan sekitarnya di tahun 1850-an dalam lukisan warna Ernest Harduoin: penari

PENGANTAR

Foto-foto hitam-putih dari zaman dulu tidak mengabarkan warna sebenarnya di balik skala abu-abu yang ditampilkan. Warna langit, daun, atau rumput tentu mudah ditebak; tetapi warna pakaian tidak semudah itu untuk diterka. Untung ada gambar warna-warni dari para pelukis zaman dulu. Tentu saja selalu ada kemungkinan bahwa si pelukis menampilkan warna pilihan dia yang berbeda dari yang sebenarnya, tapi paling tidak gambar seperti ini bisa memberikan bayangan tentang seperti apa zaman kelihatannya.

Salah satu pelukis itu adalah Ernest Hardouin yang mewariskan beberapa gambar dari sekitar tahun 1850-an. Hardouin tampak sudah menggambarkan proporsi manusia di Nusantara yang mendekati kenyataan, alias pendek; tidak seperti pelukis Eropa sebelumnya yang cenderung menampilkan manusia Nusantara jangkung seperti orang Eropa. Namun Hardouin kelihatannya menggambarkan orang di Jawa sehat-sehat atau cukup gizi; tidak kurus, ceking, atau tidak berisi. Boleh jadi Hardouin ingin menampilkan manusia yang estetis; bagaimanapun juga badan kurus kerontang bukanlah hal yang indah dipandang.

Selamat menikmati lukisan Hardouin!

Penari keraton
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penari ronggeng jalanan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penari topeng babakan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penari ronggeng jalanan
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1850-an
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: Ernest Hardouin
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Sabtu, 26 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (16): rumah tradisional

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa cuplikan ilustrasi dari buku ini.

rumah panggung dikunjungi ular sanca

perumahan di Dobo (Aru)

pondok Wallace di Waigeo

 
rumah adat Minangkabau
Waktu: 1856-1862
Tempat: Minangkabau, Aru, Waigeo (Papua)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

UPDATE 26 Juni 2019

Berikut sketsa tentang pasar di Dobo dalam versi yang lebih mendetails. Kita akan lihat di sebelah kiri seorang pedagang Tionghoa sedang berbincang dengan warga asli. Warga asli umumnya digambarkan berpostur Melanesia dengan pakaian seadanya. Di dekat situ terlihat kanguru yang tampaknya menjadi hewan yang biasa berkeliaran di sana.

Di bagian tengah terlihat seorang pedagang Eropa sedang berbincang dengan dua warga asli. Di latar belakang tampak pula ada seorang dengan sorban yang mungkin menggambarkan pedagang Arab.

Yang terlihat banyak adalah orang dengan topi caping atau ikat kepala yang tampaknya menunjukkan pedagang atau pendatang dari bagian lain wilayah Nusantara.

(klik untuk memperbesar)

Kamis, 24 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (15): perkakas

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa cuplikan ilustrasi dari buku ini.

sauh kayu (Makassar)

tongkat sagu

pencuci sagu

tungku sagu

pencetak tembikar

sauh Melayu
Waktu: 1856-1862Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

Selasa, 22 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (14): Papua

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa cuplikan ilustrasi dari buku ini.



Waktu: 1856-1862Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

Minggu, 20 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (13): Lombok dan Timor

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa cuplikan ilustrasi dari buku ini.


Waktu: 1856-1862Tempat: Lombok, Timor
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan:

Jumat, 18 November 2016

Ilustrasi dari buku The Malay Archipelago karya Alfred Wallace (12): peta Aru, sebagian Maluku, Halmahera, dan sekitarnya

PENGANTAR

Bagi dunia ilmu pengetahuan nama Alfred Russel Wallace disejajarkan dengan Charles Robert Darwin, yang bukan hanya hidup senegeri dan sezaman, tapi juga menggeluti bidang ilmu yang sama. Namun tidak dapat disangkal bahwa Darwin jauh lebih dikenal dan diperdebatkan. Padahal karya utama Wallace, yaitu The Malay Archipelago berisi terobosan-terobosan ilmiah yang kemudian menelurkan istilah garis Wallace dan efek Wallace. Buku yang pertama kali terbit tahun 1869 ini (dan masih diterbitkan hingga sekarang!) merupakan hasil perjalanan dan penelitian Wallace tujuh tahun di wilayah Nusantara dari tahun 1856 hingga 1862.

Berikut beberapa peta dari buku ini.

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1856-1862
Tempat: Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: The Malay Archipelago
Catatan: