Tampilkan postingan dengan label 1947. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1947. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2026

Warga di sebuah wilayah di timur Indonesia menyambut kedatangan aparat NICA, 1947

Warga mengenakan pakaian terbagus mereka untuk menyambut kedatangan aparat NICA
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 18 Januari 1947
Tempat: kemungkinan besar Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 19 Juni 2026

Aksi Polisionil 1: Pasukan Belanda memasuki wilayah Driyorejo, Gresik, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 27 Juli 1947
Tempat: Driyorejo (Gresik) 
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 03 Juni 2026

Tentara Belanda membaca koran "Kompas", 1947 (18 tahun sebelum surat kabar Kompas terbit)

Seorang tentara Belanda tanpa baju membaca koran "Kompas" dengan kepala berita "This is America!", di sebelah sebuah rumah berdinding anyaman bambu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 8 Februari 1947
Tempat: kemungkinan Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:  Bentuk huruf koran ini mirip dengan harian berbahasa Indonesia yang mulai terbit 18 tahun kemudian, berbeda di posisi kemiringan saja. Di kalangan Katolik Belanda, atau dalam pengaruh Belanda, tampaknya nama "kompas" dan/atau bentuk huruf ini relatif disukai. Lihat misalnya tampilan koran ini, atau berita tentang media ini.

Senin, 01 Juni 2026

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua 1944/1945 (13)

Biak, Juli 1945: Letnan KNIL bernama Abdul Rivai menyambut kedatangan tim medis Amerika di sebuah kamp yang dijadikan "Rumah Sakit NICA"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Juli 1945: Latihan penggunaan senapan yang diberikan kepada para prajurit yang tampaknya didatangkan Belanda dari Hindia-Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antrean makan para prajurit
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
15 Maret 1947: Seorang tentara Belanda dengan latar belakang Danau Sentani
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Papua (a.l. Biak)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 05 Maret 2026

Prof. Hussein Jayadiningrat memimpin sidang Komisi Indonesia Serikat, 1947

Prof. Hussein Jayadiningrat (berdiri memegang kertas) berbicara di sebuah sidang Komisi Indonesia Serikat. Komisi ini diprakarsai pihak Belanda untuk mendorong pembentukan negara Republik Indonesia Serikat untuk memperkecil peranan Republik Indonesia.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 4 November 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 15 Februari 2026

Sebuah kesatuan tentara Belanda menyusun barak militer di Jawa, 1947

Sebuah kesatuan militer Belanda membongkar pasokan logistik yang tampaknya amunisi dan persenjataan. Di latar belakang tampak beberapa truk tentara di dekat sebuah bangunan bertingkat. Di pojok kanan bawah tampak dua bocah menatap ke kamera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 13 Februari 2026

Patroli jalan kaki sebuah kesatuan militer Belanda di Jawa, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 11 Februari 2026

Pasukan Belanda bersenjata menjaga stasiun kereta api Klender, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Klender (Jakarta Timur)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 07 Februari 2026

Amunisi dan senjata sisa Inggris dan Jepang yang disita Belanda dari para pejuang kemerdekaan Indonesia, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa: Sebuah gerobak yang tampaknya digunakan oleh para pejuang kemerdekaan untuk mentransportasikan beberapa amunisi dan persenjataan. Di kotak kayu dengan tulisan "SABOEN TJOETJI" (tampaknya ditimpa dengan huruf "MANDI") tampak ada kotak peluru, salah satunya diangkat dan bertuliskan "WINCHESTER". Di belakang dan sekitarnya tampak beberapa selongsong yang bertuliskan Kanji.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 26 Januari 2026

Bom udara Jepang yang digunakan para pejuang untuk meranjau sebuah jembatan tetapi gagal meledak, 1947

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan besar 1947 semasa Aksi Polisionil 1
Tempat: Jawa (?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 10 Januari 2026

Mengungsi semasa Perang Kemerdekaan, 1947

Jawa Tengah, 1947: Sebuah keluarga dengan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan mengungsi dari wilayah pertempuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Keluarga yang sama, difoto dari belakang, dengan seorang tentara Belanda mendekap anak lelaki tertua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Satu bayi di ayunan dengan baskom penampung air di bawahnya, dikelilingi beberapa anak-anak dan ibu-ibu di antara tumpukan barang-barang. Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah para "pengungsi Tionghoa", yang tampaknya deskripsi yang keliru.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 06 Januari 2026

Anak-anak semasa Perang Kemerdekaan, 1947

Sebuah poliklinik beralas rumput yang dikelola Belanda dengan para pasien yang terdiri dari anak-anak lelaki tanpa baju dengan balutan dan perban di kaki
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah yang tampaknya untuk anak-anak perempuan, dengan ibu guru berkain dan tanpa alas kaki, serta pengawasan seorang suster (?) Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 04 Januari 2026

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (31)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Surabaya, November 1945: Tiga warga Tionghoa dan seorang pembantu (?) yang menggendong anak, mengungsi dari rangkaian pertempuran yang melahirkan Hari Pahlawan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1947: Seorang wanita Tionghoa bersama dua anak kecil mengungsi ke wilayah yang dikuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jawa, 1947: Teks foto menyebutkan bahwa para pria Tionghoa ini menceritakan pengalaman mereka semasa berada di bawah kekuasan para pejuang kemerdekaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sementara edisi lain dari foto yang sama disertai dengan teks bahwa para pria Tionghoa ini meminta bantuan militer Belanda untuk membebaskan sejawat mereka yang disekap para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Jawa (a.l. Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga foto-foto lain di rangkaian yang dimulai di posting ini.

Rabu, 31 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (28)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Soerabaya: Vluchtelingen van de Indonesische Terreur, afkomstig van Madoera.
  • Terjemahan:Surabaya: Para pengungsi asal Madura [yang mencari perlindungan] dari teror Indonesia
  • Bahasan: Teks dan foto ingin menunjukkan bahwa masyarakat banyak lebih merasa nyaman di dekat para tentara Belanda (yang berdiri tanpa baju di latar belakang). Apabila melihat posisi warga di dalam foto ada kemungkinan mereka dikumpulkan di sebuah lapangan yang memang menjadi basis tentara Belanda, dan tampaknya mereka sedang mendapatkan semacam pengarahan dari pihak yang tidak tampak di foto.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 29 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (27)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Bespreking met Indonesische hoofden over bestuurszaken na bezetting door Nederlandse leger op Java na de eerste politionele actie. "Samenwerking...Waarom niet met al onze vrienden? Direct na de bevrijding werd met de dorpshoofden over de opbouw overlegd. Soms, als het gebied aan nog niet bevrijd gebied grensde, dorst het dorpshoofd niet, bang voor wraak van de "Heilsbrengers" der T.R.I. Waarom werd slechts aan enkelen in Indië gegund weer te leven bij Recht en Veiligheid?"
  • Terjemahan:Pembicaraan dengan para pemuka masyarakat Indonesia tentang masalah administrasi setelah pendudukan Jawa oleh tentara Belanda setelah Aksi Polisionil I. "Kerja sama... Mengapa tidak dengan semua teman kita? Segera setelah pembebasan [oleh militer Belanda], para pemuka desa membahas pembangunan kembali. Terkadang, jika daerah itu berbatasan dengan wilayah yang belum dibebaskan [dari kekuasan Republik], para pemimpin desa tidak berani, karena takut akan pembalasan dari "pembawa keselamatan" T.R.I. Mengapa hanya sedikit orang di Hindia-Belanda yang diberi hak untuk hidup kembali di bawah keadilan dan keamanan?"
  • Bahasan:Teks ini mengikuti pola yang biasa dipakai, yaitu 1) tentara Belanda membawa pembebasan, keadilan, serta keamanan; 2) masyarakat luas sebenarnya merasa lebih nyaman dengan kekuasaan Belanda; dan 3) TNI/TRI adalah kelompok yang menyebut diri pembawa keselamatan tetapi sebenarnya menyebar ketakutan.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (26)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Evacuatie onder Nica-bescherming. West-Java.
  • Terjemahan: Evakuasi di bawah perlindungan NICA. Jawa Barat.
  • Bahasan: Dari foto-foto tentang masyarakat sipil di Jawa yang melakukan evakuasi di masa perang, ada semacam keseragaman bagaimana mereka membawa barang-barang mereka: kaum lelaki membawa pikulan, sementara kaum perempuan membawa bundelan kain yang diselempangkan ke pinggang atau ditempatkan ke punggung. Umumnya mereka berpakaian seadanya dan tanpa alas kaki. Foto di atas lebih memperlihatkan tiga lelaki yang tampaknya membawa karung berisi hasil bumi, serta seorang perempuang yang tidak membawa apa-apa dan malah mengenakan pakaian serta sepatu rapi. Beberapa tentara Belanda di ujung jembatan yang tampak sedang mengerjakan perbaikan makin mengindikasikan bahwa foto ini sebenarnya menunjukkan sebuah jembatan yang kemungkinan dirusak para pejuang, dan pihak Belanda berusaha mereparasinya. Dan untuk sementara, warga masih bisa memakainya tetapi dengan menggunakan papan yang dipasang di antara bilah besi. Tidak ada evakuasi di sini, dan pihak ada NICA di sana dalam rangka perbaikan jembatan.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 25 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (25)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto: Het verheugde volk in gesprek met de "intelligence officier van infanterie 5". West Java.
  • Terjemahan: Kerumunan [warga] yang gembira berbincang-bincang dengan "perwira intelijen dari [kesatuan] infanteri ke-5." Jawa Barat.
  • Bahasan: Tidak ada orang yang gembira jika didatangi intelijen tentara.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 23 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (24)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:"Blijdschap bij de komst van de brengers van recht en veiligheid. De bevolking komt naar onze colonne toe en is bereid en gewillig om ons inlichtingen te verstrekken." West Java. 
  • Terjemahan: "Kegembiraan [masyarakat] atas kedatangan pembawa keadilan dan keamanan [=militer Belanda]. Masyarakat mendatangi barisan kami dan siap serta bersedia memberikan informasi kepada kami." Jawa Barat.
  • Bahasan: Sangat kentara bahwa justru tentara Belanda yang mendatangi warga dan anak-anak yang sedang berkerumun di sebuah tegalan. Dari postur dan sikap dari orang-orang yang terfoto bisa terlihat pula bahwa lebih mungkin tentara Belanda yang menanyai para warga ini, dan bukan sebaliknya masyarakat secara sukarela berbagi informasi.
  • Catatan:
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 19 Desember 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (22)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Goddank we zijn achter de democratie lijn. Nu gaat het weer zoals vroeger. Indonesische landbouwers in veiligheid gebracht. West-Java.
  • Terjemahan: Puji Tuhan, kita berada di belakang garis demarkasi [=batas antara kekuasaan Republik dan Belanda]. Sekarang [kehidupan] kembali seperti dulu. Petani Indonesia diselamatkan [dari cengkeraman Republik]. Jawa Barat.
  • Bahasan: Kemungkinan ini adalah sekedar sekelompok petani yang senang mendapatkan tumpangan gratis.
  • Catatan: 
Waktu: 1947
Tempat: Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: