Tampilkan postingan dengan label pedagang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pedagang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 September 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Gambar dari buku "Indisch Prentenboek, I. Bedienden en Beroepen" tentang tukang binatu dan tukang air

Tukang binatu, jasa laundry zaman dulu
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Tukang air, water delivery zaman dulu
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1909
Tahun peristiwa: awal abad ke-20
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Isaac Commelin
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Lihat juga gambar lain dari seri ini yang dimulai di posting ini sebelumnya.

Kamis, 03 September 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (32)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Sejawat Bob van Dijk di tenda mereka di Tanjung Perak, d.ki.k.ka.: Ancion, Smit, Princen, Obbengraf, Heinsberger, Langerhuizen
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Penjual minuman di sekitar Jembatan Merah, Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Satu pemuda Indonesia yang difoto oleh Bob tanpa ada keterangan tentang siapa dan mengapa dia diambil fotonya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesatuan zeni Belanda di Tanjung Perak dengan truk-truk besar di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga sejawat Bob di tenda yang digunakan sebagai ruang pencetakan foto, d.ki.k.ka: Princen (asal Oss), Langerhuizen (asal Eindhoven), Obbengraf (asal Zuid-Limburg)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 20 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pemandangan pesawahan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1922
Tahun peristiwa: tahun 1920-an
Tempat terbit: Belanda (?)
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan di atas merupakan pemandangan yang sangat khas di Jawa: langit cerah, pegunungan di latar belakang, sawah yang menghampar dengan tanggul dan pematang, pohon asam di perbatasan antara sawah dan jalanan, serta orang-orang yang berteduh di bawah rimbunnya pohon. 
Juru foto/gambar: Jan Christiaan Poortenaar
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Rabu, 15 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (7)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Dalam patrolinya, pasukan Belanda tentunya banyak berpapasan dengan warga Indonesia, termasuk kaum wanitanya …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan keramahan khas Indonesia tetap memberikan senyum tulus meskipun terhadap tentara asing …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dan sebagian di antaranya dibujuk tentara Belanda untuk mendekat …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… atau berpose bersama …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… meskipun tidak jelas apa yang terjadi sesudahnya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 06 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kediaman Residen Serang

Kediaman Residen Serang, dengan dua orang petinggi lokal dan Belanda tampak dipayungi di sebelah kiri, sementara di kanan tampak warga lokal mengendarai pedati dan memikul dagangan
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi tak berwarna dari lukisan di atas pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 09 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno yang memperjelas asal-usul kata "Koja"

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1853
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Den Haag
Tokoh:
Deskripsi: Kata "Koja" merupakan penuturan leluhur kita atas kata "Khoja" yang merupakan sebutan untuk kelompok warga Muslim Isma'ili di India dan Persia, terutama di Gujarat. Sebagian dari mereka datang ke Nusantara sebagai saudagar yang banyak menjual kain, sebagaimana ditampilkan di gambar di bawah ini. Ini yang kemudian membuat kata "Koja" berkonotasi erat dengan pedagang kain. Populernya "Koja" ini a.l. bisa terlihat dari adanya beberapa wilayah yang disebut "Pekojan" di Jakarta, di samping tentunya Kecamatan Koja dengan Pasar Koja-nya, dan boleh jadi juga Kampung Koja di Tangerang atau Pasir Koja di Bandung.
Juru foto/gambar: Auguste van Pers
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 11 April 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang pedagang berkulit hitam dan keluarganya

Kata negro pedler berarti pedagang keliling berkulit hitam. Karena tidak ada catatan sejarah tentang pedagang dari Afrika di sekitar abad ke-17 di Nusantara, maka kemungkinan yang dimaksud adalah orang Hadramaut atau orang Tamil/Keling yang muslim. Ini terutama terlihat dari model pakaian yang terdiri dari peci, jubah panjang, serban di pundak, serta tasbih. Ada kemungkinan si wanita adalah istrinya yang merupakan warga lokal, beserta anak-anak berdarah campuran mereka.
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1744
Tahun peristiwa: abad ke-17
Tempat terbit: Inggris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Johan Nieuhof
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 09 Maret 2026

Adu domba di alun-alun Sumedang

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 17 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (6)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Bahasan di awal: Di tahun 1940-an, bahkan hingga ke masa tidak terlalu lama sebelum sekarang, masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan dan tempat terpencil, tidak sering menikmati hiburan. Tidak ada radio, bioskop, televisi, apalagi telepon genggam dan internet. Ketika ada rombongan orang kulit putih melintas dengan kendaraan militer, bagi banyak masyarakat itu adalah semacam tontonan yang harus dilihat meskipun harus berjalan kaki jauh ke untuk sampai ke tepi jalan. Karena pada dasarnya mereka murah senyum, rombongan ini disambut meriah pula; apalagi jika rombongan ini membagi-bagikan makanan atau barang yang belum pernah mereka lihat. Momen seperti ini banyak diabadikan juru foto Belanda; dan ada pihak yang menambahkan narasi bahwa masyarakat Indonesia menyambut meriah dan gembira kedatangan pihak Belanda, seolah-olah ini sama dengan gembiranya orang Eropa mengelu-elukan kedatangan pasukan Amerika yang mengusir tentara Nazi Jerman dari tempat mereka.
  • Teks asli penyerta foto:Nederlandse militaire colonne begroet door plaatselijke bevolking, Java.
  • Terjemahan: Konvoi militer Belanda disambut penduduk setempat, Jawa.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 1947
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 12 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (11)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menggambarkan seorang saudagar Arab yang tiba di sebuah pelabuhan di Jawa. Dia mengenakan baju tradisionalnya, termasuk sandal khasnya. Dia ditemani oleh seorang bujang yang membawa kotak barang milik si saudagar.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI sangat bagus dalam menampilkan detail dari pakaian yang dikenakan dua orang ini. Mulai dari serban, jubah bergaris, rompi dengan ornamen, hingga ke baju dan celana si bujang berikut sarungnya.
(klik untuk memperbesar)
Secara harfiah, judul yang diberikan Hardouin adalah "seorang budak yang sedang mandi". Tetapi yang ditampilkan kemungkinan adalah seorang pembantu, atau malah seorang wanita biasa. Saat itu mandi di sungai adalah hal yang lumrah dilakukan, dan tradisi ini masih ada hingga sekarang di beberapa tempat.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI lumayan bagus dalam menampilkan si perempuan yang sedang mandi ini sehingga terkesan sangat realistis. AI juga menggambarkan tangga kayu yang di pijak, tonggak kayu di mana dua helai pakaian menumpuk, hingga ke susunan bata yang menjadi tangga menuju ke sungai. Menariknya, AI mengubah posisi mandi si perempuan lain, dan memindahkan si lelaki dari tepi air menjauh ke atas; boleh jadi agar hasil akhirnya tidak terlalu kontroversial.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 04 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (7)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah lukisan Hardouin tentang seorang penari perempuan di sebuah keraton Jawa. Hardouin cukup jeli untuk menampilkan banyak detail di pakaian si penari: mulai dari penutup kepala, anting-anting, ornamen di dada, hiasan di lengan atas, ikat pinggang, hingga ke motif kain batik yang dikenakan si penari.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Cukup mengagetkan bahwa AI bisa mereka ulang detail yang dijabarkan Hardouin di lukisannya, mulai dari penutup kepala hingga ke kain batik, dan instruksi ke AI sepenuhnya tanpa prompt khusus, hanya permintaan membuat lukisan menjadi semacam foto realistis.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah penjual unggas hidup yang tampaknya menjajakan dagangannya di sebuah kawasan pecinan. Dia memikul seekor kalkun, paling tidak dua ayam kampung dan satu bebek. Si pria ini berpakaian seperti lelaki kelas bawah biasa pada zamannya: telanjang dada dan nyeker, tetapi bertutup kepala, bercelana dan bersarung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup meyakinkan untuk menampilkan si penjual unggas. Si ayam kalkun bisa terdeteksi, begitu juga bilah bambu melengkung yang menjadi pikulan di pria. Hanya ayam yang di sebelah kiri tereduksi menjadi dua ekor dalam komposisi yang berbeda dari lukisan Hardouin.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 19 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (21)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Makam Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin II, di Ternate yang menjadi tempat pembuangan pahlawan yang melawan usaha Belanda menguasai Kesultanan Palembang. Rappard dipastikan membuat lukisan ini berdasarkna foto yang beredar sebelumnya (lihat di sini).
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Istana Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan yang sekarang menjadi Museum "Balla' Lompoa" atau "Balla' Lompoa ri Sungguminasa". Bangunan ini sepenuhnya menggunakan konstruksi kayu, dengan lantai yang lumayan tinggi dari permukaan tanah. Sebuah tangga beratap menjadi akses tunggal untuk keluar masuk dari dan menuju bagian dalam dari istana ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah jalan di Ambon yang tampaknya berada di kawasan warga berada. Ini terlhat dari bangunan tembok bercat putih, yang meski tidak beratap genting tetap berukuran relatif besar dan membutuhkan banyak tiang penyangga. Seorang Belanda dengan pakaian perlenta tampak berjalan, di antara tukang sapu jalan, seorang ibu yang menggendong anak, dan pedagang pikul yang menawarkan jualannya ke seorang pria di sebuah rumah.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di perairan Pulau Ternate yang memperlihatkan pemukiman di pesisir serta perahu dan kapal layar yang meramaikan lalu lintas laut di sekitar pulau ini. Di latar belakang tampak kepulan asap keluar dari Gunung Gamalama
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 05 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (14)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kampung di Jawa dengan rumah-rumah yang terbuat dari bambu. Seorang ibu tampak berbincang dengan seorang pedagang keliling, sementara tiga anak kecil yang hampir tanpa pakaian bermain tidak jauh dari situ.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah motif tentang Jawa yang tidak sedikit menjadi bahan lukisan: banjir. Air tampak sudah mencapi atap rumah, sehingga sebuah keluarga harus diselamatkan dengan menerobos atap. Proses penyelamatan ini menggunakan perahu atau rakit (dari pohon pisang?) sepeti yang ditampilkan di gambar di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan pengantin dengan adat Betawi, kemungkinan dari kalangan berada karena pengantin pria menunggang kuda, sementara pengantin wanita ditandu oleh empat pria dengan hiasan angsa di atas tandunya, dan sepasang ondel-ondel memimpin rombongan prosesi yang diiringi sekelompok pemusik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Salah satu sudut pantai Karangbolong di Anyer yang banyak disinggahi burung walet untuk bersarang. Lima pria tampak menuruni tebing pantai dengan menggunakan tangga dan tali untuk mencapai ke sebuah gua yang menjadi tempat kumpulan sarang walet.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah rumah milik kontroleur di Jawa. Kontroleur merupakan jabatan yang sedikit banyak sejajar dengan camat sekarang. Jenjang kontroleur berada di bawah asisten residen, di bawah residen, di bawah gubernur. Berbeda dengan rumah asisten residen yang berpilar tembok, rumah kontroleur di atas ini bertiang kayu dan merupakan rumah panggung, dan kemungkinan tidak sepenuhnya bertembok batu-bata.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 02 Oktober 2025

Seorang anggota Komisi Jasa-jasa Baik PBB asal India yang akan mengawasi perundingan Renville, 1947/1948

Komisi Tiga Negara atau Ketua Komisi Jasa-jasa Baik merupakan sebuah kelompok kerja yang dibentuk PBB untuk menengahi pertikaian Belanda dan Indonesia di masa perang kemerdekaan. Komisi ini berisi perwakilan dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Komisi ini menengahi Belanda dan Indonesia di dalam perundingan Renville. Kemudian komisi ini juga berisi perwakilan militer dari banyak negara yang bertugas mengawasi pelaksanaan hasil perjanjian Renville.

Catatan Belanda menyebutkan bahwa foto-foto di bawah ini merupakan gambar dari anggota komisi yang berasal dari India. Tokoh yang sayangnya belum teridentifikasi namanya ini, akan muncul seri foto tentang perundingan Renville yang akan ditayangkan setelah ini.

Tokoh India yang akan mengawasi perundingan Renville tiba di Kemayoran dengan dibawa oleh pesawat militer dari Angkatan Udara AS
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kedatangan di Kemayoran disusul dengan penyalaan rokok, sementara seorang prajurit AU AS berbincang dengan seorang berpakaian sipil daimati oleh seorang yang mengenakan seragam KNIL, dengan latar belakang a.l. sebuah jip militer berpelat "B"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu aktivitas tokoh India di Jakarta ini adalah mengunjungi sebuah toko tekstil
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan Desember 1947
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (10)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Sebuah warung yang menjajakan nasi beserta pisang. Seorang pelanggan tampak duduk menunggu makanannya, sementara seorang pelanggan lain minum langsung dari kendi. Di latar tengah tampak seorang pemikul dan seorang perempuan berpayung yang mengindikasikan sebuah kawasan dengan cahaya matahari yang tak banyak terhalangi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Seorang pemikul menyusuri jalan mendaki yang dibuat dengan membelah gundukan yang tinggi di tepi sebuah sungai berbatu dan pesawahan 
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Memetik buah kopi yang memerah di sebuah perkebunan, dengan berdiri menggunakan tangan, memakai galah, atau menaiki tangga, dan juga meminta bantuan seorang anak kecil sebagai pemungut 
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Dua wanita berkebaya putih dan berkain serta membawa payung kertas dan mengenakan selop, yang menunjukkan posisi sosial mereka yang tinggi, mendatangi seorang wanita lokal yang duduk menenun di dipan di halaman sebauh rumah bambu. Satu dari wanita bekebaya putih bisa dipastikan merupakan perempuan Belanda.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor: Seorang penyapu tampak membersihkan kawasan pemakaman yang sampai sekarang masih lumayan terawat dengan susunan prasasti yang tidak jauh berbeda dari yang ditampilkan di gambar di atas
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 25 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (9)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Aktivitas warga di sebuah sungai kecil di tepi sebuah perkampungan. Seorang wanita tampak memeras pakaian, di dekat sekeranjang baju dan seorang wanita lain yang duduk bersimpuh. Sementara itu seorang wanita lain tampak pulang membawa pakaian dan menuntun anaknya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah tempat penggilingan padi yang menggunakan batu. Tiga lelaki tampak melakukan aktivias berbeda-beda di penggilingan ini: ada yang memecahkan bilah kayu, menebar bulir padi untuk dilindas roda batu penggiling, dan ada yang memegang tanaman padi untuk digiling.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kedungbadak, Bogor: Sebuah gundukan batu yang memecah aliran sungai dan dimanfaatkan sebagai tempat penyeberangan dengan jembatan yang teediri dari dua ruas. Gunung Pangrango tampak berada di latar belakang, sementara kereta dan orang tampak melalui jalur penyeberangan ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Empat pria memikul keranda menuju kawasan kuburan yang dipenuhi pohon kamboja, sementara seorang pria lain di belakang memayungi jenazah yang ada di dalamnya. Seorang ulama berjalan paling depan dengan mengenakan sorban dan jubah serta membawa sebuah kitab. Tidak ada perempuan di prosesi ini, dan semua lelaki mengenakan atasan penutup dada.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah pemandangan dengan latar belakang kawasan Gunung Gede dan Pangrango. Sebuah jembatan gantung dari bambu dengan konstruksi segitiga tampak menjadi jalur lalu lintas warga, yang umumnya membawa padi, untuk menyeberangi sebuah sungau berbatu. Di tepi jembatan ada sebuah warung yang dijaga seorang perempuang yang tampak sedang melayani seorang pelanggan. Dua perempuan di gambar ini mengenakan atasan khas Pasundan saat itu, yaitu kebaya yang panjang hingga ke bawah lutut.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 21 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (7)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah toko di Jakarta yang menjual aneka barang a.l. porselan, lampu gantung, lampu duduk, jam dinding, lukisan, dll. Toko tampak dijaga oleh seorang yang berwajah dan berpakaian lokal, sementara para pengunjung berkulit putih dan mengenakan pakaian perlente, yang mengindikasikan bahwa ini merupakan sebuah toko berkelas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang wanita Belanda berkebaya, yang tampaknya menghuni sebuah gedung mewah dengan lahan yang luas, membeli ayam hidup dari pedagang yang datang. Si pedagang kemungkinan adalah pria yang berlutut dan membawa golok. Pria yang berdiri di tengah bisa merupakan orang yang memikul ayam, atau juga pembantu atau tukang kebun di rumah itu.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pesta dansa warga Belanda di depan sebuah rumah bergaya kolonial, kemungkinan di Jakarta. Tarian yang dibawakan oleh warga kulit putih ini diiringi musik terompet dan genderang yang dilantunkan warga lokal. Warga lokal pula yang membawa penerangan dalam bentuk obor, sekaligus menjadi penonton yang berkerumun.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Seorang biarawati berdiri di di dekat patung pastor Henricus van der Grinten di area kuburan Belanda di Tanahabang. Kompleks pemakaman ini sekarang menjadi Museum Taman Prasasti. Pastor Henricus sendiri a.l. dikenal sebagai misionaris yang aktif menyebarkan ajaran Kristiani di wilayah Jakarta.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah adegan yang boleh jadi lumayan romantis: Di malam bulan purnama, tampak seorang pemuda bersandar di sebuah pohon memainkan seruling. Kemungkinan lagu yang dia lantunkan adalah nada-nada yang dia persembahkan ke wanita pujaannya yang tampak mengintip dari jendela terbuka di sebelah kanan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: