Tampilkan postingan dengan label Singapura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Singapura. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Maret 2023

Suasana di beberapa kamp tawanan yang didirikan Jepang di Hindia-Belanda [dan Singapura] (3)

Kamp Gunung Bohong (Cimahi), 4 Desember 1944: Seorang tentara Jepang bersama para bule yang menjadi tawanan kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang penghuni kamp tawanan Rancaekek yang ditugaskan menjadi pengantar pos
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Agustus 1945: Enam warga Belanda yang menjadi penghuni kamp Changi, Singapura
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang warga Belanda dari Jawa Timur yang bernama I.F. Willems di kamp tawanan Changi (lihat juga orang paling kiri di foto atas)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa pendudukan Jepang (a.l. 1944, 1945)
Tempat: Bandung (Cimahi, Rancaekek), Singapura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 25 Februari 2023

Empat foto keluaran studio Gustave Richard Lambert, Singapura

Kelompok tari tandak ngejreng dari Jombang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penari ronggeng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penari topeng
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasangan dari Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: foto-foto kemungkinan diambil di studio di Singapura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: studio Gustave Richard Lambert
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 2 dalam ukuran kecil pernah dimuat di posting ini; nomor 4 di sini dan di sini.

Sabtu, 18 Februari 2023

Orang Korea yang menjadi bagian dari pasukan Jepang di Indonesia (2)

Tidak semua tentara Jepang yang masuk ke Indonesia adalah orang Jepang. Kasus Tan Tik An dan Tan Tjian Loe, yang di masa perang kemerdekaan bergabung dengan para pemuda Indonesia melawan Belanda, dan kasus Teruo Nakamura alias Lee Kuang-hui, yang bersembunyi di hutan dari tahun 1945 hingga 1974, menunjukkan warga Taiwan yang loyal terhadap Jepang. Selain itu, tidak sedikit warga Korea yang juga diterjunkan di Indonesia sebagai bagian dari pasukan Jepang. Blog ini akan menampilkan foto dari beberapa warga Korea di Indonesia ini, yang sayangnya tidak selalu dengan keterangan lebih lanjut misalnya tentang siapa dan di mana.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Ini adalah orang Korea yang menjadi penjaga kamp tawanan di Flores. Dia dikenal kejam hingga dijuluki de bolle sadist (si sadis gemuk). Setelah Jepang menyerah dia ditangkap dan dikirim ke penjara Pearls Hill di Singapura di mana foto ini dibuat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa pendudukan Jepang (tiga foto pertama) dan Oktober 1945 (foto terakhir)
Tempat: Jawa (tiga foto pertama?), Singapura (foto terakhir)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 29 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (5)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Kunjungan ke Bendung Walahar di Karawang, olahraga kesukaan Samsoedin yaitu sepakbola dan badminton, foto Otje yang sudah makin besar, serta beberapa foto keluarga
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto keluarga a.l. di Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dari kunjungan ke a.l. Lamongan, Tasikmalaya, dan Palembang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto dari adik kakak Samsoedin, termasuk Mochtar, serta keponakan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto kerabat di Lamongan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dari kunjungan ke Palembang, Singapura, dan Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Jakarta, Karawang, Lamongan, Malang, Palembang, Singapura, Surabaya, Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 21 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (1)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.

Jilid album foto
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman awal foto yang memperlihatkan nama Samsoedin, foto dia (sebelah kanan di foto atas-bawah, dan sebelah kiri di foto kiri-kanan) bersama Mochtar, kakaknya, serta keterangan nama tempat dan waktu Surabaya, Kanoman, Bandung, 1928 dan 1933
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto ayah Samsoedin (Sultan Anom?) di Singapura tahun 1931, ibunya, Samsoedin sedang pusing belajar, serta ayahnya meninjau sebuah sungai di Cirebon. Ada satu foto tentang Cicalengka yang lepas.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Lembaran dengan foto keluarga, Bupati Lamongan bersama seorang pembesar Belanda, dan kegiatan Samsoedin di sekolah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sultan Anom (?) dan istri di Borobudur, serta keluarga dari Mochtar yang akan sering muncul di album ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Keponakan-keponakan Samsoedin, salah satunya adalah anak Mochtar bernama Oetje yang akan sering muncul di album ini lintas beberapa tahun
(klik untuk memperbesar | © NGA)


Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Lamongan, Magelang, Singapura
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 30 September 2014

Nasib beberapa "sukarelawan" Indonesia di wilayah Malaysia dan Singapura, di era Ganyang Malaysia 1964-1965

Januari 1965: Penahanan seorang "sukarelawan" Indonesia yang berlumuran darah.
(klik untuk memperbesar | © Russell Knight/BIPs/Getty Images)
9 Januari 1965: Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman berbicara dengan dua "sukarelawan" Indonesia yang tertangkap.
(klik untuk memperbesar | © Keystone/Getty Images)
10 November 1964: Aparat keamanan Malaysia bersiap menginterogasi seorang "sukarelawan" Indonesia yang tertangkap.
(klik untuk memperbesar | © Keystone/Getty Images)
4 Januari 1965: Seorang "sukarelawan" Indonesia tertangkap di perairan sekitar Singapura.
(klik untuk memperbesar | ©  Keystone-France/Gamma-Keystone/Getty Images)

Waktu: 1964, 1965
Tempat: Malaysia, Singapura
Tokoh: Tunku Abdul Rahman (PM Malaysia)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Getty Images
Catatan: Presiden Soekarno ketika itu menentang pembentukan negara Malaysia, dan menyokong pemisahan Kalimantan Utara dari semenanjung. "Sukarelawan-sukarelawan" dari Indonesia disusupkan untuk mendukung kebijakan Soekarno.

Jumat, 17 Januari 2014

Sukarelawan Indonesia disergap di perairan Singapura, 1965

Waktu:2 Januari 1965
Tempat: Singapura
Tokoh:
Peristiwa: Beberapa "sukarelawan" Indonesia menyerah kepada satuan Inggris/Malaysia yang menyergap mereka di perairan Singapura.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis