Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kediri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2023

Kumpulan foto-foto hasil jepretan Walter Staugaard di Jawa, 1941 (3)

Petani dan kerbau di sawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pertunjukan kuda kepang di Kediri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bunga bangkai di Nusa Kambangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Kepuh (Nguter, Sukoharjo?) menangkap dua ular sanca
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1941
Tempat: Jawa (a.l. Kediri, Nusa Kambangan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 04 Februari 2023

Pasukan Jepang masuk dan menguasai Hindia-Belanda (5): Kediri, Lombok 1942

Kediri: Konvoi pasukan Jepang memasuki kota
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Briefing di sebuah pos pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jawa: Pasukan Jepang menurunkan meriam ke pinggi pantai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang tentara Jepang memanjat pohon untuk memetik kelapa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lombok: Pasukan Jepang menangkap tiga tentara Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942
Tempat: Jawa (a.l. Kediri), Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 29 November 2022

Dari sebuah album foto tentang Jawa dan Bali di sekitar tahun 1920 (8)

Foto-foto berikut berasal dari sebuah album tanpa tahun dan tanpa deskripsi, yang berisi gambar-gambar dari Bali, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Berdasarkan foto-foto ini kemungkinan si pemilik foto adalah seorang tokoh Belanda di pabrik gula Purwoasri, Kediri. Dia mengumpulkan foto juga dari perjalanannya ke Bali, Bromo, dan Parahyangan. Berbeda dengan foto-foto pribadi yang kemungkinan diambil sendiri, foto-foto hasil wisata kemungkinan berasal dari fotografer profesional seperti misalnya Thilly Weisenborn.
Kecuali lima halaman terakhir, tiap halaman dari album ini berisi dua foto atau lebih. Blog ini akan memuat tampilan per halaman, dan kemudian masing-masing foto di tiap halaman.

Halaman 11:
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Kumpulan pedati penarik tebu di Purwoasri (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Tumpukan sepah tebu yang sudah diperas sarinya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Pemandangan ke arah gudang penumpukan tebu di pabrik gula Purwoasri, Kediri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Halaman parkir untuk lori pengangkut tebu di Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Mengangkut karung gula dengan bantuan sapi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 11: Stasiun pemasok air untuk keperluan lokomotif uap (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1920
Tempat: Purwoasri (Kediri)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 27 November 2022

Dari sebuah album foto tentang Jawa dan Bali di sekitar tahun 1920 (7)

Foto-foto berikut berasal dari sebuah album tanpa tahun dan tanpa deskripsi, yang berisi gambar-gambar dari Bali, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Berdasarkan foto-foto ini kemungkinan si pemilik foto adalah seorang tokoh Belanda di pabrik gula Purwoasri, Kediri. Dia mengumpulkan foto juga dari perjalanannya ke Bali, Bromo, dan Parahyangan. Berbeda dengan foto-foto pribadi yang kemungkinan diambil sendiri, foto-foto hasil wisata kemungkinan berasal dari fotografer profesional seperti misalnya Thilly Weisenborn.
Kecuali lima halaman terakhir, tiap halaman dari album ini berisi dua foto atau lebih. Blog ini akan memuat tampilan per halaman, dan kemudian masing-masing foto di tiap halaman.

Halaman 10
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Pabrik gula Purwoasri, Kediri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Kemungkinan tampak dalam pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Tumpukan gula di pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Tebu yang diangkut lori di pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Ketel pemasak sari tebu di pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Kemungkinan tampak dalam pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Bagian penggiling tebu di pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman 10: Bagian dari mesin produksi di pabrik gula Purwoasri
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1920
Tempat: Purwoasri (Kediri)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 23 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe rumit

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Kediri 1900: Ini adalah jembatan gantung yang lumayan mengesankan. Tentunya konstruksi bambu harus dibantu dengan tambahan balok kayu yang lebih kokoh, dan anyaman tali/sabut yang kuat. Kuatnya konstruksi ini bisa terlihat dari melintasnya sebuah kereta kuda beroda empat di sebelah kanan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Cipait, Karawang 1893: Ini juga sebuah karya yang lumayan impresif yang menggabungkan banyak faktor dari tipe-teipe sebelumya: sambungan bambu mendatar, atap pelindung, pagar pegangan, dan sekarang ditambah dengan konstruksi busur atau bambu melengkung. Sedikit balok kayu turut memperkuat topangan.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Mendut, Magelang 1874: Konstruksi ini harus diakui agak membingungkan. Tidak terlihat adanya konsep yang jelas jembatan ini harusnya seperti apa. Kemungkinan ini hasil kerja gotong royong di mana tiap orang menerapkan apa yang menurutnya paling baik.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1874, 1893, 1900
Tempat: Karawang, Kediri, Magelang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto kedua pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 18 Juli 2018

Kolonel Sungkono di penghujung tahun 1949

Kediri, September 1949: Kol. Sungkono, didampingi Letkol. Sukanda Bratamanggala mengunjungi masyarakat dan pasukan TNI di Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Madiun, 17 Desember 1949: Kol. Sungkono memberikan piala kepada tim Belanda yang menang 2-1 atas tim Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Madiun, 17 Desember 1949: Tim sepakbola Indonesia dan Belanda yang bertanding
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1949
Tempat: Kediri, Madiun
Tokoh: Kolonel Sungkono (Gubernur Militer Jawa Timur), Letkol. Sukanda Bratamanggala (perwira Siliwangi)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 18 Agustus 2018
Tambahan foto dari acara kunjungan Kol. Sungkono dan Letkol. Sukanda ke Kediri:
Kol. Sungkono (kanan) berdampingan dengan Letkol. Sukanda di acara kunjungan ke Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kesatuan pemuda pejuang yang menyambut Sungkono dan Sukana di Kediri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Kamis, 26 Oktober 2017

Sabtu, 17 Desember 2016

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 12: mantan pejuang yang kemudian berpihak pada Belanda

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.

12. Yang termasuk kelompok berbahaya adalah para pejuang yang tertangkap Belanda, kemudian berhasil dipengaruhi Belanda  untuk membelot dan berbalik arah untuk memihak Belanda dan memusuhi para mantan teman seperjuangan. Foto-foto di bawah memperlihatkan kesatuan seperti ini di Kediri, Jawa Timur.

Kesatuan mantan pejuang yang kemudian memihak Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kesatuan mantan pejuang mendapat latihan gerak badan dari militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kopral van Wageningen melatih kesatuan mantan pejuang dalam hal baris berbaris
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kopral van der Horst menyuapkan pil kina kepada seorang anggota kesatuan pemihak Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Kediri
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 17 Juli 2014

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (1)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Bagian 1: Pembebasan warga Tionghoa yang disekap para pejuang kemerdekaan di Kediri

© gahetna

© gahetna

© gahetna

Waktu: 20 Desember 1948
Tempat: Kediri
Tokoh:
Peristiwa: Warga Tionghoa berhamburan setelah pasukan Belanda membebaskan mereka dari sekapan para pejuang kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak Cipta: Het Nationaal Archief