Tampilkan postingan dengan label mencuci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mencuci. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (9)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Bogor: Aktivitas warga di sebuah sungai kecil di tepi sebuah perkampungan. Seorang wanita tampak memeras pakaian, di dekat sekeranjang baju dan seorang wanita lain yang duduk bersimpuh. Sementara itu seorang wanita lain tampak pulang membawa pakaian dan menuntun anaknya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah tempat penggilingan padi yang menggunakan batu. Tiga lelaki tampak melakukan aktivias berbeda-beda di penggilingan ini: ada yang memecahkan bilah kayu, menebar bulir padi untuk dilindas roda batu penggiling, dan ada yang memegang tanaman padi untuk digiling.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kedungbadak, Bogor: Sebuah gundukan batu yang memecah aliran sungai dan dimanfaatkan sebagai tempat penyeberangan dengan jembatan yang teediri dari dua ruas. Gunung Pangrango tampak berada di latar belakang, sementara kereta dan orang tampak melalui jalur penyeberangan ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Empat pria memikul keranda menuju kawasan kuburan yang dipenuhi pohon kamboja, sementara seorang pria lain di belakang memayungi jenazah yang ada di dalamnya. Seorang ulama berjalan paling depan dengan mengenakan sorban dan jubah serta membawa sebuah kitab. Tidak ada perempuan di prosesi ini, dan semua lelaki mengenakan atasan penutup dada.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Sebuah pemandangan dengan latar belakang kawasan Gunung Gede dan Pangrango. Sebuah jembatan gantung dari bambu dengan konstruksi segitiga tampak menjadi jalur lalu lintas warga, yang umumnya membawa padi, untuk menyeberangi sebuah sungau berbatu. Di tepi jembatan ada sebuah warung yang dijaga seorang perempuang yang tampak sedang melayani seorang pelanggan. Dua perempuan di gambar ini mengenakan atasan khas Pasundan saat itu, yaitu kebaya yang panjang hingga ke bawah lutut.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 03 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (5)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Pertunjukan tarian di lapangan terbuka di sebuah desa dengan latar belakang Gunung Arjuno
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Sebuah pemandangan tentang sebuah kampung di waktu malam. Tampak empat orang mengelilingi sebuah ungun untuk menghangatkan badan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Jawa Timur: Seekor macan tutul minum di sebuah telaga di dekat sebuah sungai yang mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Malang: Aktivitas warga di Wendit yang berkisar di kegiatan air seperti mandi, cuci, atau sekedar bersantai dan bercengkerama. Lokasi ini sekarang menjadi tempat wisata air.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Minggu, 04 Agustus 2024

Warga di sekitar Danau Tondano setelah Perang Dunia II usai, 1945/1946

Gunung Soputan dilihat dari tepian Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perahu nelayan di dermaga-dermaga di tepi Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga mandi dan mencuci baju di Danau Tondano
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945/1946
Tempat: Danau Tondano (Minahasa)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 09 Juni 2024

Tentara-tentara Jepang di Indonesia yang didakwa Sekutu dengan tuduhan kejahatan perang (1): Kesatuan di Morotai

Sersan Uchino dan Prajurit Tanaka mencucui pakaian: Mereka didakwa 10 tahun penjara karena membayonet para tentara AU Australia yang tertawan di Morotai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mayor Tomura, Kapten Misumi, dan Kolonel Koba di tengah lantunan seruling bambu: Dituntut hukuman mati karena eksekusi atas 3 anggota AU Australia yang ditawan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letnan Nomura, Kapten Misumi, Tanaka, dan Letnan Lieutenant Inamura (?) bermain kartu: Didakwa hukuman mati karena mengeksekusi anggota-anggota AU Australia yang ditawan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letnan Tanaka bergulat melawan Mayor Tomura dengan diwasiti oleh Kapten Misumi:
Menunggu hasil keputusan mahkamah militer yang menghakimi mereka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Morotai
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Sekutu menduduki Morotai dan menahan pasukan Jepang yang berada di sana, mereka mendakwa kesatuan ini atas kejahatan perang. Dikabarkan bahwa kesatuan ini melakukan tindakan brutal terhadap anggota-anggota AU Australia yang ditawan Jepang di Morotai semasa Perang Dunia II. Kebrutalan ini a.l. penusukan dengan bayonet hingga ke eksekusi mati. Foto-foto diambil di kamp berduri yang menahan para tentara Jepang ini. Mereka melakukan berbagai kegiatan di sela-sela persidangan militer.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 04 Mei 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album X: Foto 16-20

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung di posting sebelum ini, dan juga sebelumnya lagi, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe atau keluaran dari studio foto miliknya. Kleingrothe adalah seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Album X ini berjudul Sumatra dan dikeluarkan atas nama Kleingrothe dan (Herman) Stafhell. Album ini berisi 50 foto di atas kertas berwarna hijau. Tidak ada deskripsi atas isinya, tetapi di tiap halaman ada penomeran dengan pensil dari 1 hingga 50, disertai dengan catatan di pojok kanan bawah. Sayang catatan ini tidak selalu mudah dibaca, padahal isinya merupakan semacam judul untuk tiap foto.

Jilid album Sumatra
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Beberapa foto di album ini termasuk yang populer, dan ada di album lain serta pernah dimuat di blog ini sebelumnya. Blog ini akan menampilkan foto-foto ini sesuai urutan nomornya; serta dalam versi halaman penuh, serta versi potongan yang fokus ke isi fotonya. Seperti disinggung sebelum ini, penampilan dua versi ini terpaksa dilakukan karena blogger membatasi ukuran lebar/panjang foto ke maksimum 1600 pixel.


Versi halaman penuh
16. Sebuah jembatan di atas Sungai Deli
(klik untuk memperbesar | © NGA)
17. Kemungkinan kompleks perumahan pejabat perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
18. Sekelompok pria mandi dan cuci di sekitar sebuah jembatan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
19. Sebuah jalan yang diapit pepohonan sawit di sebuah perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
20. Rakit sebagai sarana transportasi di Sungai Padang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi fokus ke foto
16. Sebuah jembatan di atas Sungai Deli
(klik untuk memperbesar | © NGA)
17. Kemungkinan kompleks perumahan pejabat perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
18. Sekelompok pria mandi dan cuci di sekitar sebuah jembatan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
19. Sebuah jalan yang diapit pepohonan sawit di sebuah perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
20. Rakit sebagai sarana transportasi di Sungai Padang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: di sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C.J. Kleingrothe / Herman Stafhell
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 08 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (5)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


49. Tambang batu bara di Sawahlunto
(klik untuk memperbesar | © AVS)
51. Mencuci pakaian di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © AVS)
55. Jalan Wilhelmina di Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
59. Drempel (pintu air), bagian dari sebuah sistem irigasi di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Sawahlunto, Jakarta, Sukabumi, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari foto no. 51 pernah dimuat di posting ini.

Senin, 09 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Kanalisasi buatan Belanda

Sekitar 1889: Dua perahu melintas sebuah kanal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1890: Kanalisasi di yang sekarang Jalan Veteran, dengan latar belakang Hotel Grand Java
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kemungkinan kanalisasi di Jalan Veteran sekarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Foto di atas di tahun dan sudut pengambilan yang berbeda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sebuah kanal di saat kering (atau dikeringkan?) sementara usaha binatu tampaknya tetap jalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1889, 1890
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 05 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Warga Jakarta dalam pelbagai aktivitas

Antara 1885 dan 1895: Penyiram jalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1889: Para pejabat pemerintahan lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1889: Warga Belanda berpose dengan kereta roda empat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

1896: Penyiram jalan
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co. / NGA)

Sekitar 1900: Penjual, pembeli, dan pengunjung Pasar Baru
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1930: Foto studio tentang penjual dan pembeli pisang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Mencuci baju di kali
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1895, 1889, 1896, 1900, 1930
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co. (foto nomor 3)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 03 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Sungai dan kali

Antara 1900 dan 1913: Ciliwung
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Antara 1901 dan 1903: Ciliwung di kawasan Matraman
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sungai di Kampung Embrat, sekarang kawasan Muara Heemraad
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kali Angke
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kali yang belum teridentifikasi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1900 dan 1913 (foto pertama), antara 1901 dan 1903 (foto kedua)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 13 Mei 2020

Warisan Kartini: Sekolah Kartini di Jakarta (1)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Sekolah Kartini di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © G. Kolff & Co. / NMVW)
Murid-murid Sekolah Kartini
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Seorang tenapa pengajar pria
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Para murid kelas tinggi
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Guru Belanda diiringi beberapa murid kelas tinggi
(klik untuk memperbesar | © NMVW)
Seorang binatu mencuci di kali depan sekolah
(klik untuk memperbesar | © NMVW)

Waktu: 30 Oktober 1920 (kecuali foto pertama yang tanpa catatan waktu)
Tempat: Jakarta
Tokoh: 
Peristiwa:
Fotografer: G. Kolff & Co. (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan: