Tampilkan postingan dengan label wayang kulit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wayang kulit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2025

Gambar kumpulan berbagai benda yang dilihat Belanda di Nusantara (2)

Sebelum ini kita sudah melihat usaha Belanda dalam mendokumentasikan aspek sosial-budaya Nusantara dalam berbagai bentuk: ada foto berseri, foto yang diwarnai dengan tangan, foto yang dilukis ulang, foto-foto yang dikumpulkan dan digambar ulang dalam satu lukisan, serta juga kumpulan gambar-gambar yang digabungkan di dalam sebuah halaman kertas. Seri kali ini akan menampilkan contoh berikutnya dari upaya yang disebut terakhir ini.
Topeng, wayang golek dan wayang kulit, serta pertunjukan wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Dari atas ke bawah: kemungkinan sebuah surau (bedehuis) di Jawa, sebuah kampung di Jawa Barat, sebuah rumah tradisional Jawa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Edisi lain dari gambar pertama
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1875
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 14 Oktober 2024

Peta pariwisata Jakarta dari tahun 1920-an

Jilid peta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Peta lengkap yang meliputi Batavia (wilayah Kota hingga ke pelabuhan), Weltevreden (sekitar Istana), Gondangdia termasuk Menteng, dan Meester Cornelis (Jatinegara), ditambah cuplikan kawasan pelabuhan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Zoom ke sekitar Stasiun Kota, a.l. dengan jalan bernama Financienst[raat] (=Jalan Keuangan) sebelum kemudian dilafalkan orang menjadi Pinangsia hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1920-an
Tempat terbit: Jakarta
Tokoh:
Deskripsi: Potensi pemasukan devisa melalui pariwisata mulai digenjot pemerintah Hindia-Belanda sejak awal abad ke-20 (lihat misalnya iklan dan brosur ini). Peta berbahasa Inggris di atas ini merupakan salah satu upaya menarik pelancong dari mancanegara menuju ke Jakarta. Banyak yang bisa dipelajari dari dokumen berusia 100 tahun ini selain tentunya situasi tata kota pada masa itu, misalnya hotel, restoran, dan club yang ada di Jakarta di tahun 1920-an ini. Kemudian bahwa HSBC dan Chartered Bank sudah memiliki cabang di Jakarta satu abad yang lalu, malah Chartered Bank di Jakarta saat itu juga menangani wilayah India, Australia, dan Tiongkok. Berikutnya nama-nama maskapai pelayaran yang menyediakan perjalanan hingga ke Jepang, Tiongkok, bahkan Amerika, selain tentunya ke Belanda dan Eropa. Daftar konsulat atau perwakilan diplomatik juga mereflesikan (sisa-sisa) kekuatan dunia saat itu misalnya Kekaisaran Austria serta Kesultanan Turki.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 18 Juli 2022

Dari sebuah album foto karya Hermann Salzwedel tentang Jawa di awal abad ke-20 (4)

Pertunjukan wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Berbagai pohon berakar banir
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Telaga Warna di Puncak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Paleis te Buitenzorg, kelak Istana Bogor, dengan latar belakang Gunung Salak
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1900 dan 1910
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Puncak)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hermann Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 20 Juni 2022

Foto-foto tentang Jawa dari album "Groet uit Batavia 1913" (1)

Sampul album
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wanita Jawa membatik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pria Jawa membuat wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perajin perak (di Kotagede, Yogyakarta?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penjaja makanan keliling
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1913 atau sebelumnya
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 28 Oktober 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indiƫ", 1897 (2)

4. Pedati dan gembala kerbau
(klik untuk memperbesar | © AVS)
5. Pertunjukan wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © AVS)
6. Menyeberang sungai besar tanpa jembatan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan: Gambar nomor 6 tampaknya terinspirasi oleh penyeberangan Sungai Citarum seperti dimuat di posting ini.

Selasa, 19 Oktober 2021

Museum Gajah ketika masih bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1928 (3)

Ruangan dengan gamelan dan rumah adat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Ruangan dengan kursi-kursi duduk untuk pengunjung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Ruangan dengan maket rumah adat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Peta timbul wilayah Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gamelan dan koleksi wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Ruangan dengan totem dan koleksi senjata tajam
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1928
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 17 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (25)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


115. Bongkar muat rotan di Sungai Musi, Palembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
116. Arena pacuan kuda di Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
117. Pertunjukan wayang kulit pada saat sekaten di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
118. Penari topeng di Kesultanan Kutai
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
121. Pemain sandiwara Tionghoa di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
122. Pernikahan dua pasang warga Abung, Lampung
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Palembang, Bukittinggi, Yogyakarta, Kutai, Jawa Timur, Lampung
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 118 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 11 April 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (22)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


93. Pembuat wayang kulit di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
95. Perempuan Sunda menenun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
96. Petani di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
99. Pabrik tali manila
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
100. Lukisan karya Jan Daniƫl Beynon dari tahun 1872 yang menggambarkan 31 jenis buah-buahan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
101. Lembah Harau, Lima Puluh Kota
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Jawa, Jawa Barat, Jawa, ?, Jawa, Harau
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 95 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 22 November 2020

Karikatur Belanda yang kritis atas pembentukan negara-negara "boneka" federal, 1947-1949

Salah satu cara Belanda dalam mempertahankan kekuasaan di Indonesia, atau paling tidak memegang pengaruh atau malah kendali atas beberapa wilayah, adalah dengan membentuk negara-negara federal, terutama di luar Jawa. Kelihatannya Belanda ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia hanyalah negara orang Jawa, atau malah hanya sebagian orang Jawa. Karikatur-karikatur di bawah ini memperlihatkan bahwa di Belanda sendiri ide ini dipertanyakan.

De Groene Amsterdammer, 31 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bahwa Belanda, digambarkan sebagai 3 orang di belakang layar, mengatur seorang dalang untuk memperlihatkan besarnya "Negara Pasundan", yang sejatinya hanyalah bayangan dari sebuah wayang.

De Vlam, 15 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana Van Mook membuat Konferensi Malino dengan memilah-milah Indonesia menjadi Bangka, Belitung, Indonesia Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dsb. dengan merangkul tokoh-tokoh yang dia sukai. Sementara Republik Indonesia, digambarkan dengan Sutan Sjahrir, sama sekali tidak diperhatikan, dan tampak gusar dengan aksi Van Mook ini.

De Vlam, 23 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Karikatur ini menggambarkan bagaimana banteng Indonesia, yang sebenarnya kuat, terikat oleh perjanjian Linggarjati. Keterbatasan ruang gerak ini dimanfaatkan oleh Van Mook untuk mengganggu sang banteng dengan menembakkan peluru-peluru "negara federal", seperti Bangka, Belitung, Jawa Barat, Kaimantan, Madura, Minangkabau, dan Palembang sementara Aceh, Ambon, dan Bali siap ditembakkan.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke kejadian di Indonesia
Tokoh: Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda), Sutan Sjahrir (Perdana Menteri RI)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 10 Mei 2020

Soekarno dalam karikatur Belanda: 1957 (1)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
5 Januari 1957: "Badai melanda Indonesia"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana ketidakpuasan daerah telah membuat Aceh, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Tengah meninggalkan Soekarno.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
10 Januari 1957
Tampaknya pernah ada perselisihan antara Belanda (diwakili Joseph Luns) dan Inggris (diwakili Harold Macmillan) a.l. terkait penerbangan KLM dari Amsterdam ke Singapura (yang waktu itu masih jajahan Inggris). Amerika (diwakili Dwight Eisenhower) mencoba menengahi sesama anggota NATO ini. Tetapi diam-diam tangan Eisenhower memasok sesuatu ke Indonesia (diwakili Soekarno di balik pintu).

(klik untuk memperbesar | © AVS)
17 Januari 1957: "Penyanyi tenor baru"
Karikatur ini menggambarkan bagaimana Soekarno lantang di panggung dengan memegang pedang kediktatoran, tetapi semuanya diatur oleh Mao Zedong, Nikita Khrushchev, dan Gamal Abdel Nasser.

(klik untuk memperbesar | © AVS)
9 Maret 1957: "Dalang dan wayangnya"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno sebagai dalang dengan lakon "Irian" tetapi malah mendapat kemarahan dari wayang Indonesia Timur (tampaknya melambangkan Permesta) dan Sumatra (melambangkan PRRI).
(klik untuk memperbesar | © AVS)
21 November 1957: "Irian ... atau pintu kerangkeng dibuka!"
Karikatur ini menggambarkan Soekarno siap membuka pintu amukan massa, yang begitu terkepas bebas kemungkinan bisa memangsa dirinya sendiri, dan pada ujungnya hanya menguntungkan burung nasar Mao Zedong dan Nikita Khrushchev.

Waktu: 1957
Tempat:
Tokoh: Soekarno (Presiden Republik Indonesia)
Peristiwa:
Karikaturis: Charles Boost (nomor 2), Leendert Jurriaan Jordaan (selain nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 29 Oktober 2015

Seni Sunda di tahun 1937/1939 (1)

Wayang kulit di desa Sukamanah, Cianjur
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Kecapi, suling, dan rebab di Sumedang
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Pertunjukan dengan benda-benda tajam [di Cikeruh, Sumedang?]
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Waktu: 1937 (atau 1939)
Tempat: Cianjur, Sumedang, Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Wijnand Kerkhoff
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan: Foto pertama menyebut jenis wayangnya "wajang liligong".

Jumat, 03 April 2015

Sabtu, 04 Mei 2013

Gamelan, wayang kulit, dan tarian Jawa pada akhir abad ke-19

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jawa
Catatan: Tiga gambar di atas diambil dari buku "Facts and Fancies about Java" karya Augusta de Wit terbitan tahun 1900. Buku ini bisa dibaca/diundah dari Internet Archive.


(klik untuk memperbesar)
Waktu: akhir abad ke-19 (sekitar 1896)
Tempat: Jawa
Catatan: Diambil dari buku "Guide through Netherlands India" karya Johan Frans van Bemmelen dan G.B. Hooyer yang terbit tahun 1903 (terjemahan dari "Reisgids voor Nederlandsch-Indiƫ" terbitan 1896). Buku ini bisa dibaca/diunduh dari Internet Archive.


(klik untuk memperbesar)

(klik untuk memperbesar)

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1899
Tempat: Jawa
Diambil dari buku "Auf Java und Sumatra. Streifzüge und Forschungsreisen im Lande der Malaien" karya pakar botanika Jerman, Karl Friedrich Georg Giesenhagen, yang terbit tahun 1902. Buku ini bisa dibaca/diunduh dari Internet Archive.



UPDATE 23 September 2019

Foto pertama dengan ukuran yang lebih besar:
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)