Tampilkan postingan dengan label Batang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2020

Beberapa foto lama dari Jawa Tengah

Tegal Arum (Tegal), sekitar 1890: Makam Amangkurat I
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Pasar di Slawi (Tegal), sekitar 1890
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kassian Cephas di Kawah Candradimuka, Banjarnegara, sekitar tahun 1895
(klik untuk memperbesar | © Kassian Cephas / NGA)

Semarang, 1930: Pertemuan Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff (duduk kelima dari kiri) dengan para bupati sekawasan Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © NGA)

11 September 1932: Kunjungan Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge ke Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Limpung (Batang), 27 Oktober 1932: Foto bersama di sebuah pameran agraria
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu:  1890, 1895, 1930, 1932
Tempat:  Banjarnegara, Batang, Magelang, Semarang, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 18 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Batang, 1930

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Batang, 1930
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1930
Tempat: Batang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: