Tampilkan postingan dengan label 1897. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1897. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam foto studio: Studio Koene, Jakarta (3)

Akhir abad ke-19: Seorang pria Belanda bersama istri (?) yang berwajah lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1895: Seorang perwira KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1897: Seorang wanit Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: akhir abad ke-19 (a.l. 1895, 1897)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Koene & Co; Studio Koene & Büttinghausen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 05 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Kassian Céphas: Yogyakarta dan sekitarnya

Dunia fotografi Indonesia tidak akan lepas dari nama Kassian Céphas. Orang Yogya ini merupakan warga pribumi Hindia-Belanda pertama yang menggeluti dunia fotografi secara profesional; dan umumnya autodidak. Karya-karyanya telah berjasa memperlihatkan kepada generasi setelahnya bagaimana wajah budaya Jawa pada masanya. Tak ketinggalan pula foto-fotonya tentang situs-situs purbakala di bagian tengah Jawa saat itu.

Beberapa karyanya telah tersebar di blog ini. Kali ini blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto lainnya dalam beberapa seri. Sebagian di antaranya pernah dimuat sebelum ini, dan akan merupakan pengulangan.


~1894: Sultan Hamengkubuwono VII bersama Residen C.M. Ketting Olivier
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1894: Kediaman Residen Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1897: Kassian Céphas di Macingan, Parangtritis
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1895: Rongkop, Gunung Kidul
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1890: Gerbang Keraton Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1895: Tebing sarang burung walet di Rongkop, Gunung Kidul
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1890, 1894, 1895, 1897
Tempat: Yogyakarta
Tokoh: Sultan Hamengkubuwono VII
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 01 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Kassian Céphas: Peninggalan purbakala Jawa (5)

Dunia fotografi Indonesia tidak akan lepas dari nama Kassian Céphas. Orang Yogya ini merupakan warga pribumi Hindia-Belanda pertama yang menggeluti dunia fotografi secara profesional; dan umumnya autodidak. Karya-karyanya telah berjasa memperlihatkan kepada generasi setelahnya bagaimana wajah budaya Jawa pada masanya. Tak ketinggalan pula foto-fotonya tentang situs-situs purbakala di bagian tengah Jawa saat itu.

Beberapa karyanya telah tersebar di blog ini. Kali ini blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto lainnya dalam beberapa seri. Sebagian di antaranya pernah dimuat sebelum ini, dan akan merupakan pengulangan.


~1890: Kassian Céphas di Borobudur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1872: Candi Borobudur, Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1901: Salah satu sisi Candi Borobudur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1890: Kassian Céphas di Borobudur
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1897: Reruntuhan Candi Sewu, Klaten
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: akhir abad ke-19/awal abad ke-20 (a.l. 1890, 1897, 1901)
Tempat: Klaten, Magelang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 01 November 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indië", 1897 (4)

10. Sebuah gardu jaga di perbatasan desa dengan kentongan dan peralatan penangkap maling, sementara sebuah rombongan pendatang tampak muncul di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
11. Sebuah mesjid
(klik untuk memperbesar | © AVS)
12. Mojowarno di Jombang, yang menjadi salah satu tempat misi Kristen dengan sekolah, klinik, dan gereja
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 30 Oktober 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indië", 1897 (3)

7. Tandu sebagai alat transportasi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
8. Pasar, tempat orang pribumi baik jelata maupun priyayi, Tionghoa, dan Arab (?) menukar uang keping, berjual-beli ayam dan unggas, minuman aren, kain, cabai, dan buah-buahan seperti durian, nanas, mangga (??), kelapa, pisang, serta manggis
(klik untuk memperbesar | © AVS)
9. Warung, tempat orang singgah duduk berisitirahat sambil menghilangkan dahaga dan lapar
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 28 Oktober 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indië", 1897 (2)

4. Pedati dan gembala kerbau
(klik untuk memperbesar | © AVS)
5. Pertunjukan wayang kulit
(klik untuk memperbesar | © AVS)
6. Menyeberang sungai besar tanpa jembatan
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan: Gambar nomor 6 tampaknya terinspirasi oleh penyeberangan Sungai Citarum seperti dimuat di posting ini.

Selasa, 26 Oktober 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indië", 1897 (1)

1. Sebuah kampung di mana anak-anak mandi di sungai, ibu-ibu menumbuk padi, ayam piaraan berkeliaran, dan pedagang Tionghoa berkeliling membunyikan kelontong
(klik untuk memperbesar | © AVS)
2. Sudut lain di kampung yang menunjukkan ibu-ibu membatik, seorang bapak mengasah keris, anak-anak bermain gundu, dan seorang ibu memomong bayi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
3. Petani di sawah (dengan cangkul yang aneh)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 23 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1888-1897

De Amsterdammer, 16 September 1888
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas mengenang salah satu jenderal KNIL yang mashur di Perang Aceh dan tampaknya menyukai wilayah Minangkabau, Johannes van Swieten, yang meninggal pada tanggal 9 September 1888.

De Amsterdammer, 8 Oktober 1892
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan serah terima jabatan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda dari Cornelis Pijnacker Hordijk (kanan) ke Carel Herman Aart van der Wijck (kiri) dengan latar belakang Istana Bogor. Hordijk mengeluhkan bahwa nama Buyten-Sorgh (=buiten zorge; cikal bakal nama Bogor) yang maknanya "tanpa kekhawatiran" telah menjadi Nooyt-Gedagt (=nooit gedagt) yang bermakna "tidak pernah bermesraan". Tampaknya keluhan ini keluar karena konflik di Aceh dan kemudian Lombok menjadi masalah pelik untuk kedua gubernur-jenderal ini.

De Amsterdammer, 17 April 1893
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Presiden Perancis, Marie François Sadi Carnot, yang kewalahan menghadapi perlawanan bangsa Afrika di koloni Perancis di sana, meminta saran dari politisi Belanda, Willem Karel van Dedem, yang dianggap handal dalam menghadapi wilayah jajahannya. Van Dedem hanya bisa berujar bahwa Carnot pastinya belum pernah mendengar perlawanan rakyat Aceh.

De Amsterdammer, 24 Oktober 1897
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Gubernur-Jenderal Cornelis Pijnacker Hordijk memberikan kursi baru untuk rakyat Indonesia dengan tumpuan batubara, tembakau, minyak bumi, dan emas, untuk menggantikan kursi lama yang sudah mulai patah yang bertumpu sepenuhnya pada hasil agraria tembakau, gula, dan kopi.

Waktu: 1888, 1892, 1893, 1897
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 24 Mei 2019

Tiga candi di Jawa di peralihan dari abad ke-19 ke ke-20

1890: Patung Buddha di Candi Mendut
(klik untuk memperbesar | © Kassian Cephas / Universiteit Leiden)
1897: Candi Prambanan
(klik untuk memperbesar | © Kassian Cephas / Universiteit Leiden)
1901/1902: Candi Werkudoro di dataran tinggi Dieng
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1890, 1897, 1902
Tempat: Dieng, Magelang, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Cephas (dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 29 Agustus 2017

Karikatur Belanda tentang perang Aceh dan Teuku Umar, 1896-1897

5 April 1896
Het verraad van Toekoe Oemar
Generaal v.d. Heyden tot zijn invalieden: "Hebben wij daarvoor nu ons leven gewaagd!"

[Pengkhianatan Teuku Umar. Jenderal Karel van der Heyden berkata kepada orang-orang lemahnya: "Kita telah mempertaruhkan hidup kita!"
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
19 April 1896
Generaal Deykerhoff als zondebok
Toekoe Oemar: 'Dat zal hun opbreken!'

[Jenderal Deykerhoff sebagai kambing hitam. Teuku Umar berkata: "Ini akan mematahkan mereka!"]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
19 Juni 1896
De Pedir-expeditie
Toekoe Oemar: - Oh, lo! ik lari lari! - ik smeer hem voor die snaphan Setan!

[Ekspedisi Pedir. Teuku Umar: "Oh, aku lari! Aku melumasi senapan (?) setan!"]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
31 Oktober 1897
Een deputatie van mevrouw v. Kol c.s. naar Atjeh
De Dames: "Och, lieve soldaatjes, laat die arme Toekoe Oemar nu maar met rust, er is bloed genoeg vergoten!"

[Penugasan nyonya Kol. cs. ke Aceh. Para wanita: "Oh prajurit-prajuirt, biarkan saja Teuku Umar yang malang; sudah cukup banyak darah tertumpah."]
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 1896, 1897
Tempat: Belanda, Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:


UPDATE 18 Oktober 2020: Tambahan karikatur karya Johan Braakensiek tentang perang di Aceh dan Lombok akan dimuat di posting tanggal 31 Oktober 2020.

UPDATE 22 Oktober 2020: Karikatur yang sama dalam ukuran yang lebih besar.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

 

Kamis, 11 Februari 2016

Tiga lukisan tentang Aceh dari tahun 1897

Sekelompok masyarakat di pedalaman Aceh, 1897
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Masjid Raya Baiturrahman, 1897
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Pos militer Belanda di Lambaru, 1897
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Waktu: 1897
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren
Catatan:


UPDATE 5 Juli 2020: Foto asli yang mendasari lukisan nomor 3 akan dimuat pada tanggal 11 Juli 2020.

Jumat, 29 Januari 2016

Pose kemenangan pasukan KNIL di Sigli, 1897

(klik untuk memperbesar | © fotomuseum)

Waktu: Agustus 1897
Tempat: Sigli (Aceh)
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan KNIL berpose setelah mengalahkan para pejuang Aceh di sebuah pertempuran Sigli
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nederlands Fotomuseum
Catatan: Harus diakui foto ini mudah membangkitkan emosi karena para tentara KNIL tampak ponggah berdiri di atas jasad para pejuang Aceh; dan kesatuan ini selain terdiri dari orang Belanda juga diisi oleh warga lokal (kemungkinan dari Jawa dan Maluku?).

Selasa, 12 Januari 2016

Minggu, 10 Januari 2016

Areal kuburan Kesultanan Aceh di Kutaraja, 1897

(klik untuk memperbesar | © fotomuseum)
(klik untuk memperbesar | © fotoleren/spaarnestad)
Waktu: 1897 (bawah), antara 1883-1918 (atas)
Tempat: Kuta Raja (Aceh)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Lambert & Co (atas)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Fotoleren (bawah) / Nederlands Fotomuseum (atas)
Catatan: