Tampilkan postingan dengan label Hidayat Martaatmaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayat Martaatmaja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2018

Peleburan kesatuan KNIL ke dalam APRIS: Jakarta, 13 Mei 1950

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 13 Mei 1950
Tempat: Jakarta
Tokoh: Kol. Hidayat Martaatmaja (perwira TNI)
Peristiwa: Acara peleburan kesatuan KNIL ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat di Jakarta, yang dihadiri a.l.oleh Kol. Hidayat Martaatmaja dari TNI dan Mayjen T.E.J. de Bie dari KNIL.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 05 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (10): para perwira TNI, Belanda, dan pengamat internasional

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Pengamat dari Komisi Tiga Negara diapit dua perwira TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Abdul Haris Nasution duduk di sebelah Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengamat dari KTN meninjau tempat registrasi prajurit TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Duduk dari kiri ke kanan: Letkol Soetardjo (?), Kolonel Hidayat Martaatmaja, Mayor Lutkie, Kolonel Lentz, seorang letnan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
AH Nasution dan Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kolonel Abdul Haris Nasution (Panglima Divisi Siliwangi, Wakil Panglima TKR), Kolonel Hidayat Martaatmaja (Kepala Staf Divisi Siliwangi)
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 03 Desember 2016

Paska-Renville: Kolonel Hidayat Martaatmaja di pertemuan TNI dan Belanda di Tasikmalaya (2), 1948

Update dari foto yang dimuat tanggal 19 Agustus 2016
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 27 Januari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kolonel Hidayat Martaatmaja (Kepala Staf Divisi Siliwangi)
Peristiwa: Berdasarkan hasil perjanjian Renville pasukan TNI harus mundur dari wilayah-wilayah yang diakui sebagai daerah Belanda, a.l. dari Jawa Barat. Perundingan mengenai proses pemunduruan ini, yang kemudian dikenal sebagai "hijrah", a.l. berlangsung di Tasikmalaya, dan dihadiri oleh Kol. Hidayat Martaatmaja.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Lihat juga posting sebelumnya.


UPDATE 22 Oktober 2020: Posting ini sebelumnya secara keliru menyebut "Kolonel Hidayat Martaatmaja" sebagai "Kolonel T.B. Simatupang". Kesalahan ini telah diperbaiki.

Jumat, 19 Agustus 2016

Paska-Renville: Kolonel Hidayat Martaatmaja di pertemuan TNI dan Belanda di Tasikmalaya (1), 1948

Kedatangan Kolonel Hidayat Martaatmaja dan ajudannya di Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kolonel Hidayat Martaatmaja (berkacamata) di meja perundingan
klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 27 Januari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kolonel Hidayat Martaatmaja (Kepala Staf Divisi Siliwangi)
Peristiwa: Berdasarkan hasil perjanjian Renville pasukan TNI harus mundur dari wilayah-wilayah yang diakui sebagai daerah Belanda, a.l. dari Jawa Barat. Perundingan mengenai proses pemunduruan ini, yang kemudian dikenal sebagai "hijrah", a.l. berlangsung di Tasikmalaya, dan dihadiri oleh Kol. Hidayat Martaatmaja.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Ada update dan tambahan foto yang akan diposting tanggal 3 Desember 2016.


UPDATE 22 Oktober 2020: Posting ini sebelumnya secara keliru menyebut "Kolonel Hidayat Martaatmaja" sebagai "Kolonel T.B. Simatupang". Kesalahan ini telah diperbaiki.