Tampilkan postingan dengan label 1680. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1680. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2024

Nusantara dalam peta kuno berbahasa Latin keluaran tahun 1680

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini salah satu dari sekian peta yang berjudul "Hindia Timur" (IndiƦ Orientalis) tetapi sejatinya menampilkan wilayah yang lebih luas. Peta ini malah mencakup Persia, Hindia, Asia Tenggara daratan, Tiongkok, Taiwan, bahkan sebagian Jepang. Di wilayah Nusantara peta ini banyak sekali mencantumkan nama tempat, yang umumnya di sekitar pesisir. Sayang sekali salinan yang kita dapat ini resolusinya terlalu kecil, sehingga sulit sekali untuk membaca nama-nama ini. Kita hanya bisa melihat bahwa peta ini cukup menampikan Nusantara dengan kontur yang lumayan. Pengecualian besar tapi bisa terlihat di wilayah Sabah (ujung timur laut Kalimantan), serta "lengan" Sulawesi Tengah yang tidak tampak. Papua, yang saat itu memang belum banyak terjelajahi, ditampilkan seadanya; dan peta ini cukup jujur dengan menampilkan kontur Papua masih secara terputus, belum dalam garis penuh.
Juru kartografi: Frederick de Wit
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 24 Oktober 2024

Peta navigasi VOC dari tahun 1680 yang memperlihatkan Nusantara di antara dua benua dan dua samudra

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan versi tak-berwarna dari peta yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya. Bukan hanya tanpa warna, peta ini juga tidak dihiasi gambar-gambar kapal di samudra, serta tanpa gambar gajah (mamut?) di sekitar Siberia. Yang menarik dari peta ini adalah penulisan nama-nama pulau di Nusantara, yang berbeda dari beberapa peta lain yang sezaman, sudah mendekati ejaan yang kita gunakan sekarang, tentunya terlepas dari nama yang memang digunakan berbeda seperti Borneo atau Celebes. Jadi bisa kita baca misalnya nama Nias, Mintaoa (Mentawai), Baly, Lomboc, Cumbawa, Timor, Alor, Moratay (Morotai), Bouton (Buton), Carimon Iava (Karimun Jawa), dsb.
Juru kartografi: Johannes van Keulen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 04 September 2024

Peta kuno dari tahun 1680: Nusantara di tengah dunia

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan peta maritim yang digunakan oleh VOC dalam penjelajahan lautnya ke berbagai pelosok dunia, dan tentunya ke wilayah Nusantara sesuai dengan judul peta yaitu Oost Indien. Salah satu keistimewaan dari peta ini adalah pencantuman pulau-pulau yang kecil, yang membuatnya terkesan over-proportional. Tapi ada kemungkinan ini memang disengaja dan sudah diperhitungkan agar wilayah-wilayah ini turut terdeteksi. Ini a.l. membuat wilayah Nusantara, dan juga Filipina, sangat banyak dihiasi oleh pulau-pulau kecil ini.
Juru kartografi: Johannes van Keulen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 18 Juli 2024

Peta kuno dari tahun 1680: Hindia Timur

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1680
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Peta navigasi dengan utara di sebelah kiri ini cukup memperlihatkan wilayah yang disebut Oost Indien (Hindia Timur) secara komprehensif, terutama mengingat bahwa peta ini dibuat masih di abad ke-17. Kontur wilayah Nusantara sudah mendekati proporsi yang sesungguhnya, meski di beberapa wilayah, misalnya bagian utara Sulawesi dan terutama Papua, informasi geografinya terlihat masih kurang. Peta ini tapi cukup jujur untuk memperlihatkan bahwa bagian selatan Australia masih belum terpetakan, begitu juga kaitan antara Papua dengan Australia.
Juru kartografi: Pieter Goos
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 15 Oktober 2018

Ilustrasi yang menggambarkan Amangkurat II mengeksekusi Pangeran Trunojoyo dengan persetujuan VOC

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1680
Tempat: Bantul
Tokoh: Amangkurat II (raja Kasunanan Kartasura 1677-1703); Trunojoyo (bangsawan Madura yang menggabungkan warga Madura, Makassar, dan Surabaya untuk menguasai pesisir Utara Jawa)
Peristiwa: Amangkurat II mengeksekusi Trunojoyo setelah pihak VOC mengalahkan pasukan Trunojoyo dan menyerahkannya kepada Amangkurat II dengan balasan kekuasaan atas pesisir Jawa. Peristiwa ini disaksikan istri Trunojoyo, yaitu Klenting Kuning dan Klenting Wungu, serta Komandan Couper dan Kapten Jonker dari VOC.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: