Tampilkan postingan dengan label pengantin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengantin. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang warga dan hewan di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: kemungkinan abad ke-19 
Tempat terbit: London 
Tokoh:
Deskripsi: Gambar di atas memperlihatkan satwa dan juga wajah-wajah orang Jawa. D.ki.k.ka. dan d.a.k.b.: elang dan burung hantu, kuntul, kijang, harimau menyerang seorang lelaki yang menunggang kerbau, harimau, wanita dari kalangan biasa dan pengantin ningrat, pekerja pria dan prajurit
Juru foto/gambar: Archibald Fullarton
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Minggu, 02 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (6)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Kali ini Hardouin menampilkan pengantin Sunda, yang mengenakan pakaian dasar mirip pengantin Betawi sebelumnya, yaitu baju kurung merah dengan kain panjang berwarna ungu. Perbedaan terletak di hiasan kepala yang didominasi warna perak dengan motif seperti kuda. Kemudian tampaknya zaman dulu, pengantin perempuan Sunda mengenakan juga keris, serta membawa semacam pot bunga kecil dengan sebuah pohon di dalamnya. Sang pengantin juga tidak nyeker, tetapi memakain semacam terompah, yang juga memperlihatkan bahwa dia mengenakan celana panjang putih di balik kain ungunya.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI masih kental kesan lukisannya, terutama terlihat di lelaki yang berada di latar belakang. Tetapi penyajian pakaian pengantin perempuan Sunda ini sejatinya lumayan. AI bisa mereka ulang hiasan di kepala, baju kurung dengan ornamennya, kain dengan motifnya, dsb. Kekurangan ada di keris yang terlihat menjadi mainan kayu, serta terompah yang menjadi semacam sepatu masa kini, serta hilangnya celana panjang putih.
(klik untuk memperbesar)
Hardouin tidak hanya menggambarkan manusia di Jawa, tetapi juga seorang wanita yang disebut berasal dari sekitar Palembang. Dia duduk di bebatuan di tepi sebuah telaga atau sungai besar. Pakaian wanita ini memang berbeda dari yang biasa ditampilkan Hardouin untuk wanita Jawa: kain motif tenun, bukan batik, serta sepasang baju bercorak sama yang diikat sambuk, bukan baju kurung dan kain.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI lumayan bagus dalam menampilkan corak pakaian wanita dari sekitar Palembang ini
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 29 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (4)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Ini adalah gambaran yang disajikan Hardouin tentang seorang perempuan Jawa. Dia berdiri di dekat sebuah lapangan yang tampaknya merupakan bagian dari area kantor kepala desa yang tampak di latar belakang. Lapangannya sendiri digunakan seorang gembala untuk melepas kerbau agar merumput. Si perempuan sendiri mengenakan baju kurung panjang berwarna hitam, yang mengindikasikan kemungkinan ini wilayah Priangan, serta kain batik panjang, dan selendang di atas pundak yang juga terbuat dari kain batik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI jitu membuat tampilan realistis dari gambar di atas
(klik untuk memperbesar)
Gambaran Hardouin tentang seorang pengantin Betawi yang meski tinggal di perkampungan tetap mengenakan pakaian megah di hari pernikahannya. Dia mengenakan semacam baju kurung merah dengan ornamen keemasan, dengan kain ungu di bagian bawahnya, serta selendang biru muda di pundaknya. Kepalanya dihiasi dengan susuk bermotif bunga keemasan, sementara pundaknya digantungi banyak kalung. Yang tampkanya menjadi tradisi khas: Sang pengantin memegang banyak kunci yang tampknya memiliki makna tersendiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup menyajikan gambar di atas dengan cukup mendetail, termasuk ke model tikar, ubin, hingga ke wanita tua yang menengok ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 05 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (14)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Sebuah kampung di Jawa dengan rumah-rumah yang terbuat dari bambu. Seorang ibu tampak berbincang dengan seorang pedagang keliling, sementara tiga anak kecil yang hampir tanpa pakaian bermain tidak jauh dari situ.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah motif tentang Jawa yang tidak sedikit menjadi bahan lukisan: banjir. Air tampak sudah mencapi atap rumah, sehingga sebuah keluarga harus diselamatkan dengan menerobos atap. Proses penyelamatan ini menggunakan perahu atau rakit (dari pohon pisang?) sepeti yang ditampilkan di gambar di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Arak-arakan pengantin dengan adat Betawi, kemungkinan dari kalangan berada karena pengantin pria menunggang kuda, sementara pengantin wanita ditandu oleh empat pria dengan hiasan angsa di atas tandunya, dan sepasang ondel-ondel memimpin rombongan prosesi yang diiringi sekelompok pemusik.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Salah satu sudut pantai Karangbolong di Anyer yang banyak disinggahi burung walet untuk bersarang. Lima pria tampak menuruni tebing pantai dengan menggunakan tangga dan tali untuk mencapai ke sebuah gua yang menjadi tempat kumpulan sarang walet.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah rumah milik kontroleur di Jawa. Kontroleur merupakan jabatan yang sedikit banyak sejajar dengan camat sekarang. Jenjang kontroleur berada di bawah asisten residen, di bawah residen, di bawah gubernur. Berbeda dengan rumah asisten residen yang berpilar tembok, rumah kontroleur di atas ini bertiang kayu dan merupakan rumah panggung, dan kemungkinan tidak sepenuhnya bertembok batu-bata.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 27 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (8)

Sebuah rumah orang Eropa di Jakarta (Jatinegara?)
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kemungkinan Kali Besar di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kawasan pohon beringin yang sekarang merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Arak-arakan mengiring sepasang pengantin di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 25 Desember 2024

Kompilasi berwarna dari berbagai gambar dan foto yang digabungkan (3)

Di penghujung abad ke-19 ada usaha dari pihak-pihak Belanda dan pihak lain untuk memperkenalkan wajah Hindia-Belanda dengan cara yang diharapkan menarik minat banyak khalayak: Dari sekian banyak foto hitam putih, yang sebagiannya sudah pernah dimunculkan di blog ini, pihak-pihak ini mengumpulkannya, menggambar ulang dengan tangan, mewarnainya, dan menggabungkannya dengan bahan dari foto lain. Hasilnya adalah semacam kompilasi yang akan dimunculkan di seri ini.
Pengadilan desa di Jawa, pewarnaan dari foto yang pernah dimuat di posting ini
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum pria di Nusantara: 1. pemuka warga Sumatera bagian utara, 2. pria Aceh, 3. warga Padang, 4. warga Minangkabau, 5. tetua warga Pasemah, 6. pria Nias dalam pakaian perang, 7. kuli angkut di kalangan warga Dayak, 8. pemuka warga Timor, 9. pria Arafura dalam pakaian perang, 10. lelaki Bali, 11. pria Papua
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Wajah-wajah kaum wanita di Nusantara: 1. pengantin Jawa, 2. perempuan Jawa, 3. wanita Pasundan, 4. perempuan Madura, 5. warga Payakumbuh, 6. warga Minangkabau dari kawasan Gunung Merapi, 7. perempuan Payakumbuh, 8. wanita Singgalang, 9. pemuka warga Nias, 10. budak dari Batak, 11. anak perempuan dari seorang raja Batak, 12. wanita Bali, 13. perempuan Dayak
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: akhir abad ke-19
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Selasa, 30 Januari 2024

Pernikahan bangsawan Jawa yang dihadiri tamu Belanda

Sebuah pernikahan kalangan ningrat Jawa di Wonogiri pada tanggal 14 Juni 1914
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pernikahan keluarga bangsawan Jawa, kemungkinan di Semarang (berdasarkan ucapan selamat dari Khouw Beng Wan yang merupakan pengusaha percetakan di Semarang)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1914
Tempat: Semarang, Wonogiri
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 13 Juli 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (16)

Bocah Sunda memeragakan angklung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Wanita Jawa membatik, di ruangan dengan foto Ratu Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sepasang pengantin dan kenduri pernikahan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawasan pemukiman di sekitar muara sungai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman rumah di sebuah area perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: ?
Tempat: a.l. Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 19 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (4)

~1912: Kawasan Tosari (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885: Sungai Batang-Serangan di Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1914: Foto udara atas sebuah kawasan industri (kemungkinan sebuah pabrik gula di Jawa dengan jalur rel dan rangakaian lokomotif dan roli di bagian bawah foto)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885; Sebuah acara selamatan di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1920: Acara perkawinan sepasang bangsawan Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1885, 1912, 1914, 1920
Tempat: Batang-Serangan (Langkat), Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 30 Mei 2023

Wajah masyarakat Jawa dalam jepretan Kassian Céphas di sekitar penghujung abad ke-19 (1)

~1880: Petani membajak sawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1885: Penari di halaman keraton (Yogyakarta?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1880: Pengantin Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1900: Penari tayub di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1880: Dua perempuan Jawa membatik
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880, 1885, 1900
Tempat: Jawa (a.l. Yogyakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Kassian Céphas
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 18 April 2023

Dari serakan foto hasil jepretan studio "Gah Hin" dan "Onnes Kurkdjian"

Onnes Kurkdjian, ~1900: Halaman utama Hotel Tengger di kawasan Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Onnes Kurkdjian, 1924: Armada lokomotif di pabrik gula Jatiroto II, Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Onnes Kurkdjian, 1924: Para pekerja lokal di laboratorium pabrik gula Jatiroto II, Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gah Hin, ~1910: Sepasang pengantin dan orang tuanya di Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gah Hin: Sebuah keluarga bangsawan Yogyakarta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1900, 1910, 1924
Tempat: Jatoroto (Lumajang), kawasan Tengger, Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Gah Hin | Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 25 Maret 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Carl Julius Herman Salzwedel dari penghujung abad ke-19 (1)

1880: Jalan masuk menuju Hotel Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1890: Kediaman Residen Surabaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1895: Seorang pengantin Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880, 1890, 1895
Tempat: Jawa (a.l. Malang, Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 13 Februari 2023

Kumpulan foto hasil jepretan Isidore van Kinsbergen: Pengantin Banten dan penari Singaraja

Dunia purbakala Indonesia tidak akan lepas dari nama Isidore van Kinsbergen. Juru foto asal Belgia ini merupakan orang pertama yang mencoba mendokumentasikan peninggalan purbakala warga di sepanjang Jawa, dari barat hingga ke timur di sekitar tahun 1860. Di samping situs-situs terkenal seperti Borobudur dan Panataran, Isidore juga merambah ke tempat lain yang belum mendapat perhatian orang seperti Ciamis, Garut, Kuningan, Majalengka, dan Tasikmalaya. Blog ini pernah memuat sebagian dari foto-foto purbakala ini (lihat posting dari tanggal 5 Desember 2019 hingga 6 Januari 2020). Selain itu, Isidore juga meninggalkan banyak foto tentang wajah-wajah orang Jawa menjelang akhir abad ke-19 dari berbagai kalangan.

Blog ini mencoba mengumpulkan foto-foto ini yang tampak bertebaran di berbagai tempat.


Pengantin Banten (Lebak?) diapit dua pengiring berpakaian adat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penari Bali dari Singaraja, yang diberi judul salah (bukan oleh Isidore) Dansense javanaise
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Edisi lain dari foto nomor di atas
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1860-an
Tempat: Banten, Singaraja
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Isidore van Kinsbergen
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Universiteit Leiden
Catatan: Versi lain dari foto nomor 1 pernah dimuat di posting ini.