Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (36)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Kemungkinan besar pengungsian warga Tionghoa dengan menggunakan truk militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tidak ada catatan di foto ini; boleh jadi ini menunjukkan salah satu keberhasilan kesatuan zeni dalam membuat saluran distribusi air
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Juga tidak ada catatan di foto ini; sepertinya ini memperlihatkan tenda militer Belanda di lapangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang pejuang tertangkap pasukan Belanda di tepian sawah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bob (kiri) bersama dua temannya; yang perempuang mengenakan seragam kesatuan kesehatan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: kemungkinan Jawa Timur
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 17 Agustus 2026

Dari Padang sampai ke Banda: Lukisan pemandangan Nusantara karya Charles William Meredith van de Velde, 1844 (9 - Makassar tambahan)

Charles William Meredith van de Velde (1818-1898) tampaknya seorang dengan berbagai bakat dan kemampuan. Dia pernah menjadi perwira angkatan laut, tentara bayaran, pembuat peta, anggota palang merah, hingga misionaris. Salah satu keahlian dia adalah menangkap keindahan alam dari tempat yang dia kunjungi, dan menuangkannya ke atas kanvas. Dia terkenal sebagai pembuat peta Palestina di pertengahan abad ke-19, serta pelukis kota dan tempat di Palestina yang dia singgahi. Sebelumnya, dia juga mengabadikan banyak tempat di Nusantara dalam beberapa karya lukisannya, yang akan kita lihat di seri berikut ini.
Kampung Melayu di Makassar yang ramai dengan orang berbusana lokal, Arab, Eropa, serta Tionghoa, dan tampaknya menjadi tempat transaksi perdagangan untuk saudagar dari banyak tempat
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Benteng Rotterdam di Makassar dengan latar belakang tiang-tiang kapal layar dan latar depan pria-pria Eropa
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1844
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Paul Lauters yang menyalin dari karya Charles William Meredith van de Velde
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: 1) Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini. 2) Versi berwarna dari lukisan nomor 2 pernah dimuat di posting ini.

Senin, 03 Agustus 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kuburan Tionghoa di Ambon

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1833
Tahun peristiwa: abad ke-19
Tempat terbit: Perancis
Tokoh:
Deskripsi: Lukisan yang memperlihatkan seorang pria bule melukis pemandangan di area pemakaman Tionghoa di Ambon, dengan dipayungi seorang wanita lokal. Seorang pria Tionghoa tampak berbincang dengan seorang lelaki bule lain yang memegang senapan.
Juru foto/gambar: Alexis Noel yang menyadur karya Sainson
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Senin, 08 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang kelenteng di Jakarta dan patung-patungnya

Atas: Dua pria Tionghia berdiri di depan pintu sebuah kelenteng dengan dua patung di cerukan tembok kiri dan kanan. Bawah: Patung dewa Tionghoa yang disebut oleh pelukis sebagai Calamija.
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Rangkaian patung-patung di dalam kelenteng yang oleh pelukis disebut onbekende goden (dewa tak dikenal) yang boleh jadi sejatinya patung-patung Buddha
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1726
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: François Valentijn
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Sabtu, 21 Maret 2026

Lima rangkaian wajah-wajah penduduk Nusantara di sekitar tahun 1941

Senyum pemetik teh di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa pengolah timah di Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petani membajak sawah di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Dayak di selatan Kalimantan menggunakan sipet ketika berburu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perempuan Jawa menggunakan canting dalam membatik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Belitung, Jawa, Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 08 Januari 2026

Dua jasad korban kekerasan semasa Perang Kemerdekaan

Sumatera: Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah jasad seorang Tionghoa  doodgemarteld door Indonesische querilla's ("disiksa sampai tewas oleh gerilyawan Indonesia")
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Catatan foto menyebutkan bahwa ini adalah Een Europeese vrouw, eerst deerlijk verminkt, daarna met prikkeldraad omwonden in een rivier gegooid ("Seorang perempuan Eropa yang awalnya dimutilasi parah dan kemudian dilemparkan ke sungai dengan kawat berduri yang melilit luka-lukanya"). Teapi deksripsi foto ini harus dicerna dengan hati-hati karena lilitan du jasad korban kelihatannya bukan kawat berduri melainkan pohon merambat yang biasa tumbuh di sekitar sungai.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa Perang Kemerdekaan
Tempat: a.l. Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 04 Januari 2026

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (31)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Surabaya, November 1945: Tiga warga Tionghoa dan seorang pembantu (?) yang menggendong anak, mengungsi dari rangkaian pertempuran yang melahirkan Hari Pahlawan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1947: Seorang wanita Tionghoa bersama dua anak kecil mengungsi ke wilayah yang dikuasai Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jawa, 1947: Teks foto menyebutkan bahwa para pria Tionghoa ini menceritakan pengalaman mereka semasa berada di bawah kekuasan para pejuang kemerdekaan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… sementara edisi lain dari foto yang sama disertai dengan teks bahwa para pria Tionghoa ini meminta bantuan militer Belanda untuk membebaskan sejawat mereka yang disekap para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945, 1947
Tempat: Jawa (a.l. Surabaya)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga foto-foto lain di rangkaian yang dimulai di posting ini.

Selasa, 18 November 2025

Lukisan Belanda tentang Geger Pacinan, konflik bersenjata antara VOC dan warga Tionghoa Batavia, 1740 (2)

Selama hampir dua pekan, tepatnya dari tanggal 9 hingga 22 Oktober 1740, terjadi konflik bersenjata antara VOC dengan warga Tionghoa di Batavia. Diperkirakan pergolakan ini memakan korban sekitar 500 serdadu VOC anak-anak, dan orang jompo.

Dahulu, orang Belanda menyebut kejadian ini sebagai "schrikkelijke slagting der Chinezen, na de ontdekking van hun verraad" (pertempuran mengerikan orang Tionghoa setelah pengkhianatan mereka terbongkar), dan orang Jerman memberi istilah "Rebellion der Chinesen" (pemberontakan orang Tionghoa) yang senada dengan istilah Belanda "Opstand der Chinezen te Batavia", yang memberi konotasi pelaku atas warga Tionghoa. Sekarang orang lebih memilih istilah "Chinezenmoord" (pembunuhan atas warga Tionghoa) atau "Batavia Massacre" (pembantaian Batavia) yang memberi konotasi korban kepada warga Tionghoa. Sejarawan Indonesia menggunakan istilah "Geger Pacinan" yang lebih tidak memihak.

Berikut ini adalah lukisan yang pernah dimuat di posting ini sebelumnya; kali ini dalam ukuran yang dua kali lebih besar, dan tampaknya berasal dari edisi lain. Edisi ini hanya berisi keterangan dua baris di bawah gambar, tidak sebanyak yang sebelumnya. Gambarnya tetapi tetap sama, yaitu a.l. memperlihatkan bagaimana meriam VOC menembaki perkampungan warga Tionghoa (yang atap rumahnya memiliki bulan sabit) sementara api sudah membara di wilayah pecinan ini. Adegan yang mengerikan tentunya bagian di mana VOC mengepung dan membantai warga Tionghoa, atau menggiringnya ke sungai untuk kemudian ditenggelamkan.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1740
Tempat terbit: Belanda 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Adolf van der Laan 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 14 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (12)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin memperlihatkan wajah seorang ulama di Jawa di abad ke-19, kemungkinan di sebuah area keagamaan misalnya mesjid atau pesantren. Dia mengenakan serban, sarung kotak-kotak, baju gamis yang ditutup jubahm serta sndal jepit. Dia juga membawa sebuah kitab dan tasbih.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
AI cukup berhasil dalam membuat lukisan Hardouin menjadi tampak realistis. Bagian-bagian dari pakaian si ulama, hingga ke kita dan tasbihnya tampak seperti hasil fotografi. AI tetapi menambahkan kumis dan janggut putih ke Pak Kyai yang membuatnya tampak lebih matang.
(klik untuk memperbesar)
Ini adalah seorang Tionghia yang duduk memainkan kongahyan, sebuah alat musik gesek yang kemudian menyebar ke masyarakat Betawi, Sunda, Jawa, hingga ke Bali. Pria ini digambarkan bertelanjang dada dan bertaucang dan kelihatan sedang berada di sebuah kawasan pecinan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Secara keseluruhan AI lumayan berhasil menampilkan gambaran yang lebih realistis dari lukisan Hardouin di atas. Si pemain konghayan digambarkan seperti nyata, begitu juga pria di latar belakang, kawasan perumahan hingga ke lampion yang menggantung. Kesalahan muncul di alat penggesek yang ditampilkan seperti sepasang sumpit yang panjang.
(klik untuk memperbesar)
 
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 10 November 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (10)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Hardouin menggambarkan seorang Tionghoa yang bekerja sebagai pandai besi di Jakarta. Dia sedang menempa sebatang besi di atas paron, sementara di belakangnya ada tungku pemanas, tong berisi air untuk pendingin, serta sebuah palu gada yang tergeletak di lantai. Dia memakai pakaian yang sangat minimalis, kemungkina karena hawa panas di bengkel itu, tetapi tetap mengenakan tutup kepala yang pada zaman itu tampaknya memang "wajib" untuk banyak kalangan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan mantap menggambarkan si pandai besi ini, berikut peralatannya. AI malah menambahkan beberapa perkakas lain di latar belakang.
(klik untuk memperbesar)
Hardouin melukiskan seorang serdadu bayaran asal Afrika yang menaruh nyawa untuk membela kepentingan Belanda. Orang Jawa menyebut orang semacam ini londo ireng. Dia tampaknya berada di garis depan ketika armada Belanda mendarat di sebuah pesisir dan melakukan penyerbuan. Di belakang dia tampak seorang serdadu lain yang tewas dalam aksi militer ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI cukup bagus menampilkan si londo ireng, hingga ke sarung yang dia selempangkan dan kilatan bayonet yang terhunus di senapannya. Tetapi sabuk, celana, dan sepatu sang serdadu terkesan modern; tentunya karena si model AI ini lebih terlatih dengan bahan-bahan masa kini daripada masa lalu. Kemudian topi yang terjatuh tidak sesuai dengan tutup kepala yang dikenakan militer Belanda saat itu.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 25 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (2)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pendeta Tionghoa di sebuah kelenteng di Jakarta. Berdasarkan gambar di atas pendeta ini , kemungkinan seorang perempuan dan penganut Taoisme. Dia memakai jubah abu-abu dengan mantel merah-hitam yang berisi berbagai ornamen. Tangannya memegang sebuah lonceng perangkat ritual keagamaan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini lumayan menyajikan komposisi yang disajikan oleh karya Hardouin
(klik untuk memperbesar)
Seorang bupati di Jawa yang diiringi seorang punakawan. Bupati ini mengenakan blangkon batik, pakaian kebesaran dengan banyak ornamen keemasan, keris yang dipasang di pinggang belakang, kain batik yang berurai hingga ke bawah lutut, serta celana yang panjang hingga ke bawah sepatu. Sang punakawan yang berbadan kerdil membawa payung kehormatan dari kertas, mengenakan blangkon, baju kebesaran, serta sarung selutut, tanpa alas kaki.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini cukup menyajikan gambaran yang realistis, kecuali celana dan sepatu bupati yang ditampilkan seperti zaman sekarang, dan bukan model stirrup pants yang menutupi sebagian sepatu.
(klik untuk memperbesar)
  
Tahun terbit: 1855
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 15 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (19)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Kapal uap berbendera Belanda bernama “Zeemeuw”, kemungkinan dalam pelayaran menyusuri pantai barat Sumatera
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di sebuah kampung di Aceh. Seorang ibu tampak mencuci sehelai kain atau pakaian di sungai, sementara anaknya duduk di tepi, kemungkinan sesudah mandi di kali ini. Kali kecil ini memiliki jembatan sederhana dari sebilah papan. Di sebelah kiri tampak sebuah rumoh Aceh sangat sederhana, yang merupakan rumah panggung agak tinggi, terbuat dari kayu, bambu, dan atap sirap, dengan sebuah tangga menuju tempat keluarga berdiam.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pulau Penyengat yang terletak tidak jauh dari Tanjungpinang. Karena lukisan ini lumayan mirip dengan sebuah karya Van de Velde yang terbit sekitar tahun 1844 (lihat posting ini) ada kemungkinan Rappard mengambil inspirasi (menjiplak dengan variasi?) dari karya yang lebuh dulu muncul ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah tungku peleburan timah (di sekitar Bangka?). Tujuh pria bertopi caping (Tionghoa?) tampak bekerja di gedung yang panas ini. Lima orang tampak terlibat langsung di pengolahan biji timah  di dalam tungku, seorang jongkok mengawasi keluaran cairan timah dari tungku, dan seorang lain memindahkan timah cair ini ke cetakan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 09 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (16)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Senenan, sebuah tradisi permainan berkuda di kaum pria dari kalangan bangsawan dan ningrat Jawa yang ditonton khalayak ramai di latar belakang. Para lelaki ini bertelanjang dada dengan mengenakan semacam celana panjang yang ditutupi kain di bagian pinggang. Kepala para lelaki ini ditutup dengan kuluk, tetapi kakinya memilih gaya nyeker.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah gereja di Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo. Gereja ini tampak sepenuhnya terbuat dari kayu meskipun bagian yang berwarna putih mengindikasikan adanya bagian tembok.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dangau, gubuk, atau saung petani di tengah pesawahan. Dangau ini dibuat lumayan tinggi sehingga orang perlu tangga untuk memanjat hingga ke atas. Dari ketinggian ini petani, atau anak-anak mereka, bisa mengawasi bagian sawah mana yang sedang "diserang" burung sehingga mereka bisa menarik-narik tali yang cocok untuk mengagetkan dan mengusir burung yang "menyerang" ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stasiun kereta Tanggung di Grobogan. Di peron tampak petugas kereta dalam seragam putih bersiap menyambut kedatangan kereta bertenaga uap yang sudah mendekat. Empat penumpang, salah satunta pria Tionghoa bertaucang, siap menaiki kereta yang tampkanya terdiri dari sekitar empat gerbong.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kediaman Residen Semarang dengan penjagaan bersenjata. Seorang tukang kebun tampak sednag menyapu halaman, sementara seorang opas berjalan dengan sedikit merunduk sambil mengepit seberkas dokumen.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 22 September 2025

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (33): Berbagai tempat

Pemukiman warga Tionghoa di Tangerang (Serpong?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik teh (di Cibadak, Sukabumi?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pemukiman di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan karet di kaki Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Sukabumi?, Tangerang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto dengan tema "bumi hangus" sebagai reaksi para pejuang kemerdekaan atas Aksi Polisionil 1 pihak Belanda, yang dimulai di posting ini.

Jumat, 19 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (6)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Dua kuli memikul barang melewati sebuah jembatan dengan latar belakang pemukiman khas pecinan; kemungkinan ini menunjukkan wilayah Pintu Kecil, Jakarta
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Hotel Marine di Molenvliet (sekarang Jalan Gajahmada) yang ada sejak tahun 1830-an; hotel ini berhenti beroperasi 5 tahun setelah lukisan ini diterbitkan, dan berbagai bangunan telah menggantikannya hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Monumen Michiels di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) yang didirikan di tahun 1855 untuk mengenang Jenderal KNIL Andreas Victor Michiels dan para serdadu KNIL yang gugur di Hindia-Belanda; Michiels adalah komandan KNIL yang menyerang a.l. Jambi, Bonjol, Kuta, serta Singkil, dan ditewaskan di tahun 1849 oleh pasukan pimpinan Ratu Klungkung, Dewa Agung Istri Kanya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di gardu malam di Jakarta, dengan dua ronda yang tertidur, sementara yang berada di luar memegang lembing tampak hanya setengah terjaga; kentongan dan dua alat penangkap pencuri terlihat di sekitar gardu
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Keramaian di sebuah kawasan pecinan di Jakarta dengan delman, pedagang keliling, dan pedagang jongkok menghiasa pemandangan jalan, sementara di depan satu rumah tampak sebuah transaksi sedang berlangsung
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: