Tampilkan postingan dengan label Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rembang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juli 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang benteng Inggris di Rembang

(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1815
Tahun peristiwa: awal abad ke-19
Tempat terbit: Inggris
Tokoh:
Deskripsi: Ketika Inggris menguasai Jawa, mereka mengambil alih benteng Belanda di Rembang yang sudah didirikan sejak zaman VOC. Benteng yang dekat dengan laut ini terdiri dari beberapa bangunan, menara pengintai, serta  lapisan tembok mengitari wilayah dalam benteng. Dikabarkan bahwa area ini sekarang menjadi kawasan gedung DPRD Rembang.
Juru foto/gambar: William Thorn
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Kamis, 21 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam jepretan studio-studio foto Tionghoa (1)

Studio foto Tong Sing, ~1920: Seorang bocah (campuran?) dengan boneka anjing
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Tan Tjie Lan, Jakarta, 1909: Seorang Belanda bernama C. A. Vosmaer bersama empat anak perempuannya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Tee Han Sioe, Rembang: Soerang Belanda berkumis baplang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1909, 1920
Tempat: a.l. Jakarta, Rembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio foto Tong Sing, Tan Tjie Lan, Tee Han Sioe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 20 November 2023

Strategi defensif Jepang menghadapi gerakan maju pasukan Sekutu (1), 1945

Penyembunyian bahan bakar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sekitar Semarang: Pembangunan parit pertahanan untuk mengantisipasi pendaratan musuh di pantai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rembang: Pemasangan kawat berduri untuk menghambat gerakan musuh di wilayah pantai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1945
Tempat: a.l. Rembang, Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 26 September 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (4)

1921: Petani di sawah
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Seorang lelaki desa di antara rumpun bambu di kawasan Rembang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Nelayan di Banyuwangi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1910-an: Candi Borobudur di Magelang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1921: Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Banyuwangi, Bogor, Magelang, Rembang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Bandingkan foto nomor 4 dengan foto yang mirip yang dimuat di posting ini dan ini.

Rabu, 29 Juni 2022

Berbagai wajah perkebunan di sekitar tahun 1930-an

1935: Perkebunan pinus di Sumatera Utara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan jati di Rembang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1937: Perkebunan jati di Kedu (Temanggung)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah ladang di Sulawesi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Hasil perkebunan tebu di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1930-an (a.l. 1935, 1937)
Tempat: Jawa, Kedu, Rembang, Sulawesi, Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 20 Maret 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Kleynenberg & Co terbitan 1912-1914 (11)

PENGANTAR

Di sekitar tahun 1912-1914 penerbit Kleynenberg & Co. mengeluarkan album berisi 170 foto tentang jajahan Belanda. 150 di antaranya berasal dari Hindia-Belanda, sisanya dari Suriname. Kebanyakan foto-fotonya kemungkinan dibuat di awal abad ke-20, beberapa di antaranya berasal dari fotografer terkenal seperti Jean Demmeni (fotografer kelahiran Padang Panjang, campuran Perancis dan Madura), Christiaan Nieuwenhuis (mantan KNIL yang beralih jadi fotografer, menetap dan meninggal di Padang), Carl Kleingrothe (orang Jerman yang menjadi fotografer di Medan), atau Cassian Kephas (fotografer lokal yang autodidak), dsb.

Album ini menjadi menarik karena merupakan kompilasi keanekaragaman wajah Nusantara saat itu: dari pantai hingga ke pegunungan, dari Aceh hingga ke Papau, dari warga Dayak hingga ke warga Timor, dari perkebunan hingga ke industri tambang. Tak ketinggalan pula aneka macam bangunan mulai dari gua yang masih jadi tempat tinggal hingga ke rumah besar dan keraton. Dari candi, gereja, mesjid, hingga ke pura. Juga dari nelayan, petani, hingga ke penyepuh emas; serta dari bermain kartu, menenun kain hingga ke pacuan kuda.

Tentu tak mungkin semuanya terangkum hanya dalam beberapa foto; tetapi album ini berhasil menunjukkan satu sisi dari keanekaragaman ini.

Blog ini akan menampilkan 150 foto ini; beberapa di antaranya, terutama foto yang populer, pernah ditampilkan sebelumnya secara sendiri-sendiri. 42 foto pertama akan berasal dari yang tersedia di arsip Atlas Van Stolk, ini dipilih karena umumnya sudah menguning sehingga kental kesan kunonya; sisanya dari koleksi Universitas Leiden.


Tanpa nomor: Kawah Tangkuban Perahu
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1. Pantai utara Laut Jawa di Desa Bonang (Lasem, Rembang)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
2. Desa tertinggi di Jawa: Sembungan (Dieng, Wonosobo)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
3. Profil perbukitan di dataran tinggi Dieng
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
4. Dataran di Pulau Madura
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
5. Pesawahan dengan latar belakang Gunung Singgalang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
6. Ngarai Sianok, Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit antara tahun 1912 dan 1914, kemungkinan foto-fotonya sudah lebih tua lagi
Tempat (d.a.k.b.): Bandung, Lasem (Rembang), Dieng, Dieng, Madura, Agam, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Kleynenberg & Co (Haarlem) / Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 11 Mei 2020

Warisan Kartini: Peninggalan dan kenangan

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Salah satu karya seni Kartini (kemungkinan dibuat di sekitar tahun 1900)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Beberapa karya Kartini, 1902
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1904: Makam R.A. Kartini di Rembang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Rembang, 1905 Makam Kartini (paling kanan); yang di tengah adalah makam istri pertama RMAA Singgih Joyodhiningrat, suami Kartini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Leiden, 1939: Masyarakat Belanda dan Indonesia mengenang Kartini; dari warga Indonesia a.l. Soedjarwo Tjondronegoro (lelaki di tengah baris kedua, dengan jas gelap) yang kelak menjadi Dubes Indonesia di Belanda, dan Tuan Yusuf Muda Dalam (baris ketiga, kedua dari kiri) tokoh kiri yang kemudian menjadi Gubernur Bank Indonesia, dan setelah G30S divonis mati di awal masa Orde Baru.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
21 April 1953: Perayaan Hari Kartini
(klik untuk memperbesar | © NMVW)

Waktu: 1900, 1902, 1904, 1905, 1939, 1953
Tempat: Jepara (dua foto pertama), Rembang (foto nomor 3 & 4), Leiden (foto nomor 5)
Tokoh: Soedjarwo Tjondronegoro, Tuan Yusuf Muda Dalam (lihat catatan di foto nomor 5)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Nationaal Museum van Wereldculturen
Catatan:

Sabtu, 09 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: RM Singgih, anak Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

1904: Singgih ketika bayi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Sekitar 1904: Singgih belum genap setahun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1906: Singgih di usia 17 bulan
(klik untuk memperbesar | © Tee Han Sioe / Universiteit Leiden)
Sekitar 1912: Singgih di umur 8 tahun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
1914: Singgih di umur 10 tahun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1904, 1906, 1912, 1914
Tempat: Rembang
Tokoh: Raden Mas Singgih (anak Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Tee Han Sioe (foto ketiga)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Kamis, 07 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: RMAA Singgih Joyoadhiningrat, suami Kartini

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Rembang, 1903: Kartini dan suaminya, R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat
(klik untuk memperbesar | © Tee Han Sioe / Universiteit Leiden)
Foto yang sama dari saat pengambilan yang berbeda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Belakang: Kartini, R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat;
depan d.ki.k.ka: Sumantri, Rukmini, Kardinah
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)


Waktu: 1903
Tempat: Rembang
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini), R.M.A.A. Singgih Joyoadhiningrat (Bupati Rembang, suami Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Tee Han Sioe (paling tidak dua foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Selasa, 05 Mei 2020

Dari album foto keluarga Kartini: Kartini dan saudara-saudaranya (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Sejarah Hindia-Belanda menunjukkan bahwa tokoh yang menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia, bagi pihak Belanda saat itu tak lebih dari pemberontak, pembuat onar, penyulut kerusuhan, dsb. Sebaliknya, orang yang diberi tanda jasa oleh Belanda, bagi bangsa Indonesia merupakan pembantai, penjahat perang, kolaborator, dsb.

Raden Ayu Kartini merupakan satu dari sedikit pengecualian: Orang Belanda dan Indonesia sama-sama kagum dan menghargai apa yang beliau rintis untuk memajukan bangsa Indonesia, terutama kaum perempuannya. Bahkan kemudian warga Belanda bersama warga Indonesia bersama-sama meneruskan dan mengembangkan apa yang telah beliau mulai, yaitu dengan menghidupkan sarana pendidikan untuk anak-anak perempuan Indonesia.

Seri foto berikut ini akan menampilkan foto-foto Kartini dan keluarganya, dan diteruskan dengan munculnya sekolah-sekolah Kartini di berbagai pelosok

Kartini, Kardinah, Rukmini
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kartini, Kardinah, Rukmini (potret Kartini yang populer berasal dari foto ini, begitu juga tanda tangan beliau)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Semarang 8/9 Agustus 1900: Kardinah, Kartini, Rukmini
(klik untuk memperbesar | © Helios / Universiteit Leiden)
Rembang, 1903: Sumantri, Rukmini, Kartini, dan Kardinah mengenakan kimono
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1900 (tiga foto pertama), 1903 (foto terakhir)
Tempat: Rembang, Semarang
Tokoh: Raden Ayu Kartini (perintis pendidikan perempuan), Kardinah (adik Kartini), Rukmini (adik Kartini), Sumantri (adik tiri Kartini)
Peristiwa:
Fotografer: Charls & Co. / Helios
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto terakhir merupakan tayang ulang dari posting sebelum ini.

Sabtu, 31 Agustus 2019

R.A. Kartini dan adik-adiknya mengenakan kimono, 1903

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903
Tempat: Rembang
Tokoh:
Peristiwa: Kartini berfoto bersama adik-adiknya, Kardinah dan Rukmini, serta adik tirinya, Sumantri. Semuanya mengenakan kimono. Setahun kemudian Kartini wafat.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Woodbury & Page | Universiteit Leiden
Catatan: