Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepeda. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (19)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Peralatan komunikasi yang digunakan militer Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Patroli sebuah kesatuan Belanda di tepi sebuah kali
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Reruntuhan bangunan di Surabaya, ada kemungkinan sisa pertempuran 10 November 1945, dengan latar belakang Kantor Gubernur Jawa Timur
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Persimpangan yang sekarang menghubungkan Jalan Pahlawan, Jalan Veteran, dan Jalan Kebon Rojo di Surabaya. Selain trem, truk militer, delman, dan sepeda, foto ini memperlihatkan bangunan Lindeteves-Stokvis, Soerbaiasch Handelsblad, serta Kantor Gubernur di kejauhan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu kolong spoor viaduct di Surabaya yang menjadi tempat gelandangan berkumpul
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: Surabaya dan sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 23 Juli 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (11)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Bocah-bocah di sebuah kampung dengan penampilan yang hampir seragam: telanjang dada, celana goni dengan sabuk seadanya, memegang arit, sebagian memakai semacam peci, dan perut busung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga lelaki memikul keranjang berpapasan dengan truk Angkatan Laut Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
5 Desember 1946: Tank yang disulap menjadi kapal Marbrig yang membawa rombongan Sinterklaas dan Zwarte Piet …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… yang tampaknya berkeliling Surabaya hingga malam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kunjungan seorang politisi Belanda yang sempat difoto oleh Bob
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 29 Juni 2026

Dari lembaran propaganda Jepang tentang keberhasilan mereka menduduki Nusantara, 1942 (2)

Barak tentara Belanda yang digambarkan Jepang sebagai ditinggalkan dalam keadaan berantakan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Semarang: Pertahanan di pantai dengan meriam dan pagar penghadang yang sudah dikuasai Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gerak maju kesatuan infantri Jepang di pagi hari
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barak darurat dari kesatuan bersepeda Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942
Tempat: a.l. Semarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 26 Mei 2026

Penampilan KNIL Darat sebelum Perang Dunia II (1)

22 Januari 1927: Para opsir Batalion XX di tangsi mereka di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
11 Desember 1937: Kesatuan KNIL menangkap dan menggiring para "pemberontak" di Seram Barat (di Kamal, Kairatu Barat?). Catatan foto memakai istilah de deelnemers aan het verzet (pelaku perlawanan) tanpa memberi rincian lebih lanjut tentang perlawanan yang dilakukan warga Maluku ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
2 Juli 1938: KNIL mencoba pemakaian alat komunikasi militer yang mereka kembangkan sendiri. Alat ini beratnya sekitar 25 kg, masih bisa diangkut dengan punggung, dan memiliki jangkauan kirim-terima signal sekitar 10 km.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kesatuan artileri KNIL berpose dengan meriam mereka
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1927, 1937, 1938
Tempat: a.l. Jakarta, Maluku
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 12 Mei 2026

Latihan militer KNIL di sekitar Tanjung Priuk, 1934 (2)

Panglima KNIL Letnan Jenderal Koster (berkacamata), didampingi ajudannya dan beberapa anggota Volksraad (a.l. Van Baalen di latar depan), mengamati jalannya latihan militer yang mensimulasikan adanya pendaratan musuh di pesisir Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Simulasi penyerbuan musuh dengan menggunakan perahu pendarat yang dihadapi KNIL dengan penembakan cahaya yang menerangi langit dan kawasan pesisir
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan foto latihan yang memperlihatkan satuan komunikasi (kanan atas), artileri (kiri bawah), lampu sorot (kanan bawah), serta bagaimana latihan ini menjadi tontonan bagi warga sekitar (kiri atas)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 22 September 1934
Tempat: sekitar Tanjung Priuk, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 06 Mei 2026

Tim sabotase KNIL siap meninggalkan Kalimantan setelah membakar Balikpapan, 1942

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 2 Februari 1942
Tempat: Kalimantan (kemungkinan sekitar Balikpapan)
Tokoh:
Peristiwa: Di akhir Januari 1942, ketika gerak maju pasukan Jepang makin tak terbendung dan posisi KNIL makin terdesak, pihak Belanda di Balikpapan memutuskan untuk membentuk satuan yang bertugas membuat sabotase terhadap fasilitas penting, seperti kilang minyak, agar tidak bisa dimanfaatkan militer Jepang. Setelah menyebar beberapa kebakaran, satuan ini berpencar dalam beberapa grup kecil. Satuan di atas terdiri dari 3 orang: J.A. van Schaveren dan D. Schotte yang duduk, serta W.A. van der Pijl yang mengambil foto. Mereka sedang menunggu kedatangan perahu yang akan membawa mereka ke Sulawesi, kemudian ke Lombok, untuk selanjutnya pulang (ke Belanda melalui Australia?). Ketiga orang ini termasuk yang beruntung tidak tertangkap Jepang, tidak ditahan dan dibuang ke kamp tawanan, dan tidak tereksekusi Jepang.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 09 Maret 2026

Adu domba di alun-alun Sumedang

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: ?
Tempat: Sumedang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 11 November 2025

Propaganda semasa Perang Kemerdekaan yang menjelekkan Republik Indonesia dan memperindah Belanda (3)

Orang bilang, ketika dua kubu berkonflik maka pihak pertama yang menjadi korban adalah sang kebenaran. Kedua kubu akan berusaha mencari dukungan, baik dari dalam maupun dari luar, agar posisi dia semakin kuat dalam perseteruan. Usaha ini tidak jarang dilakukan dengan peluncuran propaganda yang tentunya membagus-baguskan diri sendiri, dan memburuk-burukkan pihak lain. Tidak jarang pula bahan propaganda ini tidak selaras dengan fakta dan kebenaran. Dan ini terjadi dari dulu hingga sekarang.

Rangkaian foto berikut akan menampilkan hal seperti ini. Semasa Perang Kemerdekaan dulu rupanya ada kalangan yang memunculkan foto-foto sebagai pembuktian bahwa Republik Indonesia itu menyengsarakan dan/atau masyarakat di Nusantara suka dengan pemerintahan Kerajaan Belanda. Kita akan coba untuk meneliti apa yang sebenarnya ditampilkan oleh foto-foto ini.


(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
  • Teks asli penyerta foto:Bij de bevrijding van Medan door de Politionele actie kwamen ook ondergedoken Britsch Indiërs voor de dag voor een loyaliteitsdemonstratie.
  • Terjemahan:Ketika Medan dibebaskan melalui Aksi Polisi, warga India-Inggris yang bersembunyi juga maju menunjukkan kesetiaan [terhadap pemerintahan Belanda].
  • Bahasan:Foto dibuat pada tanggal 27 Agustus 1947 di Pematang Siantar, jadi bukan di Medan. Warga di foto ini berburus mendukung Negara Sumatera Timur, jadi bukan yang tadi bersembunyi kemudian keluar menyambut kembalinya Belanda. Dan yang disebut "warga India-Inggris" sejatinya adalah para pendatang dari Jazirah Hindia dan/atau keturunannya yang mengadu untung dengan berusaha di sekitar pantai timur Sumatera.
  • Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.
Waktu: 27 Agustus 1947
Tempat: Pematang Siantar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 31 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (10)

Sebuah bangunan dengan judul "Kantor Oeroesan Peranakan" yang kemungkinan menangani persoalan terkait warga campuran pribumi dan asing
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kerumunan warga di depan bangunan yang dicoreti para pemuda dengan tulisan "Freedom the glory of any nation!" (Kemerdekaan, kemuliaan setpa bangsa!)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan yang tampak mengalami kerusakan, kemungkinan akibat serangan udara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan yang hancur, kemungkinan akibat serangan udara Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Jumat, 29 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (9)

Seorang bule menaiki becak melintasi bangunan yang kelak akan menjadi Istana Merdeka; bintang tanda militer Jepang masih terpampang di posisi yang sekarang ditempat Garuda Pancasila
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan berhuruf Kanji beserta beberapa tukang yang tampak sedang membongkar tembok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bagian dari kamuflase dan strategi pertahanan Jepang di tengah kota Jakarta dengan latar belakang Gereja Katedral
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tampak dalam sebuah rumah yang kemungkinan ditempati pembesar Jepang, tampak berantakan dengan kursi yang sudah dijarah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Rabu, 27 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (8)

Sebuah tembok tepi sungai yang dicoreti para pemuda dengan tulisan "For ever free or a general slaughter!" (Merdeka selamanya atau pembantaian massal!)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan tempat warga Jepang dulu potong rambut, sekarang tampak melompong
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan yang dikosongkan Jepang setelah mereka kalah perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pintu ke bunker pertahanan dan persembunyian Jepang di sebuah taman
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kerumunan warga di depan Toko Okamura yang tampak dijaga petugas keamanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Senin, 25 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (7)

Penguburan kembali para warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di masa perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kuburan warga kulit putih di tempat tak terawat, kemungkinan akan dipindahkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bangunan yang sebelumnya digunakan pemerintahan pendudukan Jepang tampak kosong dan ditinggalkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bagunan yang sebelumnya digunaka oleh Hudoosan Kanrikoodan (Badan pengawas barang-tetap) tampak ditelantarkan, menyisakan gundukan pasir (bekas lapisan pertahanan?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bangunan yang kelak menjadi Istana Negara tampak masih dijaga tentara Jepang, mengindikasikan masih adanya petinggi Jepang yang tinggal atau berkantor di sana
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Selasa, 19 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (4)

Sebuah trem jalur 2 jurusan Kramatjati (?)-Menteng, yang diberi coretan yang ditujukan ke pihak Belanda: "Better to hell than to be colonised again; Respect our red and white flag" atau "Mendingan ke neraka daripada dijajah lagi; Hormati bendera merah putih kami"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang pemuda membaca pengumuman yang tampaknya tentang pergantian atau masa berlaku uang Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pengumuman yang sama dikerumuni beberapa warga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa propaganda Jepang yang masih berdiri: "Hantjoerkanlah moesoeh kita! Inggeris-Amerika"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah trem jalur 4 yang diberi coretan yang ditujukan ke pihak Belanda: "Away with tyranny and oppression! V. Mook,  Plas you cause a rebellion in Indonesia" atau "Singkirkan tirani dan penindasan! V[an] Mook, [Charles van der] Plas, kalian penyebab pemberontakan di Indonesia", dengan latar depan sepasang Belanda menaiki sepeda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.

Jumat, 15 Agustus 2025

Jakarta sekitar September 1945, ketika Republik Indonesia baru berumur beberapa hari (2)

Seorang prajurit Australia mengamati sebuah gundukan tanah yang menjadi kuburan dari kemungkinan seorang warga kulit putih yang dieksekusi Jepang di saat perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang prajurit Australia (kiri), tampaknya ditemani seorang penerjemah (kanan) menanyai seorang warga (tengah), kemungkinan tentang lokasi yang digunakan Jepang untuk mengubur korban-korban eksekusi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Berdasarkan tulisan Kanji-nya kemungkinan ini adalah rumah atau gedung yang menjadi markas polisi militer Kempetai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah tempat yang tampaknya menjadi tempat penumpukan mobil-mobil curian/terlantar (lihat posting berikutnya); teks dalam huruf Latin berbunyi "Outo2 ini di tjuri orang maka kalau ada mempoenja sendiri datang ke kantor Kenpeitai [?] kembali"
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah trem jalur 2 jurusan ?-Menteng, yang sudah diberi gambar bendera Merah Putih, tanda palang merah, serta coretan yang ditujukan ke pihak Belanda: "Don't touch our national symbol, it would be plain suicide" atau "Jangan sentuh simbol bangsa kami, itu sama saja dengan bunuh diri". 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: (kemungkinan besar) H. Ripassa
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga seri foto yang dibuat oleh H. Ripassa tentang Jakarta di sekitar September dan Oktober 1945 yang dimulai di posting ini.