Tampilkan postingan dengan label 1917. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1917. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2022

Foto-foto keluaran studio Kurkdjian di album milik J.J.A. van Meel (7)

1917: Albertina Beatrice, kapal layar pertama yang berangkat dari Surabaya ke Rotterdam dengan membawa muatan tembakau
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1917: Para tamu dan undangan di Albertina Beatrice sebelum kapal memulai perjalanan menuju Rotterdam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1917: Armada kapal yang dimiliki oleh J.J.A. van Meel
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1917: John Davie, kapal layar lain untuk mengangkut tembakau dari Surabaya ke Rotterdam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1917: Para tamu dan undangan di John Davie sebelum kapal memulai perjalanan menuju Rotterdam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto penutup dengan pemandangan ke kawasan yang sekarang menjadi "Taman Nasional Bromo Tengger Semeru"
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1917
Tempat: Surabaya, Jawa Timur
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 13 Februari 2022

Jumat, 07 Agustus 2020

Minggu, 12 April 2020

Keluarga campuran Belanda-Indonesia (4)

PENGANTAR

Sejarah kolonialisme di seluruh dunia menunjukkan bahwa bangsa yang dominan/menjajah dianggap sebagai warga kelas satu, sementara masyarakat lokal/terjajah menjadi warga kelas bawah; masing-masing hidup terpisah di kelompoknya sendiri-sendiri. Meski demikian, jodoh terkadang punya jalur sendiri, yang memunculkan pernikahan campuran antar dua etnis yang berbeda ini. Tak terkecuali di Indonesia; di zaman penjajahan pun sudah muncul pernikahan antara warga Belanda dengan warga pribumi.

Tapi perlu dicatat, perkawinan campur ini umumnya antara pria Belanda dan wanita pribumi. Hubungan antara wanita dari kelompok dominan dengan lelaki pribumi masih dianggap tabu.

Berikut beberapa foto dari pernikahan campuran itu, bersama buah "Indo"-nya.

Tiga foto cukup menarik karena memperlihatkan perkembangan si bapak yang menjadi semakin tua, sementara anak-anaknya semakin besar. Posisi si ibu di dalam foto juga perlu dicatat: Awalnya hanya di latar belakang, kemudian makin terlihat, dan akhirnya berada di pusat perhatian.

Sekitar 1910
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1912
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekitar 1917
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1910, 1912, 1917
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 07 Juli 2018

Perempuan Belanda dan kebaya (4): Jakarta 1917

PENGANTAR

Sebelum ini sudah ada posting yang menunjukkan bagaimana wanita Belanda/bule mengenakan kebaya (di sini dan di sini). Hal yang selintas seperti biasa ini bisa menjadi menarik ketika kita bertanya: "Mana lelaki Belanda mengenakan pakaian daerah Indonesia?" Ketika kita melihat-lihat foto zaman dulu, para lelaki Belanda hampir semuanya berpakaian "a la kolonial" atau pakaian yang mereka juga lazim kenakan di negeri asalnya.

Apakah ini menunjukkan bahwa kaum perempuan lebih terbuka untuk menerima budaya lain, meskipun itu berasal dari masyarakat yang ‒saat itu‒ dianggap lebih inferior? Sementara kaum lelaki gengsinya lebih tinggi dan merasa turun martabat jika harus mengenakan sarung?

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1917
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 01 April 2016

Ngaben, Bali 1917

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 1917
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa: Upacara ngaben di Bali pada tahun 1917
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sabtu, 22 Maret 2014

Regu pemadam kebakaran di Jawa, 1917

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1917
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa: Sukarelawan pemadam kebakaran, dengan peralatan ember dan lentera, berpose.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Bettmann / Corbis