Tampilkan postingan dengan label Johan Harmen Rudolf Köhler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Johan Harmen Rudolf Köhler. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (15)

Jembatan kayu di atas Krueng Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tentara Belanda di sisi utara Keraton Aceh yang mereka duduki
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Area kuburan para sultan Aceh
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Gambar para panglima yang oleh Belanda disebut "penakluk" Aceh: Köhler, Van Swieten, Van Kerchem, Vam der Heijden, Van Pittius, Pel, Verspyjk, Diemont
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tiga pemuka Kuala Gigieng, Aceh: Syahbandar, Habib Abdurrahman, dan Raja
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Selasa, 23 Agustus 2022

Aceh, Minangkabau, dan Priangan di tahun 1880-an dalam koleksi foto Woodbury and Page (5)

Kemungkinan kompleks perumahan perwira Belanda di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tampak dalam sebuah benteng Belanda di Aceh dengan barak tentara dan meriam
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Monumen Kohler, jenderal Belanda yang tewas di Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan kawasan pemukiman warga Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah mesjid di Lambaro, Aceh, yang diduduki Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1880-an
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury and Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 5 pernah dimuat di posting ini.

Jumat, 04 Februari 2022

Dari sebuah album Woodbury & Page tentang Aceh di sekitar tahun 1887 (8)

Formasi warga Aceh bersenjata
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan rumah seorang pembesar Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Barak tentara KNIL, kemungkinan di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Makam sekaligus monumen Jenderal Köhler
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekelompok warga Aceh bersenjata kayu
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1887
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Juli 2020

Pengagungan atas Johan Köhler, jenderal Belanda yang tewas pada saat Perang Aceh

Saat gugurnya Jenderal Köhler di dekat pohon yang kelak memangku namanya; lukisan dibuat tahun 1879
(klik untuk memperbesar | © Emrik & Binger / AVS)

Köhler dikabarkan sudah terlihat bakatnya sejak kecil, ketika Raja Willem III mengunjungi keluarga (bapaknya) Köhler, dialah yang mendapat perhatian Sang Raja, meskipun dia yang termuda
(klik untuk memperbesar | © Emrik & Binger / AVS)

Kuburan yang menjadi monumen Köhler, dengan tanggal kematian 14 April 1873 dan tulisan Voor Atjeh (demi Aceh); foto diambil tahun 1934
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sisi lain dari makam Köhler yang menampilkan tanggal kelahirannya 3 Juli 1818
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1879 (tahun penerbitan lukisan pertama, dan mungkin juga kedua); 1934 (tahun pengambilan foto ketiga dan keempat)
Tempat:  Aceh, Belanda
Tokoh: Johan Harmen Rudolf Köhler (jenderal Belanda yang tewas pada saat Perang Aceh 1873), Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk (Raja Belanda 1849-1890)
Peristiwa:
Juru gambar/foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:






Senin, 01 Juni 2020

Buku bergambar untuk anak-anak Belanda tentang Perang Aceh (1)

Gambar-gambar berikut berasal dari buku Tafereelen uit den oorlog met Atchin; voor de jeugd (Adegan-adegan Perang Aceh, untuk kaum muda) yang mencoba menampilkan Perang Aceh kepada anak-anak Belanda dalam bentuk gambar dan sajak. Tentu saja Belanda digambarkan berada di pihak yang baik, dan Aceh di pihak sebaliknya. Kita akan melihat bagaimana Belanda diceritakan harus menghadapi penderitaan dan kesusahpayahan; tetapi pada akhirnya mendapatkan kemenangan. Pembantaian atas warga Aceh tentu saja tidak akan ada di buku ini.

Jilid buku
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sajak pertama memberikan justifikasi mengapa Belanda menyerang Aceh. Aceh digambarkan sebagai perompak yang merebut apa saja yang mereka dapatkan. Belanda mengirimkan para pahlawannya untuk menghentikan ini.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sajak kedua menggambarkan keberanian Mayor Jenderal Köhler yang berujung pada gugurnya di medan perang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Waktu: buku berkisah tentang peristiwa di tahun 1873-1874
Tempat: Aceh
Tokoh: Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler (Panglima ekspedisi Belanda pertama di Aceh)
Peristiwa:
Penerbit: A. Tjaden
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:
Sajak pertama
Ontscheping.
In het verre Oosten,
Aan Sumatra's Noorderstrand,
Ligt het rijk der Atchineezen,
Grooter dan heel Nederland
't Woest, naar strijd begeerig, volkje
Roofde zeer brutaal ter zee,
En sleepte al wat het kon vangen,
Als zijn buit d'oever mee.
Dat wou Neerland niet gedoogen,
En het zond zijn helden uit
Om den Atchinees te dwingen,
Tot vergoeding voor dien buit.
Sajak kedua
Sneuvelen van Köhler.
Köhler zou den strijd besturen,
Hij was vurig van gemoed,
En men dacht: bij 't zien der wapens
Onderwerpt zich heel 't gebroed.
Maar men had te min gerekend
Op des vijands dweperij;
Waren onze strijders moedig,
Gene vielen zij aan zij
Köhler waagde, bij een treffen,
Zich te dicht bij 's vijands lood,
En hij vond, als dapper krijgsman,
Op het veld den schoonsten dood.