Tampilkan postingan dengan label Joseph Luns. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joseph Luns. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2020

Karikatur Belanda tentang korupsi pejabat tinggi Indonesia di tahun 1955-1956

Het Parool, 16 Agustus 1955
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Djody Gondokusumo adalah Menteri Kehakiman di Kabinet Ali Sostroamidjojo I, tepatnya dari tahun 1953 hingga Agustus 1955. Djody tersandung kasus gratifikasi dari pengusaha Hong Kong bernama Bong Kim Chong demi kemudahan mendapatkan visa. Karikatur di atas mengacu ke berita Reuter/AP yang menyebut angka 200.000 strait dollar (mata uang yang digunakan di jajahan Inggris di Asia Tenggara). Tampak Djody digambarkan berada di balik jeruji dalam tahanan polisi militer, di area dengan latar belakang kawasan pecinan.

Het Parool, 16 Agustus 1956
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Entah kebetulan atau tidak, persis di tanggal yang sama setahun kemudian, media yang sama dengan karikaturis yang sama memuat kasus korupsi yang menyeret Menteri Luar Negeri Ruslan Abdulgani, terkait dengan warga Tionghoa bernama Lie Hok Thay. Putusan pengadilan di bulan April 1957 memvonis Ruslan denda sebesar Rp. 5.000 karena membawa uang titipan dari Lie Hok Thay ke Amerika Serikat untuk Letkol Prayogo. Di sidang bulan September 1957, Lie Hok Thay mengaku juga memberi uang sebesar Rp. 930.000 kepada Ruslan (di samping Rp 1.117.000 untuk Menteri Penerangan saat itu Sutan Makmur).

Karikatur di atas menggambarkan Ruslan berada di London dalam Konferensi Suez, diapit Menlu Belanda Joseph Luns dan Menlu AS John Foster Dulles. Tampak Luns berbisik ke Ruslan: "Rindu pulang kampung?" sementara Ruslan memikirkan polisi militer yang sudah siap dengan borgol.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Indonesia dan Inggris
Tokoh: Djody Gondokusumo (Menteri Kehakiman), Ruslan Abdulgani (Menteri Luar Negeri)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 12 November 2020

Karikatur Belanda tentang pertemuan Menlu Belanda dan Indonesia, Joseph Luns dan Anak Agung, di tahun 1955-1956

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Het Parool, terbitan 13 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas hubungan Indonesia dan Belanda, tapi pertemuan ini dibayang-bayangi oleh de derde man (orang ketiga), yaitu Leon Jungschläger yang kasus hukumnya memperburuk hubungan kedua negara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 17 Desember 1955
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns untuk membahas perbaikan hubungan Indonesia dan Belanda. Luns tapi tampak tidak begitu bahagia karena Anak Agung tampak yang mendikte pembicaraan. Istilah menu à la carte diplesetkan oleh Jordaan menjadi menu à la (Dja-)carte.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: ?, terbitan akhir 1955 atau awal 1956
Juru gambar: Charles Boost
Isi: Karikatur ini berjudul Daar zijn we weer (kita bertemu lagi), yang memperlihatkan keengganan Joseph Luns bertemu dengan Anak Agung. Menariknya, Joseph Luns jutsru tampak didorong oleh orang-orang berpeci, atau pihak Indonesia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 21 Januari 1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Anak Agung bertemu Joseph Luns di Jenewa dengan dibayang-bayangi kekhawatiran pecahnya hoop (harapan), begrip (pengertian), dan vertrowen (kepercayaan) antara kedua negara yang diwakili.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Media: Vrij Nederlands, terbitan 24 Februari1956
Juru gambar: Leo Jordaan
Isi: Pertemuan antara Anak Agung dan Joseph Luns di Swiss pada musim dingin benar-benar membuat pembicaraan antara keduanya membeku.

Waktu: 1955, 1956
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke pertemuan Anak Agung dan Joseph Luns di Jenewa, Swiss
Tokoh: Ida Anak Agung Gde Agung (Menteri Luar Negeri Indonesia), Joseph Luns (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa: Di akhir tahun 1955 dan awal 1956 berlangsung Konferensi Belanda-Indonesia dengan tujuan memperbaiki hubungan kedua negara, yang delegasinya dipimpin oleh menteri luar negeri masing-masing.
Juru foto/gambar: Charles Boost / Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 17 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Faktor Tunku Abdul Rahman

Vrij Nederland, 22 Oktober 1960: "Ik vond het niet nodig vooraf met de Nederl. Regering te praten"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Vrij Nederland, 3 Desember 1960:
Soepele diplomatie: "Geen verwikken aan … welterusten!"
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Kedua karikatur ini menunjukkan bagaimana Belanda merasa bahwa Federasi Malaya (kelak menjadi Malaysia), yang diwakili oleh Perdana Menterinya, Tunku Abdul Rahman, memiliki kepentingan tersendiri dalam hal Papua (yang tidak dijabarkan lebih lanjut).
Karikatur pertama memperlihatkan bagaimana Rahman berkata kepada A.H. Nasution dalam hal Papua, di belakang Joseph Luns, bahwa "Saya tidak merasa perlu untuk berbicara dengan pemerintah Belanda sebelumnya."
Di karikatur kedua tampak Rahman tidak melanjutkan kegiatan menyetrika baju (di atas badan Subandrio), dan melepas sepatu serta memakai baju tidur, membawa lilin ke kamar, dan berkata "Selamat malam." Potongan koran di pojok kanan atas menyebutkan bahwa Subandrio sebelumnya berkata bahwa satu-satunya penyelesaian masalah Papua adalah dengan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia secepatnya. Tunku Abdul Rahman mengomentari pernyataan ini dengan berkata: "Jika ini adalah posisi resmi pemerintah Indonesia, maka langkah saya berikutnya adalah pergi tidur dulu."

Waktu: 1960
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 15 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Belanda gagal melobby Amerika

Het Parool, 4 April 1961: Zonder Commentaar
(Tanpa komentar)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordan / AVS)

Vrij Nederland, 15 April 1961: Bij het Concertgebouworkest liet de president verstek gaan …
… Hij gaf de voorkeur aan een solo-recital

(Sang Presiden terlihat melamun di gedung konser … dia –si pemusik?– lebih suka bermain solo)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordan / AVS)


Salah satu hal yang dirasakan Belanda dalam konflik dengan Indonesia mengenai Papua adalah bahwa Amerika Serikat tidak berada di pihak mereka. Karikatur pertama memperlihatkan bagaimana Menlu Belanda Joseph Luns, berusaha menarik Presiden AS John F. Kennedy untuk berbicara mengenai "Dewan Papua" tetapi tidak ditanggapi.

Karikatur kedua memperlihatkan akhirnya Kennedy mau masuk ke gedung pertunjukan, tetapi tampak duduk kebosanan dan tanpa perhatian atas apa yang dipertunjukkan oleh Luns. Satu catatan untuk karikatur ini: Notasi musik di depan cello secara cerdik menampilkan "N. GUINEA".

Waktu: 1961
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordan
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 13 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Tema yang membesar

Vrij Nederland, Oktober 1958: Je kunt er mee sukkelen …
(Mereka bisa bergelut dengannya)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Di tahun 1958, Belanda masih melihat dirinya senasib dengan Inggris dan Amerika dalam hal Papua. Inggris, digambarkan oleh Harold MacMillan harus menangani masalah Siprus, dilambangkan dengan kucing galak dalam karung. Sementara Amerika, digambarkan oleh John Foster Dulles harus berurusan dengan persoalan Taiwan yang dilambangkan dengan naga penyembur api. Belanda, digambarkan oleh Willem Drees, meski tampak harus menanggung beban berat, tetapi relatif tidak terganggu oleh beban Papua yang dilambangkan dengan babi hutan. Ketiganya digambarkan harus membawa "hewan peliharaan" mereka ke klinik hewan PBB.

Vrij Nederland, Juli 1961: "Luipaard op schoot"
(Macan tutul di pangkuan)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

"Luipaard op schoot" adalah acara TV populer di Belanda tentang hewan liar. Karikatur ini menggambarkan bagaimana di tahun 1945 Belanda masih melihat Papua sebagai kucing kecil yang lucu. Tetapi di tahun 1961, kucing ini sudah membesar menjadi macan besar yang memberatkan.

Algemeen Dagblad, Oktober 1962: Einde tijdperk Nieuw Guinea
"Vaarwel mijn Nieuw Guinea, verwacht een andere Heer"
(Akhir dari Ginea Baru; "Selamat tinggal Ginea Baruku, nantikan tuan barumu")
(klik untuk memperbesar | © Fritz Behrendt / AVS)

Akhirnya  di tahun 1962, Belanda, digambarkan oleh Joseph Luns dan Jan de Quay dalam kapal layar berbentuk terompah tradisional Belanda, harus meninggalkan Papua. Di ufuk langit tampak matahari bermuka Soekarno terbit.

Waktu: 1958, 1961, 1962
Tempat: Papua (dilambangkan)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Fritz Behrendt
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: