Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkebunan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2026

Lima rangkaian wajah-wajah penduduk Nusantara di sekitar tahun 1941

Senyum pemetik teh di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa pengolah timah di Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petani membajak sawah di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Dayak di selatan Kalimantan menggunakan sipet ketika berburu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perempuan Jawa menggunakan canting dalam membatik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Belitung, Jawa, Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 13 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (18)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Suasana di sekitar pelabuhan Padang. Beberapa bangunan beratap merah berderet di kawasan yang bersih, sementara sebuah perahu beratap mengangkut penumpang ke arah sebuah kapal uap yang sedang bergerak. Di latar tengah tampak dua kapal layar "bersembunyi" di belakang kerimbunan sebuah pulau, dan duar perahu layar beraktivitas di perairan pelabuhan.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Gedung Gubernur Sumatera Barat di Padang yang sepenuhnya bergaya kolonial. Ini tampak dari model bangunan yang satu lantai dengan tembok bercat putih, serta pilar-pilar bundar di bagian depan. Tembok depan memiliki beberapa pintu dengan jenis dua bilah yang memiliki sekat-sekat udara.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Usaha pengolahan kopi milik orang Belanda di Lubuk Selasih, Solok. Dua pekerja tampak sedang mengeringkan kopi di dalaman dengan menyebarkannya serata mungkin. Seorang pekerja lain memikul karung yang kemungkinan berisi biji kopi yang akan dijemur. Di latar belakang kanan tampak sebuah mesin giling kopi yang menggunakan batu dan tenaga manusia. Sang pemilik atau pengawas usaha ini berdiri di depan kantornya, sementara di latar belakang kiri kemungkinan duduk istrinya di beranda rumah mereka.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Suasana di sebuah jalan di Payakumbuh. Dua pria Belanda tampak berjalan-jalan dinaungi bayangan dari pohon-pohon yang berada di tepi jalan, sementar tiga warga lokal berjalan di kejauhan. Di sebelah kiri terlihat sebuah bangunan yang mirip pos penjagaan, sementara di sebelah kanan ada bangunan lain yang memilik banyak tiang tetapi tanpa dinding dan berlantai tanah.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Lukisan ini kemungkinan besar menggambarkan Ngarai Sianok di Bukittinggi dengan latar belakang Gunung Marapi. Tiga warga lokal tampak turun menyusuri tebing; kemungkinan dalam pakaian adat yang memiliki tutup kepala yang relatif tinggi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 22 September 2025

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (33): Berbagai tempat

Pemukiman warga Tionghoa di Tangerang (Serpong?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik teh (di Cibadak, Sukabumi?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pemukiman di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan karet di kaki Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Sukabumi?, Tangerang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto dengan tema "bumi hangus" sebagai reaksi para pejuang kemerdekaan atas Aksi Polisionil 1 pihak Belanda, yang dimulai di posting ini.

Selasa, 18 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 4: Tampak dekat para pegawai dan perpisahan

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Teh yang sudah dikemas dengan merek Pangerango dan Crone, dikelilingi pekerja dan pegawai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pegawai keuangan di mejanya yang diisi a.l. dengan mesin tik dan brankas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pos keamanan dengan pedang dan deretan senjata api
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Komandan jaga dan pegawai keuangan di dekat sebuah truk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1956: Acara perpisahan di Hotel Preanger
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Bandung, Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 16 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 3: Wajah para pekerja pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Sebuah truk yang mengangkut mesin pendingin dikelilingi pekerja dan warga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerja berseragam, kemungkinan bersama anak dan istri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para montir pabrik dengan latar belakang sebuah bangunan pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 14 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2b: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Bagunan ketel uap yang dipasang kembali dikelilingi sisa-sisa tembok bangunan lama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan bongkar pasang di area pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan di rangka atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu area difoto dari ketinggian, memperlihatkan berapa besar ukuran satu bangunan saja, dengan bangunan lain di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 12 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2a: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Pemasangan rangka baja untuk tiang dan atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gundukan bahan bangunan yang dijaga seorang berseragam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Usaha membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa-sisa tembok yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 10 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 1: Wajah Pasir Datar

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Dua bangunan pabrik teh di tepi sawah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pemandangan ke area pabrik dilihat dari ketinggian
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa-sisa (?) tembok pabrik dilihat dari kejauhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jalanan menuju area pabrik teh
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 22 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (6)

Sebuah pabrik gula di wilayah Cirebon yang area pabrik dan kompleks perumahannya dikelilingi perkebunan tebu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Area perakitan kendaraan milik General Motors di kawasan Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan teh dan karet Maswati di Cikalong Wetan, Bandung Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pabrik gula di antara Cirebon dan Tegal, dengan jalur lori di sebelah kiri, dan dua silo berbentuk silinder di sebalah kanan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa (a.l. Bandung, Cirebon, dan Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 April 2024

Foto-foto dari sebuah perkebunan tembakau di awal abad ke-20 (2)

Kantor perkebunan dengan dua orang Belanda di meja, dan seorang opas di lantai
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Seorang pria Belanda dan perempuan Indonesia di ladang tembakau
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Para pekerja perempuan di gudang pengolahan daun tembakau
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910 atau sebelumnya
Tempat: Jawa Barat (? berdasarkan model pekaian perempuannya)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 25 April 2024

Foto-foto dari sebuah perkebunan tembakau di awal abad ke-20 (1)

Pedati yang kemungkinan digunakan untuk mengangkut daun tembakau dari ladang ke gudang pengeringan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Para pekerja perempuan di tempat pengolahan daun tembakau
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kemungkinan warga lokal yang sudah lama mengabdi di perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1910 atau sebelumnya
Tempat: Jawa Barat (? berdasarkan model pakaian perempuannya)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 20 Oktober 2023

Hindia-Belanda dalam foto stereoskopi (10)

PENGANTAR
Di akhir abad ke-19 foto stereoskop cukup populer untuk melihat foto dengan kesan tiga dimensi. Teknik yang digunakan saat itu adalah dengan membuat dua foto dengan sudut pengambilan yang sedikit berbeda. Kemudian kedua foto ini disandingkan, dan dilihat dengan menggunakan alat bersekat yang memisahkan pandangan mata kiri dan kanan. Gambar di kiri memperlihatkan contoh alat ini.

Wilayah Hindia-Belanda pun tak luput dari mode fotografi ini. Seri berikut akan menampilkan beberapa motif foto dari Hindia-Belanda yang ada di koleksi penggemar stereoskopi.

Seorang pria Belanda bersama anjingnya di perkebunan kopi (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua perempuan menyadap getah karet
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawanan kerbau di tegalan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pemandangan di sebuah kampung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sekelompok pria berkumpul di dekat dangau
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tidak ada keterangan
Tempat: kemungkinan Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: