Tampilkan postingan dengan label rampogan sima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rampogan sima. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (2)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Acara rampogan sima yang menempatkan harimau Jawa di lapangan yang dikelilingi para pria bersenjata tombak. Tradisi yang mempercepat kepunahan jenis satwa ini kemudian dilarang pemerintah Hindia-Belanda di tahun 1905.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Air terjun Bantimurung di luar Maros, Sulawesi Selatan, yang penampakan kininya, terlepas dari keramaian pengunjung sekarang, masih sangat mirip dengan yang terlukis di atas.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Stadhuis van Batavia, yang menjadi balaikota Jakarta dari tahun 1627 hingga 1913; sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Kesibukan di kawasan pecinan di Jakarta dengan rumah-rumah yang khas kawasan pecinan, sementara kubah Gereja Imanuel tampak menjulang di kanan belakang
 (klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua kuli mengangkut barang dengan melalui Gerbang Amsterdam di Jakarta, sementara sebuah trem berkuda mengikuti jalur rel mengitari ikon yang sekarang sudah hilang ini
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis) 
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 26 Januari 2022

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (15)

Arak-arakan pengantin dengan ondel-ondel
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sebuah rumah panggung di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rampogan sima (di Jawa Timur?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Senenan, sebuah tradisi permainan berkuda kalangan ningrat Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari lukisan nomor 3 pernah dimuat di sini, dengan data tahun 1889.

Sabtu, 28 November 2020

Kartu pos kuno "Salam dari Jawa" keluaran Surabaya 1898

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gunung Bromo dan Semeru, pedagang pikulan, pedati, dan sebuah rumah Belanda di Surabaya, bersama Ratu Wilhelmina.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kereta hias, Koffieland, sebuah toko, semuanya di Surabaya, dan jembatan gantung di Pademangan, Blitar, bersama Ratu Wilhelmina.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Candi Mendut, Tretes dan pemandian Diana di Prigen (Pasuruan), serta sketsa seorang putri Dayak.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Candi Borobudur, gamelan, pohon beringin, dan sepasang pengantin.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Gunung Bromo, kawasan Kayun di Surabaya, rampogan sima di Blitar, dan Tosari.

Waktu: kartu-kartu pos di atas dikeluarkan tahun 1898
Tempat: kartu-kartu pos di atas mengacu ke hal-hal di Jawa (kecuali putri Dayak)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: F.W. Krapp | K. Fuchs
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 25 Desember 2018

Tradisi rampogan sima dalam lukisan Van Rappard, 1889

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: antara 1883-1889
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Minggu, 23 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Tulungagung, 1902

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Paling tidak ada tiga kandang harimau di sini, di mana kandang yang tengah tampak berisi si raja rimba
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Enam kandang harimau terlihatdi alun-alun ini, sementara si macan sendiri terlihat sedang berlari di alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1902
Tempat: Tulungagung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: A.E.F. Muntz
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Tropenmuseum
Catatan: Foto bawah dipastikan berasal dari album perjalanan seorang Belanda bernama A.E.F. Muntz yang berada di Hindia-Belanda dari Maret 1901 hingga ke Juli 1902; sementara foto atas muncul tanpa keterangan, tetapi boleh jadi berasal dari A.E.F. Muntz juga. Di foto bawah tampak juga gerbang Tionghoa yang didirikan untuk perayaan Imlek.

Jumat, 21 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Blitar, 1892 (2)

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Si harimau tergeletak mati di tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penonton mulai berani masuk ke arena
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kandang macan sudah kosong semua
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Acara berakhir ...
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden
... penonton bubar
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: antara 1877-1892
Tempat: Blitar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H.G. Rimestadt
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Tropenmuseum
Catatan: Foto-foto ini banyak beredar dan sudah banyak direproduksi sejak zaman Belanda dulu. Keterangan waktu dan tempat bisa bervariasi, tetapi tampaknya informasi yang dicantumkan di atas adalah yang paling akurat.

Rabu, 19 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Blitar, 1892 (1)

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Semua mata tertuju ke kandang-kandang macan di tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Harimau yang tampaknya baru keluar dari kandang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Si harimau sendiri di tengah-tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Si macan berlari dari satu sisi alun-alun ke sisi lain
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Keroyokan di salah satu sisi alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1877-1892
Tempat: Blitar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H.G. Rimestadt  (atau Herman Salzwedel?)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto-foto ini banyak beredar, terutama yang nomer 3 yang sudah banyak direproduksi sejak zaman Belanda dulu. Keterangan waktu dan tempat bisa bervariasi, tetapi tampaknya informasi yang dicantumkan di atas adalah yang paling akurat.


UPDATE 11 Juni 2020: Foto nomor 3 dari sumber lain

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sabtu, 18 Agustus 2018

Lukisan karya L.H.W.M. de Stuers dari tahun 1860-an: Bogor, Magelang, Surakarta

Gadog, ketika belum kenal antrian macet
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Batutulis
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pertunjukan Senenan di Magelang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Acara rampogan sima (rampok macan) di Surakarta yang disaksikan sultan dan pembesar Belanda, salah satu penyebab punahnya harimau Jawa
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1865 dan 1876
Tempat: Bogor (Gadog, Batutulis), Magelang, Surakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer/Pelukis: L.H.W.M. de Stuers
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:


UPDATE 14 Juli 2026: Edisi lain dari gambar terakhir
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)