Tampilkan postingan dengan label Binjai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Binjai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2024

Kedatangan militer Sekutu ke markas pasukan Jepang di Binjai untuk memeriksa kasus kejahatan perang, 1946 (2)

Penerjemah Belanda, Hesse (kiri), berbicara dengan penerjemah pihak Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tim militer Sekutu yang memeriksa dugaan kejahatan perang oleh pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bungalow yang didiami delegasi Sekutu selama pemeriksaan dua minggu di Binjai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letkol N. Read-Collins (berbaret) memeriksa pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: Mei 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Di tahun 1946, belum semua pasukan Jepang dipulangkan ke tanah asalnya setelah mereka kalah perang. Di bulan Mei 1946, pihak Sekutu mendatangi markas tentara Jepang di Binjai, untuk memeriksa kasus kejahatan perang yang diduga dilakukan militer Jepang semasa pendudukan mereka di wilayah Sumatera Utara. Tuduhan kebrutalan a.l. dilontarkan oleh masyarakat Tionghoa di wilayah ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 15 Maret 2024

Kedatangan militer Sekutu ke markas pasukan Jepang di Binjai untuk memeriksa kasus kejahatan perang, 1946 (1)

Atraksi Kendo oleh pasukan Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pertunjukan judo (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letnan Shindo bersujud di depan pedang samurainya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letnan Shindo dan Kapten Fuji mempertontonkan duel samurai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bagian dari tim Sekutu yang datang ke markas tentara Jepang di Binjai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Mei 1946
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Di tahun 1946, belum semua pasukan Jepang dipulangkan ke tanah asalnya setelah mereka kalah perang. Di bulan Mei 1946, pihak Sekutu mendatangi markas tentara Jepang di Binjai, untuk memeriksa kasus kejahatan perang yang diduga dilakukan militer Jepang semasa pendudukan mereka di wilayah Sumatera Utara. Tuduhan kebrutalan a.l. dilontarkan oleh masyarakat Tionghoa di wilayah ini. Ketika militer Sekutu datang, pasukan Jepang yang sudah dilucuti senjata beratnya ini, mempertunjukan berbagai aktivitas beladiri tradisional Jepang seperti kendo dan jiu-jitsu (atau judo?).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 Maret 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album VI: Binjai dan kawasan perkebunan Tanjung Jati

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung di posting sebelum ini, dan juga sebelumnya lagi, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe atau keluaran dari studio foto miliknya. Kleingrothe adalah seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Album VI ini berisi foto-foto yang diurut berdasarkan area perkebunan; blog ini akan sejauh mungkin memilah-milah foto-foto ini berdasarkan urutan ini.

Peta perkebunan tembakau di wilayah Deli, Langkat, dan Serdang
(klik untuk memperbesar)

Album VI ini juga berisi peta yang memperlihatan area-area perkebunan di Langkat, Deli, serta Serdang. Blog ini menambahkan informasi tentang nama-nama area atau perkebunan yang fotonya ada di album ini, begitu  juga nama beberapa tempat di wilayah sekitarnya yang pernah dibahas di koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di Sumatera ini.


Rumah administrateur perkebunan Tanjung Jati
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tanjung Jati: Gudang ferementasi dan rumah asisten perkebunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalan dari Tanjung Jati menuju Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kediaman inspecteur perkebunan di kawasan Percukaian, Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Rumah Sakit Bangkatan, Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bangkatan, Binjai: Rumah apoteker, dan rumah sakit untuk warga kulit putih
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Tahun: 1905 (tidak tertutup kemungkinan bahwa ada foto-foto yang dibuat sebelumnya)
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Josef Kleingrothe
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 04 Januari 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album II: Berbagai sarana transportasi

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung sebelum ini, dan juga di posting tanggal 1 Desember 2020, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe, seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20, atau keluaran dari studio foto miliknya. Tapi album kali ini berisi foto-foto dari studio Ernst & Co.

Beberapa foto tampaknya sangat populer, sehingga ia muncul di lebih dari satu album; blog ini akan menampilkan pengulangan foto seperti ini. Blog ini juga akan menampilkan hampir semua foto dua kali: sekali dalam tampilan halaman album penuh, dan yang kedua dipotong dengan fokus ke isi foto. Hal ini terpaksa dilakukan karena Blogger membatasi ukuran lebar/panjang foto ke maksimum 1600 pixel, sementara pengecilan ukuran akan mengurangi mutu informasi yang termuat di foto.


Versi fokus

Perahu bertambat di sungai Wampu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Delman di Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perahu di Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalur kereta di Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pedati sapi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi halaman penuh

Perahu bertambat di sungai Wampu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Delman di Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perahu di Binjai
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalur kereta di Langkat
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pedati sapi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1890
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Ernst & Co.
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 18 November 2019

Pemeriksaan Sekutu atas kejahatan perang militer Jepang di Binjai, 1946

Tim militer Sekutu mendatangi markas tentara Jepang untuk melakukan pemeriksaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tim militer Sekutu disambut Mayor Jenderal Yamamoto dan Kolonel Yahagi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Letnan Jenderal Tanabe Moritake menjawab pertanyaan-pertanyaan pihak Sekutu
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: Mei 1946
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Wilayah Sumatera Utara semasa zaman pendudukan Jepang termasuk daerah yang keras. Pihak Sekutu menuding Jepang melakukan kejahatan perang di area ini. Setelah Jepang menyerah pun, masih ada beberapa tentara Jepang yang enggan takluk dan lebih memilih bergabung dengan para pejuang kemerdekaan untuk memerangi Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 26 September 2016

Aksi Polisionil 1 di Medan dan sekitarnya (11): Pasukan Belanda memasuki wilayah pecinan Binjai

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Juli 1947
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda memasuki wilayah pecinan Binjai dalam Aksi Polisionil 1
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 12 September 2016

Aksi Polisionil 1 di Medan dan sekitarnya (4): Kantong-kantong TNI yang direbut Belanda

Markas Lasykar Napindo di Medan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Sebuah bangunan di Binjai yang atap dan sebagian temboknya hancur, tetapi muralnya masih terbaca jelas
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Gerbang sambutan untuk Bung Hatta yang saat itu dijadwalkan berkunjung ke Binjai, tetapi karena aksi militer Belanda kemudian dialihkan ke Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli 1947
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Kantong-kantong TNI di wilayah Binjai yang direbut Belanda dalam Aksi Polisionil 1
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 10 September 2016

Aksi Polisionil 1 di Medan dan sekitarnya (3): Peralatan militer TNI yang jatuh ke tangan Belanda

Helm-helm Jepang yang jatuh ke tangan Belanda di Binjai
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Bom-bom Jepang yang direbut Belanda dari istana Sultan Langkat
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Helm, senapan, samurai, dan amunisi Jepang yang disita Belanda dari markas Laskar Rakyat di Binjai
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Artileri pertahanan udara peninggalan Jepang yang jatuh ke tangan Belanda di Binjai
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Juli 1947
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda, dalam Aksi Polisionil 1 di Binjai, merebut kantong-kantong pertahanan para pejuang dan menyita peralatan militer TNI yang umumnya adalah peninggalan Jepang
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 21 Desember 2015

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (3): Sumatera

Istana Sultan Binjai
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Sebuah kilang minyak
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Sebuah kilang minyak
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Waktu: 1947
Tempat: Binjai, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad
Catatan:


UPDATE 3 Januari 2020
Foto pertama dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Sabtu, 28 Februari 2015

Suasana multi-etnis di perkebunan tembakau di Sumatera Utara di awal abad ke-20 (2)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1918
Tempat: Binjai
Tokoh:
Peristiwa: Para mandor Tionghoa (atas) dan Jawa (bawah) yang dipekerjakan Belanda di perkebunan tembakau di Binjai, berfoto bersama kelompoknya.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 23 Juni 2014

Mural mendukung kemerdekaan Indonesia (5)

Medan, Juli 1947
"Hands off Indonesia"
"Bersatoe berdjoeang serentak"
gahetna)
Singosari, 4 November 1947
"..tebus"
"Berdjoang!"
"Djika Blanda ta suka didjadjah djangan mendjadjah" (dengan karikatur sepatu lars berlambang swastika  Nazi menendang punggung Ratu Wilhelmina)
"Siap! Sedia"
"Hati² waspada"
gahetna)
Binjai, 22 Juli 1947
"You talk of Freedom Humanit and Justice"
gahetna)
Solo, November 1949
"T.N.I. ever rules Solo!"
gahetna)
"Indonesia never again the life-blood of any nation!"
"The birth right of a nation, the right of self-determination"
"Respect our constitution of Aug. 18-'45 we are a free nation conceived in liberty and dedicated to the proposition that all men are created equal"
gahetna)
Waktu: 1947, 1949
Tempat: Binjai, Medan, Singosari, Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: klik foto untuk memperbesar.


UPDATE 5 November 2016:
Foto kedua dengan ukuran yang lebih besar dan kualitas yang lebih baik.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)