Tampilkan postingan dengan label Nona Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nona Belanda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juni 2021

Poster menyambut seperempat abad penobatan Ratu Wilhelmina, 1923

(klik untuk memperbesar | © Johan Isings / AVS)

Waktu: 1923
Tempat: lukisan dibuat di Belanda
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda, digambarkan di batu marmer di lukisan di atas)
Peristiwa: Poster di atas menyambut 25 tahun bertahtanya Wilhelmina sebagai Ratu Belanda, dan memuat banyak perlambang. Nona Belanda kali ini ditampilkan ada dua. Yang di sebelah kanan menyambut masyarakat Belanda yang a.l diwakili oleh kalangan bangsawan, militer, cendekiawan, masyarakat pedesaan, pekerja, pelaut, dll. dengan persembahan karya kebanggaan Belanda a.l. kapal laut dan lukisan. Yang di sebelah kanan, dengan latar belakang pepohonan, menyambut warga Nusantara seperti orang Jawa, Aceh, Minang, Bali, dan Dayak dengan didampingi (atau dijaga?) tentara KNIL dan pejabat kolonial Belanda. Persembahan dari arah kanan bentuknya adalah gamelan, kerajinan tangan, tenunan, dan buah-buahan.
Juru foto/gambar: Johan Isings
Sumber / Hak cipta: C.C. Callenbach | Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 10 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1925 & 1930

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika ketiga awak Fokker N-HACC kembali ke Belanda dari Indonesia, kali dengan pesawat berkode H-NACK, sambutan warga Belanda luar biasa (lihat posting ini). Majalah Het Leven mengeluarkan edisi khusus di bulan April 1925 untuk menyambut peristiwa ini. Sampul majalah memperlihatkan pesawat H-NACC dan bagaimana Nona Belanda dan Mbok Indonesia bisa saling mengulurkan tangan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Petualangan pesawat Fokker H-NACC telah mengilhami perusahaan biskuit Elder di tahun 1930 untuk membuat permainan papan dengan nama Holland-Indiƫ Spel. Permainan ini dimulai di Amsterdam dengan tujuan Batavia dan kembali ke Amsterdam, dengan melewati kota seperti Athena dan Istanbul, tempat seperti gurun dan awan, serta menempuh bencana seperti badai, pendaratan darurat, hingga ke patah sayap.

Waktu: 1925, 1930
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 04 Februari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1949-1952

De Vlam, 26 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Salah satu saat paling kelam dalam sejarah Belanda adalah era pendudukan Jerman Nazi di masa Perang Dunia II. Karenanya, membandingkan petinggi sipil dan militer Belanda dengan tokoh Nazi merupakan sindiran yang sangat pedas. Dan ini dilakukan oleh karikaturis Wim van Wieringen.

Pemicunya adalah sanggahan dari para pejabat Belanda atas adanya kekerasan atau malah kejahatan perang yang dilakukan KNIL dan/atau militer Belanda di Indonesia; padahal, laporan tentang itu paling tidak terdengar dari Sulawesi Selatan, Pakishaji, Bondowoso, Karawang, dan Bangka. Wim membandingkan sanggahan ini dengan penyangkalan para tokoh Nazi bahwa mereka tahu adanya pengiriman kaum Yahudi ke kamp pemusnahan.

Wim menggambarkan Komisioner Tinggi untuk Hindia-Belanda, Louis Beel (kelak menjadi PM Belanda), dan Panglima Belanda Jenderal Simon Spoor, berbaris seirama dengan Panglima SS, Heinrich Himmler, dan Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels, dan semuanya berteriak dalam bahasa Jerman "Es ist nicht wahr" (Itu tidak benar).

De Vlam, 5 November 1949
(klik untuk memperbesar | © Wim van Wieringen / AVS)

Penghujung 1949 adalah masa ketika Belanda harus mengakui kedaulatan Indonesia. Karikatur di atas menggambarkan burung garuda yang menjadi terbang bebas meninggalkan sebagian kalangan Belanda yang tampaknya selama ini memiliki beberapa rencana yang terpaksa menjadi batal dan berantakan. Rencana yang terbaca a.l. penangkapan atas ibunda Soekarno, pergerakan tentara, serta rencana atas Papua.

Vrij Nederland, 28 Januari 1950
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Buku sejarah di Indonesia umumnya menyebut pemberontakan APRA sebagai ulah Westerling. Tetapi karikatur di atas menggambarkan bahwa Westerling hanyalah sebagai bidak catur yang dimainkan orang lain. Karikatur ini bertanya: "Wie is de speler?" (Siapa pemainnya/dalangnya?).

Vrij Nederland, 31 Maret 1952
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Pada tanggal 22 Mei 1952, atasa militer Indonesia di Belanda, Kolonel Mas Tirtodarmo Haryono, dikepung dan ditodong dengan pistol oleh 2 orang tak dikenal. Sempat terjadi pergulatan dan tembakan, namun Haryono selamat meskipun kepalanya berdarah terpukul gagang pistol. Karikatur di atas memperlihatkan bagaimana PM Belanda, Willem Drees, bersama Nona (Nyonya?) Belanda harus kaget melihat bahwa di kasur mereka (artinya di negeri mereka) banyak sekali kutu busuk. Menurut catatan atas karikatur ini, pelaku kekerasan atas Haryono bukanlah perorangan, melainkan bagian dari kelompok anti-Indonesia yang terorganisir.

Waktu: 1949, 1950, 1952
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Belanda dan Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Wim van Wieringen
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 25 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1903-1923

De Amsterdammer, 1 November 1903
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur ini menggambarkan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz menyambut kedatangan Merkurius, dewa perdagangan Romawi, di pelabuhan Sabang, yang menyusul Mars, dewa perang Romawi, yang sudah ada di sana. Karikatur ini bisa ditafsirkan bahwa dari awal Belanda memang memiliki motivasi ekonomi di dalam usahanya untuk menguasai Aceh.

De Amsterdammer, 26 Januari 1908
(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / Universiteit Leiden)

Karikatur di atas berasal dari era ketika para seniman besar Belanda di bidang pertunjukan pada mendatangi wilayah Nusantara. Nama-nama yang ditampilkan a.l. Louis Bouwmeester, Anton Kimmel, dan Albert Vogel. Mbok Indonesia yang merasa heran bertanya kepada Nona Belanda apakah mereka itu anak-anaknya. Nona Belanda menjawab bahwa mereka itu sekedar pencari emas.

(klik untuk memperbesar | © Louis Raemaekers / AVS)

Karikatur ini muncul antara tahun 1914 dan 1918 dan menggambarkan bagaimana seorang agen Jerman merayu rakyat Indonesia dengan menjanjikan senjata dan uang untuk mengenyahkan penjajah Belanda. Bahwa Jerman mencoba membangkitkan perlawanan rakyat Indonesia untuk mengusir Belanda, ini adalah hal yang tampkanya jarang disinggung sejarah.

(klik untuk memperbesar | © Piet van der Hem / AVS)

Karikatur ini muncul di tahun 1923, di saat Belanda melakukan banyak pengetatan anggaran. Tetapi, sebuah undang-undang dengan nama de Vlootwet (Undang-undang Armada) disahkan, guna mempertangguh kekuatan laut Belanda di wilayah Nusantara. Tampaknya saat itu Belanda sudah menyadari bahwa wilayah Nusantara dengan banyak pulau dan periarannya memerlukan armada laut yang tangguh. Boleh jadi Belanda juga sudah melihat bahwa kekuatan laut Jepang bisa menjadi ancaman serius; sebuah pandangan yang kemudian terbukti benar.

Waktu: 1903, 1908, 1918, 1923
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek | Louis Raemaekers | Piet van der Hem
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Jumat, 18 Desember 2020

Karikatur-karikatur karya Johan Braakensiek tentang Nona Belanda dan Mbok Indonesia, 1904-1930

Amerika punya Uncle Sam, Inggris memiliki John Bull, dan dari Belanda ada Nederlandse Maagd (Dutch Maiden; Nona Belanda). Nona Belanda ini bisa tampil dalam versi terhormat seperti dewi Romawi, atau versi ndeso dalam pakaian tradisional Belanda.

Para karikaturis Belanda zaman dulu tampaknya juga mencoba mengilustrasikan Hindia-Belanda dalam bentuk seorang perempuan. Perempuan ini bisa mengenakan kain dan kebaya, atau kain kemben. Si Mbok Indonesia ini terkadang langsing, terkadang juga berisi; terkadang terlihat lanjang, atau memiliki banyak anak.

Posting kali ini akan memperlihatkan si Nona Belanda dalam kaitannya dengan Indonesia, atau malah muncul bersamaan dengan si Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Agustus 1904
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

John Bull, yang mengalami konflik di jajahannya di Afrika Selatan, bertemu dengan Nona Belanda, yang masih berperang melawan rakyat Aceh. John Bull menawarkan Nona Belanda untuk meniru cara dia di Afrika Selatan, yaitu dengan membuat kamp konsentrasi serta juga memerangi wanita dan anak-anak. Nona Belanda menampik dengan berujar bahwa dia memerangi musuhnya, tapi tidak menyiksanya.

De Amsterdammer, 16 April 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Perang Jepang melawan Rusia di tahun 1904-1905, yang dimenangkan Jepang, telah membuat Nona Belanda merasa khawatir bahwa posisi Mbok Indonesia terancam. Si Nona berteriak minta pertolongan, yang disambut oleh PM Belanda Abraham Kuyper. Saat itu Belanda tampaknya sudah memiliki firasat bahwa Jepang suatu saat akan datang ke Indonesia.

De Amsterdammer, 20 Agustus 1905
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Louis Frederik Johannes Bouwmeester adalah salah seorang seniman teater dan perfilman Belanda yang terkenal. Di tahun 1905-1906 Bouwmeester meninggalkan Belanda untuk menjalankan bakat seninya di Hindia-Belanda. Kepergian ini membuat Nona Belanda tampak cemburu dan bertanya apakah Bouwmeester sudah merasa menjadi seniman yang terlalu besar untuk ukuran Belanda. Bouwmeester menjawab bahwa ada hal-hal kecil yang mendorongnya pergi, katanya sambil menggandeng tangan Mbok Indonesia.

De Amsterdammer, 14 Oktober 1916
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur ini memperlihatkan bagaimana berharganya wilayah jajahan Hindia-Belanda buat Nona Belanda, laksana untaian kalung zamrud.

De Amsterdammer, 9 Oktober 1920
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda memperkenalkan Dirk Fock sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang baru. Sambutan Mbok Indonesia cukup mengagetkan.

1930
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Letusan Gunung Merapi di tahun 1930 menginspirasi Johan Braakensiek untuk memperlihatkan bahwa Nona Belanda bisa menjadi pelindung bagi Mbok Indonesia dan anak-anaknya.

Waktu: 1904, 1905, 1916, 1920, 1930
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa terkait Indonesia
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk | Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 14 Desember 2020

Halaman muka "De Notenkraker" yang kritis atas situasi penjajahan di Hindia-Belanda, 1927-1935

De Notenkraker adalah media mingguan yang dekat dengan Partai Buruh Sosial-Demokrat Belanda, SDAP. Sebagai bagian dari spektrum politik kiri tidak mengherankan jika media ini kritis atas sepak terjang politik kaum kanan, termasuk dalam kaitannya dengan penjajahan. Tiga edisi di bawah ini memperlihatkan karikatur halaman muka karya Albert Hahn dengan tema Hindia-Belanda.

25 Juni 1927
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Nona Belanda, yang biasanya digambarkan terhormat sebagai dewi Romawi, atau polos sebagai gadis desa Belanda, kali ini terlihat tua, dengan helm kerajaan, pedang berdarah, dan kalung salib. Dia mencoba mencari-cari apa yang dia bisa dapat dari Indonesia. Teks di bagian bawah berbunyi "Mencari pembenaran atas kesalahan sendiri".

10 Januari 1931
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kali ini Albert Hahn menggambarkan pria Indonesia yang diikat, disekap mulutnya, di sebuah ruangan gelap berjeruji; sementara latar belakang menunjukkan pengerukan sumber daya alam. Ini adalah reaksi De Notenkraker atas vonis yang dijatuhkan kepada para pimpinan PNI. Teks di bagian bawah bertanya "Atas dasar hukum apa!".

18 Mei 1935
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kali ini Albert Hahn menggambarkan Henri van Kol berbicara dengan pria Indonesia. Van Kol adalah pendukung SDAP, tetapi dia memiliki aktivitas bisnis terselubung di Hindia-Belanda yang membuat kalangan kiri mempertanyakan posisi dia. Di karikatur ini, yang terbit 10 tahun setelah Van Kol meninggal karena terjatuh saat turun dari mobil, Van Kol berkata: "Ya, ya, saudara coklatku. Kami tidak mendudukimu, tapi mengelabuimu."

Waktu: 1927, 1931, 1935
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke situasi di Hindia-Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Albert Pieter Hahn
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 06 Desember 2020

Perang Lombok dalam karikatur Belanda, 1894-1895

Perang Lombok tak luput dari pencermatan para juru gambar Belanda. Perhatian mereka tetapi tidak senantiasa sejalan. Dua gambar di bawah ini menunjukkan sikap pandang warga Belanda tentang ekspedisi militer Belanda di Lombok ini.

De Nederlandsche Spectator, 1894
(klik untuk memperbesar | © Johan Schmidt Crans / AVS)

Karikatur pertama ini muncul di awal ekspedisi militer Belanda di Lombok, memperlihatkan Nona Belanda memerintahkan Singa Belanda untuk bergerak menuju Lombok, dan mengaum dengan dahsyat untuk tidak menjadikan Lombok sebagai Aceh kedua. Saat itu Belanda memang kerepotan dengan kegigihan perlawanan rakyat Aceh.

De Kroniek, 26 Mei 1895
(klik untuk memperbesar | © Rusticus / AVS)

Karikatur kedua terbit setelah Belanda menguasai Lombok, dan nadanya menjadi kritis. Panglima KNIL, Mayor Jenderal Jacobus Vetter, digambarkan sebagai seorang triumphator, pemenang perang a la Romawi, yang memamerkan kemenangannya di arena. Karikatur ini cenderung bernuansa gelap, dan menggambarkan bagaimana Vetter sejatinya menyeret "Lombok" tanpa belas kasihan.

Waktu: 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke perang di Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Schmidt Crans | Rusticus
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Selasa, 13 Oktober 2020

Karikatur Belanda tentang Papua: Tema yang membesar

Vrij Nederland, Oktober 1958: Je kunt er mee sukkelen …
(Mereka bisa bergelut dengannya)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Di tahun 1958, Belanda masih melihat dirinya senasib dengan Inggris dan Amerika dalam hal Papua. Inggris, digambarkan oleh Harold MacMillan harus menangani masalah Siprus, dilambangkan dengan kucing galak dalam karung. Sementara Amerika, digambarkan oleh John Foster Dulles harus berurusan dengan persoalan Taiwan yang dilambangkan dengan naga penyembur api. Belanda, digambarkan oleh Willem Drees, meski tampak harus menanggung beban berat, tetapi relatif tidak terganggu oleh beban Papua yang dilambangkan dengan babi hutan. Ketiganya digambarkan harus membawa "hewan peliharaan" mereka ke klinik hewan PBB.

Vrij Nederland, Juli 1961: "Luipaard op schoot"
(Macan tutul di pangkuan)
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

"Luipaard op schoot" adalah acara TV populer di Belanda tentang hewan liar. Karikatur ini menggambarkan bagaimana di tahun 1945 Belanda masih melihat Papua sebagai kucing kecil yang lucu. Tetapi di tahun 1961, kucing ini sudah membesar menjadi macan besar yang memberatkan.

Algemeen Dagblad, Oktober 1962: Einde tijdperk Nieuw Guinea
"Vaarwel mijn Nieuw Guinea, verwacht een andere Heer"
(Akhir dari Ginea Baru; "Selamat tinggal Ginea Baruku, nantikan tuan barumu")
(klik untuk memperbesar | © Fritz Behrendt / AVS)

Akhirnya  di tahun 1962, Belanda, digambarkan oleh Joseph Luns dan Jan de Quay dalam kapal layar berbentuk terompah tradisional Belanda, harus meninggalkan Papua. Di ufuk langit tampak matahari bermuka Soekarno terbit.

Waktu: 1958, 1961, 1962
Tempat: Papua (dilambangkan)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Fritz Behrendt
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 06 Juli 2019

Karikatur Belanda menggambarkan wayang Indonesia memukul KO nona Belanda, 1946

(klik untuk memperbesar | © BeeldbankWO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Sebuah karikatur yang terbit di Belanda dan cukup kritis dalam menilai kemampuan Belanda menangani konflik di Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Tulisan di bawah karikatur bermakna Sultan [Hamid II] dari Pontianak: "Kekuatan [Sutan] Sjahrir terlatak antara lain di kelemahan Belanda"