Tampilkan postingan dengan label Pasuruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasuruan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Abraham Salm tentang berbagai tempat di Jawa (6)

Ini merupakan pelengkap dan tayang ulang (reload) dalam ukurang yang lebih besar dari beberapa lukisan karya Abraham Salm yang pernah dimuat sebelumnya. Lihat tautan di bagian "Catatan" di bawah.


Jawa Timur: Perkampungan warga Tengger dengan latar belakang pegunungan di kawasan Bromo-Tengger-Semeru
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Bogor: Jalanan yang menghubungkan Bogor dengan Cisarua, di sekitar wilayah Megamendung. Kelak perlintasan ini manjadi jalan beraspal yang dikenal dengan nama "jalur Puncak".
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sumedang: Jalanan yang memotong batu-batu cadas dengan jurung dan lembah yang dalam serta curam. Jalur ini kemudian dikenal dengan nama "Cadas Pangeran".
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Pasuruan: Sebuah jembatan kayu yang menjadi tumpuan warga untuk menyeberangi Kali Brantas yang tampak mengalir deras
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: sekitar 1872
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Abraham Salm
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Tautan dari posting sebelumnya tentang Banten, Bogor, Gunung Semeru, Malang/Tegal, dan Sumedang.

Minggu, 20 Agustus 2023

Foto-foto pemandangan di Jawa hasil jepretan George Lewis (4)

Sebuah pesawahan dengan sungai di latar depan dan rimbun pepohonan di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Salah satu sudut Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © NGA)
~1910: Warga Tretes (Prigen, Pasuruan) dengan latar belakang Gunung Welirang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Ijen
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1910
Tempat: a.l. Bogor, Ijen, Pasuruan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: George Lewis (1875-1939)
Sumber / Hak cipta: Studio foto Onnes Kurkdjian Surabaya | National Gallery of Australia
Catatan: Posting ini pernah memuat edisi lain dari foto nomor 4 dan nomor 3, yang juga pernah dimuat di posting ini.

Selasa, 27 Juni 2023

Aneka foto dari zaman Belanda karya para juru foto yang belum teridentifikasi (8)

24 Juli 1916: Tempat persinggahan wisata hutan di kawasan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kemungkinan besar gudang pengolahan tembakau dengan helai tembakau kering, mesin press, dan tembakau yang sudah dikemas
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang Belanda dengan topi kolonial di sebuah kawasan perkebunana
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Membajak lahan untuk perkebunan dengan traktor bertenaga uap
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sepasang warga Bukittinggi di samping pohon sebuah pepaya di antara pepohonan kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: a.l. 1916
Tempat: a.l. Bukittinggi, Prigen (Pasuruan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Foto pertama kemungkinan berasal dari studio foto Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto pertama pernah dimuat di posting ini, tanpa catatan dalam tulisan tangan.

Kamis, 20 Oktober 2022

Dari sebuah album yang berisi foto-foto tentang Jawa di sekitar tahun 1880 karya Herman Salzwedel (6)

1880: Dua pria Jawa di Prigen (Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Probolinggo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Bendungan Besuki
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Saluran air untuk perkebunan kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: sekitar 1875 dan 1880
Tempat: Jawa (a.l. Prigen, Probolinggo)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 10 Oktober 2022

Dari sebuah album yang berisi foto-foto tentang Jawa di sekitar tahun 1880 karya Herman Salzwedel (1)

1880: Rumpun bambu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1879: Air terjun di Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Kawasan kuburan yang dipenuhi pohon kamboja
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Jembatan kereta api di Lawang (Malang)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Pemandian Diana di Prigen (Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: sekitar 1875 dan 1880
Tempat: Jawa (a.l. Lawang, Prigen, Tosari)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 5 pernah dimuat di posting ini.

Minggu, 02 Oktober 2022

Wajah Nusantara dalam album foto "Herinneringen aan Insulinde" keluaran studio Onnes Kurkdjian (7)

Warga desa di Tretes (Prigen, Pasuruan) dengan latar belakang Gunung Welirang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sungai lanjutan dari sebuah air terjun di Prigen (Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah stasiun kereta api di wilayah Jember
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Ijen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gunung Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1910 dan 1921
Tempat: Jawa Timur (kawasan Bromo, Ijen, Jember, Prigen)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian (Surabaya)
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Bandingkan foto nomor 4 dengan foto yang mirip di posting ini.

Selasa, 24 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Kunjungan Anton Mussert ke Nusantara

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda, termasuk kunjungan pucuk pimpinan NSB Anton Mussert dari Belanda ke Jawa bulan Juli/Agustus 1935.


Anton Mussert di tangsi tentara Darmo, Surabaya, bersama simpatisan NSB dari kalangan militer. D.ki.ke.ka.: Kruitbos (pemimpin NSB Surabaya, mantan kapten artileri), Koppers (kolonel kesatuan lapis baja), Anton Mussert, 2 petinggi NSB, J. de Mos (kapten KNIL)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kruitbos (kedua dari kiri) dan Anton Mussert (tengah), di teras sebuah rumah dengan lambang NSB
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anton Mussert bersama para pendukung NSB di Tretes, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: 1935
Tempat: Surabaya, Tretes (Pasuruan)
Tokoh: Anton Adriaan Mussert (tokoh utama fasisme di Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga karikatur yang kritis atas kunjungan Anton Mussert ini di posting ini.

Sabtu, 14 Mei 2022

Fasisme di Hindia Belanda: Salam fasis atau Hitlergruß

PENGANTAR

Selepas Perang Dunia I fasisme merebak di banyak negara di Eropa, dan memuncak di berkuasanya pengikut paham ini di Italia dan Jerman. Belanda, dan juga Hindia-Belanda, ikut dilanda ideologi ini. Warga Belanda di Nusantara yang terpikat fasisme mendirikan organisasi NIFO (Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie) di awal tahun 1930an, yang kemudian melebur ke organisasi "induk" Belanda NSB (Nationaal-Socialistische Beweging) pimpinan Anton Mussert.

Ketika Jerman menyerbu serta menduduki Belanda di tahun 1940, dan pemerintah Belanda bersama pihak Kerajaan harus mengungsi ke Inggris, NSB menjadi kaki tangan pendudukan Jerman. Pemerintahan Hindia-Belanda yang loyal terhadap Ratu Wilhelmina, melarang NSB dan menutup semua kantornya di Nusantara.

Seri foto berikut menampilkan gambar dari masa maraknya NSB dan pengikutnya di Hindia-Belanda. Salam fasis, atau Hitlergruß di Jerman, menjadi mode di kalangan orang Eropa yang tinggal di Nusantara.


Salam fasis di Cimalati (Cicurug, Sukabumi) …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… yang rupanya juga dilakukan oleh perempuan berwajah lokal, serta seorang lelaki yang mengenakan Lederhose khas Jerman gunung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Kebon Sirih, Jakarta, 28 Oktober 1935: Salam fasis, yang juga dicoba diajarkan seorang ibu kepada anaknya di barisan depan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Nongkojajar (Pasuruan), 14 Januari 1938: Salam Hitler bahkan masuk ke kawasan Tengger di kaki Gunung Bromo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an (a.l. 1935, 1938)
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta, Pasuruan, Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 31 Oktober 2021

Jawa Timur di sekitar tahun 1880 menurut album keluaran Herman Salzwedel (3)

1875-1879: Salah satu sungai yang berhulu di Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: "Pondok Lalie-Djiwo", tempat persinggahan wisata hutan di kawasan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Desa Ngadiwono di Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Tosari
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Kawasan Bromo dengan latar belakang Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1879: (Alun-alun?) Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Jawa Timur (a.l. Malang, Prigen, Tosari)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 27 Oktober 2021

Jawa Timur di sekitar tahun 1880 menurut album keluaran Herman Salzwedel (1)

1875-1879: Bupati Bangkalan, Madura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1880: Prigen/Tretes, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Muntahan abu di kawasan Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Candi Singhasari, Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875-1879: Pemandian Diana di Prigen, Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Bangkalan, Malang, Pasuruan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 26 Agustus 2021

Dari album foto "Herinneringen aan Java 1913-1919": Empat tempat di Jawa Timur

PENGANTAR

National Gallery of Australia membeli banyak koleksi foto dari Leo Haks. Salah satunya adalah sebuah album foto berjudul Herinneringen aan Java 1913-1919 (Kenang-kenangan tentang Jawa 1913-1919) yang memuat 39 foto yang tampaknya keluaran studio foto Onnes Kurkdjian, Surabaya. Album ini banyak berisi foto dari kawasan Jawa Timur serta tentang hasil bumi, yang mengindikasikan bahwa pemiliknya kemungkinan adalah seorang Belanda yang aktif di bidang perkebunan/kehutanan di Jawa Timur dari tahun 1913 hingga 1919. Album ini juga berisi beberapa foto dari kawasan Priangan, Borobudur, Jogjakarta dan malah Sulawesi, yang kemungkinan menunjukkan wilayah lain di Nusantara yang pernah dikunjungi si pemilik album ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Ranu Klakah di Lumajang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sungai berbatu di Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Nelayan di pesisir Banyuwangi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
"Pondok Lalie-Djiwo", tempat persinggahan wisata hutan di kawasan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: antara 1913 dan 1919
Tempat d.a.k.b.: Lumajang, Malang, Banyuwangi, Pasuruan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: