Tampilkan postingan dengan label rohaniwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rohaniwan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (26)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


PrajuritBelanda berjaga-jaga di sekitar beberapa warga, kemungkinan di area pemakaman
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tampaknya tentara Belanda sedang mengadakan acara penghormatan militer …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… atas seorang sejawat mereka yang kelihatannya tewas di pertempuran
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Acara pemakaman diiringi tembakan salvo ke udara serta dihadiri rohaniwan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

… serta tentunya para rekan-rekan tentara Belanda di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 12 Agustus 2026

Berbagai foto semasa Perang Kemerdekaan dari koleksi tentara Belanda bernama Bob van Dijk (21)

PENGANTAR

Bob van Dijk adalah seorang tentara Belanda dari kesatuan zeni yang diterjunkan ke Nusantara, terutama di wilayah Jawa Timur, semasa Perang Kemerdekaan. Bob tampaknya menggemari fotografi, dan kamera fotonya banyak mengabadikan suasana sejak di berangkat dari Belanda melalui berbagai tempat dan pelabuhan sebelum akhirnya tiba di Hindia-Belanda. Blog ini akan mencoba untuk memperlihatkan karya-karya Bob ini yang a.l. banyak didominasi oleh suasana sehari-hari seorang tentara Belanda ketika bertugas di Indonesia.

Bob juga banyak membuat jepretan ketika dia bertugas di lapangan. Koleksi dia juga berisi beberapa foto dari medan pertempuran yang tampaknya merupakan karya jurnalis perang profesional seperti Hugo Wilmar. Secara keseluruhan, koleksi ini lumayan menarik karena memperlihatkan suasana sehari-hari semasa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang seorang tentara Belanda.


Foto udara dari sebuah wilayah yang tidak disebutkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bob mencoba membuat foto dengan objek pepohonan sebagai siluet berlatar belakang langit berawan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah misa yang didominasi oleh pengunjung berseragam militer
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sudut foto lain dari acara misa yang sama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gudang dari zaman Belanda, yang kemudian digunakan Jepang sebagai tempat menyimpan torpedo, dan oleh Belanda setelah itu dialihfungsikan sebagai garasi dengan membongkar/meledakkan tembok yang sebelumnya menjadi partisi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: semasa perang kemerdekaan
Tempat: Surabaya dan/atau sekitarnya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Bob J. van Dijk
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 28 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (7)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Kumpulan anak-anak di lapangan dalam asuhan ibu-ibu atau biarawati. Catatan foto menyebut nama Annelies Goedbloed untuk anak yang tersenyum ke arah kamera.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Van Goor memberikan sambutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kumpulan para penghuni kamp yang memang mayoritas ibu-ibu, mendengarkan sambutan Suster Van Goor dan Pastor Beltjens
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto bersama dari sebagian dari sekitar 1.670 penghuni kamp
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sudut lain dari Kumpulan para penghuni kamp dalam acara perayaan ulang tahun Ratu Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 26 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (6)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Perlombaan estafet balok
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perlombaan lintas aneka rintang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bocah-bocah kecil menonton kakak-kakaknya berlomba, ditemani tiga perempuan bernama Barendien, Ans de Jong, dan Weintré; dua anak dengan rambut dan kulit lebih gelap boleh jadi merupakan bocah campuran.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Anak-anak sekolah di kamp Kampili didampingi Ny. Mobach (berkaca mata) dan Suster Willemien
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua lelaki dewasa penghuni kamp yang semuanya rohaniwan: Pendeta Spreeuwenberg dan Pastoor Beltjens, didampingi Suster Van Goor dan Grechten van Veen
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 22 April 2026

Kamp tawanan Kampili setelah Jepang kalah: Perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina 31 Agustus 1945 (4)

Kamp Kampili tampaknya merupakan kamp tahanan terbesar yang didirikan Jepang di bagian timur Indonesia untuk menawan wanita dan anak-anak dari warga Belanda atau warga Sekutu lainnya. Hanya dua minggu setelah Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Dunia II, warga kamp ini bisa menyelenggarakan acara yang mengembalikan keceriaan buat mereka, yaitu perayaan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang ke-65. Sementara itu, kemungkinan tanpa banyak disadari oleh para penghuni kamp, Indonesia sudah menyatakan merdeka, dan suasana yang akan berujung pada pertikaian sengit hingga empat tahun berikutnya sudah mulai pecah.


Para peserta perayaan mendengarkan sebuah pidato
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Wajah ceria para penghuni kamp setelah pembebasan, d.ki.k.ka. Marie Antoinette Charlotte Geraldine Ghislaine Wauters-Berendsen, Ans Prak, Susan Kuipers, Leida Grébe, Ny. Voskuil.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Acara perayaan yang dipimpin oleh Pastor Beltjens Zus van Goor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Suster Lutgarda di antara anak-anak yang 3 tahun tidak melihat ayahnya (sebagian mungkin tidak akan melihat lagi)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua biarawati penghuni kamp: Suster Vincenza dan Suster Jozef
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 31 Agustus 1945
Tempat: Kampili (Gowa, Sulawesi Selatan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 28 September 2025

Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan para tamunya di tahun 1948 (3)

1 Agustus 1948: Van Mook menyambut kedatangan Uskup Agung Georges-Marie de Jonghe d'Ardoye yang diutus Vatikan sebagai Delegatus Apostolik pertama untuk wilayah Hindia-Belanda, di resepsi perpisahan dia sebagai Letna Gubernur Jenderal
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
September 1948, d.ki.k.ka.: Menlu Belanda Dirk Stikker, PM Belanda Louis Beel, Van Mook, Laksamana Madya Frederik Jentje Kist (Menteri Kelautan di Kabinet Pemerintahan Federal Sementara)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
11 Oktober 1948: Acara perpisahan Van Mook yang akan melepas Letnan Gubernur Jenderal empat hari kemudian. Acara dihadiri banyak kalangan, sipil dan militer, kulit putih dan lokal, termasuk Petrus Johannes Willekens (Vikaris Apostolik Batavia) dan seorang memakai kafiyeh a la Timur Tengah (tokoh masyarakat dari Sulawesi Selatan?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 03 Mei 2023

Pembebasan para misionaris yang ditahan Jepang di kamp tawanan di Papua, 1944

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 22 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Thilly Weissenborn

1920-an: Seorang pendeta Hindu Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Dua bocah Bali di sekitar sebuah patung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1920-an: Pemain gamelan di Gianyar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1922: Pedagang minuman dan nasabahnya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1922: Pesawahan di Priangan (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1922: Pesawahan di Priangan (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1920-an (a.l. 1922)
Tempat: Bali (a.l. Gianyar), Jawa Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Thilly Weissenborn
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Minggu, 30 Oktober 2022

Dari album foto lain keluaran Topografische Dienst van Nederlands-Indië semasa Perang Aceh (5), 1874-1878

PENGANTAR

Di posting sebelum ini, blog ini menampilkan 30 foto dari album yang dikeluarkan oleh Topografische Dienst van Nederlands-Indië (Jawatan Topografi Hindia-Belanda) pada tahun 1874, yang memperlihatkan situasi di Aceh pada saat itu yang masih diselimuti oleh suasana Perang Aceh. Ke-30 foto tersebut berasal dari tweede serie (seri kedua) dengan judul dertig gezigten (tiga puluh wajah); seri pertama dengan judul vierendertig gezigten (tiga puluh empat wajah), yang memang berisi 34 foto, akan ditampilkan di rangkaian berikut ini.


1878: Pohon beringin di area yang kelak menjadi kawasan Masjid Raya Baiturrahman
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Lapisan pertahanan Belanda di tepi Krueng Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Seorang rohaniwan bersama beberapa perwira Belanda di tenda perawatan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Pemakaman seorang bangsawan Kesultanan Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1878: Meriam besar dan pelurunya di dekat pintu masuk Keraton Aceh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1878
Tempat: Kutaraja
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Topografische Dienst van Nederlands-Indië
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 02 Februari 2022

Dari sebuah album Woodbury & Page tentang Aceh di sekitar tahun 1887 (7)

Pasukan KNIL di semak belukar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah benteng Belanda bersama pengisinya, termasuk istri tentara, anak-anak, pendeta, dan hewan piaraan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gedung pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan KNIL di balik tanggul jalur kereta
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah jalan di sekitar area kediaman warga Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1887
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Selasa, 19 Januari 2021

Kerabat kerja pemerintah daerah Keresidenan Surakarta dalam jepretan Charls & Co., 1910

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: sekira 1910
Tempat: Surakarta
Tokoh:
Peristiwa: Kerabat kerja pemerintahan daerah wilayah Keresidenan Surakarta berfoto bersama, termasuk seorang perwira KNIL. Menarik untuk dicatat adanya dua wanita di kelompokini, salah satunya malah warga lokal. Selain itu perlu dicatat bahwa warga lokal umumnya berpakaian tradisional, atau setengah tradisional dengan penambahan kemeja dan dasi, sementara warga Belanda berpakaian Barat. Tetapi di barisan tengah kiri, duduk dua warga Belanda dengan pakaian berbeda; ada kemungkinan bahwa mereka adalah rohaniawan dan/atau misionaris.
Fotografer: Charls & Co.
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Rabu, 26 Agustus 2020

Kartu pos kuno tentang Aceh

1900-1904: Bivak Belanda di Samalanga, Bireuen
(klik untuk memperbesar | © C. Nieuwenhuis / AVS)
1901: Kartu pos bergambar bivak Belanda di Lamjamu, dan Panglima Tibang
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1903: Kartu pos bergambar pastor Henricus Christiaan Verbraak, rohaniawan yang mendampingi prajurit Belanda semasa Perang Aceh dari tahun 1874 hingga 1899, dan tampaknya itu a.l. yang menyematkan tanda jasa di dadanya.
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1905-1919: Konvoi logistik KNIL berisi bahan makanan dari Indrapuri semasa Perang Aceh
(klik untuk memperbesar | © Jean Demmeni / AVS)
1905-1919: Pintu masuk keraton di dekat jembatan Peunayong
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Masjid Raya Baiturrahman
(klik untuk memperbesar | © Tio Tek Hong / AVS)
1900-1904: Ini kasus menarik. Kartu pos ini ngakunya Groet uit Atjeh (salam dari Aceh) dan dicetak di Kutaraja oleh studio Reicher & Co. Tapi gambar yang disebut Chineesche Gebauw (bangunan Tionghoa) jelas-jelas mesjid; yang kiri atas adalah Masjid Agung Palembang, yang di bawahnya kemungkinan mesjid yang sama tetapi dalam tahap pemugaran dan pengembangan. Tampaknya jualan informasi yang ngawur sudah ada sejak zaman dulu.
(klik untuk memperbesar | © Reicher & Co / AVS)

Waktu: 1901, 1903, 1904, 1919
Tempat: Aceh (catatan: kartu pos bergambar pastor Verbraak dikirim dari Padang)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar/foto: C. Nieuwenhuis; Jean Demmeni; Reicher & Co; Tio Tek Hong
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: (1) Link di deskripsi kartu pos, jika ada, adalah tautan ke posting terkait di blog ini yang pernah muncul sebelumnya. (2) Patung pastor H.C. Verbraak masih berdiri di Taman Maluku di Bandung. (3) Kartu pos tentang Masjid Agung Palembang akan dimuat pada tanggal 27 September 2020.