Tampilkan postingan dengan label bumi hangus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bumi hangus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2026

Operasi pasukan Belanda di Bali, 1946 (4)

Pempatan (Karangasem): Pos dan barak militer Belanda di Pempatan dengan deretan kaleng amunisi (?), serta yang tidak jelas tampak: gudang bahan bakar serta stasiun komunikasi radio
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Di sebuiah desa di bagian barat Bali, warga mengadakan tontonan pembakaran mata uang Jepang sebagai perlambang munculnya kembali Belanda untuk menggantikan Jepang. Tidak jelas apakah lelaki yang diikat dan dibawa ke atas peti hanya sandiwara belaka atau pendukung Republik yang "dihukum".
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Antosari (Tabanan): Sebuah halte bus yang dihancurkan oleh para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga sebuah desa yang dikumpulkan dalam usaha Belanda untuk menggalang dukungan …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… dengan bantuan pemuka agama setempat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1946
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 22 September 2025

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (33): Berbagai tempat

Pemukiman warga Tionghoa di Tangerang (Serpong?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pabrik teh (di Cibadak, Sukabumi?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pemukiman di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perkebunan karet di kaki Gunung Salak, Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Jawa (a.l. Bogor, Sukabumi?, Tangerang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Lihat juga rangkaian foto dengan tema "bumi hangus" sebagai reaksi para pejuang kemerdekaan atas Aksi Polisionil 1 pihak Belanda, yang dimulai di posting ini.

Senin, 23 September 2024

Atribut komunisme yang ditemukan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan (2)

Lukisan di sebuah tembok dari bangunan yang tammpaknya dibumihanguskan pejuang kemerdekaan. Di sebelah kiri tertulis "pedjoeang kita", sementara di sebelah kanan gambar dari Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lenin, dan Josef Stalin.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua prajurit Belanda berpose di depan tembok ini.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan besar Juli/Agustus 1947
Tempat: kemungkinan di Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 28 Agustus 2024

Foto-foto dari "masa bersiap": Perusakan bangunan

"Masa bersiap" atau "bersiap" adalah istilah yang digunakan warga Belanda dan sejarah Belanda untuk menyebut masa-masa awal setelah warga Indonesia memproklamasikan diri yang diikuti konflik dan perseteruan di beberapa tempat yang dipicu banyak sekali faktor seperti nasionalisme, sentimen anti penjajah, kecemburuan sosial, dendam yang terpendam, masih belum siapnya aparat pemerintahan, dsb. Blog ini akan menampilkan beberapa foto dari era ini, yang beberapa di antaranya memang menampilkan sisi kejam dari masa ini.

Jawa: Sebuah kawasan perumahan yang dibakar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, November 1945: Rumah kediaman komandan Kempeitai yang diporakporandakan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jakarta, November 1945: Seorang bule berpistol memeriksa rumah komandan Kempetai yang dirusak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Perusakan sebuah kawasan kuruan di Lawang, Malang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Catatan foto menyebut bahwa ini adalah perumahan warga Belanda yang dihancurkan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Jawa (a.l. Jakarta, Lawang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 28 Desember 2022

Belanda membumihanguskan Balikpapan sebelum jatuh ke pasukan Jepang, 1942

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 20 Februari 1942
Tempat: Balikpapan
Tokoh:
Peristiwa: Selain Tarakan, Balikpapan merupakan sasaran awal penyerangan Jepang ke Hindia-Belanda, tentunya guna menguasai sumber minyak yang sangat dibutuhkan di masa perang. Belanda, meskipun sudah mempersiapkan pertahanan, melihat bahwa kedatangan pasukan Jepang tidak bisa dibendung lagi, dan memilih untuk menghancurkan kilang minyak di sana daripada instalasi ini jatuh ke tangan musuh.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Taktik bumi hangus ini kemudian harus dihadapi sendiri oleh Belanda pada saat Aksi Polisionil 1, 1947. Pada saat itu Belanda mengecam keras tindakan TNI ini.

Sabtu, 16 November 2019

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (32): Banyumas, Bogor, Cilacap

Stasiun kereta Sumpiuh, Banyumas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah sekolah di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah gereja (atau biara?) di wilayah Bogor
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Rumah praktek dokter R. Koestedjo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Bogor, Cilacap, Sumpiuh (Banyumas)
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 terhadap bangunan yang dipandang mewakili sosok Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 10 November 2019

Pasukan Australia dan pengungsi melintasi bangunan yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Waktu: 1946
Tempat: Jawa Barat (kemungkinan sekitar Bogor)
Tokoh:
Peristiwa: Latar belakang ketiga foto ini adalah kompleks perumahan yang diporakporandakan para pejuang kemerdekaan. Di latar delapan tampak beberapa warga melintas, serta juga tiga orang dari kesatuan militer Australia. Karena pasukan Australia banyak ditempatkan di wilayah Bogor, kemungkinan lokasi foto ada di dilayah ini. Perlu pula dicatat bahwa warga yang melintas tampak berpakaian relatif rapi dan bersepatu yang menunjukkan mereka bukan warga kampung. Malah, ada kemungkinan bukan warga setempat. Pasukan Australia kemungkinan juga datang untuk melindungi atau mengungsikan mereka.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 07 Oktober 2019

Kerusakan di stasiun Radio Republik Indonesia di Makassar semasa perang kemerdekaan

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Makassar
Tokoh:
Peristiwa: Ketiga foto di atas menunjukkan kerusakan atas bangunan stasiun RRI di Makassar yang tampaknya terbakar atau dibakar terutama di lantai dua hingga ke atap.
Tidak ada keterangan lebih terperinci dari arsip Belanda mengenai hal ini. Salah satu kemungkinannya adalah sbb.: Awalnya bangunan ini adalah stasiun radio propaganda Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, para pemuda Indonesia merebut stasiun ini dan menjadikannya RRI Makassar. Ketika militer Belanda datang kembali ke Makassar, mereka berusaha menguasai sarana penting ini. Para pemuda Indonesia yang kalah senjata, mencoba membumihanguskan gedung ini agar tidak bisa digunakan Belanda.
Jika pembaca blog memiliki keterangan yang lebih valid, mohon untuk disampaikan di bagian komentar di bawah ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 11 Juli 2019

Biara Ordo Fransiskan di Cicurug, Sukabumi yang terlantarkan di masa perang kemerdekaan, 1947 (2)

Altar yang menunjukkan usaha perusakan dan pembakaran
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Dinding gereja dengan sisa-sisa perusakan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Barang-barange gereja yang dirusak
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 30 Juli 1947
Tempat: Cicurug (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda mulai melancarkan Aksi Polisionil 1 di bulan Juli 1947 dan merebut wilayah-wilayah Republika Indonesia, TNI melancarkan aksi bumi hangus ke objek-objek vital dan juga ke bangunan yang dianggap sebagai simbol Belanda, a.l. biara Ordo Fransiskan ini.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Lihat juga posting sebelum ini.

Minggu, 11 November 2018

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (31): fasilitas pelayaran di Jambi

30 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
30 Desember 1948
(klik untuk memperbesar | © van Krieken / gahetna)
2 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © van Gorkum / gahetna)
13 Januari 1949
(klik untuk memperbesar | © Ad van Bennekom / gahetna)

Waktu: Desember 1948 & Januari 1949
Tempat: Jambi
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan TNI atas fasilitas pelayaran di Jambi ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 2 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer: van Krieken / van Gorkum / Ad van Bennekom
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 02 September 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (27): Kerusakan di Jawa Tengah

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa yang rusak di Salatiga
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
Juli 1947: Perumahan warga Tionghoa di Salatiga dengan coretan "Indonesia boeat bangsa Indonesia"
(klik untuk memperbesar | © N. Kroeze / gahetna)
24 Juli 1947: Puing-puing bangunan warga Tionghoa di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
24 Juli 1947: Bangunan warga Tionghoa yang dibakar di Tegal
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
1 Agustus 1947: Kerusakan perumahan warga Tionghoa di Demak
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
5 Agustus 1947: Reruntuhan bangunan warga Tionghoa di Gombong
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli/Agustus 1947
Tempat: Demak, Gombong, Salatiga, Tegal
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas perumahan warga Tionghoa di wilayah Jawa Tengah sebagai akibat dari aksi para pejuang kemerdekaan dalam rentetan kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer: antara lain N. Kroeze dan P. de Bruijn
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 31 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (26): Kerusakan dan pengungsian di Palembang dan sekitar Padang

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

Kehancuran di area pecinan Palembang
(klik untuk memperbesar | © W.F.J. Pielage / spaarnestad)
Kerusakan di pasar Padang Panjang (?) yang berdekatan dengan pemukiman warga Tionghoa
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
4 Juni 1948: Sekitar 240 warga Tionghoa dari Painan (Sumatera Barat) diungsikan ke Padang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1948, masa perang kemerdekaan
Tempat: Palembang, Padang Panjang, Padang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 23 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (22): Kerusakan di Deli Tua [2]

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (22): Kerusakan dan pengungsian di beberapa daerah di 1947, Aksi Polisionil 1, Tionghoa, bumi hangus, Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli 1947
Tempat: Deli Tua
Tokoh:
Peristiwa: Kerusakan atas perumahan warga Tionghoa di Deli Tua sebagai akibat dari aksi para pejuang kemerdekaan dalam rentetan kekerasan menyusul Aksi Polisionil 1 yang dilancarkan militer Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: