Tampilkan postingan dengan label 1892. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1892. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

Peristiwa-peristiwa dalam sejarah Indonesia menurut karikatur Belanda, 1888-1897

De Amsterdammer, 16 September 1888
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas mengenang salah satu jenderal KNIL yang mashur di Perang Aceh dan tampaknya menyukai wilayah Minangkabau, Johannes van Swieten, yang meninggal pada tanggal 9 September 1888.

De Amsterdammer, 8 Oktober 1892
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan serah terima jabatan Gubernur-Jenderal Hindia-Belanda dari Cornelis Pijnacker Hordijk (kanan) ke Carel Herman Aart van der Wijck (kiri) dengan latar belakang Istana Bogor. Hordijk mengeluhkan bahwa nama Buyten-Sorgh (=buiten zorge; cikal bakal nama Bogor) yang maknanya "tanpa kekhawatiran" telah menjadi Nooyt-Gedagt (=nooit gedagt) yang bermakna "tidak pernah bermesraan". Tampaknya keluhan ini keluar karena konflik di Aceh dan kemudian Lombok menjadi masalah pelik untuk kedua gubernur-jenderal ini.

De Amsterdammer, 17 April 1893
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Presiden Perancis, Marie François Sadi Carnot, yang kewalahan menghadapi perlawanan bangsa Afrika di koloni Perancis di sana, meminta saran dari politisi Belanda, Willem Karel van Dedem, yang dianggap handal dalam menghadapi wilayah jajahannya. Van Dedem hanya bisa berujar bahwa Carnot pastinya belum pernah mendengar perlawanan rakyat Aceh.

De Amsterdammer, 24 Oktober 1897
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Karikatur di atas menggambarkan bagaimana Gubernur-Jenderal Cornelis Pijnacker Hordijk memberikan kursi baru untuk rakyat Indonesia dengan tumpuan batubara, tembakau, minyak bumi, dan emas, untuk menggantikan kursi lama yang sudah mulai patah yang bertumpu sepenuhnya pada hasil agraria tembakau, gula, dan kopi.

Waktu: 1888, 1892, 1893, 1897
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke beberapa peristiwa di Nusantara
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 08 November 2020

Jembatan gantung dari kayu dan rotan di Pademangan, Blitar, 1892

(klik untuk memperbesar | © AVS)

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: Juni 1892
Tempat: Pademangan (Blitar)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Foto lain dari jembatan di atas Kali Brantas ini pernah dimuat di posting ini.

Sabtu, 31 Oktober 2020

Karikatur kritis di "De Amsterdaamer" tentang konflik bersenjata di Aceh dan Lombok, 1892-1895

(klik untuk memperbesar | AVS)

21 Februari 1892: Karikatur ini menggambarkan dua jenderal KNIL yang terlibat Perang Aceh, yaitu Karel van der Heyden dan Gustave Verspyck, dengan latar belakang konflik bersenjata di Aceh dengan beberapa korban. Van der Heyden mengucapkan selamat kepada Verspyck yang berulang tahun ke-70: "Selamat, kamerad! Seandainya saja kita bisa memperbaiki kembali apa yang terjadi di sana …"

(klik untuk memperbesar | AVS)

30 September 1894: Karikatur ini berjudul "Petualangan senapan infantri Belanda" yang menggambarkan bagaimana senjata Belanda setelah melewati beberapa tangan, termasuk Inggris yang dilambangkan dengan John Bull, akhirnya bisa berakhir di tangan warga Tionghoa dan warga Aceh, yang kemudian digunakan untuk melawan balik tentara Belanda dalam Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

14 Juli 1895
: Karikatur ini menggambarkan Mayor Jenderal Jacobus Vetter (Panglima KNIL) yang berbisik kepada Jacob Bergsma (Menteri Urusan Koloni) dengan latar belakang Gusti Gede Jelantik (penguasa Karangasem yang ditempatkan Belanda di Lombok). Isi bisikan adalah: "Tidak ada lagi pita tersisa untuk Gusti Jelantik? Dia membantu kita dengan menindas kan?"

Waktu: 1892, 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas mengacu ke perang di Aceh dan Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan: Karya lain dari Johann Braakensiek tentang Perang Aceh bisa dilihat di posting ini.

Rabu, 12 Agustus 2020

Ketika Rotterdamsche Lloyd mendominasi pelayaran dan perjalanan di Indonesia (2): Iklan pelayaran dari tahun 1892 & 1958

PENGANTAR

Ketika dunia penerbangan komersial secara masal belum muncul, pelayaran merupakan satu-satunya sarana perhubungan jarak jauh, terutama untuk transportasi antar pulau atau benua. Rotterdamsche Lloyd, yang didirikan tahun 1839, merupakan salah satu perusahaan pelayaran yang mendominasi transportasi antar Eropa dan kawasan Asia Tenggara. Perusahaan ini bahkan mengembangkan jalur pelayarannya hingga ke Tiongkok, Australia, dan kawasan Pasifik.

Perang Dunia II menghantam keras perusahaan ini. Direkturnya di Belanda, Willem Ruys, ditangkap Jerman Nazi dan dieksekusi. Sementara di kawasan Hindia-Belanda, armadanya dihancurkan angkatan udara Jepang, antara lain kapal SS Slamat, MS Baloeran, dan MS Dempo. Tenggelamnya SS Slamat merupakan salah satu tragedi besar dalam sejarah pelayaran karena membawa tewas 450 penumpang dan awak.

Brosur pelayaran dari Rotterdam ke Jawa melalui Southhampton dan Marseille dari tahun 1892. Tampak beberapa penumpang wanita mengenakan bawahan kain, salah satunya malah juga atasan kebaya.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Brosur perjalanan dari tahun 1958 dengan rute yang sama, tetapi dengan kapal uap yang lebih besar dan modern. Kapal ini bernama Willem Ruys untuk mengenang direktur perusahaan yang dieksekusi Jerman Nazi semasa Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1892 (atas), 1958 (bawah)
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 29 Juni 2019

Para pecandu ganja di Pulau Jawa dalam lukisan dan buku dari abad ke-19

PENGANTAR

Ada kebiasaan, bahkan tradisi, atau kegiatan sekelompok orang yang dibiarkan berkelanjutan, yang untungnya pada zaman sekarang sudah hilang, berkurang, atau dilarang. Contohnya adalah pemasungan orang yang cacat mental, tarian di mana kaum lelaki menyelipkan uang ke bagian tubuh penari wanita, perjudian terbuka di perayaan-perayaan, atau mengkonsumsi ganja secara terbuka.

Seri foto berikut akan menampilkan beberapa gambar dari para pecandu di Jawa ini dalam lukisan dan jilid buku.

Karya Ernest Hardouin, sekitar tahun 1851
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Karya Ernest Hardouin, sekitar tahun 1851
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Karya Auguste van Pers, sekitar tahun 1860
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
De Verkoop van Opium op Java, 1892
[Penjualan Candu di Jawa]
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
De Opium-Vloek op Java, 1890
[Kutukan Candu di Jawa]
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: l.d.a.
Tempat: Jakarta, Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden & Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Jumat, 21 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Blitar, 1892 (2)

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Si harimau tergeletak mati di tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Penonton mulai berani masuk ke arena
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Kandang macan sudah kosong semua
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Acara berakhir ...
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden
... penonton bubar
(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)

Waktu: antara 1877-1892
Tempat: Blitar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H.G. Rimestadt
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden / Tropenmuseum
Catatan: Foto-foto ini banyak beredar dan sudah banyak direproduksi sejak zaman Belanda dulu. Keterangan waktu dan tempat bisa bervariasi, tetapi tampaknya informasi yang dicantumkan di atas adalah yang paling akurat.

Rabu, 19 Desember 2018

Tradisi rampogan sima di alun-alun Blitar, 1892 (1)

Rampogan sima atau rampok macan adalah tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang ikut andil dalam mempercepat punahnya harimau Jawa. Adat ini biasanya dilaksanakan di alun-alun besar pada sebuah hari raya.

Dalam acara ini, harimau yang sudah ditangkap dari hutan atau pinggir hutan, dibawa ke tengah alun-alun dengan kandang tertutup. Sementara itu sekeliling alun-alun sudah dijaga rapat oleh para lelaki bersenjata bambu runcing panjang. Kandang harimau kemudian dibuka, kemungkinan besar dengan mekanisme jarak jauh dengan menggunakan tali. Si harimau akan keluar atau dipaksa keluar dengan api atau ledakan dan kemungkinan juga sorak sorai dari sekeliling alun-alun.

Naluri di macan tentunya akan berlari menjauh dari keramaian manusia. Tapi di tiap sudut yang dia dekati dia akan dihujani tusukan bambu runcing. Sebuah situasi yang tidak memang tidak memberi kesempatan bagi si harimau untuk menang. Pada akhirnya dia akan tewas, setelah kehabisan tenaga dan luka tusuk yang bertubi-tubi.

Di tahun 1905 pemerintah kolonial Hindia-Belanda secara resmi melarang tradisi ini.

Semua mata tertuju ke kandang-kandang macan di tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Harimau yang tampaknya baru keluar dari kandang
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Si harimau sendiri di tengah-tengah alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Si macan berlari dari satu sisi alun-alun ke sisi lain
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Keroyokan di salah satu sisi alun-alun
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: antara 1877-1892
Tempat: Blitar
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H.G. Rimestadt  (atau Herman Salzwedel?)
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Foto-foto ini banyak beredar, terutama yang nomer 3 yang sudah banyak direproduksi sejak zaman Belanda dulu. Keterangan waktu dan tempat bisa bervariasi, tetapi tampaknya informasi yang dicantumkan di atas adalah yang paling akurat.


UPDATE 11 Juni 2020: Foto nomor 3 dari sumber lain

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Kamis, 11 Oktober 2018

Tiga perlawanan rakyat atas kekuasaan Belanda di tahun 1890-an yang tidak banyak dicatat sejarah

Kepulauan Aru, 1892: Para pemimpin perlawanan rakyat setelah ditangkap Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Lombok, 1894: Jembatan yang dibakar rakyat saat perlawanan warga Lombok
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Lombok, 1894: Makam seorang prajurit KNIL yang tewas saat perlawanan warga Lombok
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Melawi, 21 Maret 1896: Raden Paku Jaya bersama para pengikutnya setelah ditangkap Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1892, 1894, 1896
Tempat: Kepulauan Aru, Lombok, Melawi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Senin, 18 September 2017

Perang Aceh: Wajah-wajah warga Aceh di masa perang (2)

1876: Warga Aceh bersenjata
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1892: Beberapa pemuka Aceh bersama dua petinggi Belanda di Kutaraja
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
1894: Salah satu isteri Teuku Umar dan pengiringnya di Pulo Raya
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Waktu: 1876, 1892, 1894
Tempat: Aceh
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan: Catatan foto kedua menyebutkan nama-nama Teuku Syekh Tunkup, Teuku Nyah Bantah, Teuku Nya Mohamad, Teuku Nya Daud, Teuku Neg Muda Setia Rajah, Teuku Malikul Adil, Teuku Machmud, Panglima Mesjid Raya, Pangeran Husain, Kecik Umar, Yusuf, Haji Abdullah, Abu Bakr, sementara dari pihak Belanda H.P.A. Bakker dan J.B. Léon.


UPDATE 4 Desember 2019
Foto terakhir dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Sabtu, 24 Desember 2016

Panglima KNIL Letnan Jenderal Gustave Marie Verspyjck, 1892

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: kemungkinan besar 1892
Tempat: ?
Tokoh: Letnan Jenderal Gustave Marie Verspyjck (panglima KNIL yang terlibat di pertempuran di Monterado, Bengkayang; perang Banjar, perang Aceh I dan perang Aceh II)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: