Tampilkan postingan dengan label tandu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tandu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2025

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang tandu sebagai alat transportasi zaman dulu di Jawa

(klik untuk memperbesar | @ Wellcome Collection)

Tahun terbit: ?
Tempat terbit: London (?)
Tokoh:
Deskripsi: Bentuk tandu di Jawa yang dipikul dua orang. Penumpang duduk, atau kemungkinan lebih tepatnya setengah berbaring di ruangan yang memiliki "atap" miring, dengan dinding yang memiliki tuas di satu sisi sebagai tempat keluar masuk, atau untuk sekedar melihat ke luar. Kemungkinan ini model tandu untuk perempuan yang selama perjalanan menghindar untuk terlihat. Model tandu seperti ini sangat mirip dengan yang ditampilkan di posting ini, ini, dan ini.
Juru foto/gambar: ?
Sumber / Hak cipta: Wellcome Collection
Catatan:

Selasa, 25 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (7)

Alat transportasi zaman dulu untuk para pembesar, orang kaya, dan kemudian warga Belanda: tandu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Istana Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang kelak menjadi Istana Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Taman yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Tarian dengan menggunakan keris
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Minggu, 22 Januari 2023

Bali dalam jepretan Cornelius Louis André Roosevelt, 1928 (9)

Pura Goa Lawah di Klungkung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tempat pengeringan ikan (?) di pesisir Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Rombongan gadis Bali menuju pura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Ni Pollok di usia sekitar 11 tahun (?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua gadis Bali ditandu diiringi rombongan perempuang dalam pakaian adat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1928 atau sebelumnya
Tempat: Bali (a.l. Klungkung)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Cornelius Louis André Roosevelt
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 16 Januari 2023

Bali dalam jepretan Cornelius Louis André Roosevelt, 1928 (6)

Dua lelaki Bali
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Warga Bali menandu pasangan muda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Penari Rangda dan penari Legong (Ni Luh Cawan?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Lima lelaki, dalam pakaian Barat, di gerbang sebuah pura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pojok sebuah kawasan pura
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pura dengan atap batu bersusun
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1928 atau sebelumnya
Tempat: Bali
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Cornelius Louis André Roosevelt
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 26 Januari 2022

Aneka wajah Nusantara dalam lukisan Josias Rappard, 1888 (15)

Arak-arakan pengantin dengan ondel-ondel
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Sebuah rumah panggung di Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rampogan sima (di Jawa Timur?)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Senenan, sebuah tradisi permainan berkuda kalangan ningrat Jawa
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1888
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Josias Rappard
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Edisi lain dari lukisan nomor 3 pernah dimuat di sini, dengan data tahun 1889.

Selasa, 14 Desember 2021

Dari album foto Bali-Jawa sekitar tahun 1920 (22): Garut

PENGANTAR

Rangkaian foto berikut berasal dari sebuah album yang cukup menarik karena berisi lebih dari 150 foto yang banyak di antaranya diberi label sehingga memudahkan kita untuk mengetahui isi foto yang ditampilkan. Sayangnya, tidak ada keterangan tentang kapan foto dibuat, kecuali foto-foto pada saat kunjungan PM Perancis, Georges Clemenceau, ke Hindia-Belanda di tahun 1920, dan kunjungan pemilik album ke wilayah Priangan di tahun 1921. Beberapa foto diperkirakan dibuat sebelumnya hingga ke tahun 1912. Secara keseluruhan kita bisa asumsikan bahwa foto-foto ini umumnya dibuat di antara tahun 1912 dan 1920/1921.

Apabila kita lihat koleksi foto ini, bisa dipastikan bahwa si pembuat album tinggal di Bali, kemungkinan besar bekerja di perusahaan pelayaran KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij), dengan basis di Benoa. Beberapa foto tampaknya dibuat oleh si pemilik album atau keluarganya, beberapa lain berasal dari juru foto profesional.


Hotel Villa Dolce
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Area Hotel Villa Dolce
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pemandangan dari Grand Hotel Ngamplang, Cilawu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pantai di selatan Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan menuju Gunung Papandayan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1921
Tempat: Garut
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 30 Oktober 2021

Kehidupan sehari-hari di Jawa menurut lukisan E. Nijland di "Schoolplaten van Ned. Oost-Indië", 1897 (3)

7. Tandu sebagai alat transportasi
(klik untuk memperbesar | © AVS)
8. Pasar, tempat orang pribumi baik jelata maupun priyayi, Tionghoa, dan Arab (?) menukar uang keping, berjual-beli ayam dan unggas, minuman aren, kain, cabai, dan buah-buahan seperti durian, nanas, mangga (??), kelapa, pisang, serta manggis
(klik untuk memperbesar | © AVS)
9. Warung, tempat orang singgah duduk berisitirahat sambil menghilangkan dahaga dan lapar
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan diterbitkan di tahun 1897
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: E. Nijland
Sumber / Hak cipta: E.J. Brill / C.H.E. Breijer / Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 01 Juli 2021

Dari sebuah album foto tentang Makassar dan sekitarnya 7: Wisata ke Bromo, 1910

PENGANTAR

National Gallery of Australia membeli banyak koleksi foto dari Leo Haks. Salah satunya adalah sebuah album foto yang kemungkinan besar awalnya dimiliki oleh seorang Belanda di Makassar, yang tampaknya bekerja di sebuah perkebunan, atau malah menjadi seorang pegawai penting di sana. Ini terlihat dari banyaknya foto tentang Makassar dan sekitarnya, serta rumah kediamannya, dan juga foto dia di lapangan. Foto-foto ini kemungkinan besar berasal dari fotografer E. Becker.

(klik untuk memperbesar | © NGA)

Selain tentang Makassar, album yang diperkirakan berasal dari tahun 1900-1910 ini juga memuat foto dari lokasi di mana si pemiliki tampaknya pernah pergi, misalnya Ternate dan Jawa. Di Jawa, tampaknya dia berkunjung ke kawasan Bromo, dan membawa foto-foto karya fotografer Hermann Salzwedel. Selain itu, tampaknya dia juga pernah ke Semarang karena album ini berisi juga foto karya studio Yim Fong. Bagian akhir album ini memuat dua foto yang menjadi contoh manipulasi foto sebelum adanya Photoshop.


Foto-foto berikut masih bagian dari album, tetapi tampaknya merupakan kenang-kenangan dari kunjungan si pemilik album dan keluarganya ketika berkunjung ke Jawa Timur.

Kawasan yang kelak menjadi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah gua (atau mata air dari sebuah sungai besar?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perjalanan dengan tandu, kemungkinan di sekitar hutan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: sekitar 1910
Tempat: Jawa Timur
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hermann Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Foto nomor 4 pernah dimuat di posting ini dalam ukuran lebih kecil.


Tambahan: Dua foto berikut bukan bagian dari album foto ini, tetapi sama berasal dari sekitar Makassar dan dibuat oleh fotografer E. Becker di sekitar tahun 1910, dan boleh jadi sebenarnya masih terkait dengan beberapa foto lain di album ini yang telah dimuat sebelumnya.
Sebuah kawasan pemukiman dengan rumah tembok di Makassar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah rumah panggung di sekitar Makassar
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Jumat, 29 Mei 2020

Beberapa alat transportasi zaman dulu (2): Dari tandu ke mobil

Ketika jembatan besi untuk transportasi bermotor belum dibangun di Jawa, transportasi dari pesisir ke pegunungan dan sebaliknya masih banyak menggunakan perahu yang mengandalkan arus sungai dan keterampilan mendayung; sesuatu yang hampir punah saat ini
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kuda dan tandu sebagai alat transportasi di Jawa
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jawa, 1900-an: Medan terjal seperti ini hanya bisa dilalui oleh kuda, tandu, atau pejalan kaki. Foto kemungkinan diambil di sekitar hutan Lalijiwo (Prigen, Pasuruan).
(klik untuk memperbesar | © koleksi E. Becker / NGA)
Citarum di kawasan Priangan, 1901: Ketika jembatan besi belum ada, pemindahan barang berat antar dua tepi sungai besar dilakukan dengan perahu yang menyeberang dengan dipandu tali
(klik untuk memperbesar | © H. Kleinmann & Co / NGA)
Cemoro Lawang (Tengger), 1920: Seorang bangsawan Jawa berpose bersama mobilnya
(klik untuk memperbesar | © Studio Onnes Kurkdjian / NGA)
Waktu: awal abad ke-20, 1901, 1920
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Kleinmann & Co; koleksi E. Becker; Studio Onnes Kurkdjian
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: 1) Foto nomor 1 menampilkan pintu air Mlirip (Mojokerto) yang mengatur aliran Kali Brantas ke arah Surabaya. 2) Foto nomor 4 pernah dimuat di posting ini dengan ukuran yang lebih kecil.

Minggu, 27 Oktober 2019

Beberapa alat transportasi zaman dulu (1)

Pedati, tandu dengan kabin, kereta kuda
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
1841: Tandu di Bangka dengan sistem pikulan dua tahap
(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)

Waktu: 1841 (gambar kedua)
Tempat: Bangka (gambar kedua)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Zwiggelaar Auctions
Catatan:

Jumat, 16 Agustus 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja (6)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 21 memperlihatkan nelayan dan kegiatannya. Di sini juga yang menjadi pembeli, atau yang menghampiri, adalah warga Belanda; di mana para perempuannya memakai kain dengan kebaya panjang putih.
Menjelam … melempar jala
Orang mendjala … nelayan dengan jala
Toekang goerami … tukang gurami
Toekang kapiting … tukang kepiting
Toekang tambra mas … tukang tambera mas
Toekang tiram … tukang tiram

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 22: Seperti halnya di halaman 7, bagian ini memperlihatkan berbagai macam sarana pengangkutan, tapi kali ini dengan dominasi transportasi perairan.
Djangkar … jangkar.
Kapal api … kapal api (Uap)

Karèta tramwih … kereta trem
Kemoedi … kemudi (kapal)
Koeda pikoelan … kuda pikulan
Prahoe badawang … perahu badawang (?)
Prahoe kojan … perahu koyan (?)
Prahoe kroewis … perahu penjelajah
Prahoe majang … perahu mayang
Tandoe tjina … tandu Tionghoa
Tangkap ikan … menangkap ikan

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 23 berisi aneka hal yang tampaknya terjadi di rumah besar seorang tuan Belanda, seperti datangnya tukang arang untuk isi ulang setrikaan, hingga ke pembantu yang main congklak. Ada pula tukang pinatu yang mengambil cucian, di mana di ibu Belanda tampak digambarkan juga memakai kain dan kebaya panjang putih.
Catatan: Dua perempuan bermain congklak mengingatkan pada sebuah posting lama di blog ini.
Main tjongkak (Dakon) … bermain congklak (dakon)
Papan toekang minatoe … papan cuci
Strika … setrikaan
Toekang arang … tukang arang
Toekang minatoe ambil barang … tukang penatu mengambil barang
Toekang potong roempoet … tukang potong rumput
Toekang sapoe … tukang sapu

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 24 atau terakhir menampilkan lagi pedagang, kali ini penjual buah-buahan dan hewan peliharaan. Para pedagang ini ditampilkan tidak mengenakan baju, yang tampaknya memang menunjukan keadaan sebenarnya di masa itu; misalnya pedagang buah, contoh yang fotonya bisa dilihat di posting ini.
Boeroeng gelatik djinak … burung gelatik jinak
Toekang boeroeng belèkèt … tukang burung ???
Toekang boeroeng serindit … tukang burung serindit
Toekang boewah-boewah … tukang buah-buahan
Toekang kalkoen (ajam blanda) … tukang kalkun (ayam Belanda)
Toekang kelintji … tukang kelinci




Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum
Catatan:

Kamis, 08 Agustus 2019

Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja (2)

PENGANTAR

(klik untuk memperbesar)
Buku Gambar-gambar akan Peladjaran dan Kasoekaän Anak-anak dan Iboe-bapanja pertama kali diterbitkan di tahun 1870, jadi lebih dari 100 tahun lalu. Buku ini terdiri dari 2x24 halaman yang berisi gambar-gambar berwarna dengan teks berbahasa Melayu Jakarta, disertai dengan terjemahan dalam bahasa Belanda. Tampaknya buku ini digemari masyarakat, sehingga harus menjalani beberapa kali cetak ulang, dan sisa-sisa peninggalannya sampai sekarang masih tersedia di perpustakan, museum, atau toko buku antik.

Jika kita mengamati buku ini sekarang, ada lumayan banyak hal yang bisa menjadi catatan kita tentang suasana di tanah air menjelang akhir abad ke-19 . Mulai dari penggunaan bahasa sebelum adanya nama Bahasa Indonesia, tradisi masyarakat saat itu, cara berpakaian, hal-hal yang dianggap penting saat itu, posisi orang Belanda, suasana warga Tionghoa, hingga ke peranan warga Arab, dsb.


(klik untuk memperbesar | © zwiggelaarauctions)
Halaman 5: Sudah sejak zaman dulu tidak semua orang Indonesia makan di rumah. Pekerjaan atau kegiatan mereka membuat mereka harus makan dan minum di warung. Buku ini menggambarkan siapa dan apa yang bisa dilihat di warung saat itu.
Bakoel nasi … bakul nasi
Dapoer … dapur
Gendi … kendi (untuk tuang air ke cawan)
Gendi moeloet … kendi (untuk tuang air ke mulut)
Kipsao … teko
Koekoesan … kukusan
Koeli minoem kopi … kuli minum kopi
Kompor … kompor
Manggis … manggis
Mangkok-mangkok … mangkok
Nanas … nanas
Palita … pelita
Perijoek … periuk
Piring-piring sama glas … piring dan gelas
Sisir pisang … sesisir pisang
Waroeng … warung

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 6: Jika halaman 1 memperlihatkan rumah tembok tuan Belanda, makan halaman ini memperlihatkan rumah kebanyakan warga Indonesia: dari anyaman bambu dengan atap rumbia. Halaman ini menggambarkan pula kegiatan warga, umumnya para perempuan, di sekitar rumah.
Ambil ajèr pantjoeran … mengambil air pancuran
Gorèng sambal … menggoreng sambal
Main sama anak … bermain bersama anak
Potong kajoe … memotong kayu
Roemah dèsa … rumah desa
Timba ajèr soemoer … menimba air sumur
Toemboek padi … menumbuk padi
Toemboek sirih … menumbuk sirih

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 7 memperlihatkan sarana transportasi darat dan sungai, seperti rakit, pedati, delman, dan kereta api. Saat itu masih ada pula alat transportasi dengan tenaga manusia murni tanpa bantuan alat mekanik: yaitu tandu, di mana penumpangnya bisa berbaring; serta joli, di mana si penumpang duduk sambil diangkut.
Djambatan bamboe … jembatan bambu
Djoli … joli
Kahar pèr … delman (dengan per)
Karèta api … kereta api
Karèta pos Toewan besar … rombongan kereta kuda Gubernur Jenderal
Pedati … pedati
Sasak … rakit
Tandoe … tandu

(klik untuk memperbesar | © Tropenmuseum)
Halaman 8: Di zaman ketika rumah penduduk hampir keseluruhannya terbuat dari kayu, bambu, rumbia, dan bahan mudah dilanda api lainnya, kebakaran adalah hal yang tidak sulit terjadi. Buku ini mendedikasikan satu halaman untuk menggambarkan bagaimana kebakaran rumah terjadi, siapa yang menanganinya, peralatan apa yang dipakai, dan bagaimana cara pemakaiannya.
Émbér pompa … ember
Kampoeng angoes … kampung hangus
Mandoer pompa … mandor pompa
Pompa datang … pompa datang
Pompa main … pompa bekerja
Toewan Kommandan … komandan pemadam kebakaran
Tongtong … kentongan


Waktu: akhir abad ke-19
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Tropenmuseum / Zwiggelaar Auctions
Catatan: