Tampilkan postingan dengan label 1750. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1750. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno berbahasa Jerman tentang Jakarta di abad ke-18

Lukisan berbahasa Jerman ini menampilkan Jakarta dilihat dari perairan Sunda Kelapa dengan latar belakang Gunung Gede dan Gunung Salak. Bagian tengah dengan nama Stadt merupakan wilayah kota, sementara bagian kanan dengan nama Schlos adalah Kastil Batavia. Keterangan lainnya dengan mengikuti nomor: 1) gerbang ke kastil; 2) pinggiran kota; kemudian sudut-sudut kastil dengan nama batu-batu mulia yaitu 3) Schantz, 4) Diamant, dan 5) Rubin; 6) pelabuhan; 7) jembatan; 8) gereja
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Jerman
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Selasa, 19 Mei 2026

Dari khazanah Bartele Gallery: Lukisan kuno tentang tiga pos dan benteng militer Belanda di "pinggiran" Jakarta

Benteng militer Belanda di Ancol yang saat itu merupakan titik batas wilayah kekuasaan Belanda di sebelah timur-utara
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Benteng militer Belanda di ujung selatan yang diberi nama Noortwyck (sekarang sekitar Jalan Juanda)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Penampakan benteng Noortwyck dari seberang Kali Ciliwung
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)
Pos militer Belanda di ujung selatan yang lain yang diberi nama Ryswyck (sekarang sekitar Jalan Veteran)
(klik untuk memperbesar | @ Bartele Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tahun peristiwa: abad ke-18
Tempat terbit: Belanda
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jan van Schley
Sumber / Hak cipta: Bartele Gallery
Catatan: Bartele Gallery adalah sebuah gerai di Hotel Indonesia Kempinksy yang menyediakan barang-barang antik terkait buku, barang cetakan, peta kuno, dsb. Gambar di atas diambil dari laman resmi galeri ini.

Minggu, 16 November 2025

Peta kuno dari tahun 1750: Jakarta ketika masih dikelilingi pesawahan dan kebun (3)

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan versi yang tidak diwarnai dari dokumen yang pernah ditampilkan di posting sebelum ini. Peta ini memperlihatkan kawasan dari Angke di barat hingga Ancol di timur, yang saat itu hampir sepenuhnya merupakan pesawahan dan perkebunan terutama tebu. Kawasan kota yang disebut Batavia sendiri hanya terdiri dari beberapa kompleks bangunan di selatan pelabuhan Sunda Kelapa, ditambah beberapa bangunan kecil di sepanjang Kali Besar. Pada saat itu Belanda menempatkan beberapa benteng dan pos pertahanan yang tampak jelas di peta ini, yaitu Ancol di timur, Jacatra di tenggara, Noordwyck di selatan, Anke di barat daya, serta Corps de Garde di Untung Jawa di barat laut.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 29 Juni 2025

Peta kuno dari tahun 1750: Denah kota Jakarta

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: ?
Tokoh:
Deskripsi: Peta berbahasa Belanda dan Perancis ini menempatkan barat di atas, sehingga Laut Jawa berada di sebelah kiri dari Jakarta. Peta ini menampilkan denah kota Jakarta di pertengahan abad ke-18, yang saat itu hanya mencakup secuil dari wilayah Jakarta Utara sekarang. Peta ini diberi legenda A hingga H, serta nomor 1 sampai 31 untuk menunjukkan bangunan serta kawasan Jakarta saat itu.

  • A: Kastil Batavia
  • B: kanal yang menuju kastil
  • C: kawasan pecinan
  • D: kawasan pasar
  • E: gerbang baru menuju kastil
  • F: gereja Lutheran
  • G: pergudangan
  • H: jalur masuk dari laut
Kemungkinan peta ini merupakan pembaruan dari peta sebelumnya seperti yang pernah ditampilkan di posting ini yang terbit tahun 1725. Terlepas dari perbedaan penempatan mata angin, kedua ini skemanya mirip; dan peta ini juga memuat kesalahan yang sama, yaitu bahwa Gereja Portugis (nomor 10 di peta) ditulis sebagai l'Eglise des aMalais/Maleitsche Kerk (Gereja Melayu). Dan memang peta ini juga menulis jelas tentang Veranderingen Zedert 1731 to 1750, yaitu tentang apa saja yang berubah di Jakarta dari tahun 1731 hingga 1750.

Juru kartografi: J. van Schley
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 18 April 2025

Peta kuno tentang Jakarta karya Jacques Nicolas Bellin dari tahun 1750

Edisi 1
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Edisi 2
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan karya berikutnya dari pakar ilmu bumi Perancis, Jacques-Nicolas Bellin. Bellin merujuk pada peta-peta Belanda sebelumnya yang menampilkan Jakarta dalam komposisi dan tampilan yang sama atau mirip. Bellin mengeluarkan ini untuk khalayak berbahasa Perancis. Dari keterangan yang dipajang di pojok kiri atas kita a.l. bisa tahu bahwa empat sudut Kastil Batavia diberi nama dengan batu-batu mulia yaitu Diamant, Rubin, Saphir, dan Perle. Kemudian juga adanya area yang dihuni orang India (Malabar), Maluku (Banda), serta Tionghoa (Chinois). Keterangan lainnya menunjukkan fasilitas-fasilitas umum seperti gereja, rumah sakit, jalanan, serta jalur saluran air yang saat itu ramai dilalui oleh perahu dan kapal.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 16 April 2025

Lukisan karya Jacques Nicolas Bellin tentang Benteng Nassau di Banda dari sekitar tahun 1750

Tampak udara dari Fort Nassau dengan empat pojok bermeriam yang diarahkan ke berbagai penjuru, gerbang utama (dan satu-satunya?), serta area pemukiman di dalamnya
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 01 November 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Nusantara bagian barat (edisi tak berwarna)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Ini merupakan versi tak-berwarna dari peta yang dimuat di posting ini sebelumnya. Peta keluaran Perancis ini tidak mengikuti tradisi orang Belanda, Italia, dan Portugis yang sempat menyebut wilayah barat Nusantara sebagai "Kepulauan Sunda Besar", tetapi langsung menyebut nama-nama pulau utamanya di judul peta yaitu Jawa, Kalimantan (Borneo), dan Sumatera. Peta ini, seperti yang sebelumnya, memang cukup senang menggambar lekukan-lekukan di pulau sehingga membuat proporsi teluk-teluk menjadi lebih besar daripada aslinya. Penamaan tempat-tempat tampak dibatasi ke yang dianggap penting saja, sehingga area pulau tidak dipenuhi oleh tulisan. Yang perlu dicatat adalah bahwa peta ini menyebut Flores sebagai "Pulau Ende", mengikuti salah satu nama tempat di selatan pulau ini. Ini menambah bahan deretan nama untuk pulau ini di samping "Pulau Ular" dan "Pulau Batuliar".
Juru kartografi: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 16 Oktober 2024

Peta kuno keluaran Perancis dari tahun 1750: Ketika di Jawa ada 4 kerajaan dan 27 provinsi

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini merupakan pendahulu dari peta yang sebelumnya dimuat di posting ini dan ini. Ketiga-tiganya menaruh perhatian lumayan terhadap nama-nama sungai dan gunung. Namun yang menarik, dari sudut alokasi wilayah peta ini menampilkan pembagian yang lebih banyak atau beragam. Jumlah kerajaan tetap ada empat yaitu Kesultanan Banten, Batavia, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Gresik. Tetapi wilayah-wilayah lain dikelompokkan dalam 27 "provinsi", sebuah jumlah yang banyak, dengan beberapa nama yang sekarang sudah pudar atau dilampaui wilayah lain pamornya.

Di bagian barat Jawa ada

  • Bandung
  • Ciasem
  • Kandangwesi
  • Karawang
  • Koewassing Goloen & Impanagara (?)
  • Pamanukan
  • Parakan Muncang (saat itu tampaknya lebih luas daripada Bandung)
  • Priangan (saat itu belum termasuk Bandung)
  • Sidamar
  • Sukapura
  • Sumedang;

di bagian tengah Jawa ada

  • Bagelen
  • Banyumas
  • Gabbang (?)
  • Kedawung
  • Mataram
  • Panaraga;

di bagian timur Jawa ada

  • Blambangan
  • Brindiok (?)
  • Diapan (?)
  • Kediri
  • Lodaya
  • Madiun
  • Panarukan
  • Pasuruan
  • Puger
  • Singasari
  • Surabaya;

sementara di Madura kita membaca nama-nama tempat seperti Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.

Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 20 September 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Jakarta ketika masih dikelilingi pesawahan dan kebun (2)

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta berbahasa Perancis ini menampilkan Jakarta di abad ke-18, mulai dari Angke di barat hingga ke Ancol di timur, dan dari Kawasan Sunda Kelapa di utara hingga ke Noordwyck (sekitar Monas sekarang) di selatan. Berdasarkan peta ini, lebih dari 90% wilayah ini masih dipenuhi oleh pesawahan, perkebunan tebu, dan kebun-kebun lain yang tidak disebut secara spesifik. Peta ini dilengkapi dengan pemadangan pelabuhan Jakarta saat itu dilihat dari arah laut.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 16 September 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Banda dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)


Tahun terbit: sekitar 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta berbahasa Perancis ini menampilkan Pulau Banda dan sekitarnya. Kontur pulau-pulau masih belum akurat meskipun profil umumnya sudah terlihat. Pulau Run dan Ai di sebelah kanan juga tampak dipaksakan untuk masuk ke dalam peta sehingga letak, ukuran, serta bentuknya jauh dari akurat. Peta ini disertai 9 penamaan:

  1. Pulorin (Pulau Run)
  2. Puloway (Pulau Ai)
  3. Gunnanapi (Pulau Gunung Api)
  4. Labetak (Lautaka?)
  5. Nera (Naira)
  6. Wayer (?)
  7. Lantoor (Lontohir)
  8. Ortattan (?)
  9. Combeer (Combir)

Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 11 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1750 yang berpusat di Laut Sulawesi

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini cukup unik karena menjadikan Laut Sulawesi sebagai pusatnya, sehingga mencakup wilayah yang sekarang berada di empat negara, yaitu Brunei, Filipina, Indonesia, serta Malaysia. Saat itu tapi peta ini membagi pulau-pulau ini dalam empat kelompok: Filipina, Jawa serta Kepulauan Sunda Kecil, Kalimantan, dan Sulawesi beserta Maluku.
Juru kartografi: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 24 Juli 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Sumatera

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta berumur hampir 300 tahun ini menampilkan tempat-tempat utama di Sumatera dengan cukup terperinci. Penyusun peta saat itu hanya mengenal Kesultanan Aceh (Roy d'Achem) sementara kota-kota lain dimuat tanpa dikaitkan dengan kesultanan/kerajaan mana pun, misalnya: Padang, Manincabo (Minangkabau), Priaman (Pariaman), Bancoul (Bengkulu), Palimban (Palembang), atau Jambi; serta pulau-pulau seperti Banca (Bangka), Lingen (Lingga), atau Nias.
Juru kartografi: Jacques-Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 04 Juli 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Bali

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit:
Tokoh:
Deskripsi: Peta "terbalik" ini didasarkan pada karya Theodore De Bry yang terbit jauh sebelumnya. Sama dengan peta lain dengan sumber yang sama, peta ini dihiasi dengan gambar tentang Palais du Roy (istana raja) serta menempatkan tiga istana raja di dalam petanya. Yang menarik dari peta ini, Bali disebut sebagai petite Java (Jawa Kecil), suatu julukan yang barangkali menggambarkan banyaknya kemiripan antara Bali dan Jawa saat itu.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 20 Juni 2024

Peta kuno dari tahun 1750: Ternate, Tidore, dan sekitarnya

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Maluku, sebagai wilayah yang menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa sebelum sepenuhnya dikuasai VOC/Belanda, merupakan daerah yang sudah dipetakan dengan relatif cermat, seperti yang ditampilkan di peta keluaran Paris ini. Kita bisa melihat pesisir barat Halmahera (di peta disebut pulau Gilolo, mengacu ke Jailolo), dengan beberapa pulau di sebelah kirinya: Ternate, Tidor(e), Mare (Potterackers), Moti (Mothir), Makian (Machian), Bacan (Bachian), serta Kasiruta (Manen).
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: