Tampilkan postingan dengan label 1681. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1681. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2024

Peta kuno dari tahun 1681: Ketika wilayah Nusantara disandingkan dengan Jepang

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1681
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Jepang bukanlah penghasil rempah-rempah; karenanya di abad ke-16 dan ke-17 bangsa Eropa tidak memprioritaskan peta Jepang atau rute pelayaran ke kawasan ini. Peta ini menjadi menarik karena menyisipkan Jepang di peta tentang wilayah Nusantara yang saat itu dikelompokkan menjadi 3 bagian: Isles de la Sonde (Kepulauan Sunda), Isles Molucques (Kepulauan Maluku), dan Isles Philippin (Kepulauan Filipina). Di wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia, beberapa nama tempat bisa terbaca dengan jelas dengan sedikit variasi penulisan, seperti misalnya Aceh, Pedir, Pariaman, Minangkabau, Jambi, Indrapura, dan Palembang di Sumatera; kemudian Banten, Jakarta, Cirebon, Mataram, dan Blambangan di Jawa; berikutnya Sukadana dan Banjarmasin di Kalimantan, serta Makassar dan Pulau Buton di Sulawesi. Selain keempat pulau ini, peta ini juga menamai beberapa pulau dengan tepat seperti Bintan, Bangka, Bali, Sumbawa, Flores, Solor, Timor, dan tentunya pulau-pulau di Maluku yang menjadi incaran rempah-rempahnya seperti Buru, Makian, Bacan, Halmahera (Gilolo), Ambon, dll.
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:


UPDATE 16 November 2024: Peta yang sama dengan pewarnaan yang berbeda, yang menunjukkan bahwa peta ini diolah lebih lanjut dengan diwarnai secara manual.
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Sabtu, 21 Agustus 2021

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (1)

Clement de Jonghe adalah seorang pelukis Belanda yang hidup di abad ke-17. Sekitar tahun 1650 dia menggambar peta Batavia yang menjadi dasar dari beberapa salinan oleh pemeta lain. Berikut tiga dari versi peta Batavia yang didasari karya de Jonghe.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini berasal dari sekitar tahun 1660-1664 dan kemungkinan dibuat oleh A. Meijer. Versi ini tidak memberikan deskripsi atas bagian-bagian di peta; tetapi memberikan nuansa eksotis dengan menampilkan pohon kelapa, gajah tunggang, serta beragam manusia.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Versi ini dibuat oleh Frederik de Wit di tahun 1681. Peta ini sudah memberikan beberapa deskripsi. Sungai yang melintas di bagian tengah adalah De Groote Rivier (Kali Besar), sementara beberapa bangunan dan area diberi kode huruf dan nomor dengan keterangan di pojok kanan bawah. Kita antara lain bisa membaca bahwa di kastil Batavia ada bagian Logiment van de Raden van India serta Iavansche corps dagarde yang mengindikasikan kesatuan Jawa dengan panglimanya. Selain itu ada pula Bandanees quartier (wilayah orang Banda), Mallebaera quartier (wilayah orang Malabar, India?), Cinees Siecken huys (rumah sakit Tionghoa), serta Vismarckt (pasar ikan).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Peta di atas diterbitkan berwarna di sekitar tahun 1740 oleh M. du Chesne. Isinya hampir sama persis, hanya penempatan mata angin yang berbeda, serta sekarang judul peta berbunyi Afbeldinge van 't Casteel en de Stadt BATAVIA gelegen op 't groot Eylandt JAVA-MAIOR, int Coninckrijck van IACCATRA (gambar kastil dan kota Batavia di pulau besar Jawa Raya di Kerajaan Jakatra).

Waktu: 1664, 1681, 1740
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: A. Meijer; Frederik de Wit; M. du Chesne
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: