Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Para politisi Belanda setelah dimerdekakan dari tahanan Jerman Nazi, untuk kemudian harus menghadapi masalah kemerdekaan Indonesia, 1945

14 tokoh Belanda yang ditahan Jerman Nazi sebagai balasan atas penahanan warga-warga Jerman di Hindia Belanda di bulan Mei 1940. Foto diambil setelah mereka dibebaskan menyusul kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 24 Juni 1945
Tempat: wilayah selatan Belanda
Tokoh:
  • Eelco van Kleffens (ketiga dari kanan: kelak Menteri Luar Negeri Belanda, kemudian menjadi diplomat Belanda di PBB dan harus menghadapi perdebatan tentang kemerdekaan Indonesia)
  • Pieter Lieftinck (keenam dari kiri: kelak Menteri Keuangan Belanda dan a.l. harus menghadapi problematika moneter Uni Belanda-Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar)
  • Willem Drees (kelima dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. ikut terlibat di belakang layar dalam Perundingan Renville)
  • Willem Schermerhorn (ketujuh dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. terlibat langsung dalam Perundingan Linggarjati)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 05 Juli 2024

Repatriasi warga Belanda mantan penghuni kamp Jepang dengan kapal "SS Almazora", 1946

Suasana di kapal SS Almazora yang membawa wanita dan anak-anak mantan penghuni kamp Jepang ke Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Bangsal tempat tidur dengan berbagai macam koper
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebagian dari anak-anak Belanda di kapal SS Almazora; mereka sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di tanah leluhurnya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kedatangan kapal SS Almazora di IJmuiden, Belanda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan Januari 1946
Tempat: rute menuju Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Kamp-kamp tawanan Jepang di Hindia-Belanda umumnya berisi wanita dan anak-anak, karena kaum pria umumnya dieksekusi atau dibuang ke wilayah lain yang dikuasai Jepang. Wanita dan anak-anak ini harus hidup sehari-hari seadanya dalam pengawasan tentara Jepang di area tanpa kebebasan untuk keluar-masuk. Pemerintah Belanda memutuskan untuk menempatkan sebagian wanita dan anak-anak ini di Belanda dengan harapan mereka bisa melupakan penderitaan semasa di kamp dan mendapat harapan baru di Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 24 Februari 2024

Para tentara Jepang yang menjadi tawanan Sekutu di Papua setelah kalah perang (5), 1944/1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1945
Tempat: Biak
Tokoh:
Peristiwa: Para tentara Jepang yang ditawan diangkut dengan truk, dalam pengawalan warga Papua bersenjata parang dan prajurit Belanda bersenjata api, untuk dibawa ke landasan udara dan selanjutnya diterbangkan ke Jayapura.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 07 Februari 2024

AI-Colorizing: Abdul Haris Nasution, 1965

(klik untuk memperbesar)

Pewarnaan foto hitam putih dengan bantuan kecerdasan buatan. Foto asli bisa dilihat di posting ini.

Waktu: 6 Mei 1965
Tempat: bandara Schipol, Belanda
Tokoh: Jenderal Abdul Haris Nasution (salah satu pendiri TNI)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:
Catatan:

Jumat, 16 Juni 2023

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua, 1944/1945 (4)

Prajurit Amerika, Australia, dan Belanda di Papua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tentara-tentara Belanda mengamati pedang samurai …
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
… peninggalan pasukan Jepang di Papua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
1945: Pasukan Belanda mandi di sungai
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pendaratan pesawat amfibi Catalina di Sungai Digul
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Barangkali foto yang lumayan bersejarah: Salah satu saat di mana helikopter untuk pertama kalinya dikerahkan dalam konflik militer, dalam hal ini Sikorsky R-4 di wilayah Papua
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944, 1945
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 11 Februari 2022

Dari arsip Atlas Van Stolk: Wajah beberapa warga dan tokoh Belanda

7 Januari 1927: Pembukaan komunikasi jarak jauh Belanda-Nusantara melalui signal radio
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1927: Ratu Wilhelmina menyampaikan pesan radio dari Belanda ke Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1900 dan 1920: Berpose di atas dan depan mobil
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Medan, 1929: Sebuah jamuan makan warga Belanda dengan dua pelayan lokal
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Antara 1930 dan 1939: Rumah sakit Angkatan Laut di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Rotterdam, 1939: Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld mengamati maket Mesjid Demak
(klik untuk memperbesar | © AVS)
1972: Sukmawati Soekarnoputri di Belanda
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1920, 1927, 1929, 1939, 1972
Tempat: Belanda, Medan, Surabaya
Tokoh: Wilhelmina Helena Pauline Maria (Ratu Belanda); Bernhard van Lippe-Biesterfeld (suami Ratu Juliana); Sukmawati Soekarnoputri (anak Soekarno)
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 19 November 2021

Perundingan Hoge Veluwe, 1946

Perundingan Hoge Veluwe (dalam pelajaran sejarah Indonesia umumnya ditulis Hooge-Veluwe) merupakah salah satu usaha awal untuk membawa konflik Belanda-Indonesia ke meja perundingan. Saat itu Republik Indonesia belum berumur setahun, Belanda masih melihat Indonesia sebagai negeri miliknya, sementara ketegangan antara NICA dan para pemuda Indonesia masih berujung pada perseteruan bersenjata. Meski perundingan ini sendiri berujung buntu, peristiwa ini merupakan tahap yang mendasari perundingan berikutnya, terutama pertemuan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Foto di atas memperlihatkan kedua delegasi alam acara pengeluaran pernyataan. Delegasi Indonesia diwakili (d.ki.k.ka.) oleh Sudarsono, Suwandi, dan Sekretaris Negara Abdul Gaffar Pringgodigdo; sementara delegasi Belanda oleh Perdana Menteri Willem Schermerhorn dan Surio Santoso.

Waktu: 23/24 April 1946
Tempat: Hoge Veluwe (Belanda)
Tokoh: l.d.a.
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 18 Oktober 2021

Sejarah Belanda di Indonesia 1595-1646 menurut gambar berseri dari tahun 1768-1778 (1)

2 April 1595: Rombongan kapal Belanda berlayar menuju wilayah Nusantara
(klik untuk memperbesar | © AVS)
17 Februari 1601: Armada Laksamana Wolfart Harmensz memasuki perairan Ternate
[yang di lukisan kemungkinan adalah peperangan antara armada Belanda melawan Portugis di Banten, Desember 1601]
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Juli 1602: Pangeran Maurits menerima rombongan Kesultanan Aceh yang datang ke Belanda di bawah pimpinan Sri Muhamad dan Mir Hasan
[peristiwa ini sejatinya terjadi tanggal 4 September 1602]
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: lukisan dibuat tahun 1768-1778, menggambarkan peristiwa di tahun 1595, 1601, 1602
Tempat: Belanda, Banten
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Bernardus Mourik
Sumber / Hak cipta: Staatkundige historie van Holland / Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 18 Juli 2021

Parade budaya Nusantara oleh para mahasiswa Delft, 5 Mei 1857 (3)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 5 Mei 1857
Tempat: Delft
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 5 Mei 1857 para mahasiswa Delft, Belanda, berpawai dalam pakaian tradisional Nusantara. Bagian utama dari arak-arakan ini adalah penampilan acara Grebeg Maulud khas Yogyakarta; namun, seperti terlihat di rangkaian gambar ini, bagian lain dari wilayah Nusantara serta berbagai etnik terwakili.
Juru foto/gambar: J.H. Hofmeister
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 16 Juli 2021

Parade budaya Nusantara oleh para mahasiswa Delft, 5 Mei 1857 (2)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 5 Mei 1857
Tempat: Delft
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 5 Mei 1857 para mahasiswa Delft, Belanda, berpawai dalam pakaian tradisional Nusantara. Bagian utama dari arak-arakan ini adalah penampilan acara Grebeg Maulud khas Yogyakarta; namun, seperti terlihat di rangkaian gambar ini, bagian lain dari wilayah Nusantara serta berbagai etnik terwakili.
Juru foto/gambar: J.H. Hofmeister
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 14 Juli 2021

Parade budaya Nusantara oleh para mahasiswa Delft, 5 Mei 1857 (1)

(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 5 Mei 1857
Tempat: Delft
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 5 Mei 1857 para mahasiswa Delft, Belanda, berpawai dalam pakaian tradisional Nusantara. Bagian utama dari arak-arakan ini adalah penampilan acara Grebeg Maulud khas Yogyakarta; namun, seperti terlihat di rangkaian gambar ini, bagian lain dari wilayah Nusantara serta berbagai etnik terwakili.
Juru foto/gambar: J.H. Hofmeister
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:


UPDATE 28 November 2021: Sampul buku yang memaparkan para mahasiswa Delft berpawai dalam pakaian tradisional Nusantara.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Senin, 12 Juli 2021

Konsep pawai budaya Nusantara di Belanda menyambut 25 tahun bertahtanya Raja Willem III, 1874

Di posting 2 hari lalu kita melihat pemuda-pemudi Belanda di tahun 1938 berpawai mengenakan kostum tradisional Nusantara untuk merayakan 40 tahun bertahtanya Ratu Wilhelmina. Berikut konsep kereta pawai untuk berparade di Belanda pada bulan Mei 1874, dalam rangka menyambut 25 tahun bertahtanya Raja Willem III van Oranje-Nassau.

(klik untuk memperbesar | © Jan Striening / AVS)

Gambar di atas menampilkan a.l. Bone, Kalimantan, dan Bali. Selain itu terlihat dua sosok bangsawan Jawa/Sunda di bawah naungan tenda, serta dua warga Nusantara lain yang diseret dalam keadaan terantai yang tampaknya menggambarkan bagian Nusantara yang sudah ditaklukan Belanda.

Waktu: Belanda
Tempat: 1874
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jan Striening
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 29 April 2021

Lawatan delegasi Aceh ke Belanda, 1602 (3)

Ketika orang bicara massalah Aceh dan Belanda, yang otomatis terlintas kemungkinan besar adalah Perang Aceh yang berlangsung sangat lama dan liat. Hal yang jarang diketahui, sekitar empat abad sebelum Perang Aceh ini, Kesultanan Aceh sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda. Pada tahun 1602, delegasi Aceh sempat berlayar dan berkunjung ke Belanda. Dua panglima laut Aceh, Sri Muhammad dan Mir Hassan, disambut oleh Pangeran Maurits van Nassau.

Lukisan di bawah ini dibuat di tahun 1859, dan menggambarkan bagaimana utusan Kesultanan Aceh, Sri Muhammad (membungkuk) bersama Mir Hasan (di belakangnya), dengan disertai 3 anggota delegasi Aceh (paling kiri), diterima oleh Pangeran Maurits.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: Lukisan dibuat tahun 1859 menggambarkan peristiwa tanggal 4 September 1602
Tempat:  Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Hendrik Jacobus Scholten / Jan F.C. Reckleben
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 20 Februari 2021

Empat bangsawan Nusantara yang menghadiri penobatan Ratu Wilhelmina, dalam lukisan Nicolaas van der Waay, 1898

Pangeran Ario Mataram, menantu dari Pakubuwono X
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Aji Pangeran Mangkunegoro dari Kutai
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sultan Siak, Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pangeran Sosro dari Kutai
(klik untuk memperbesar | © AVS)


Waktu: 1898
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa: Pelantikan Ratu Wilhelmina di tahun 1898 dihadiri oleh banyak bangsawan dari Hindia-Belanda. Pelukis Belanda, Nicolaas van der Waay, membuat sketsa dan lukisan cat air dari beberapa di antaranya.
Juru foto/gambar: Nicolaas van der Waay
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 03 Januari 2021

Kerabat kerja siaran radio Belanda (Radio Nederland Wereldomroep) untuk Indonesia, 1948

Sam Pasaribu (pimpinan program) dan Juultje Mandias (penyiar) di ruang siaran
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Aziz Azimal (berkaca mata) membaca teleks
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Sam Pasaribu memeriksa alat potong piringan hitam
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Juultje Mandias dan S.W. Tanja menyusun berita
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lalisang berpose di studio
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Pengarahan yang dihadiri Sam Pasaribu, Tineke Hagen, Juultje Mandias, J. de Munck Mortier, S.W. Tanja, Tutie Hogenboom, dan Aziz Azimal
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: Juli 1948
Tempat: Hilversum (Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Fotobureau Stevens
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: