Tampilkan postingan dengan label Pekalongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekalongan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2024

Atribut komunisme yang ditemukan pasukan Belanda pada masa perang kemerdekaan (1)

Pekalongan, Agustus 1947: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah bendera dengan lambang yang sama dengan yang ada di foto di atas, juga ditemukan militer Belenda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Jember, kemungkinan juga 1947: Pasukan Belanda menurunkan papan PKI
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1947
Tempat: Jember, Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Foto pertama, dan keempat, pernah dimuat di posting ini.

Rabu, 27 Desember 2023

Wajah penghuni Hindia-Belanda dalam jepretan studio-studio foto Tionghoa (4)

Studio foto Keng Seng, Solo (Warung Pelem): Sebuah keluarga (campuran?)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Studio foto Ong Lian Khaij, Pekalongan: Sepasang ningrat
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: tanpa keterangan
Tempat: Pekalongan, Solo
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Studio foto Keng Seng, Ong Lian Khaij
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 10 April 2023

Dari serakan foto-foto karya Woodbury & Page (4)

Walter Bentley Woodbury dan James Page adalah dua orang Inggris yang menjadi salah dua perintis dunia fotografi profesional di Hindia-Belanda. Studio foto yang mereka dirikan di Batavia menjadi teladan bagi fotografer lain untuk mendirikan hal yang sama di Padang, Semarang, Surabaya, dan kota-kota lain di Nusantara. Blog ini sudah menampilkan banyak karya keluaran dari studio ini. Kali ini kita akan mencoba mengumpulkan foto-foto karya Woodbury dan Page yang berserakan.


1880: Pekalongan, kemungkinan di kawasan kediaman residen
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Gunung Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalanan di Puncak?
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jalanan di Puncak?
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bandung: Pabrik pengolahan teh
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: pertengahan kedua abad ke-19 (a.l. 1880)
Tempat: Jawa (a.l. Bandung, kawasan Bromo, Pekalongan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Woodbury & Page
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 09 Juni 2022

Perkebunan tebu pemasok pabrik gula Wonopringgo, Pekalongan, 1926

Perkebunan tebu di kawasan Bojong Kidul dengan latar belakang Gunung Slamet
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah seorang mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mesin pompa air di perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gunung Slamet dilihat dari kawasan perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1926, kecuali foto terakhir 1933
Tempat: Wonopringgo (Pekalongan)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 13 November 2019

Konstruksi jembatan bambu zaman dulu: Tipe sangat sederhana

PENGANTAR

Sebelum warga Nusantara belum mengenal konstruksi beton atau baja, bambu adalah bahan yang digunakan untuk membuat jembatan. Bambu relatif mudah didapat, tersedia dalam berbagai ukuran panjang, mudah dipotong sesuai kebutuhan, dan cukup elastis dalam menahan beban.

Kelemahan bambu tetapi adalah daya topangnya yang terbatas. Di sini, warga Nusantara mencoba menyiasatinya dengan berbagai kreasi struktur, yang akan kita lihat di beberapa foto berikut ini.

Ketika beban yang harus diseberangkan makin besar dan rumit, serta rentang jembatan makin panjang, akhirnya bambu menemui limit kemampuannya, dan harus menyerahkan fungsi jembatan kepada beton dan baja hingga sekarang ini.

Lombok 1930: Ini jembatan bambu yang sangat sederhana. Sejumlah kecil bambu diletakkan begitu saja di antara bantaran sungai. Jembatan ini diberi pegangan satu sisi untuk menambah kestabilan bagi pelintas.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pekalongan 1903: Jembatan ini menggunakan lebih banyak bambu sehingga lebih lebar dan bisa dilintasi dari dua arah. Pagar pegangan pun tersedia di dua sisi. Kemungkinan jembatan ini menggunakan batang pohon bagian bawah sebagai penguat.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Pujon, Malang 1910: Ini adalah satu kiat untuk mengatasi rentangan yang panjang: Orang mencari posisi di mana terdapat fondasi alamiah seperti batu yang bisa digunakan sebagai tumpuan tambahan sehingga batang bambu bisa ditempatkan dari dua sisi sungai secara terpisah.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1903, 1910, 1930
Tempat: Lombok, Pekalongan, Pujon (Malang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 15 Agustus 2018

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (18): Penggiringan di Pekalongan

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Juli/Agustus (?) 1947
Tempat: Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa: Ketika pasukan Belanda merengsek maju ke kota Pekalongan, para pejuang menggiring warga Tionghoa ke arah pinggiran kota. Sumber Belanda menyebutkan ada sekitar 3000 warga Tionghoa yang digiring. Militer Belanda mengejar para pejuang dengan kendaraan lapis baja. Para pejuang yang kalah secara persenjataan memutuskan mundur dan melepaskan para warga Tionghoa ini. Foto-foto menunjukkan warga Tionghoa menyambut gembira kedatangan pasukan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 04 Agustus 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (22): Pekalongan

Sebuah gereja Protestan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Volkscredietbank
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Biara Ordo Santa Ursula
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Biara Ordo Santa Ursula
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pantai Pekalongan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Agustus 1947
Tempat: Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer: Bosman
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:
Biara Ordo Santa Ursula sebelum pecah perang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Kamis, 28 Juli 2016

Aksi Polisionil 1: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di Pekalongan, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Agustus 1947
Tempat: Pekalongan
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Belanda menemukan atribut komunisme di pabrik teh yang dibumihanguskan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 15 Maret 2016

Warga lokal yang diberi penghargaan oleh Belanda karena dukungan mereka di masa perang

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1949, 1950
Tempat: Madura, Jakarta, Pekalongan, Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
    Foto 1: Madura, Januari 1949. Seorang wanita Madura bernama Tidjah mendapat bintang perak atas "jasanya" mensuplai amunisi kepada suaminya, yang berperang di pihak Belanda, di tengah kecamuk sebuah pertempuran di bulan Desember 1947.
    Foto 2: Jakarta, 12 Agustus 1949. Letjen Buurman van Vreeden menyematkan salib perak pada seorang tentara yang menurut foto bernama "J. Latuparissa".
    Foto 3: Pekalongan, 22 Desember 1949. Seorang prajurit KNIL, yang menurut foto bernama "Loemakeki" dari Menado, mendapat kenaikan pangkat yang disematkan oleh komandan Brigade W, Elt. Vermeulen.
    Foto 4:  Bandung, 4 Januari 1950. Seorang warga lokal, yang oleh foto disebut bernama "Rarung", mendapat penghargaan dan kenaikan pangkat di kesatuan kendaraan lapis baja.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Selasa, 22 Desember 2015

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (4): Cilacap, Pekalongan, Pagotan

Pabrik pupuk di Cilacap
(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)
Volkscredietbank di Pekalongan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pabrik gula di Pagotan (antara Ponorogo dan Madiun)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1947
Tempat: Cilacap, Pekalongan, Madiun
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief dan Spaarnestad (foto pertama)
Catatan:

Jumat, 18 Juli 2014

Warga Tionghoa di masa perang kemerdekaan (2)

Pengantar: Kerusuhan 1998 termasuk bagian paling hitam di dalam sejarah hubungan warga "pribumi" dan Tionghoa di Indonesia. Peristiwa ini memicu munculnya era reformasi yang kemudian memberikan banyak kemajuan di dalam hubungan ini.

Harus diakui, peristiwa di tahun 1998 bukanlah yang pertama. Kekurang-harmonisan ini sudah ada puluhan tahun sebelumnya, termasuk di masa perang kemerdekaan. Blog ini sebelumnya sudah memperlihatkan perusakan pada harta benda warga Tionghoa yang dilakukan pejuang kemerdekaan di beberapa tempat, dan bagaimana Belanda dipandang sebagai pelindung warga Tionghoa dan terlibat dalam pembentukan milisi Tionghoa bersenjata yang berseteru dengan para pejuang.

Sebagian dari kita boleh jadi berpendapat "Ah, sudahlah, itu masa lalu. Tidak diusah diungkit-ungkit, hanya akan membuka luka dan borok lama. Kita lihat ke depan saja agar ada hubungan yang lebih harmonis." Pendapat seperti ini mengimplikasikan bahwa kita sebaiknya menutup sejarah yang tidak enak didengar. Di sini ada kemungkinan bahwa generasi ke depan, dari semua pihak baik "pribumi" maupun Tionghoa, tidak mencernai apa yang telah terjadi sebelumnya, dan menghadapi risiko akan mengulang apa yang justru seharusnya dihindari.

Penyelidikan sejarah secara jernih, tanpa generalisasi, tanpa praduga, tanpa emosi, diharapkan bisa menjadi bahan yang berharga agar kita, semua, bisa belajar dari masa lalu. Gambar-gambar berikut mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi ke arah sana.


Bagian 2: Warga Tionghoa mengungsi di bawah perlindungan Belanda

Nusa Kambangan
© gahetna

Sukabumi
© gahetna

Pekalongan
© gahetna

Garut, Oktober 1947
© gahetna

Garut, Oktober 1947
© gahetna

Garut, Oktober 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: masa perang kemerdekaan
Tempat: Garut, Nusa Kambangan, Pekalongan, Sukabumi
Tokoh:
Peristiwa: Warga Tionghoa mengungsi dengan perlindungan Belanda, menghindari serangan dari pejuang kemerdekaan.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief



UPDATE 1 Agustus 2018
Foto-foto dari Garut kemungkinan besar bukan menunjukkan pengungsian dengan kawalan pasukan Belanda, tetapi pemulangan warga Tionghoa, yang digiring para pejuang kemerdekaan ke sebuah kampung terpencil di Cikajang, kembali menuju kota Garut. Posting tanggal 17 Agustus 2018 akan memuat tambahan informasi dan foto tentang ini.

Kamis, 12 Juni 2014

Perusakan harta benda warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan 5 - Jawa Tengah

Pengantar: Pemberian nama "John Lie" kepada salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, mengingatkan kembali akan sumbangsih warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan. Mudah-mudahan langkah ini bisa memulai diskusi terbuka dan tanpa prasangka tentang situasi yang dihadapi warga Tionghoa semasa perang kemerdekaan.

Harus diakui tema ini cenderung tidak dibicarakan orang, barangkali karena masalahnya dianggap sensitif. Tetapi menutup-nutupi bukanlah solusi yang bijak, paling tidak untuk jangka panjang, karena a.l. hanya akan menyuburkan gosip, praduga, generalisasi, kabar burung, dan kecurigaan. Hanya dengan keterbukaan kita bisa melihat sejarah dengan jernih dan mengambil pelajaran berharga darinya.

Sejak era reformasi sudah terlihat banyak kemajuan di dalam hal yang menyangkut warga Tionghoa. Barangkali ini saatnya untuk menggali kembali apa yang dialami bangsa ini ketika republiknya baru berusia sangat muda.

Gambar-gambar berikut memperlihatkan kerusakan yang dialami warga Tionghoa di berbagai tempat akibat tindakan para pejuang kemerdekaan. Kita serahkan kepada para pakar sejarah untuk melihat duduk permasalahannya. Mudah-mudahan gambar-gambar ini bisa berkontribusi di dalamnya.

 Gombong (© gahetna)
 Gombong (© gahetna)
Purwokerto, Juli 1947 (© gahetna)
Purwokerto, Juli 1947 (© gahetna)
Cilacap (© gahetna)
Pabrik tenun milik Tam Kien Tong di Pekalongan (© gahetna)
Tukang gigi milik Wan Kok Bouw di Pekalongan (© gahetna)
Waktu: antara 1946-1949
Tempat: l.d.a.
Tokoh:
Peristiwa: Perusakan pemukiman warga Tionghoa di Jawa Tengah oleh para pejuang kemerdekaan semasa perang kemerdekaan melawan Belanda.
Fotografer: P. de Bruijn (foto keempat)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: klik foto untuk memperbesar.



UPDATE tanggal 28 Juli 2015
Di versi awal dari posting ini ada sebuah foto dengan deskripsi "Serangan gerilyawan ke sebuah pemukiman warga Tionghoa antara Cirebon dan Tegal". Informasi lebih lanjut menunjukkan bahwa dua lelaki bersenapan kemungkinan adalah milisi Tionghoa bersenjata yang mengawal evakuasi warga Tionghoa dari wilayah Ciledug dekat Cirebon, dan bukan gerilyawan yang menyerang wilayah itu.
Ada beberapa foto dari proses evakuasi ini, yang akan diposting kemudian.

UPDATE tanggal 6 Juli 2018: Proses evakuasi di Ciledug, (Cirebon) ini akan dimuat tanggal 3 Agustus 2018.

UPDATE tanggal 13 Juli 2018: Foto nomer 4 dengan ukuran yang lebih besar dan kualitas lebih bagus.
Purwokerto, 24 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)

UPDATE tanggal 1 Agustus 2018: Foto nomer 6 dengan ukuran yang lebih besar dan kualitas lebih bagus.
Pabrik tenun milik Tam Kien Tong di Pekalongan, Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Bosman / gahetna)

UPDATE tanggal 3 Agustus 2018: Foto nomer 2 dengan ukuran yang lebih besar dan kualitas lebih bagus.
Gombong, 5 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)