Tampilkan postingan dengan label kapal selam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapal selam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (3)

Kesatuan Marinir di geladak sebuah kapal perang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Siluet kapal penjelajah Hr. Ms. Java di perairan Makassar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan 1936: Kapal perang Sumatra (depan) dan Soemba (belakang) serta beberapa kapal selam menyambut kedatangan Laksamana Madya Hendrikus Ferwerda yang diangkat menjadi Panglima Angkatan Laut Hindia-Belanda. Foto diambil di perairan Tanjung Priuk yang saat itu masih bisa menyingkap Gunung Salak (kanan) dan Gunung Gede (kiri) di latar belakang.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1936
Tempat: a.l. Makassar, Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 20 Mei 2026

Kekuatan KNIL Laut sebelum Perang Dunia II (2)

30 Juni 1939: Manuver armada kapal perang KNIL di perairan Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal perang Soemba mengaktifkan meriam perangnya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kapal selam dengan kamuflase dedaunan untuk mengelabui musuh. Metode ini berhasil digunakan oleh kapal penyapu ranjau Hr. Ms. Abraham Crijnssen untuk terlepas dari kejaran Jepang dan akhirnya berhasil menyelamatkan diri ke Australia (lihat posting ini).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1939
Tempat: a.l. Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 16 Mei 2026

Armada kapal selam KNIL Laut sebelum Perang Dunia II pecah

Kapal selam K-14. K merupakan kepanjangan dari Koloniƫn, untuk menunjukkan bahwa kapal ini dioperasikan di wilayah jajahan. Kode "K" biasanya dicantumkan di bagian lambung (tampak samar terlihat "K XVIII"), sementara di bagian menara hanya tercantum nomernya.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Tiga kapal selam di latar belakang, dalam proses turun ke bawah permukaan air
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
15 Januari 2021: Sebuah kapal selam merapat di sebuah pelabuhan di Indonesia Timur(?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
28 Januari 1922: Kapal selam ("K IV"?) berlabuh di perairan Ambon(?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: a.l. 1921, 1922
Tempat: a.l. wilayah timur Nusantara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 24 Maret 2025

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Kapal perang "De Ruyter" dan "Sumatra, serta kapal selam "K XVIII"

Kapal perang "Sumatra" beserta segenap awaknya di Surabaya yang saat itu sedang direparasi (serangan Jepang kemudian keburu datang sehingga kapal ini dicoba diselamatkan dengan dilarikan ke Sri Lanka dan kemudian ke Inggris)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para perwira kapal selam "K XVIII" di perairan sekitar Surabaya (kelak kapal ini berhasil menenggelamkan beberapa kapal militer Jepang, sebelum kemudian rusak berat terkena serangan Jepang)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu kapal perang andalan Belanda, "De Ruyter", kemungkinan dalam latihan di sekitar Tanjung Priuk (kapal ini menjadi kapal pemimpin dalam Perang Laut Jawa, dan ditenggelamkan Jepang bersama dengan komandannya, Laksamana Karel Doorman)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1942 atau sebelumnya
Tempat: Jakarta, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 26 Agustus 2022

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Armada kapal perang KNIL Laut (2)

Kapal selam K-14. K merupakan kepanjangan dari Koloniƫn, untuk menunjukkan bahwa kapal ini dioperasikan di wilayah jajahan.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal perang Hr. Ms. Flores dilihat dari arah haluan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal perang Hr. Ms. Flores dilihat dari arah buritan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal penjelajah Hr. Ms. Java, di sebelah kapal lain bernama Josefina
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal penjelajah ringan Hr. Ms. De Ruyter
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal penjelajah Hr. Ms. Java (kiri) dan kapal perusak Hr. Ms. Kortenaer (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)


Waktu: sekitar 1941
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: 1) Ada kemungkinan foto nomor 2 dan 3 tidak diambil di perairan Nusantara. 2) Kapal Java, De Ruyter, dan Kortenaer ditenggelamkan Jepang dalam Perang Laut Jawa 27 Februari 1942.

Rabu, 24 Agustus 2022

Persiapan Hindia-Belanda menghadapi Perang Dunia II: Armada kapal perang KNIL Laut (1)

Sebuah perahu cepat bersenjata torpedo
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kesatuan perahu motor cepat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal Zuiderkruis diapit 5 kapal selam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kapal penjelajah Sumatra
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dok kapal di Surabaya
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Empat kapal selam KNIL Laut
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: a.l. Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Ada kemungkinan foto nomor 4 tidak diambil di perairan Nusantara.

Rabu, 04 Desember 2019

Para tokoh Belanda penentang perundingan Linggarjati dalam karikatur, 1946

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Beberapa kalangan di Belanda menentang perjanjian Linggarjati. Bagi mereka, perjanjian ini merupakan kekalahan bagi Belanda karena Republik Indonesia diakui secara hukum. Salah seorang penentang adalah Laksamana Conrad Helfrich, yang namanya terkenal karena kesatuan kapal selamnya di minggu-minggu pertama perang melawan Jepang di perairan Hindia-Belanda berhasil menenggelamkan lebih banyak kapal perang Jepang daripada kesatuan laut Inggris dan Amerika semasa perang secara keseluruhan.

Laksamana kelahiran Semarang ini digambarkan berada di kapal selam dan berteriak "Tembakkan torpedo ke kapal itu!" untuk menghalangi sebuah kapal penumpang bernama Cheribon yang merupakan simbol dari perundingan Linggarjati.

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Tokoh lain penentang perundingan Linggarjati adalah mantan PM Belanda, Pieter Sjoerds Gerbrandy, dan politisi dari Partai Katolik, Charles Welter, yang kelak menjadi ketua parlemen Belanda. Di karikatur di atas, Gerbrandy dan Welter digambarkan mengendap-endap bersama seorang tokoh lain bernama Marchant, yang bersama-sama tampaknya akan menyabot sebuah tenda berbendera "Lingga[d]jati".

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Karikatur di atas berjudul "[Perjanjian] Linggarjati ditandatangani" dan ada sebuah jembatan yang menghubungkan Belanda dan Indonesia. Namun, di bawah tampak berang-berang berwajah Gerbrandy tampak berkeliaran dan siap atau malah sedang menggeregoti tiang-tiang jembatan ini. Tulisan di bawah berbunyi "Sekarang, hati-hati dengan hewan pengerat!" Gerbrandy memang sangat menentang adanya Indonesia yang terpisah dari Kerajaan Belanda. Belakangan, dia mendukung Republik Maluku Selatan.

Waktu: 1946
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer / juru gambar: Leo Jordaan (nomor 2 dan 3)
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

UPDATE 9 November 2020: Karikatur nomor 2 dan 3 dalam versi yang lain

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 23 April 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Karikatur karya Leo Jordaan ini terbit di Het Parool edisi 25 Maret 1947
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Jumat, 14 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn, 1933 (2)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciƫn adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciƫn berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.

Pesawat amfibi dan kapal selam yang memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
De Zeven Provinciƫn rusak setelah dijatuhi bom yang menewaskan 23 awak kapal.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) mendekati De Zeven Provinciƫn (kanan) setelah kapal yang memberontak ini dibom.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal angkut Orion membawa para awak De Zeven Provinciƫn ke Pulau Onrust untuk ditahan.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto terakhir: perairan Pulau Onrust)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 12 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciƫn, 1933 (1)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciƫn adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciƫn berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.


Kapal perang De Zeven Provinciƫn (atas), dikawal sebuah kapal torpedo (bawah) dalam perjalanan kedua dari Belanda menuju Hindia-Belanda.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) dan Piet Hein (kanan) yang diperintahkan memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal selam dan pesawat amfibi yang memburu De Zeven Provinciƫn.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penyapu ranjau Gouden Leeuw (kanan) mebuntuti dan mengawasi De Zeven Provinciƫn (kiri).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kanan) dan Piet Hein (kiri) mengepung De Zeven Provinciƫn (tengah).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933 (kecuali foto pertama, 1921)
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto pertama, perairan Den Helder, Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 27 September 2017

Prototype kapal selam satu-awak Jerman di Yogyakarta, 1949 (2)

Propeler
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
"Kokpit"
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Dua tentara Belanda mengamati purwarupa kapal selam satu-awak Jerman. Dari proporsinya dipastikan si awak tunggal harus terus duduk di dalamnya.
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tempat torpedo
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Januari 1949
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda merebut Yogyakarta dalam Aksi Polisionil 2, mereka a.l. menemukan rancangan dan prototype (purwarupa) dari kapal selam satu-awak Jerman. Dikabarkan prototype-nya tidak berfungsi; namun, penemuan ini menjadi menarik karena menimbulkan beberapa pertanyaan seperti "Masih adakah aktifitas tentara Jerman Nazi di wilayah kekuasaan Indonesia hingga 1949?", "Apakah kapal selam satu-awak ini dirancang untuk operasi bunuh diri, mungkin untuk pasukan Jepang?", atau "Mengapa di Yogyakarta yang tidak memiliki akses langsung ke laut?"
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 25 September 2017

Prototype kapal selam satu-awak Jerman di Yogyakarta, 1949 (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: Januari 1949
Tempat: Yogyakarta
Tokoh:
Peristiwa: Ketika Belanda merebut Yogyakarta dalam Aksi Polisionil 2, mereka a.l. menemukan rancangan dan prototype (purwarupa) dari kapal selam satu-awak Jerman. Dikabarkan prototype-nya tidak berfungsi; namun, penemuan ini menjadi menarik karena menimbulkan beberapa pertanyaan seperti "Masih adakah aktifitas tentara Jerman Nazi di wilayah kekuasaan Indonesia hingga 1949?", "Apakah kapal selam satu-awak ini dirancang untuk operasi bunuh diri, mungkin untuk pasukan Jepang?", atau "Mengapa di Yogyakarta yang tidak memiliki akses langsung ke laut?"
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: