Tampilkan postingan dengan label Padalarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padalarang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2025

Foto udara atas kawasan-kawasan industri di Jawa, sekitar pertengahan 1920-an (3)

Pabrik kertas Padalarang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pabrik gula di tengah pesawahan, perkebunan, perumahan warga, dan kemungkinan juga hutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah kawasan pabrik (di wilayah Cirebon?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pabrik gula dengan deretan lori di atas rel bagian bawah gambar
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Jawa (a.l. Padalarang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 04 Januari 2023

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (8)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Wisata keluarga keraton, kemungkinan ke Jubileumspark Bandung
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto ibu dan saudara, serta wisata ke Cipanas (Cianjur) dan Bojonegoro, juga tur sepeda di Padalarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto ayah, ibu, saudara, dan wisata keluarga ke Jakarta, Sukabumi, Yogyakarta, juga Bendung Walahar di Karawang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman yang dipenuhi kaum perempuan, di samping dua laki-laki yang tidak disebutkan namanya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto keluarga, a.l. keluarga Mochtar, serta foto seorang bangsawan dengan dua pembesar Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Halaman terakhir yang menyisakan dua foto: sebuah stasiun kereta api, dan piala sepakbola, olahraga kegemaran Samsoedin
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Bandung, Bojonegoro, Cianjur, Cipanas, Karawang, Padalarang, Sukabumi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Jumat, 11 November 2022

Dari sebuah kumpulan foto bernomor tentang Jawa Barat di awal abad ke-20 (3)

Foto-foto berikut berasal dari sebuah koleksi yang sayang sekali tidak diketahui dikeluarkan kapan dan oleh siapa. Sedikit beruntung, foto-foto ini diberi nomor dan deskripsi, sehingga di beberapa nomor kita masih bisa tahu di mana dan tentang apa foto ini dibuat. Nomor tertinggi adalah 37; sayang sekali kita hanya terwariskan 19 foto, mulai dari nomor 2 dengan beberapa nomor yang hilang.

25. Tagogapu, Padalarang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
27. Di sebuah desa bernama Kebon Kalapa di Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
28. Di sebuah desa bernama Kebon Jati di Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
29. Para pekerja perempuan di sebuah pabrik pengolahan kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
30. Wajah sebuah keluarga dengan ibu memegang perangkap tikus, anak bertopeng tanpa baju, dan tiga anjing piaraan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: awal abad ke-20
Tempat: Jawa Barat (a.l. Padalarang, Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta:National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 12 Oktober 2022

Dari sebuah album yang berisi foto-foto tentang Jawa di sekitar tahun 1880 karya Herman Salzwedel (2)

1875: Sebuah sungai di kawasan Gunung Semeru
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Belukar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Dua lelaki Belanda di perkebunan kopi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Kawah Bromo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
1875: Tebing Gunungmasigit di Cipatat (Padalarang)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: sekitar 1875
Tempat: Jawa (a.l. kawasan Bromo, Padalarang)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Carl Julius Herman Salzwedel
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 01 Agustus 2019

Rombongan pedati di Padalarang, sekitar tahun 1874

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: sebelum 1874
Tempat: Padalarang (kemungkinan di jalan yang menjadi cikal bakal jalur Bandung-Cianjur)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 01 Februari 2017

TNI hijrah dari Cianjur, stasiun (5): di stasiun singgah Padalarang

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © Haasjes / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Haasjes / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Haasjes / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Haasjes / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © Haasjes / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © H. Wakker / gahetna)
(klik untuk memperbesar | © H. Wakker / gahetna)
Waktu: 3 Februari 1948
Tempat: Padalarang
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: H. Wakker, Haasjes
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 28 Januari 2016

Rally mobil Jakarta-Bandung, 1951

Mobil yang dikendarai Kolonel Daan Jahja di garis Start di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Check point di Padalarang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Garis finish di hotel Savoy-Homann Bandung
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 12 Mei 1951
Tempat: Jakarta, Padalarang, Bandung
Tokoh:
Peristiwa: Beberapa foto dari rally mobil Jakarta-Bandung yang disponsori KLM dan Anker.
Fotografer: Studio Tong & Tim
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Sabtu, 26 Desember 2015

Jatuhya pesawat militer Belanda Dakota DC3 di Padalarang, 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 11 Februari 1948
Tempat: Padalarang (Bandung)
Tokoh:
Peristiwa: Pada tanggal 10 Februari 1948 sebuah pesawat Dakota DC3 dengan nomer 947 mengudara dari lapangan terbang Andir. Pesawat ini jatuh di sekitar Padalarang, menewaskan 19 penumpangnya, termasuk 11 tentara Belanda. Foto-foto memperlihatkan pencarian korban di reruntuhan pesawat.
Fotografer: Haasjes
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: