Tampilkan postingan dengan label Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Mei 2023

Serakan foto dari berbagai fotografer (1)

Surabaya, 1895: Seorang pria Eropa berpose di depan rumah dan kendaraan kebanggaannya
(klik untuk memperbesar | ©  H. G. Rimestad / NGA)
Bandung, ~1920: Curug Dago
(klik untuk memperbesar | © G. Bley / NGA)
Magelang, ~1920: Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge bersama istri dan pengiring berpose di tangga Candi Mendut
(klik untuk memperbesar | © Studio Hisgen / NGA)
Bogor, ~1920: Petani panen padi
(klik untuk memperbesar | © Tan Tjie Lan / NGA)
Tasikmalaya (?): Prosesi anak-anak sekolah bersama para gurunya (?)
(klik untuk memperbesar | © Studio King Sun & Co / NGA)

Waktu: a.l. 1895, 1920
Tempat: Surabaya, Bandung, Magelang, Bogor, Tasikmalaya (?)
Tokoh: Bonifacius Cornelis de Jonge (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1931-1936)
Peristiwa:
Fotografer: H. G. Rimestad | G. Bley | Studio Hisgen | Tan Tjie Lan | Studio King Sun & Co
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Kamis, 29 Desember 2022

Dari album foto seorang anggota Keraton Kanoman Cirebon (5)

PENGANTAR

Di antara album foto yang dibeli National Gallery of Australia dari koleksi Leo Haks, ada sebuah buku foto yang oleh NGA diberikan keterangan singkat "Samsoedin Indonesian family album 1930 - 1933". Sepintas isi album ini memang foto-foto keluarga Indonesia, yang berisi gambar dari anak kecil hingga dewasa, ketika di rumah atau sedang bepergian. Si keluarga tampaknya lumayan berada. Mereka memiliki mobil dengan plat nomor D, memiliki anjing ras, dan Samsoedin ini memiliki kamera yang tampaknya dia gunakan untuk mengambil banyak foto yang ada di album ini. Kemudian keluarga ini banyak berpergian, keliling Jawa, ke Bali, ke Palembang, bahkan sampai ke Singapura.

Si penyusun foto memberikan beberapa catatan, sehingga kita masih bisa mengetahui tentang apa foto-foto ini. Di salah satu foto ada keterangan De Koninklijke familie Kanoman, atau "Keluarga Kerajaan Kanoman". Ini menimbulkan dugaan bahwa keluarga yang ditampilkan di album ini adalah keluarga Keraton Kanoman, Cirebon. Dugaan ini diperkuat dengan catatan Samsoedin di foto dia bersama kerabat lelakinya yang diberi catatan 't Kanoman-trio and little brothers. Akhirnya catatan dia di awal album yang menyebutkan namanya, dan nama tempat "Soerabaja", "Bandoeng", "Java", dan "Kanoman" makin mengukuhkan dugaan ini.

Album ini menjadi menarik karena menampilkan golongan berada Indonesia di tahun 1930-an: pakaiannya, pendidikannya, bahasa yang digunakan, kegiatannya, serta pertemanannya. Album ini juga ikut memperlihatkan tempat mana saja yang menjadi tujuan perjalanan atau wisata saat itu. Dari album ini kita juga melihat bahwa Samsoedin ini sangat senang memfoto anak kecil terutama keponakannya, dan dalam beberapa foto juga kaum perempuan termasuk ibu dan saudara-saudara wanitanya. Ada juga foto yang memperlihatkan kunjungan Dr. Khalid Sheldrake ke Bandung. Khalid, yang nama aslinya Bertram William, adalah filantrop Inggris yang masuk Islam dan sempat dinobatkan menjadi Raja Islamestan di wilayah Xinjiang, RRT, sekarang.


Kunjungan ke Bendung Walahar di Karawang, olahraga kesukaan Samsoedin yaitu sepakbola dan badminton, foto Otje yang sudah makin besar, serta beberapa foto keluarga
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto keluarga a.l. di Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dari kunjungan ke a.l. Lamongan, Tasikmalaya, dan Palembang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto dari adik kakak Samsoedin, termasuk Mochtar, serta keponakan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Foto-foto kerabat di Lamongan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dari kunjungan ke Palembang, Singapura, dan Malang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
 
Waktu: di sekitar tahun 1930
Tempat: Cirebon, Jakarta, Karawang, Lamongan, Malang, Palembang, Singapura, Surabaya, Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: a.l. Samsudin
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Senin, 25 April 2022

Dari sebuah album foto tentang wilayah Priangan di sekitar tahun 1938 (1)

Kawanan kerbau di pantai selatan Sukabumi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Gunung Gede
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Telaga Warna, Puncak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Situ Cangkuang di Leles, Garut
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kawah Gunung Galunggung, Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: sekitar 1938
Tempat: Bogor, Garut, Sukabumi, Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Wijnand Elbert Kerkhoff
Sumber / Hak cipta: Officieele Vereeniging voor Toeristenverkeer / National Gallery of Australia
Catatan:

Rabu, 26 Februari 2020

Jemaah haji Hindia-Belanda di Jeddah, 1885: Asal pulau Jawa

Seorang jemaah perempuan asal Banten
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Dua jemaah asal Sukapura, sekarang Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tiga jemaah asal Jepara
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Jemaah asal Malang dan Pasuruan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Waktu: 1885
Tempat: Konsulat Belanda di Jeddah (Arab Saudi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Christiaan Snouck Hurgronje
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: Diambil dari buku "Bilder-Atlas zu Mekka" yang terbit tahun 1888.

Jumat, 14 Februari 2020

Mesjid Agung Manonjaya di tahun 1901/1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: 1901/1902
Tempat: Manonjaya (Tasikmalaya)
Tokoh:
Peristiwa: Mesjid ini didirikan di alun-alun Manonjaya pada tahun 183, ketika tempat ini masih menjadi ibukota Tasikmalaya, atau "Sukapura" saat itu. Bentuk mesjid ini cukup menarik karena bagian atasnya bukan kubah, tapi disain atap Sunda/Jawa bertingkat. "Menara" pendek di kiri dan kanan juga cenderung berdisain Eropa dengan jendela bergaya kolonial. Tiang-tiang penyangga juga tampak jelas merupakan gaya Eropa.
Fotografer: A.E.F. Muntz
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Rabu, 11 Juli 2018

Bupati Ciamis, Garut, Sumedang, dan Tasikmalaya bersama para pembesar Belanda, 1920

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: sekitar 1920
Tempat: Tasikmalaya (?)
Tokoh:  R.A.A. Suria Kartalegawa (bupati Garut 1915-1929), D.A.A. Kusumahdilaga (bupati Sumedang 1919-1937), R.T.A. Sastrawinata (bupati Ciamis 1914-1935), R.T. Wiratatuningrat (bupati Tasikmalaya 1908-1937)
Peristiwa: Pertemuan para bupati lokal dan pejabat Belanda di wilayah Priangan, di sekitar tahun 1920, kemungkinan di Tasikmalaya.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Menarik untuk dicatat tidak adanya bupati Cianjur; di lain pihak ada perwakilan Tionghoa ikut serta di pertemuan.

Nama-nama yang hadir, berdiri d.ki.k.ka.:
  • de Bruijn
  • M. de Wolff
  • R.A.A. Suria Kartalegawa (bupati Garut)
  • W.H. v.d. Veen
  • J.M. Schaffers
  • P.J. Ooms
  • W.A. Temminck
  • W. de Rijck v.d. Gracht
  • W.P. Hillen (asisten residen Bandung)
  • Th. Heijting
  • G.J.B. Blekkink
  • A.H. Maas Geesteranus
  • C.J. Nauta
  • E. Halewijn
  • D.A.A. Kusumahdilaga (bupati Sumedang)
  • A.J.N. Nijman
  • K.G. Tan (perwakilan warga Tionghoa?)
  • R.T.A. Sastrawinata (bupati Ciamis)
Duduk d.ki.k.ka.:
  • H.A. Voet (asisten residen Tasikmalaya)
  • R.M. Jansen
  • J.L. Kal (asisten residen Garut)
  • M.C. Perk
  • K.A.R. Bosscha
  • L. de Stuers (residen Priangan)
  • R.T. Wiratanuningrat (bupati Tasikmalaya)
  • C.A. de Munnick (asisten residen Sumedang)
  • A.E. Reijnst
  • H.C. van den Bos (asisten residen Sukabumi)
  • H.J. van der Schroeff

Rabu, 04 April 2018

Dewan pemerintahan daerah (regentschapsraad) di zaman Belanda: Tasikmalaya, 1926

PENGANTAR

Dimulai di pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia-Belanda membentuk regentschapsraad (dewan pemerintahan daerah) di beberapa wilayah. Meski kewenangannya tidak besar, dan juga keanggotaannya tidak ditentukan rakyat, ini termasuk langkah maju di dalam menampung aspirasi warga jajahan, sebagaimana halnya pembentukan Volksraad beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan foto-foto yang tersedia, dewan pemerintahan daerah ini kelihatannya hanya dibentuk di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian kecil Jawa Tengah.

Yang menarik dari foto-foto ini adalah keanggotaan dewan dan bagaimana pakaian yang dikenakan menunjukkan latar belakangnya. Warga Belanda tentunya berpakaian a la Barat; dan tanpa tutup kepala. Jumlah warga Belanda ini umumnya sedikit, kecuali di daerah yang menjadi tempat favorit mereka tinggal, seperti Jakarta, Bandung, atau Garut.

Warga lokal memiliki keanekaragaman dalam hal berpakaian. Kelompok priyayi umumnya mengenakan blangkon, baju adat, serta kain batik untuk bawahannya. Warga yang mendapat pendidikan Barat sudah mengenakan pakaian a la Barat, misalnya bercelana panjang, berjas, berdasi, dan tanpa tutup kepala. Kaum bangsawan yang mengenyam pendidikan modern berada di tengah-tengah: tetap mengenakan blangkon dan baju adat, tetapi menambahinya dengan dasi, baik yang panjang maupun kupu-kupu; bawahannya bisa celana atau kain tradisional. Di samping itu ada juga kelompok ulama atau saudagar Muslim yang mengenakan serban atau peci, baju jas tertutup atau jubah panjang, dengan bawahan kain sarung atau celana panjang.

Hampir semua yang muncul di foto adalah laki-laki. Ada beberapa wanita kulit putih, serta perempuan berkebaya di foto tertentu; tapi tidak jelas apakah mereka anggota dewan juga, atau istri dari salah satu anggota dewan.

Dewan pemerintahan daerah Tasikmalaya, 1926
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: antara 1926-1929
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 23 Juli 2017

Tindakan bumi hangus pejuang kemerdekaan (16): Tasikmalaya

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa: Reruntuhan dan puing-puing hasil aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang kemerdekaan ketika Belanda menjalankan Aksi Polisionil 1 agar aset yang dianggap penting tidak jatuh ke tangan Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 09 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (12): konvoy truk pengangkut prajurit TNI

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © ANP / spaarnestad)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Exalto (tiga foto pertama)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief / ANP
Catatan: Masih ada kemungkinan bahwa foto terakhir bukan berasal dari peristiwa hijrah dari Tasikmnalaya.

Selasa, 07 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (11): persiapan pengangkutan dengan truk

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Truk-truk yang akan mengangkut para prajurit TNI dari wilayah Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Para prajurit TNI bersiap menaiki truk
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Para prajurit TNI mulai menaiki truk yang akan membawa hijrah ke wilayah Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Kapten Pelupessy (TNI) menyalami Sersan Mayor Wua (KNIL?) sebelum meninggalkan Tasikmalaya
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kapten Pelupessy (Komandan Batalyon Pelupessy)
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Pelupessy sebelumnya adalah anggota KNIL yang juga terlibat di pemberontakan kapal De Zeven Provinciën di tahun 1933. Setelah proklamasi 1945 Pelupessy bergabung dengan para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Minggu, 05 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (10): para perwira TNI, Belanda, dan pengamat internasional

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Pengamat dari Komisi Tiga Negara diapit dua perwira TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Abdul Haris Nasution duduk di sebelah Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pengamat dari KTN meninjau tempat registrasi prajurit TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Duduk dari kiri ke kanan: Letkol Soetardjo (?), Kolonel Hidayat Martaatmaja, Mayor Lutkie, Kolonel Lentz, seorang letnan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
AH Nasution dan Kolonel Lentz (kanan)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh: Kolonel Abdul Haris Nasution (Panglima Divisi Siliwangi, Wakil Panglima TKR), Kolonel Hidayat Martaatmaja (Kepala Staf Divisi Siliwangi)
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Jumat, 03 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (9): obrolan antar tentara

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

Seorang anggota kesatuan KNIL lokal ngobrol dengan dua pejuang TNI
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Tentara Belanda di kelompok sendiri
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Dua prajurit lokal KNIL bersama dua tentara Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 01 Maret 2017

TNI hijrah dari Tasikmalaya (8): prajurit TNI mendapat makan dan minum

PENGANTAR

Perundingan Renville menghasilkan keputusan yang diperdebatkan: di satu sisi, Belanda mengakui secara resmi eksistensi Republik Indonesia; di sisi lain, Republik Indonesia hanya diakui di Yogyakarta serta sebagian dari wilayah Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Salah satu konsekuensinya adalah bahwa pasukan TNI harus hengkang dari luar wilayah itu. Maka dimulailah proses perpindahan pejuang TNI secara besar-besaran yang dikenal dengan istilah hijrah.

Banyak wilayah di Jawa Barat menjadi tempat awal proses hijrah. Pasukan TNI berkumpul a.l. di Cianjur, Cicurug, Ciwidey, Kuningan, Purwakarta, dan Sukabumi untuk meninggalkan kampung halaman dan tempat perjuangan menuju Jawa Tengah. Tapi bukan hanya dari Jawa Barat, proses hijrah juga tercatat terjadi di Sumatera Selatan (pangkalan udara Karang Endah, Gelumbang, Muara Enim), Jawa Tengah (Banyumas, Kroya), dan Jawa Timur (Bangil).

Pihak Belanda lumayan banyak membuat foto dari peristiwa ini. Betapa tidak, inilah kesempatan Belanda untuk mendokumentasikan pejuang TNI tanpa harus takut adanya baku tembak.

Kita akan lihat bagaimana pasukan TNI sebagian besar berperlengkapan seadanya, bahkan sering tanpa alas kaki. Tapi ini semua tidak menghalangi mereka untuk berbaris dengan bangga memasuki area permulaan hijrah. Ini akan sangat mendukung pernyataan bahwa TNI itu memang "berasal dari rakyat".

Beberapa foto lain akan memperlihatkan bagaimana beragamnya senjata TNI. Senjata-senjata itu harus diserahkan ke pihak Belanda sebelum proses hijrah dimulai. Kita akan lihat senapan dan mitraliur, granat dan ranjau, hingga ke pedang samurai Jepang, bahkan sampai ke ban-ban mobil untuk diserahkan ke pihak Belanda.

Kita juga akan lihat bahwa pasukan TNI bukan hanya lelaki, tetapi juga dari kaum perempuan. Ini sangat menarik buat pihak Belanda sehingga mereka membuat beberapa foto dari para pejuang wanita ini. Selain pejuang wanita, Belanda juga mencatat bahwa ada juga pejuang TNI yang masih bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Selain itu, juru foto Belanda memperlihatkan bagaimana isteri dan keluarga pejuang TNI rela ikut meninggalkan kampung halaman mereka menuju wilayah baru yang boleh jadi tidak pernah mereka kenal atau lihat sebelumnya.

Selanjutnya, di beberapa foto akan kita lihat bagaimana pejuang TNI bisa ngobrol santai dengan pasukan Belanda, malah berfoto bersama sambil tersenyum. Suatu hal yang boleh jadi tak terbayangkan sebelumnya ketika kedua belah pihak masih saling bertempur.

Selamat menyimak bagian dari sejarah kita ini!

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Foto yang mencengangkan pihak Belanda karena menunjukkan betapa mudanya pejuang ini
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 5 Februari 1948
Tempat: Tasikmalaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Exalto
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: