Tampilkan postingan dengan label berburu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berburu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2026

Pasukan Sekutu dan Belanda di Papua 1944/1945 (12)

Sebuah kemah pasukan NICA di antara pepohonan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Patroli pasukan Belanda di antara Merauke dan Tanah Merah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Seorang tentara Belanda menyembelih seekor babi hutan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Februari 1944: Sebuah kesatuan Belanda dengan wajah bule, Melayu, dan Melanesia dengan tangkapan dua ekor babi huta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1944/1945
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Edisi lain dari foto nomor 2 dan 4 pernah dimuat di posting ini sebelumnya.

Sabtu, 21 Maret 2026

Lima rangkaian wajah-wajah penduduk Nusantara di sekitar tahun 1941

Senyum pemetik teh di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Warga Tionghoa pengolah timah di Belitung
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petani membajak sawah di Jawa Barat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Dayak di selatan Kalimantan menggunakan sipet ketika berburu 
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang perempuan Jawa menggunakan canting dalam membatik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: sekitar 1941
Tempat: Belitung, Jawa, Kalimantan
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 06 Desember 2025

Kamis, 23 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Ernest Alfred Hardouin tentang aneka penampilan manusia di Jawa di abad ke-19 (1)

Ernest Alfred Hardouin aalah seorang pelukis yang lahir di Versailles, Perancis, pada tanggal 23 Januari 1820. Garis nasib membawanya ke Nusantara, di mana dia banyak mengabadikan wajah-wajah manusia di Jawa dalam bentuk lukisan. Hardouin wafat dalam usia relatif muda, yaitu 33 tahun, di kota tempat dia banyak mengeluarkan karyanya, yaitu di Jakarta pada tanggal 21 September 1953.

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Hardouin ini, a.l. yang dimulai di posting ini. Warisan Hardouin ini turut berjasa untuk memperlihatkan bagaimana keadaan dan penampilan nenek moyang kita di sekitar 200 tahun lalu. Kali ini kita mencoba menayang ulang beberapa gambar yang sejatinya sudah pernah muncul, tetapi sekarang dari sumber lain dan dalam ukuran yang lebih besar. Kali ini kita coba juga untuk meminta bantuan AI untuk mereka-reka bagaimana penampilan sesungguhnya dari orang-orang yang digambar oleh Hardouin. Tentu saja, keluaran AI ini hanya merupakan pendekatan, bukan aslinya. Bahkan di beberapa detail, AI, karena keterbatasan di data latihannya harus menyerah dan menampilkan hal yang berbeda, atau malah mengambil kebebasan untuk menggambar menurut kemauan dia sendiri.


Seorang pemuka warga Priangan dalam pakaian berburu. Pakaian ini terdiri dari topi caping pipih di atas blangkon, kemudian naju kebesaran berkerah tinggi dengan banyak ornamen keemasan, serta kain batik yang dikencangkan dengan kain bebat di pinggang. Dia juga memakai semacam pelindung betis dan kaki berwarna merah-kuning, tapi tanpa alas kaki. Kudanya kemungkinan besar yang sedang dipegang pawangnya di sebelah kiri.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI yang cukup mendekati komposisi aslinya, meski alas kakinya memiliki variasi.
(klik untuk memperbesar)
Seorang kuli, kemungkinan di sebuah gudang barang di kawasan pecinan, berdasarkan model bangunan yang berada di latar belakang. Kuli ini duduk di atas sebuah kotak kayu, sementara seorang rekannya tampak berbincang dengan seorang yang berbaju lebih perlente yang mengindikasikan posisi sosial yang lebih tinggi.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rekaan AI ini secara keseluruhan bisa menangkap apa yang ditampilkan Hardouin di lukisannya. Hanya saja AI membaca "FH" bukan "EH" di kotak yang diduduki sang kuli, dan mengubah font-nya. Kemudian AI juga menempatkan kaki si kuli menapak di tanah, bukan menggantung, serta mengubah postur tangan kirinya. AI juga menambah genteng di bangunan di sebelah kiri belakang yang sejatinya tidak ada di lukisan.
(klik untuk memperbesar)

Tahun terbit: sekitar 1855 
Tempat terbit: Paris 
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Ernest Alfred Hardouin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 01 Oktober 2025

Tayang ulang lukisan-lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara (12)

Blog ini pernah menampilkan rangkaian lukisan karya Josias Rappard tentang berbagai tempat di Nusantara mulai dari posting tanggal 21 Desember 2021 hingga ke posting tanggal 28 Januari 2022  dengan total 65 lukisan. Seri kali ini merupakan tayang ulang (reload) dengan total lukisan menjadi 107; karena ada tambahan 42. Ukuran lukisan di rangkaian kali ini lebih rendah, dari lebar 2048 pixel ke sekitar 2000 pixel, tetapi kualitas hasil pindainya seharusnya lebih bagus.


Tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di kawasan Puncak, yang sekarang menjadi Istana Cipanas, dengan latar belakang Gunung Pangrango di kejauhan
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Sebuah pertunjukan perburuan rusa di kawasan sekitar Bogor yang disaksikan warga Belanda (?) dari sebuah saung, serta masyarakat di kejauhan. Dua rusa tampak dikepung oleh empat pemburu lokal berkuda bertopi, dua di antaranya menghunuskan senjata tajam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Rumah Asisten Residen Sumedang yang dibangun dengan gaya khas kolonial di masanya, yaitu dengan pilar-pilar bundar yang menopang atap luas bergenting, tembok putih, serta deretan pintu bercelah yang diwarnai hijau, dan tentunya bendera Belanda. Asisten Residen Sumedang saat itu melapor ke Residen Priangan yang berdiam di Bandung.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Dua perwira KNIL mengunjungi Talaga Bodas di Garut, seorang di antaranya dipayungi opas lokal yang mengindikasikan tingginya pangkat yang bersangkutan. Dua warga lokal lain tampak di sebelah kanan, kemungkinan bertanggung jawab atas akomodasi atau konsumsi perjalanan perwira ini.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Masjid Agung Banten, Serang, yang selesai dibangun di tahun 1566 dan ditambahi menara di sekitar tahun 1632. Mesjid ini menunjukkan banyak perpaduan budaya: atap yang khas Pulau Jawa, sebagian tembok yang meminjam gaya Eropa, serta menara yang dipengaruhi arsitektur Tionghoa.
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar: Josias Cornelis Rappard (seorang kolonel KNIL dan pelukis)
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Minggu, 15 Desember 2024

Dari penjelajahan Carl Alfred Bock ke wilayah suku Dayak di tahun 1878/1879 (7)

PENGANTAR

Di kalangan bangsa Eropa terutama zaman dulu, suku Dayak acapkali dikonotasikan dengan dua hal: head hunters dan cannibalism, atau penggal kepala dan makan daging manusia. Salah seorang perintis berani yang mencoba untuk memeriksa pandangan ini adalah seorang peneliti Norwegia bernama Carl Alfred Bock. Dalam usia 29 tahun, di tahun 1878 dan 1879 dia melakukan perjalanan penjelajahan ke pedalaman Kalimantan –dan juga Sumatera– untuk bertemu langsung dengan masyarakat pedalaman yang menghuni kawasan yang hingga saat itu dijauhi orang. Carl Bock mendokumentasikan perjalanan ini dalam bukunya The Head Hunters of Borneo, yang diterbitkan di tahun 1881 di London, dua tahun setelah penjelajahannya berakhir. Buku ini banyak memuat gambar-gambar berwarna yang diabadikan Carl Bock selama berkelana di Kalimantan.

Halaman judul dari The Head Hunters of Borneo edisi kedua yang terbit 1882
(klik untuk memperbesar)

Blog ini akan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang berharga ini, yang berjasa menggambarkan suku Dayak menjelang akhir abad ke-19.


Seorang wanita Dayak bernama Sulau Landang, dengan ikat kepala, kalung berlapis, dua pasang anting di kuping yang memanjang, serta tattoo di tangan dan kaki
(klik untuk memperbesar)
Kuburan seorang pemuka Dayak bernama Rajah Sinen, dalam bentuk bangunan panggung dengan ukiran dan hiasan, serta penjagaan
(klik untuk memperbesar)
Seekor kancil yang ditemui Carl Bock di Sumatera
(klik untuk memperbesar)
Seorang pemburu harimau bernama Sinen di Sumatera
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1878/1879
Tempat: Kalimantan, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Carl Alfred Bock
Catatan:

Senin, 29 April 2024

Dua lukisan karya Raden Saleh

Berburu di Jawa
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Kebakaran hutan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1867 atau sebelumnya
Tempat: Jawa
Tokoh:
Peristiwa:
Juru gambar: Raden Saleh
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Edisi lain dari gambar pertama pernah dimuat di posting ini.

Senin, 19 Februari 2024

Buku belajar huruf "Indisch ABC" dari tahun 1910 (4)

Jilid buku
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Versi lain untuk huruf R dari edisi berbeda
(klik untuk memperbesar)

Waktu: 1910
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa: Buku Indisch ABC adalah buku Belanda untuk anak-anak berisi pengenalan huruf dengan mengacu pada hal-hal di Hindia-Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery (gambar pertama)
Catatan:

Selasa, 20 Juli 2021

Empat lukisan pemandangan Nusantara di buku "De Indische Archipel" keluaran C.W. Mieling 1865

Gembala kerbau di Jawa, karya Frans Lebret
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Danau Tondano di Minahasa, karya Louis de Stuers
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Berburu harimau di Priangan, karya Raden Saleh
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Ngarai Sianok di Bukittinggi, karya Charles Deeleman
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1865 (lukisan-lukisannya tentunya dibuat sebelum buku diterbitkan)
Tempat: Jawa, Minahasa, Jawa Barat, Bukittinggi
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Frans Lebret | Louis de Stuers | Raden Saleh | Charles Deeleman
Sumber / Hak cipta: C.W. Mieling / Atlas Van Stolk
Catatan:

Minggu, 06 Juni 2021

Aneka wajah Nusantara dari album foto keluaran Toeristenbond voor Nederland terbitan 1911: 67-72

PENGANTAR

Di rangkaian posting sebelumnya blog ini menampilkan foto-foto dari album keluaran penerbit Kleynenberg & Co. dari tahun 1912-1914. Album yang berisi 150 foto ini menyajikan wajah-wajah Nusantara dari berbagai pelosok. Sebelumnya, di tahun 1911, Toeristenbond voor Nederland juga mengeluarkan album yang mirip. Album keluaran jawatan pariwisata Belanda ini berisi 100 foto yang juga menampilkan berbagai wajah Nusantara.

Isi album ini didominasi oleh foto karya Jean Demmeni, seorang fotografer campuran Perancis-Madura yang lahir di Padang Panjang dan banyak aktif di wilayah Minangkabau. Tidak mengherankan apabila hampir setengah dari album ini berisi foto dari wilayah Sumatera Barat.

Berbeda dengan album foto Kleynenberg yang mencakup banyak wilayah, album Toeristenbond ini masih membatasi tambahan liputan ke Jawa dan sedikit Sumatera Utara, di samping Sumatera Barat. Meski demikian, album ini tetap menarik karena mengindikasikan aspek warga Nusantara yang, paling tidak menurut khalayak Belanda saat itu, menarik untuk dicermati dari sudut pandang pariwisata.

Blog ini akan menampilkan ke-100 foto ini berurut sesuai nomornya. Foto-foto yang pernah dimuat sebelumnya, dalam konteks lain, akan diberi catatan.


67. Berburu babi hutan di Tilatang Kamang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
68. Gua yang dijuluki Ngalau Kamang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
69. Gua Pauh (?)
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
70. Mesjid di Padang Lua, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
71. Masjid Jami Taluk, Bukittinggi
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
72. Kolam renang di Sungai Tanang, Agam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: album foto terbit tahun 1911, foto-fotonya tentunya dibuat sebelum itu
Tempat: Sumatera Barat
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Jean Demmeni
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: Edisi lain dari foto no. 67 pernah dimuat sebelumnya di posting ini; no. 70 & 71 di posting ini.

Minggu, 16 Mei 2021

Koleksi foto dari masa kejayaan tembakau di utara Sumatera — Album X: Foto 46-50

PENGANTAR

Seperti sudah disinggung di posting sebelum ini, dan juga sebelumnya lagi, sejarah mewariskan banyak album foto tentang wilayah utara Sumatera dari masa kejayaan perkebunan tembakau. Isinya tentunya foto-foto yang terkait dengan perkebunan tembakau, serta manusia dan tempat atau tempat di sekitarnya. Foto-foto ini umumnya jepretan C.J. Kleingrothe atau keluaran dari studio foto miliknya. Kleingrothe adalah seorang Jerman yang menetap di Medan dari penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Album X ini berjudul Sumatra dan dikeluarkan atas nama Kleingrothe dan (Herman) Stafhell. Album ini berisi 50 foto di atas kertas berwarna hijau. Tidak ada deskripsi atas isinya, tetapi di tiap halaman ada penomeran dengan pensil dari 1 hingga 50, disertai dengan catatan di pojok kanan bawah. Sayang catatan ini tidak selalu mudah dibaca, padahal isinya merupakan semacam judul untuk tiap foto.

Jilid album Sumatra
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Beberapa foto di album ini termasuk yang populer, dan ada di album lain serta pernah dimuat di blog ini sebelumnya. Blog ini akan menampilkan foto-foto ini sesuai urutan nomornya; serta dalam versi halaman penuh, serta versi potongan yang fokus ke isi fotonya. Seperti disinggung sebelum ini, penampilan dua versi ini terpaksa dilakukan karena blogger membatasi ukuran lebar/panjang foto ke maksimum 1600 pixel.


Versi halaman penuh
46. Warga sebuah kampung Batak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
47. Warga Karo menumbuk padi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
48. Seorang pemuka warga Karo dengan gelar "penghulu"
(klik untuk memperbesar | © NGA)
49. Tiga perempuan Karo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
50. Berburu gajah di Serdang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Versi fokus ke foto
46. Warga sebuah kampung Batak
(klik untuk memperbesar | © NGA)
47. Warga Karo menumbuk padi
(klik untuk memperbesar | © NGA)
48. Seorang pemuka warga Karo dengan gelar "penghulu"
(klik untuk memperbesar | © NGA)
49. Tiga perempuan Karo
(klik untuk memperbesar | © NGA)
50. Berburu gajah di Serdang
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: di sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
Tempat: Sumatera Utara
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C.J. Kleingrothe / Herman Stafhell
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan: