Tampilkan postingan dengan label Perang Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang Lombok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 September 2021

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Markas pasukan Belanda di Ampenan

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Beberapa prajurit KNIL di pantai, kemungkinan mengawasi suplai militer dalam kotak kayu yang diangkut dengan perahu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Sebuah pojokan ritual umat Hindu di dekat posisi markas KNIL
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Markas KNIL di Ampenan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Tumpukan kotak kayu yang kemungkinan suplai militer di pantai Ampenan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Ampenan (Lombok)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan: Posting ini merupakan kelanjutan dan pelengkap dari rangkaian posting sebelumnya yang dimulai tanggal 13 Maret 2020 hingga 29 Maret 2020.

Kamis, 09 September 2021

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Beberapa situs sisa pertempuran

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Taman Narmada, salah satu situs yang direbut dan dikuasai pasukan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pura Dalem Karang Jangkong, tempat tewas dan dimakamkannya panglima Belanda Mayor Jenderal P.P.H. van Ham
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kali Jangkok, kemungkinan salah satu tempat pertempuran yang menjadi catatan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kali Jangkok, dengan beberapa warga lokal
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan: Posting ini merupakan kelanjutan dan pelengkap dari rangkaian posting sebelumnya yang dimulai tanggal 13 Maret 2020 hingga 29 Maret 2020.

Minggu, 06 Desember 2020

Perang Lombok dalam karikatur Belanda, 1894-1895

Perang Lombok tak luput dari pencermatan para juru gambar Belanda. Perhatian mereka tetapi tidak senantiasa sejalan. Dua gambar di bawah ini menunjukkan sikap pandang warga Belanda tentang ekspedisi militer Belanda di Lombok ini.

De Nederlandsche Spectator, 1894
(klik untuk memperbesar | © Johan Schmidt Crans / AVS)

Karikatur pertama ini muncul di awal ekspedisi militer Belanda di Lombok, memperlihatkan Nona Belanda memerintahkan Singa Belanda untuk bergerak menuju Lombok, dan mengaum dengan dahsyat untuk tidak menjadikan Lombok sebagai Aceh kedua. Saat itu Belanda memang kerepotan dengan kegigihan perlawanan rakyat Aceh.

De Kroniek, 26 Mei 1895
(klik untuk memperbesar | © Rusticus / AVS)

Karikatur kedua terbit setelah Belanda menguasai Lombok, dan nadanya menjadi kritis. Panglima KNIL, Mayor Jenderal Jacobus Vetter, digambarkan sebagai seorang triumphator, pemenang perang a la Romawi, yang memamerkan kemenangannya di arena. Karikatur ini cenderung bernuansa gelap, dan menggambarkan bagaimana Vetter sejatinya menyeret "Lombok" tanpa belas kasihan.

Waktu: 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke perang di Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Schmidt Crans | Rusticus
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 04 Desember 2020

Pemanfaatan Perang Lombok untuk iklan coklat dan bungkus rokok, 1894

Setelah Perang Aceh, yang sejatinya saat itu belum tuntas, ekspedisi militer Belanda di Lombok merupakan hal yang menyita banyak perhatian masyarakat Belanda. Ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mencoba menjual barang dagangannya dengan membonceng "kepopuleran" Perang Lombok di dalam iklan atau kemasan produknya. Ini terdengar agak aneh, tapi gambar-gambar di bawah ini memang menunjukkan bahwa ada produk kakao/coklat dan rokok yang diiklankan atau dibungkus dengan referensi ke Perang Lombok.

Iklan kakao (coklat) dengan motif Perang Lombok
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Bungkus rokok dengan gambaran pertempuran di Lombok, serta tulisan Mataram dan Tjakranegara
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Bungus rokok yang sama, kali ini dengan penekanan pada seorang perwira KNIL yang terlibat Perang Lombok: Kolonel Andries Scheuer
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1894
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 02 Desember 2020

Dua sampul buku Belanda tentang Perang Lombok, 1894-1895

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Buku ini terbit tahun 1894 dan sampulnya menunjukkan kejayaan pasukan KNIL di dalam menduduki Lombok.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Buku ini terbit tahun 1895, disusun oleh H. Karels, seorang kapelmeester (komandan musik) di pasukan berkuda yang berperang di Lombok. Isi buku ini adalah lembaran musik mars; dengan dilengkapi peta Lombok dan rute peperangan Belanda.

Waktu: 1894, 1895
Tempat: buku-buku di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke peristiwa di Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 31 Oktober 2020

Karikatur kritis di "De Amsterdaamer" tentang konflik bersenjata di Aceh dan Lombok, 1892-1895

(klik untuk memperbesar | AVS)

21 Februari 1892: Karikatur ini menggambarkan dua jenderal KNIL yang terlibat Perang Aceh, yaitu Karel van der Heyden dan Gustave Verspyck, dengan latar belakang konflik bersenjata di Aceh dengan beberapa korban. Van der Heyden mengucapkan selamat kepada Verspyck yang berulang tahun ke-70: "Selamat, kamerad! Seandainya saja kita bisa memperbaiki kembali apa yang terjadi di sana …"

(klik untuk memperbesar | AVS)

30 September 1894: Karikatur ini berjudul "Petualangan senapan infantri Belanda" yang menggambarkan bagaimana senjata Belanda setelah melewati beberapa tangan, termasuk Inggris yang dilambangkan dengan John Bull, akhirnya bisa berakhir di tangan warga Tionghoa dan warga Aceh, yang kemudian digunakan untuk melawan balik tentara Belanda dalam Perang Aceh.

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

14 Juli 1895
: Karikatur ini menggambarkan Mayor Jenderal Jacobus Vetter (Panglima KNIL) yang berbisik kepada Jacob Bergsma (Menteri Urusan Koloni) dengan latar belakang Gusti Gede Jelantik (penguasa Karangasem yang ditempatkan Belanda di Lombok). Isi bisikan adalah: "Tidak ada lagi pita tersisa untuk Gusti Jelantik? Dia membantu kita dengan menindas kan?"

Waktu: 1892, 1894, 1895
Tempat: karikatur di atas mengacu ke perang di Aceh dan Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk / Universiteit Leiden
Catatan: Karya lain dari Johann Braakensiek tentang Perang Aceh bisa dilihat di posting ini.

Selasa, 04 Agustus 2020

Dari album foto perwira artileri Letnan H.A. Zeilmaker, 1900: Foto lain-lain

PENGANTAR

Letnan H.A. Zeilmaker adalah seorang perwira artileri Belanda yang bertugas di Hindia-Belanda paling tidak dari tahun 1894 hingga 1899. Dia diterjunkan di Perang Aceh, dan tampaknya kemudian tinggal di Surabaya. Dia membuat sebuah album album foto pada tahun 1900 dengan judul "1894 Souvenir 1899" yang kelihatannya ditujukan untuk kerabatnya di Belanda untuk memperlihatkan bagaimana itu Hindia-Belanda.

Selain foto-foto yang memang terkait dengan dia dan sejawatnya, album ini juga berisi foto-foto dari studio atau juru potret lain, yang juga bisa ditemukan di album atau kumpulan foto pihak lain. Ini menunjukkan bahwa pada saat itu peredaran dan jual-beli foto dengan motif tertentu bukan hal yang jarang.

Album foto ini pada akhirnya menjadi salah satu sumber berharga untuk menengok sejarah negeri kita di masa lampau beserta manusia-manusia yang hidup di saat itu.


1894: Kapal Koningin Regentes yang membawa Zeilmaker dari Belanda pada tanggal 19 Oktober 1894 hingga ke Tanjung Priok pada tanggal 28 November 1894
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kediaman Zeilmaker di pos militer Belanda di Lambaro, Aceh. Di sebelah kiri tampaknya pembantu rumah tangga, sementara di kanan salah seorang sejawat Zeilmaker
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lombok, 1894: Para pembesar sipil dan militer Belanda dengan dua penguasa terakhir dari Karangasem untuk Lombok pada saat Perang Lombok (lihat catatan di bawah)
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1894
Tempat: Belanda (atas); Lambaro, Aceh (tengah); Lombok (bawah)
Tokoh: Gusti Gede Jelantik (tokoh Bali yang ditempatkan Belanda sebagai penguasa Lombok, dari tahun 1894 hingga 1902, setelah ekspedisi militer Belanda); Mayor Jenderal Petrus van Ham (Panglima KNIL yang tewas di Lombok pada pertempuran di bulan Agustus 1894); Mayor Jenderal Jacobus Vetter (Panglima KNIL pada saat Perang Lombok); M.C. Dannenbargh (pejabat sipil yang ditempatkan Belanda sebagai residen di Lombok)
Peristiwa:
Juru foto:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Zeilmaker dipastikan tidak ikut dalam Perang Lombok karena pada saat itu dia ditugaskan di Aceh. Tetapi album fotonya menjadi berharga karena menyimpan foto yang memperlihatkan dua penguasa terakhir Karangasem di Lombok bersama para pembesar Belanda pada saat ekspedisi militer Belanda di Lombok. Para tokoh di foto ini, d.ki.k.ka. (duduk): Anak Agung Ketut Ngurah Karangasem, Petrus van Ham, Jacobus Vetter, M.C. Dannenbargh, Gusti Gede Jelantik; (berdiri): Hendrik Willemstijn, A.J. Hamerster, Frederik Liefrinck, Boerema, Hendrik Kotting.

Sabtu, 21 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Pura Lingsar dan Taman Narmada dalam kekuasaan Belanda

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Pura Lingsar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pura Lingsar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pura Lingsar
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Taman Narmada
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pemuka warga Bali, Gusti Bagus Pahos (berdiri), bersama para pengikutnya di Taman Narmada
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Lombok Barat (Lingsar, Narmada)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan:

Selasa, 17 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Wajah-wajah tentara KNIL

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Kelompok sandiwara tentara Belanda di Ampenan.
Bandingkan dengan kelompok serupa semasa Perang Aceh di posting ini.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan Belanda di antara warga Sasak di rute Ampenan menuju Mataram
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bivak pasukan Belanda di sekitar Ampenan.
Pada tanggal 26 Agustus 1894 area ini dihancurratakan dengan tanah.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gerbang masuk ke Mataram dalam kendali pasukan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang Belanda di kampung warga Bali dekat Ampenan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Letnan Satu H.J. Tromp de Haas yang menjadi dokter hewan urusan kuda perang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan KNIL lokal bersama seorang atasan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan:

Jumat, 13 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Para komandan perang Belanda setelah menduduki Lombok

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Para komandan bivak dan rumah sakit lapangan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Para perwira utama
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Para perwira utama
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Perwira infantri bermain kartu
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kelompok perwira infantri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Kelompok perwira artileri
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan:

Kamis, 11 Oktober 2018

Tiga perlawanan rakyat atas kekuasaan Belanda di tahun 1890-an yang tidak banyak dicatat sejarah

Kepulauan Aru, 1892: Para pemimpin perlawanan rakyat setelah ditangkap Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Lombok, 1894: Jembatan yang dibakar rakyat saat perlawanan warga Lombok
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Lombok, 1894: Makam seorang prajurit KNIL yang tewas saat perlawanan warga Lombok
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Melawi, 21 Maret 1896: Raden Paku Jaya bersama para pengikutnya setelah ditangkap Belanda
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1892, 1894, 1896
Tempat: Kepulauan Aru, Lombok, Melawi
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: