Tampilkan postingan dengan label Eelco van Kleffens. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eelco van Kleffens. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Maret 2026

Kedatangan Menteri Urusan Tanah Jajahan, Welter, dan Menteri Luar Negeri Belanda, Van Kleffens, ke Hindia-Belanda, 1941

Sebuah kolase foto, yang menunjukkan Welter (ketiga dari kiri, sedang menerima minuman dari seorang pelayan lokal) dan Van Kleffens (paling kanan) diapit boss perusahaan minyak Bataafsche Petroleum Maatschappij, A.C. Sandkuyl (paling kiri), serta pimpinan himpunan pengusaha, C.H.P. de Villeneuve (kedua dari kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Welter (berjas putih dengan tanda X di atas kepalanya) di kerumunan masyarakat Belanda di bar minuman Slavische Bar yang dikelola Palang Merah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan Mei 1941
Tempat: kemungkinan Jakarta
Tokoh: Charles Joseph Ignace Marie Welter (politisi dari Partai Katolik Belanda, Menteri Urusan Tanah Jajahan, kelak menjadi salah satu penentang sengit atas keberadaan Republik Indonesia); Eelco van Kleffens (Menteri Luar Negeri Belanda)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan: Beberapa bulan setelah kemeriahan dan pesta ini pasukan Jepang menduduki Hindia-Belanda.

Jumat, 27 Februari 2026

Para politisi Belanda setelah dimerdekakan dari tahanan Jerman Nazi, untuk kemudian harus menghadapi masalah kemerdekaan Indonesia, 1945

14 tokoh Belanda yang ditahan Jerman Nazi sebagai balasan atas penahanan warga-warga Jerman di Hindia Belanda di bulan Mei 1940. Foto diambil setelah mereka dibebaskan menyusul kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 24 Juni 1945
Tempat: wilayah selatan Belanda
Tokoh:
  • Eelco van Kleffens (ketiga dari kanan: kelak Menteri Luar Negeri Belanda, kemudian menjadi diplomat Belanda di PBB dan harus menghadapi perdebatan tentang kemerdekaan Indonesia)
  • Pieter Lieftinck (keenam dari kiri: kelak Menteri Keuangan Belanda dan a.l. harus menghadapi problematika moneter Uni Belanda-Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar)
  • Willem Drees (kelima dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. ikut terlibat di belakang layar dalam Perundingan Renville)
  • Willem Schermerhorn (ketujuh dari kiri: kelak Perdana Menteri Belanda, a.l. terlibat langsung dalam Perundingan Linggarjati)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 14 Desember 2022

Gubernur Jenderal Hindia-Belanda terakhir, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer: Kepulangan ke Belanda setelah ditahan Jepang

Eindhoven, 9 September 1945: Tjarda menginjakkan kaki kembali di Belanda setelah 3 tahun ditawan Jepang. Saudara perempuannya menyambut dan memeluknya di bandara Welschap.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Eindhoven, 9 September 1945: Rombongan Tjarda disambut Putri Juliana (kanan) yang tampaknya berbincang dengan perwira Angkatan Udara Inggris yang menerbangkan Tjarda pulang (?)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Den Haag, Oktober 1945: Tjarda (kanan) datang ke Den Haag disambut PM Belanda, Willem Schermerhorn (kiri), dan Menteri Luar Negeri, Eelco van Kleffens (tengah)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: September dan Oktober 1945
Tempat: Den Haag dan Eindhoven (Belanda)
Tokoh: Eelco van Kleffens (Menteri Luar Negeri Belanda); Jonkheer Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1936-1942); Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Senin, 16 November 2020

Karikatur tentang silang pendapat Belanda menghadapi kemerdekaan Indonesia

Dalam menarasikan perjuangan kemerdekaan, buku pelajaran sejarah di Indonesia, begitu juga blog ini, umumnya menggunakan istilah "Belanda" seolah-olah sebagai satu blok yang menyatu. Sejatinya, ada banyak pandangan di Belanda dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia; mulai dari yang mendukung penuh (mis. kelompok komunis), hingga ke yang menentang mati-matian (mis. kelompok konservativ), dan tentunya posisi di antara keduanya dengan kadar kebebasan untuk Indonesia yang berbeda-beda mulai dari yang seminimal mungkin hingga ke yang relatif luas. Beberapa karikatur di bawah ini menyiratkan perbedaan-perbedaan ini.

Het Parool, 21 Mei 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan kendaraan pemerintah Belanda yang sudah sesak dengan Louis Beel, Willem Drees, dan Jan Jonkman dengan beban perjanjian Linggarjati, dicoba dihentikan oleh Carl Romme dan Jo Meynen yang ingin ikut menumpang.

De Groene Amsterdammer, 23 Agustus 1947
(klik untuk memperbesar | © Leo Jordaan / AVS)

Karikatur ini memperlihatkan ketersesatan para politisi Belanda di labirin Indonesia. Mereka bukan hanya tidak menjalani langkah dan posisi yang sama, tapi sebagian tampak bingung harus ke mana. Tokoh-tokoh yang ditampilkan a.l.: Max van Poll, Van Mook, Willem Drees, Koos Vorrink, Jan Jonkman, Willem Schermerhorn, Pieter Sjoerds Gerbrandy, Louis Beel, Carl Romme, dan Eelco van Kleffens.

Elsevier, 13 Agustus 1949
(klik untuk memperbesar | © Eppo Doeve / AVS)

Silang langkah para politisi Belanda dalam menghadapi kemerdekaan Indonesia diperlihatkan dalam sebuah karikatur yang menggambarkan perosotan yang meliuk-liuk, memiliki banyak putaran, meninggalkan banyak tahap seperti perjanjian Linggarjati dan Renville, keputusan Dewan Keamanan PBB, serta perjanjian Roem-Royen, sebelum menuju putaran final di Konferensi Meja Bundar dengan hasil akhir yang masih menjadi tanda tanya. Beberapa tokoh tampak terlempar atau tertinggal, seperti Willem Schermerhorn, Jan Jonkman, Van Mook, dan Louis Beel. Tokoh-tokoh lain tampak masih bertahan, seperti Carl Romme, Willem Drees, Eelco van Kleffens, Herman van Roijen, dan Van Maarseveen, tetapi mahkota Kerajaan Belanda tampak akhirnya terlempar juga.

Waktu: 1947, 1949
Tempat: karikatur di atas terbit di Belanda dengan mengacu ke
Tokoh:

  • Carl Romme (anggota parlemen, pendiri Partai Rakyat Katolik)
  • Eelco van Kleffens (diplomat Belanda di PBB)
  • Hubertus Johannes van Mook (Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda)
  • Jan Anne Jonkman (Menteri Urusan Jajahan)
  • Jan Herman van Roijen (diplomat)
  • Johannes Henricus van Maarseveen (Menteri Urusan Jajahan)
  • Johannes Meynen (politisi)
  • Koos Vorrink (pemuka kelompok sosialis) 
  • Louis Joseph Maria Beel (PM Belanda)
  • Maximus Josephus Maria van Poll (politisi)
  • Pieter Sjoerds Gerbrandy (politisi penentang kemerdekaan Indonesia)
  • Willem Drees (Wakil PM Belanda)
  • Willem Schermerhorn (mantan PM Belanda)
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Leo Jordaan | Eppo Doeve
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Kamis, 16 Maret 2017

Pertemuan Frank Graham dan Eelco van Kleffens setelah perjanjian Renville, 1948

(klik untuk memperbesar | © gahetna/spaarnestad)

Waktu: 28 Februari 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: Frank Porter Graham (senator Amerika Serikat, Ketua Komisi Jasa-jasa Baik PBB; kiri), Eelco van Kleffens (diplomat, Wakil Belanda di PBB; kanan)
Peristiwa: Frank Graham bertemu van Kleffens setelah melapor ke Dewan Keamanan PBB mengenai perundingan-perundingan antara Belanda dan Indonesia yang berujung pada perjanjian Renville.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan: Enam tahun kemudian van Kleffens menjadi Presiden Majelis Umum PBB.