Tampilkan postingan dengan label Hotel des Indes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hotel des Indes. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2024

Kunjungan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) ke kamp-kamp tahanan di Bandung dan Jakarta setelah Jepang kalah perang, 1945

Para penghuni kamp Cideng (?) di Jakarta mengerumuni mobil RAPWI (tertulis di moncongnya)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Biara Santa Ursula di Bandung yang dijadikan kamp tahanan oleh militer Jepang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pos RAPWI di Hotel des Indes, Jakarta
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kantor RAPWI di Bandung didatangi para warga kulit putih yang sebelumnya menjadi tahanan Jepang. Gedung ini sebelumnya adalah bangunan Société Franco-Nierlandaise (Masyarakat Perancis-Belanda).
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para penghuni kamp Bandung, sebelumnya adalah biara Santa Ursula, mengerumuni sebuah truk yang didatangkan RAPWI
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: November 1945
Tempat: Bandung, Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 27 November 2021

Jakarta 1932: Hotel Des Indes dan Hotel Grand Java

Hotel des Indes, kelak menjadi pertokoan Duta Merlin
(klik untuk memperbesar | © AVS)
Hotel di Grand Java, di Jalan Veteran sekarang
(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 1931/1932
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: Bandingkan foto Hotel Grand Java tahun 1890 di posting ini.

Minggu, 01 November 2020

Jakarta tempo doeloe: Beberapa tempat dan hal yang kelak menjadi ikon

Sekitar 1880: Patung Gajah di depan Museum van het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, kelak Museum Nasional
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Meriam Si Jagur, sebelum pindah ke museum
(klik untuk memperbesar | © NGA)

19 Februari 1889: Koningsplein, atau Lapangan Gambir, kelak menjadi Lapangan Monas
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Sekitar 1889: Areal Kebun Binatang Cikini (dierentuin) sebelum dipindahkan ke Ragunan
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Hotel des Indes
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Gedung Harmonie (kiri) dan lapak penjahit masyhur milik orang Perancis, Oger Frères (kanan)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Cikal bakal Lapangan Banteng
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1880 (foto nomor 1), 1889 (foto nomor 2, 3, 4)
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia
Catatan:

Sabtu, 01 Desember 2018

Jakarta 1936: Bangunan dan monumen yang sekarang sudah hilang

Van Heutszmonument di Menteng, tugu mengenang kemenangan Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz di Perang Aceh; dihancurkan di tahun 1960-an.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Amsterdamse Poort, Gerbang Amsterdam
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Prasasti dalam bahasa Belanda dan Jawa yang memperingatkan nasib Pieter Erberverd, seorang Jerman-Indo yang didakwa hendak melawan VOC, dan karenanya di tahun 1722 dihukum VOC dengan cara ditarik oleh empat ekor kuda ke berbagai penjuru. Karena kematiannya yang tragis ini warga lokal menyebutnya Pangeran Pecah Kulit.
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Hotel des Indes; di awal 1970-an dibongkar untuk pembangunan pertokoan Duta Merlin
(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)

Waktu: 1936
Tempat: Jakarta
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan: