Tampilkan postingan dengan label penerbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penerbangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2025

Armada pesawat-pesawat Belanda di sekitar tahun 1930-an

Sebuah pesawat Fokker C.IV di Sumatera dengan hangar alami
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah pesawat latih di Andir, Bandung, dengan logo ayam, dan kode "PK" yang digunakan Indonesia hingga sekarang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan pesawat-pesawat tempur Koolhoven F.K.51
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: a.l. Bandung, Sumatera
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 26 Februari 2025

Foto udara sekitar Jawa, kemungkinan di tahun 1930-an (1)

Kemungkinan Anak Krakatau di Selat Sunda
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Surabaya dilihat dari udara
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kemungkinan skuadron pesawat tempur Koolhoven F.K.51 di atas pesawahan di Cimahi
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sebuah wilayah di Jawa Tengah
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1930-an
Tempat: Cimahi, Jawa Tengah, Selat Sunda, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 06 Februari 2025

Bandung dilihat dari udara, sekitar pertengahan 1920-an (3)

Formasi enam (bukan lima) pesawat Fokker di atas Gedung Sate yang saat itu masih dikelilingi lahan-lahan kosong, kebun, dan pesawahan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto udara atas sebuah kawasan di Bandung dengan sebuah lapangan besar dan beberapa bangunan pemerintah atau umum
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Foto ke arah pangkalan Andir dengan 28 pesawat terbang berderet di landasan membentuk huruf L
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 04 Februari 2025

Bandung dilihat dari udara, sekitar pertengahan 1920-an (2)

Foto udara dari ke arah pangkalan udara Andir dari ketinggian yang lebih jauh. Kawasan di tengah dengan empat menara telekomunikasi adalah Radio Dienst Luchtmacht (Dinas Radio Angkatan Udara) Andir, yang penampakan dalamnya akan dimuat di posting berikutnya.
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Formasi sejajar dari lima pesawat Fokker di atas kawasan Bandung yang tampak sudah padat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Edisi lain dari foto di atas
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 02 Februari 2025

Bandung dilihat dari udara, sekitar pertengahan 1920-an (1)

Kawasan lapangan terbang Andir, dengan paling tidak 15 pesawat terbang berada di landasan, dan kerumunan orang-orang berbaju putih di pinggir serta di tengah (!) landasan, dan juga barisan mobil yang diparkir di tepi jalan menuju landasan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Kerumunan orang berbaju putih di pinggir dan di tengah landasan, dilihat dari jarak yang lebih dekat
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Lima pesawat terbang di atas Andir (atau enam jika pesawat pembuat foto dihitung); hangar besar yang berada di tengah adalah bangunan yang berada di tengah-atas di foto pertama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1920-an (1924?)
Tempat: Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 23 Februari 2024

Poster iklan penerbangan KLM rute Amsterdam-Jakarta dari tahun 1934

Satu tahun setelah pesawat Pelikan bisa menempuh penerbangan dari Belanda menuju Hindia-Belanda hanya dalam waktu empat hari –sebuah rekor dunia pada saat itu– KLM dengan bangga mulai membuka penerbangan untuk umum. Saat itu waktu tempuhnya adalah lima setengah hari; suatu yang mencengangkan mengingat perjalanan tercepat sebelumnya, melalui laut, membutuhkan waktu 6 minggu atau lebih dari 40 hari.

Poster ini memperlihatkan kota-kota ternama saat itu yang disinggahi; dan juga membandingkan rute penerbangan terjauh bangsa lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras) serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada rute Amsterdam-Jakarta-Bandung. Poster ini juga menjadi menarik karena menunjukkan rute pelayaran laut internasional pada saat itu, yang menggambarkan jalur transportasi mana yang sangat penting di dunia, selain Amerika, menjelang pertengahan abad ke-20.

Iklan yang menyebutkan penerbangan mingguan
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Iklan yang menyebutkan dua penerbangan seminggu
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Waktu: 1934
Tempat:
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Jumat, 12 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan cepat dari Belanda ke Indonesia, 1933-1934

Setelah berhasil melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di tahun 1924, para perintis penerbangan Belanda membuat rekor baru di bulan Desember tahun 1933: penerbangan Belanda-Indonesia dalam waktu 4 hari, sebuah prestasi yang mencengangkan di saat itu (lihat posting tentang ini).

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Di bulan November 1933, sudah keluar perangko yang menggambarkan akan adanya penerbangan pos cepat pertama antara Amsterdam dan Jakarta. Gambar yang ditampilkan pesawat berbaling-baling tiga, yang sedikit banyak mirip dengan pesawat Fokker F18 "Pelikan" yang sebulan kemudian melakukan penerbangan yang sebenarnya.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Poster ini keluar tahun 1934 untuk mengenang pesawat "Pelikan" dan empat awaknya yang menempuh rute penerbangan terpanjang di dunia saat itu sejauh 14.350 km. Sebagai perbandingan, poster ini menunjukkan rute penerbangan terjauh negara lain seperti Inggris (London-Kapstadt dan London-Madras), serta Perancis (Marseille-Saigon) yang masih lebih pendek daripada Amsterdam-Jakarta-Bandung.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Kalau sebelumnya pabrik biskuit Elder membuat permainan papan untuk mengenang penerbangan H-NACC di tahun 1924, maka kali ini giliran pabrik semir sepatu Erdal untuk membuat permainan yang mirip untuk mengenang penerbangan Pelikan PH-AIP. Permainan ini memperlihatkan rute mulai dari Amsterdam dengan tujuan Jakarta, dilanjutkan ke Bandung, dan kembali ke Amsterdam.

Waktu: 1933, 1934
Tempat: 
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Rabu, 10 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1925 & 1930

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ketika ketiga awak Fokker N-HACC kembali ke Belanda dari Indonesia, kali dengan pesawat berkode H-NACK, sambutan warga Belanda luar biasa (lihat posting ini). Majalah Het Leven mengeluarkan edisi khusus di bulan April 1925 untuk menyambut peristiwa ini. Sampul majalah memperlihatkan pesawat H-NACC dan bagaimana Nona Belanda dan Mbok Indonesia bisa saling mengulurkan tangan.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Petualangan pesawat Fokker H-NACC telah mengilhami perusahaan biskuit Elder di tahun 1930 untuk membuat permainan papan dengan nama Holland-Indië Spel. Permainan ini dimulai di Amsterdam dengan tujuan Batavia dan kembali ke Amsterdam, dengan melewati kota seperti Athena dan Istanbul, tempat seperti gurun dan awan, serta menempuh bencana seperti badai, pendaratan darurat, hingga ke patah sayap.

Waktu: 1925, 1930
Tempat: Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Senin, 08 Februari 2021

Sambutan atas penerbangan pertama langsung dari Belanda ke Indonesia, 1924

Keberhasilan melakukan penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia di bulan Oktober-November 1924, meskipun dengan banyak pemberhentian dan kendala (lihat posting tentang ini), merupakan hal yang sangat membanggakan warga Belanda. Betapa tidak, ini adalah penerbangan langsung terpanjang di dunia saat itu, dan sebuah pesawat dengan 3 awak membuktikan bahwa jarak 16.000 km bukan halangan untuk sebuah penerbangan langsung.

Tidak mengherankan apabila prestasi ini mendapat banyak perhatian, baik sebelum maupun sesudahnya, yang a.l. akan ditampilkan di bawah ini.

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah sampul dari majalah Het Vliegveld keluaran September 1924, beberapa hari sebelum penerbangan langsung dari Belanda ke Indonesia dilaksanaan. Sampul ini menampilkan pesawat Fokker H-NACC yang akan melakukan penerbangan bersejarah ini.

(klik untuk memperbesar | © Johan Braakensiek / AVS)

Karikatur di atas terbit di De Amsterdammer edisi 4 Oktober 1924 yang memperlihatkan pelopor pelayaran dari Belanda ke Nusantara di abad ke-16, Cornelis de Houtman, menyaksikan lepas landasnya si Fokker H-NACC sambil berucap: "Anak-anak yang hebat! Persis seperti di zamanku: Pergi untuk pertama kalinya ke Hindia Timur ... dan juga tanpa bantuan pemerintah."

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Ini adalah isi dari majalah Het Leven keluaran 29 November 1924. Foto paling atas memperlihatkan kerumunan warga Belanda di depan kantor KLM untuk membaca berita berhasilnya penerbangan langsung ini. Foto tengah kiri menunjukkan karangan bunga dan berbagai ucapan selamat untuk tiga awak yang berhasil terbang langsung dari Belanda ke Indonesia. Sementara foto tengah kanan tampaknya merupakan montage dari foto ketiga awak dengan karangan bunga dan baling-baling. [Foto paling bawah merupakan pesawat karya Belanda lain yang akan dipamerkan di Paris.]

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Lembaran peringatan ini terbit di Surabaya di bulan November/Desember 1924, setelah keberhasilan penerbangan langsung. Lembaran berisi sajak pujian atas tonggak perhubungan antara Belanda dan Nusantara ini. Prestasi tiga awak Fokker H-NACC disandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman sekitar 300 tahun sebelumnya.

Waktu: 1924
Tempat: Belanda, Surabaya
Tokoh:
Peristiwa:
Juru foto/gambar: Johan Braakensiek (gambar nomor 2)
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Jumat, 18 Januari 2019

Rangkaian penerbangan bermotor pertama di wilayah udara Indonesia oleh Gijs Küller, 1911

Semarang, April 1911: Gijs Küller (dengan tanda silang) di depan pesawat Antoinette rancangannya, sebelum terbang pertama kali di wilayah Semarang
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Antoinette terbang di wilayah udara Semarang; beberapa hari sebelumnya, pesawat bermotor tunggal ini terbang di atas Surabaya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Warga Belanda yang datang menonton tercengang kagum ketika untuk pertama kalinya melihat manusia bisa terbang dengan mesin dari  baja
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sebuah poster di Belanda yang mencoba menggambarkan bagaimana Gijs Küller berhasil terbang di wilayah udara Indonesia, lengkap dengan gunung, pesawahan, dan kira-kira bagaimana tampang warga Indonesia saat itu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1911
Tempat: Semarang (tiga foto atas), Belanda (foto bawah)
Tokoh: Gijsbertus P. Küller (perintis dunia penerbangan Belanda)
Peristiwa: Salah satu penerbangan bermotor pertama di wilayah udara Indonesia
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 16 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 6: Sambutan ketika kembali ke Belanda, 1925


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC di atas wilayah Belanda dalam penerbangan pulang dari Jakarta, kali ini menggunakan pesawat berkode H-NACK, tetap dari jenis Fokker VII
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pesawat H-NACK mendarat di Schiphol, tampak baling-balingnya masih berputar
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan meriah atas tiga orang pertama yang terbang pulang-pergi dari Belanda ke Hindia-Belanda; kali ini karangan bunganya lebih besar, dan tiap awak memperoleh satu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: April 1925
Tempat: Schiphol (Amsterdam)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 14 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 5: Acara penghargaan untuk ketiga awak pesawat, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC duduk di panggung dalam acara sambutan dan penghargaan yang diadakan pemerintah Hindia-Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak berdiri di panggung menghadap para pembesar Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Tugu dengan model pesawat Fokker VII H-NACC yang didirikan di Medan sebagai tempat pertama di wilayah Hindia-Belenda yang didarati sebuah pesawat yang terbang dari Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1924 (dua foto atas), 1925 (foto bawah)
Tempat: Jakarta (dua foto atas), Medan (foto bawah)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Sabtu, 12 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 4: Penyambutan di Cililitan, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Gubernur Jenderal Dirk Fock (berkumis) hadir di acara penyambutan kedatangan H-NACC
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Para istri pembesar Belanda tak mau ketinggalan, hadir dengan pakaian meriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak pesawat, dengan pakaian rapi, dalam acara jamuan penyambutan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 24 November 1924
Tempat: Cililitan (Jakarta)
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 10 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 3: Memasuki wilayah udara Hindia-Belanda, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Melintasi Selata Malaka menuju Medan, dengan dikawal pesawat amfibi milik KNIL Udara. Foto diambil dari H-NACC. Saat itu sudah ada pesawat-pesawat terbang di Hindia-Belanda, tapi masih diangkut dengan kapal dan dirakit di Indonesia, belum ada yang terbang langsung.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Di atas Teluk Betung, Palembang, sebelum mendarat untuk pemberhentian terakhir sebelum Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Akhirnya di atas Pulau Jawa, dengan dikawal pesawat KNIL yang lain. Foto diambil dari H-NACC.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: November 1924
Tempat: Amsterdam, Plovdiv, Istambul
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 08 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 2: Perjalanan di Asia, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Pemberhentian di Aleppo, Suriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pengisian bahan bakar yang diantar oleh sapi di Allahabad, India
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pemberhentian di Kalkuta, India
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pemberhentian di Rangoon, sekarang Yangon, Myanmar
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Perawatan pesawat di Singgora atau Songkhla, Thailand; pemberhentian terkakhir sebelum memasuki wilayah udara Hindia-Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: November 1924
Tempat: Aleppo (Suriah), Allahabad (India), Kalkuta (India), Rangoon (Myanmar), Singgora (Thailand)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 06 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 1: Perjalanan di Eropa, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Schiphol: Tiga awak H-NACC sebelum lepas landas, yaitu H. van Weeden Poelman,  A.N.J. van der Hoop, P.A. van den Broeke (dari kiri ke kanan). Ketika mereka nanti kembalinya ke Schiphol, rangkaian bunga yang mereka akan lebih besar, dan lebih banyak.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kerusakan mesin di Plovdiv, Bulgaria, yang membuat pesawat harus menuggu sekitar satu bulan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
H-NACC di Plovdiv dengan ditopang segala macam benda darurat. Tampak pula baling-baling pesawat sudah dicopot.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan yang meriah di Istambul, ketika akhirnya pesawat bisa melanjutkan perjalanan dan mendarat selamat di Turki
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Oktober 1924
Tempat: Amsterdam, Plovdiv, Istambul
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: