Tampilkan postingan dengan label Amsterdam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amsterdam. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2026

Pelepasan sukarelawan perang dari Amsterdam menuju Hindia-Belanda setelah Jerman dan Jepang kalah perang, 1945

(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: pertengahan kedua 1945
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Belanda baru beranjak pulih dari pendudukan Jerman ketika Jepang kalah perang di bulan Agustus 1945, dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Militer Belanda yang baru ditata kembali harus merekrut sukarelawan yang bersedia diterjunkan menuju Hindia Timur. Gambar di atas memperlihatkan dua truk yang berisi para pemuda, masih dalam pakaian sipil, yang siap dikapalkan ke arah Nusantara. Warga Belanda tampak mengelu-elukan keberangkatan para sukarelawan yang kelak harus menghadapi para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 25 Juni 2025

Sebuah rangkaian foto tentang berbagai tari Jawa di kalangan keraton, keluaran tahun 1925 (7)

61. Seperangkat gamelan di Lembaga Kolonial di Amsterdam
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
62. Garuda dan Gatotkaca
63. Hanoman, para punakawan, dan tokoh bernama Bambang (?)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
64. Sekelompok pemain wayang orang
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
65. Tarian Bedhaya
klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
66. Tarian Serimpi
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1925
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Rabu, 28 Juli 2021

Penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar dalam sketsa dan berita koran Belanda, 27 Desember 1949

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Koran Nieuwe Rotterdamse Courant terbitan 27 Desember 1949 mewartakan penandatangan hasil Konferensi Meja Bundar di halaman utamanya. Tampak PM Belanda, Willem Drees sedang membubuhkan tanda tangannya, dengan disaksikan oleh Ratu Juliana di sebelahnya, serta Muhammad Hatta dan Sultan Hamid II. Acara berlangsung di Koninklijk Paleis op de Dam (Istana Kerajaan di Amsterdam).

(klik untuk memperbesar | © Chris Schut / AVS)

Peristiwa yang sama dalam sketsa karya Chris Schut yang dibuat di bulan Februari 1950. Di sketsa ini tampak dokumen hasil Konferensi Meja Bundar diperlihatkan kepada Ratu Juliana untuk ditandatangani.

Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Amsterdam
Tokoh: Juliana (Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina; Ratu Belanda), Muhammad Hatta (anggota delegasi Indonesia), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia), Willem Drees (Perdana Menteri Belanda)
Peristiwa: l.d.a.
Juru foto/gambar:  Chris Schut
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan: lihat juga foto di posting ini.

Kamis, 08 Juli 2021

Pawai budaya di Amsterdam untuk mengingatkan suasana di Indonesia, 1945

(klik untuk memperbesar | © AVS)

Waktu: 28 Juni 1945
Tempat: Amsterdam (tepatnya Jalan Van Baerlestraat)
Tokoh:
Peristiwa: Di Eropa, Perang Dunia II baru saja usai dan Jerman sudah terusir dari wilayah Belanda, sementara Hindia-Belanda masih berada di bawah kekuasaan Jepang. Sebuah pawai dengan peserta a.l. kereta kuda dihias sebagai garuda, dengan peserta warga Belanda dan Indonesia dalam pakaian tradisional Nusantara, ikut tampil dengan mengusung pamflet Indonesie onderdrukt (Indonesia tertindas).
Juru foto/gambar: Koos Hofman
Sumber / Hak cipta: Atlas Van Stolk
Catatan:

Sabtu, 14 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (2)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Jasad Sutan Sjahrir diturunkan dari pesawat ke mobil jenazah ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... kemudian dari mobil jenazah dipindahkan menuju ruang persemayaman ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... dengan disaksikan oleh warga masyarakat yang berdatangan ke bandara
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Poppy Sjahrir menerima ucapan belasungkawa ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... termasuk dari Prof. Willem Schermerhorn ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... mantan Perdana Menteri Belanda yang merupakan "lawan" Sutan Sjahrir di perundingan Linggarjati
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh: Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946 di saat awal pergolakan kemerdekaan Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto no. 1), Cor Mulder (foto no. 4-6)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.

Kamis, 12 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (1)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Warga yang berdatangan ke bandara Schiphol ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Selain warga, datang juga tokoh-tokoh masyarakat ke bandara Schiphol
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir), istri mendiang Sjahrir, turun dari pesawat ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... disambut Dubes RI untuk Belanda Soedjarwo Tjondronegoro
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Masyarakat memasuki gedung yang digunakan untuk pemberian penghormatan kepada Sutan Sjahrir
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto 1-5)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.

Selasa, 22 Januari 2019

Coretan "Merdekka" di Monumen Van Heutsz di Amsterdam

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: kemungkinan akhir 1940-an
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Kawasan monumen untuk mengenang panglima perang Belanda di Perang Aceh, Joannes Benedictus van Heutsz, dicoreti kata "MERDEKKA". Kelebihan huruf "K" menunjukkan kemungkinan bahwa ini dilakukan oleh warga Belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: Sekarang ini gambar dan nama "Van Heutsz" sudah hilang dari monumen ini, dan namanya berganti menjadi Monument Indië-Nederland. Monumen ini kemudian memang kontroversial karena mengagungkan seseorang yang membuat ribuan rakyat Aceh terbunuh. Di Jakarta sendiri, monumen Van Heutsz di kawasan Menteng dirobohkan di tahun 1960-an.

Rabu, 16 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 6: Sambutan ketika kembali ke Belanda, 1925


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC di atas wilayah Belanda dalam penerbangan pulang dari Jakarta, kali ini menggunakan pesawat berkode H-NACK, tetap dari jenis Fokker VII
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pesawat H-NACK mendarat di Schiphol, tampak baling-balingnya masih berputar
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan meriah atas tiga orang pertama yang terbang pulang-pergi dari Belanda ke Hindia-Belanda; kali ini karangan bunganya lebih besar, dan tiap awak memperoleh satu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: April 1925
Tempat: Schiphol (Amsterdam)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 06 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 1: Perjalanan di Eropa, 1924

PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Schiphol: Tiga awak H-NACC sebelum lepas landas, yaitu H. van Weeden Poelman,  A.N.J. van der Hoop, P.A. van den Broeke (dari kiri ke kanan). Ketika mereka nanti kembalinya ke Schiphol, rangkaian bunga yang mereka akan lebih besar, dan lebih banyak.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kerusakan mesin di Plovdiv, Bulgaria, yang membuat pesawat harus menuggu sekitar satu bulan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
H-NACC di Plovdiv dengan ditopang segala macam benda darurat. Tampak pula baling-baling pesawat sudah dicopot.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan yang meriah di Istambul, ketika akhirnya pesawat bisa melanjutkan perjalanan dan mendarat selamat di Turki
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: Oktober 1924
Tempat: Amsterdam, Plovdiv, Istambul
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 16 Desember 2018

Tentara Belanda diberangkatkan dari Amsterdam untuk menguasai kembali Indonesia, 1946

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 29 Oktober 1946
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Kontingen pasukan Belanda yang siap diberangkatkan ke Indonesia berpose dengan wajah ceria di gerbong kereta bercoretkan Leve Holland (Hidup Belanda), Denk aan Ons (Ingat Kami), Een laatste groet uit Holland (Salam Terakhir dari Belanda), Amsterdam-Batavia, Circus Taats op Tour (Rombongan Sirkus Keliling), Wij Moeten (Kita Harus).
Fotografer: Henk Blansjaar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 27 Juni 2018

Penampilan tim sepakbola Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938

Reims, 5 Juni 1938, pertandingan babak awal Piala Dunia di Perancis: Tim berkaos terang adalah Hungaria, yang beberapa hari kemudian masuk final dan menjadi runner-up. Tim berkaos gelap-terang berasal dari … Indonesia, atau Hindia-Belanda ketika itu. Ini adalah kesebelasan pertama dari Asia di ajang Piala Dunia.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Setelah perjalanan berminggu-minggu dengan kapal laut, dan asupan makanan yang beda di lidah, tim kulit sawo-matang ini kalah 0-6 dari Hungaria. Lumayan mencolok, tapi saat itu Kuba kalah lebih telak: 0-8 lawan Swedia. Swedia sendiri kemudian dikalahkan … Hungaria. Sistem gugur membuat tim Hindia-Belanda hanya berkesempatan main satu kali.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ini dia wajah sebelas orang Asia pertama di Piala Dunia (atau mungkin sepuluh tanpa pemain paling kiri?). Pria berkacamata di tengah adalah kapten tim, Achmad Nawir, seorang terpelajar bergelar doktor. Foto diambil di Amsterdam, tanggal 27 Juni 1938, tepat 80 tahun lalu, saat tim ini berhadapan dengan kesebelasan Belanda dalam sebuah pertandingan persahabatan.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: 5 dan 27 Juni 1938
Tempat: Reims (Perancis), Amsterdam
Tokoh: Achmad Nawir (tokoh sepakbola Indonesia)
Peristiwa: 
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Rabu, 01 November 2017

Wajah Multatuli alias Eduard Douwes Dekker dari berbagai masa

Amsterdam 1853
(klik untuk memperbesar | © G. SIgling / KITLV)
1880
(klik untuk memperbesar | © KITLV)
Bandung 1925
(klik untuk memperbesar | © KITLV)

Waktu: 1853, 1880, 1925
Tempat: Amsterdam, Bandung
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde
Catatan:

Rabu, 08 April 2015

Pertandingan sepakbola antara Hindia-Belanda melawan Belanda di Amsterdam, 1938

Tim sepakbola Hindia-Belanda berfoto bersama di Amsterdam, setelah mengikuti Piala Dunia 1938 di Perancis.
(klik untuk memperbesar | © KVNB via gahetna)
Achmad Nawir (kapten kesebelasan Hindia-Belanda) di sebelah Puck van Heel (kapten kesebelasan Belanda) menuju lapangan.
(klik untuk memperbesar | © KVNB via gahetna)
Gol untuk Belanda.
(klik untuk memperbesar | © KVNB via gahetna)
Gol lagi untuk Belanda.
(klik untuk memperbesar | © KVNB via gahetna)
Gol lagi untuk Belanda. KVNB tampaknya hanya mengarsip foto yang menunjukkan gawang Hindia-Belanda kebobolan.
(klik untuk memperbesar | © KVNB via gahetna)
Waktu: 26 Juni 1938
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Pertandingan persahabatan antara Hindia-Belanda melawan Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam. Adu laga ini berakhir 9-2 untuk Belanda.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Foto Achmad Nawir sudah muncul di blog ini sebelumnya. Kali ini ukurannya lebih besar.

Minggu, 31 Agustus 2014

Acara pengakuan Kerajaan Belanda atas kedaulatan Indonesia, 1949

(klik untuk memperbesar)
Waktu: 27 Desember 1949
Tempat: Istana Kerajaan Belanda di Amsterdam
Tokoh: Muhammad Hatta (Wakil Presiden RI), Juliana (Ratu Belanda), Willem Drees (PM Belanda; berdiri), Sultan Hamid II (anggota delegasi Indonesia; di sebelah Hatta)
Peristiwa: Acara pengakuan Kerajaan Belanda atas kedaulatan Indonesia, di Amsterdam 1949, menyusul penandatanganan hasil Konferensi Meja Bundar.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Sebelumnya, blog ini menyebut acara ini berlangsung di Den Haag, padahal seharusnya di Amsterdam.