Tampilkan postingan dengan label Ambarawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ambarawa. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2018

Aksi Polisionil 1: Kunjungan wartawan Arab ke Salatiga dan Ambarawa, 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: September 1947
Tempat: Ambarawa/Salatiga
Tokoh:
Peristiwa: Dua (?) wartawan Arab berkunjung ke wilayah Ambarawa/Salatiga pada saat berkecamuknya perang antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan. Di foto tampak mereka didampingi penghubung dari militer Belanda dan warga Indonesia berpeci (yang mungkin menjadi penterjemah).
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 11 April 2018

Aksi Polisionil 1: Beberapa foto dari Jawa Tengah

Banyumas, September 1947: Sabotase TNI atas jembatan di atas parit ini memperlambat laju kendaraan lapis baja Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
27/28 Juli 1947: Pos pemberhentian Belanda di antara Banyumas dan Cilacap
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
20 Juli 1947: Pasukan Belanda menguasai alun-alun Purwokerto
(klik untuk memperbesar | © Hugo Wilmar / spaarnestad / gahetna)
Konvoi pasukan Belanda di Solo
(klik untuk memperbesar | © Henri  Cartier Bresson / Magnum / gahetna)
Tegal, Juli 1947: Penduduk membongkar barikade yang dipasang para pejuang, dengan disaksikan prajurit Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ambarawa, Agustus 1947: Kesatuan KNIL dalam pertempuran melawan para pejuang kemerdekaan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1947
Tempat: Ambarawa, Banyumas, Cilacap, Purwokerto, Solo, Tegal
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar (2 foto), Henri  Cartier Bresson (1 foto)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

UPDATE 3 Januari 2020
Foto nomor 3 dalam ukuran yang lebih besar:

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaanerstad)

Minggu, 24 Juli 2016

Aksi Polisionil 1: Gerakan pasukan KNIL dan Belanda di Ambarawa, Agustus 1947

Mengintai
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Membidik
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Menyisir perkampungan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Menyisir perkampungan
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Menghadapi perkampungan yang dibumihanguskan para pejuang
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
Menghadapi perkampungan yang dibumihanguskan para pejuang
(klik untuk memperbesar | © P. de Bruijn / gahetna)
Mencari ranjau yang ditanam para pejuang
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: Agustus 1947
Tempat: Ambarawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: P. de Bruijn (nomer 4 dan 5)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:


UPDATE 13 November 2016
Siap menembakkan mortir
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Kamis, 17 Maret 2016

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 7: Polisi lokal di Ambarawa

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.

7. Foto-foto di bawah menampilkan pelantikan kesatuan baru polisi bersenjata, yang terdiri dari warga lokal yang setia kepada Belanda, di benteng Willem I di Ambarawa, 1 Maret 1948.

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 1 Maret 1948
Tempat: Fort Willem I (Ambarawa)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Kamis, 10 Maret 2016

Mural mendukung kemerdekaan Indonesia (7)

Djangan djoeal apa2 kepada moesoeh! Dia oentoeng, kita boentoeng.
Tangerang, 28 Mei 1946
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Bersatoelah
Ambarawa, 28 Juli 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Merdeka, pasti menang.
Bondowoso, 13 Maret 1949
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: l.d.a.
Tempat: l.d.a.
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt (foto bawah)
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 14 Februari 2016

Penjara militer Ambarawa di tahun 1947

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 27 September 1947
Tempat: Ambarawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Minggu, 17 Januari 2016

Wajah bocah-bocah Indonesia di masa perang kemerdekaan (1)

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Waktu: 18/27 September 1949
Tempat: Ambarawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Th. van de Burgt
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Tampak bahwa katapel menjadi asesoris wajib buat sebagian bocah cowok di masa itu. Sebagian anak tampak pula berbaju karung goni.

Senin, 14 Desember 2015

Reruntuhan prasasti mengenang pertempuran Ambarawa

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: antara 1946-1949
Tempat: Ambarawa
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 07 Juli 2014

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 6

Tidak semua rakyat Hindia Belanda menginginkan kemerdekaan. Dengan berbagai alasan beberapa pihak malah lebih senang hidup di bawah kekuasaan Belanda atau malah memusuhi para pejuang kemerdekaan. Generalisasi tentu tidak bisa disimpulkan terhadap kelompok atau suku tertentu. Tapi foto-foto berikut mudah-mudahan bisa menambah bahan masukan untuk diskusi tentang hal ini.


6. Kelompok keenam dan tampaknya yang paling berbahaya adalah warga lokal yang tergabung dalam pasukan KNIL. Sebagai tentara profesional, mereka adalah serdadu yang terlatih dan dipersenjatai cukup maju oleh pihak militer Belanda.

Ada banyak foto tentang KNIL, tapi kita batasi ke beberapa saja.

© gahetna
Foto di atas memperlihatkan tiga serdadu KNIL di saat perang kemerdekaan. Mereka, dari kiri ke kanan, bernama Emous (Sunda), Kopral Sahetapy (Ambon), dan Wungouw (Minahasa).

© gahetna
Foto di atas memperlihatkan tiga serdadu KNIL berjaga di Pasar Minggu, Jakarta, dengan mitraliur. Di latar belakang tampak coretan dukungan terhadap Belanda dengan bunyi "Hidoep Sri Baginda Wilhelmina" dan dalam bahasa Belanda "Leve Koningin Wilhelmina".

© gahetna
Foto ini memperlihatkan wajah-wajah tentara Belanda yang tidak bule. Mereka adalah kesatuan KNIL yang baru saja menggempur para pejuang kemerdekaan di pertempuran Ambarawa.

© gahetna
Foto di atas memperlihatkan tentara KNIL dari wilayah Arjawinangun, Cirebon, yang sudah pensiun tetapi diaktifkan kembali oleh Belanda untuk melawan para pejuang kemerdekaan. Nama-namanya dari kiri ke kanan, berikut usia dan masa aktif di ketentaraan kolonial:
    Daswan umur 50 tahun, 22 tahun sebagai KNIL
    Arpan 51, 22
    Sayim 52, 22
    Kadma 51, 24
    Umar 53, 24
    Talim 54, 24
    Amat 53, 23
    Wagiwin 50, 22
Waktu: antara 1946 dan 1949
Tempat: Jakarta, Ambarawa, Cirebon
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Nationaal Archief


Kamis, 05 Juni 2014

Jembatan yang dirusak pejuang kemerdekaan untuk menghambat gerakan pasukan Belanda - Jawa Timur

Kepanjen, Malang
Dinoyo, Pacet, Mojokerto
Dinoyo, Pacet, Mojokerto
Dinoyo, Mojokerto
Waktu: di antara 1946 dan 1949
Tempat: Jawa Timur
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief


UPDATE 2 Agustus 2015:
Ambarawa, 1947
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Kamis, 08 Agustus 2013

Pasukan Inggris membebaskan kamp tawanan Banyubiru, Ambarawa, 1945

(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
(klik untuk memperbesar)
Waktu: 1945
Tempat: Ambarawa
Tokoh:
Peristiwa: Pasukan Inggris bergerak dari Ambarawa menuju Banyubiru untuk membebaskan sebuah kamp yang digunakan Jepang untuk menawan warga Belanda dan kemudian dikuasai oleh pejuang Indonesia. Setelah melewati blokade jalanan (foto ke-1), baku tembak dengan pejuang (foto ke-2), yang membawa korban di pihak Indonesia (foto ke-3), pasukan Inggris sampai dan disambut gembira oleh para tawanan (foto ke-4).
Sumber / Hak cipta: Imperial War Musem
Catatan: