Selasa, 13 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1616: Sumatera

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1616
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Wilayah Malaka dan Sumatera merupakan kawasan yang relatif awal dipetakan oleh bangsa-bangsa Eropa, seperti yang diperlihatkan oleh peta berbahasa Latin dari awal abad ke-17 ini. Peta ini sudah tepat menempatkan Aceh (Achem) di utara (di peta ini menghadap ke kanan) dan Palembang (PalimbaƵ) di selatan; tetapi, banyak tempat lain yang masih salah letak. Misalnya Minangkabau dan Indrapura ditempatkan di selatan; sementara di Sumatera Barat malah ada Teluk Banten (?). Kawasan Bata(k?) berada di lautan, dan Bengkalis seolah-olah dipisahkan oleh sungai dari Sumatera, bukan oleh laut.
Juru kartografi: Barent Langenes
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Senin, 12 Agustus 2024

Pertemuan petinggi Belanda dengan beberapa pemuka masyarakat Sulawesi Selatan, 1946 (1)

Kelompok pemusik yang menyertai acara pertemuan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pertemuan ini dihadiri a.l. oleh Raja Gowa ke-35, I Mangimangi Daeng Mattutu Karaeng Bontonompo, (di depan kursi) dan kemungkinan juga Arung Enrekang ke-13, Andi Muhammad Tahir (berdasi)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Dua petinggi Belanda di depan meja hidangan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Meja hidangan di acara pertemuan, difoto dari sudut lain
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Sulawesi Selatan (Gowa?)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Minggu, 11 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1750 yang berpusat di Laut Sulawesi

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: ~1750
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini cukup unik karena menjadikan Laut Sulawesi sebagai pusatnya, sehingga mencakup wilayah yang sekarang berada di empat negara, yaitu Brunei, Filipina, Indonesia, serta Malaysia. Saat itu tapi peta ini membagi pulau-pulau ini dalam empat kelompok: Filipina, Jawa serta Kepulauan Sunda Kecil, Kalimantan, dan Sulawesi beserta Maluku.
Juru kartografi: Jacques Nicolas Bellin
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Sabtu, 10 Agustus 2024

Musa Surianata Jumena dan Burhanudin di acara pendirian PBB di San Francisco, 26 Juni 1945

Ketika PBB didirikan di San Francisco pada tanggal 26 Juni 1945, dan perwakilan dari 50 negara pendiri menandatangani piagam PBB, banyak tidak diketahui bahwa paling tidak ada dua orang asal Indonesia hadir di acara ini, meskipun Republik Indonesia saat itu belum lahir dan masih berada di bawah pendudukan Jepang.

Yang pertama adalah seorang diplomat asal Pasundan bernama Raden Muhammad Musa Surianata Jumena, yang saat itu menjadi Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Belanda di AS. Di tahun 1949, Musa Surianata sempat ditunjuk menjadi Konsul Belanda di Manila. Setelah pengakuan kemerdekaan oleh Belanda, tampaknya Musa kemudian berbakti untuk Republik Indonesia.

Yang kedua adalah Burhanuddin, seorang wartawan yang menerbitkan suratkabar Penjoeloeh.

Berikut beberapa foto tentang Musa dan Burhanudin di acara pendirian PBB.

Musa (berkacamata) bersama diplomat Belanda Adrian Pelt dan J.H. Sprockel
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa (nomor 3 dari kanan), dan Burhanudin (nomor 6 dari kanan) pada saat delegasi Belanda menandatangani Piagam PBB yang diwakili oleh Dr. A. Loudon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa dan Burhanudin di antara para petinggi sipil dan militer a.l. Charles Olke van der Plas (berjenggot), mantan Gubernur Jawa Timur yang kelak sangat menentang kemerdekaan Indonesia
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Musa kali ini tampak mundur ke belakang, sementara Burhanudin tetap di belakang A. Loudon
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 26 Juni 1945
Tempat: San Francisco
Tokoh: Burhanudin (wartawan penerbit suratkabar Penjoeloeh), Raden Muhammad Musa Surianata Jumena (diplomat Belanda asal Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Jumat, 09 Agustus 2024

Peta rahasia VOC dari tahun 1719: Selat Sunda

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1719
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi: Para peta umumnya terfokus pada pulau, atau kepulauan. Dokumen ini menjadi menarik karena memetakan sebuah selat, tepatnya Selat Sunda antara Jawa dan Sumatera. Peta navigasi ini berharga karena menjadi salah satu kunci kendali atas jalur laut yang penting ini. Tidak mengherankan apabila VOC menyimpan peta ini sebagai berkas rahasia dan tidak mempublikasikannya.
Juru kartografi: keluarga Van Keulen
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan:

Kamis, 08 Agustus 2024

Kunjungan Jenderal Van Oyen ke Keraton Kadariah, Pontianak 1946 (2)

Didi van Delden (kiri) dan suaminya, Sultan Hamid II (kanan)
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Mayjen Van Oyen dan Didi van Delden dipayungi, sementara Sultan Hamid II berada di latar depan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Seorang Belanda dan Indonesia dalam seragam KNIL di acara kunjungan Von Oyen ke Pontianak
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: kemungkinan 1946
Tempat: Pontianak
Tokoh: Sultan Hamid II (Sultan Pontianak); Didi van Delden (istri Sultan Hamid II); Mayor Jenderal Ludolph Hendrik van Oyen (Panglima KNIL 1942-1946)
Peristiwa: Panglima KNIL, Mayjen Van Oyen, berkunjung ke Pontianak, disambut oleh Sultan Hamid II dan istrinya, Didi van Delden
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Rabu, 07 Agustus 2024

Peta kuno dari tahun 1773: Nusantara

(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1773
Tempat terbit: Paris
Tokoh:
Deskripsi: Peta ini menampilkan wilayah Indonesia dengan proporsi dan kontur yang lumayan, terlepas dari Papua yang saat itu memang belum banyak terjelajahi. Wilayah yang kaya rempah-rempah ditampilkan khusus di pojok kiri bawah dengan skala yang lebih besar. Peta ini juga dilengkapi dengan arah angin monsun dengan informasi mengenai bulan terkait dengan arah angin ini.
Juru kartografi: M. Bonne
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: