Jumat, 18 Januari 2019

Rangkaian penerbangan bermotor pertama di wilayah udara Indonesia oleh Gijs Küller, 1911

Semarang, April 1911: Gijs Küller (dengan tanda silang) di depan pesawat Antoinette rancangannya, sebelum terbang pertama kali di wilayah Semarang
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Antoinette terbang di wilayah udara Semarang; beberapa hari sebelumnya, pesawat bermotor tunggal ini terbang di atas Surabaya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Warga Belanda yang datang menonton tercengang kagum ketika untuk pertama kalinya melihat manusia bisa terbang dengan mesin dari  baja
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sebuah poster di Belanda yang mencoba menggambarkan bagaimana Gijs Küller berhasil terbang di wilayah udara Indonesia, lengkap dengan gunung, pesawahan, dan kira-kira bagaimana tampang warga Indonesia saat itu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1911
Tempat: Semarang (tiga foto atas), Belanda (foto bawah)
Tokoh: Gijsbertus P. Küller (perintis dunia penerbangan Belanda)
Peristiwa: Salah satu penerbangan bermotor pertama di wilayah udara Indonesia
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 17 Januari 2019

Beberapa foto dari tahun 1950-an

Ini adalah beberapa foto tanpa catatan yang mengundang pembaca untuk memberikan kontribusi tentang peristiwa apa, di mana, dan kapan.
Keterangan di bawah hanya perkiraan yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Ujuk rasa ke Istana Merdeka 17 Oktober 1952?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Pemberontakan PRRI/Permesta?
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
17 Desember 1957: Kesebelasan Belanda meninggalkan lapangan hijau dalam suasana panas ketika Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1950-an
Tempat: ?
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 16 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 6: Sambutan ketika kembali ke Belanda, 1925


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC di atas wilayah Belanda dalam penerbangan pulang dari Jakarta, kali ini menggunakan pesawat berkode H-NACK, tetap dari jenis Fokker VII
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Pesawat H-NACK mendarat di Schiphol, tampak baling-balingnya masih berputar
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Sambutan meriah atas tiga orang pertama yang terbang pulang-pergi dari Belanda ke Hindia-Belanda; kali ini karangan bunganya lebih besar, dan tiap awak memperoleh satu
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: April 1925
Tempat: Schiphol (Amsterdam)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Selasa, 15 Januari 2019

Para petinggi TNI di tangga Istana Merdeka, di penghujung 1960-an

(klik untuk memperbesar | © gahetna)
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: penghujung 1960-an
Tempat: Istana Merdeka (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan:

Senin, 14 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 5: Acara penghargaan untuk ketiga awak pesawat, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Ketiga awak H-NACC duduk di panggung dalam acara sambutan dan penghargaan yang diadakan pemerintah Hindia-Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak berdiri di panggung menghadap para pembesar Belanda di Jakarta
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Tugu dengan model pesawat Fokker VII H-NACC yang didirikan di Medan sebagai tempat pertama di wilayah Hindia-Belenda yang didarati sebuah pesawat yang terbang dari Belanda
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1924 (dua foto atas), 1925 (foto bawah)
Tempat: Jakarta (dua foto atas), Medan (foto bawah)
Tokoh:
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Minggu, 13 Januari 2019

Peristiwa 17 Oktober 1952: Pengunjuk rasa dan tentara di Istana Merdeka

(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 17 Oktober 1952
Tempat: Istana Merdeka (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa: Di tahun 1952 TNI merasa bahwa para politisi, dengan didiamkan atau malah didukung Presiden Soekarno, terlalu mencampuri urusan internal tentara. Sebuah unjuk rasa dicetuskan, dan tentara termasuk kesatuan tank bergerak ke Istana dengan alasan untuk melindunginya, tetapi dengan moncong meriam diarahkan ke Istana.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Het Nationaal Archief
Catatan: Peristiwa yang mirip terulang di tahun 2001 ketika hubungan Presiden Abdurrahman Wahid dengan Polri serta TNI tidak begitu harmonis. Presiden dianggap menimbulkan perpecahan terutama di badan Polri. Ketika Gus Dur hendak mengelurkan dekrit atau maklumat, sementara MPR mempersiapkan pemakzulan Presiden, kesatuan tentara mengadakan "apel siaga" di Monas, dengan alasan untuk melindungi Istana, tetapi dengan moncong tank mengarah ke Istana.

Sabtu, 12 Januari 2019

Penerbangan pertama dari Belanda ke Indonesia 4: Penyambutan di Cililitan, 1924


PENGANTAR

Penerbangan dari Indonesia ke Eropa saat ini "hanya" menyita waktu belasan jam. Di zaman Belanda dulu, pelayaran dengan kapal uap bisa menempuh waktu sekitar dua bulan penuh.

Usaha mempersingkat waktu tempuh ini pertama kali dilakukan oleh KLM dengan menggunakan pesawat Fokker VII dengan kode H-NACC. Pesawat bermesin tunggal ini memiliki daya jelajah di sekitar 1.000 km. Jadi, jarak dari Belanda ke Indonesia yang sekitar 16.000 km paling tidak harus ditempuh dengan belasan kali pemberhentian.

Sejatinya, pesawat ini harus melakukan 21 kali pemberhentian. Dia lepas landas dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober 1924, dan mendarat di Jakarta pada tanggal 24 November 1924. Sebuah perjalanan yang lumayan lama, sekitar 55 hari.

Penyebab utama keterlambatan adalah ketika mesin pesawat rusak di Bulgaria. Awak pesawat harus menunggu sekitar satu bulan hingga mesin pengganti datang, lewat jalur darat. Itupun dikabarkan bahwa pembelian mesin baru merupakan usaha patungan dari warga Belanda.

Pada akhirnya, pesawat dengan tiga awak ini memang mencatat sejarah, dan meyakinkan masyarakat, baik di negeri Belanda maupun di Hindia-Belanda, bahwa perjalanan udara antar dua wilayah ini dimungkinkan dan tinggal masalah waktu saja.

Gubernur Jenderal Dirk Fock (berkumis) hadir di acara penyambutan kedatangan H-NACC
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Para istri pembesar Belanda tak mau ketinggalan, hadir dengan pakaian meriah
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Ketiga awak pesawat, dengan pakaian rapi, dalam acara jamuan penyambutan
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 24 November 1924
Tempat: Cililitan (Jakarta)
Tokoh: Dirk Fock (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda 1921-1926)
Peristiwa: l.d.a.
Fotografer: 
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: