Selasa, 18 Desember 2018

Kedatangan kembali kapal dan tentara Belanda di Tanjung Priuk, 1946

Kapal-kapal Belanda yang membawa pasukan NICA berlabuh di Tanjung Priuk
(klik untuk memperbesar | © W.F.J. Pielage / spaarnestad)
Psukan Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk berkuasa kembali setelah Jepang mendepak Belanda keluar empat tahun sebelumnya
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 1946
Tempat: Tanjung Priuk (Jakarta)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: W.F.J. Pielage (foto atas)
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Senin, 17 Desember 2018

Perayaan Imlek di alun-alun Tulungagung, 1902

(klik untuk memperbesar | © Universiteit Leiden)
Waktu: kemungkinan Februari 1902
Tempat: Tulungagung
Tokoh:
Peristiwa: Foto ini berasal dari album perjalanan seorang Belanda bernama A.E.F. Muntz yang berada di Hindia-Belanda dari Maret 1901 hingga ke Juli 1902. Foto ini diberi catatan nieuwjaarsfeesten (perayaan tahun baru) dan Chinese erepoort (gerbang Tionghoa). Kemungkinan ini adalah bagian dari perayaan Imlek di tahun 1902 M, yang jatuh di bulan Februari.
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Universiteit Leiden
Catatan:

Minggu, 16 Desember 2018

Tentara Belanda diberangkatkan dari Amsterdam untuk menguasai kembali Indonesia, 1946

(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)

Waktu: 29 Oktober 1946
Tempat: Amsterdam
Tokoh:
Peristiwa: Kontingen pasukan Belanda yang siap diberangkatkan ke Indonesia berpose dengan wajah ceria di gerbong kereta bercoretkan Leve Holland (Hidup Belanda), Denk aan Ons (Ingat Kami), Een laatste groet uit Holland (Salam Terakhir dari Belanda), Amsterdam-Batavia, Circus Taats op Tour (Rombongan Sirkus Keliling), Wij Moeten (Kita Harus).
Fotografer: Henk Blansjaar
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Jumat, 14 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciën, 1933 (2)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciën adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciën berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.

Pesawat amfibi dan kapal selam yang memburu De Zeven Provinciën.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
De Zeven Provinciën rusak setelah dijatuhi bom yang menewaskan 23 awak kapal.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) mendekati De Zeven Provinciën (kanan) setelah kapal yang memberontak ini dibom.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal angkut Orion membawa para awak De Zeven Provinciën ke Pulau Onrust untuk ditahan.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto terakhir: perairan Pulau Onrust)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan:

Kamis, 13 Desember 2018

Warga lokal yang tidak bersahabat dengan para pejuang kemerdekaan 13: Para prajurit KNIL

1946/1947: Kesatuan KNIL di-reorganisir setelah pasukan Jepang pulang ke tanah airnya dan militer Belanda kembali datang ke Indonesia. Tampak serdadu KNIL berbaris dengan kelewangnya.
(klik untuk memperbesar | © Jan Stevens / spaarnestad)
14 November 1947: Van Mook menyematkan tanda kehormatan pada prajurit KNIL yang dianggap berjasa untuk Kerajaan Belanda
(klik untuk memperbesar | © gahetna)
Purwokerto, 9 Desember 1947: Tentara KNIL penuh percaya diri dengan senjata apinya
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Indralaya, Februari 1948: Pasukan KNIL menyusuri sungai
(klik untuk memperbesar | © Bosman / gahetna)
Jawa Tengah, Maret 1948: Pasukan KNIL di sebuah stasiun kereta terakhir sebelum garis demarkasi
(klik untuk memperbesar | © J.C. Taillie / gahetna)
Oktober 1949: Pasukan infantri KNIL di Batusangkar
(klik untuk memperbesar | © gahetna)

Waktu: 1946, 1947, 1948, 1949
Tempat: Batusangkar, Indralaya, Jawa Tengah, Purwokerto
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Jan Stevens  / J.C. Taillie / Bosman
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo / Het Nationaal Archief
Catatan:

Rabu, 12 Desember 2018

Pemberontakan kapal perang De Zeven Provinciën, 1933 (1)

Kapal HNMLS De Zeven Provinciën adalah sebuah kapal perang Belanda buatan tahun 1909. Di bulan November 1910 kapal ini berangkat dari Belanda menuju Hindia-Belanda, tempat dia nantinya bertugas, dan sampai dua bulan kemudian di Januari 1911.

Di bulan Februari 1933, ketika kapal ini berada di perairan barat laut Sumatera, para awak dan serdadu kapal mendapat kabar bahwa pemerintah Hindia-Belanda akan melakukan tindakan pemotongan upah dan gaji sebagai kebijakan menghadapi resesi ekonomi dunia saat ini. Hal ini memicu para awak kapal untuk melakukan pemberontakan. Kejadian ini mengagetkan masyarakat Belanda dan menggemparkan dunia politik Belanda, bahkan hingga beberapa bulan sesudahnya.

Selama enam hari, De Zeven Provinciën berlayar menyusuri pantai Sumatera ke arah selatan, hinggak akhirnya pemerintah Belanda (bukan Hindia-Belanda) memberi lampu hijau kepada kesatuan KNIL Udara untuk membom pesawat yang membangkang ini. Dua puluh tiga awak tewas akibat serangan udara, sementara lambung pesawat rusak berat.

Pemberontakan berakhir. Para awak dan serdadu yang memberontak dibawa ke Pulau Onrust dan dipenjarakan. Salah satunya adalah awak asal Maluku, Pelupessy, yang kemudian, ketika Indonesia menyatakan merdeka, bergabung dengan Divisi Siliwangi di wilayah sekitar Tasikmalaya.


Kapal perang De Zeven Provinciën (atas), dikawal sebuah kapal torpedo (bawah) dalam perjalanan kedua dari Belanda menuju Hindia-Belanda.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kiri) dan Piet Hein (kanan) yang diperintahkan memburu De Zeven Provinciën.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal selam dan pesawat amfibi yang memburu De Zeven Provinciën.
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penyapu ranjau Gouden Leeuw (kanan) mebuntuti dan mengawasi De Zeven Provinciën (kiri).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Kapal penjelajah Java (kanan) dan Piet Hein (kiri) mengepung De Zeven Provinciën (tengah).
(klik untuk memperbesar | © spaarnestad)
Waktu: Februari 1933 (kecuali foto pertama, 1921)
Tempat: perairan lepas pantai Sumatera (kecuali foto pertama, perairan Den Helder, Belanda)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Spaarnestad Photo
Catatan: