Senin, 17 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (3)

Wajah Desa Dobo di pesisir Kepulauan Aru
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Gunung Api Banda dengan tiga kepulan asap
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Sepasang burung cenderawasih dari spesies Parotia aurea
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)
Seekor burung cenderawasih jantan dari spesies Paradisea rubra
(klik untuk memperbesar | © Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Minggu, 16 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 3: Wajah para pekerja pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Sebuah truk yang mengangkut mesin pendingin dikelilingi pekerja dan warga
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerja berseragam, kemungkinan bersama anak dan istri
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para mandor perkebunan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Para montir pabrik dengan latar belakang sebuah bangunan pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Sabtu, 15 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (2)

Lelaki Papua dari wilayah Selat Muli (dulu Selat Putri Marianne)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Lelaki Papua dari wilayah Teluk Doreh, Manokwari
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Warga Papua berkumpul di bawah sebuah pohon
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Jumat, 14 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2b: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Bagunan ketel uap yang dipasang kembali dikelilingi sisa-sisa tembok bangunan lama
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan bongkar pasang di area pabrik
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Pekerjaan di rangka atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Salah satu area difoto dari ketinggian, memperlihatkan berapa besar ukuran satu bangunan saja, dengan bangunan lain di latar belakang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Kamis, 13 Maret 2025

Dari Papua sampai ke Aceh: Nusantara dalam sketsa keluaran tahun 1883 (1)

Teluk Doreh di Manokwari (atas); senjata dan perkakas warga Papua (bawah)
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Perahu Papua
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)
Wajah warga suku Arfak di Papua Barat
(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Tahun terbit: 1883
Tempat terbit: Amsterdam
Tokoh:
Deskripsi:
Juru foto/gambar:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: Lihat juga posting 1, 2, dan 3 sebelum ini.

Rabu, 12 Maret 2025

Perkebunan teh "Pangerango" di Sukabumi di sekitar awal tahun 1950-an - 2a: Usaha pendirian kembali bangunan pabrik

Perkebunan teh "Pangerango" didirikan perusahaan "H.G.Th. Crone" di sekitar akhir abad ke-19/awal abad ke-20 di Pasir Datar, sebuah desa di kaki Gunung Pangrango, yang sekarang masuk Kecamatan Caringin, Sukabumi. "Henrich Gottfried Theodor Crone" sendiri merupakan sebuah usaha dagang di Amsterdam yang mengimpor hasil bumi dari Hindia-Belanda dan menjualnya di Eropa. Foto-foto berikut tidak mencantumkan tanggal, dan hanya berisi keterangan singkat. Jadi kemungkinan foto-foto ini berisi hal-hal ini:

  • Wajah area perkebunan setelah pemilik Belanda-nya kembali menyusul selesainya Perang Kemerdekaan dan adanya pengakuan kedaulatan dari Belanda terhadap Republik Indonesia.
  • Usaha membangun kembali bangunan pabrik yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang kemerdekaan.
  • Wajah warga sekitar yang bekerja di pabrik teh.
  • Wajah para pegawai, termasuk bagian keamanan yang bersenjata api ketika suasana paska-pengakuan kedaulatan situasi masih dianggap belum stabil.
  • Foto perpisahan yang kemungkinan muncul setelah Soekarno menyerukan nasionalisasi aset-aset yang sebelumnya dikuasai dan dijalankan orang dan perusahaan Belanda.

Pemasangan rangka baja untuk tiang dan atap
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Gundukan bahan bangunan yang dijaga seorang berseragam
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Usaha membangun kembali dari sisa-sisa reruntuhan
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)
Sisa-sisa tembok yang tampaknya sebelumnya dibumihanguskan para pejuang
(klik untuk memperbesar | © Beeldbank WO2 / NIOD)

Waktu: 1950-an
Tempat: Desa Pasir Datar (Sukabumi)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer:
Sumber / Hak cipta: Beeldbank WO2 (Tweede Wereldoorlog) / NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie)
Catatan:

Selasa, 11 Maret 2025

Peta Jakarta dari abad ke-17/18: Satu basis tiga versi (2)

Ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang menampilkan bagaimana sebuiah peta tentang Jakarta yang dibuat di sekitar tahun 1650 menjadi dasar dari munculnya beberapa variasi dari tahun-tahun sesudahnya.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini adalah versi keluaran sejarawan Italia, Gregorio Leti di tahun 1690 di Amsterdam, yang tampak jelas merupakan sadura dari peta keluaran Frederik de Wit (lihat posting sebelumnya). Leti kelihatannya hanya menghapus kata "F de Witt …" setelah "Anno 1681" di spanduk judul. Perlu dicatat, bahwa kotretan di dekat ujung kanan bawah spanduk, di dekat tameng sang singa, bukanlah coretan biasa, tetapi menunjukkan tempat orang dihukum gantung, dengan lokasi di sekitar Ancol sekarang.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini merupakan versi tidak berwarna dari peta keluaran Gregorio Leti.

(klik untuk memperbesar | @ Indies Gallery)

Ini versi yang lebih "muda", yaitu keluaran tahun 1725 di Leiden dari tangan juru kartografi Pieter van der Aa. Versi ini mengubah gambar pelabuhan di tengah bawah, kemudian mengubah legenda di pinggir kanan dari bahasa Belanda ke bahasa Perancis, mengubah judul yang ada di spanduk, dan memasang kembali legenda berbahasa Belanda ke pinggir kiri.

Tahun terbit: 1690, 1725
Tempat terbit: Amsterdam, Leiden
Tokoh:
Deskripsi:
Juru kartografi:
Sumber / Hak cipta: Indies Gallery
Catatan: