Jumat, 20 Maret 2020

Jepretan Charles Breijer 1947-1953: Gelanggang Seniman Merdeka (1)

Mochtar Apin, Baharudin, Asrul Sani, Henk Ngantung, ..., ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Mochtar Apin, Baharudin, Henk Ngantung, Asrul Sani
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Mochtar Apin, Chairil Anwar, Baharudin, Henk Ngantung, ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Pelukis Baharudin dengan potret diri
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Baharudin dengan potret Asrul Sani
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Nederlands Fotomuseum)
Waktu: 1948
Tempat: Jakarta
Tokoh: para seniman di masa revolusi: Asrul Sani, Baharudin, Henk Ngantung, Mochtar Apin
Peristiwa:
Fotografer: Charles Breijer
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Nederlands Fotomuseum
Catatan:

Kamis, 19 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Pura Mayura dalam kekuasaan Belanda

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.


(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Mataram
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan:

Rabu, 18 Maret 2020

Kuburan pesawat militer Amerika di Papua setelah Perang Dunia II, 1947 (2)

PENGANTAR

Di awal Perang Dunia II, Amerika Serikat memiliki "hanya" sekitar 2.500 pesawat militer. Ketika PD II berakhir, jumlah itu sudah membengkak menjadi hampir 300.000 yang terutama digunakan di front Eropa dan Asia-Pasifik. Ketika perang berakhir, Amerika mengumpulkan pesawat-pesawat yang dianggap sudah tidak laik lagi di berbagai tempat, termasuk di Papua. Juru foto Belanda, Hugo Wilmar, yang foto-fotonya banyak merekam peristiwa pada masa perang kemerdekaan Indonesia, berkesempatan mengunjungi salah satu dari kuburan pesawat ini di Papua.

Lokasi tepatnya tidak disebutkan, tapi ada kemungkinan ini memang di Papua bagian barat. Kesimpulan ini didasarkan pada fakta bahwa sebagai orang Belanda dia lebih leluasa bergerak di bagian barat yang saat itu berada dalam kekuasaan NICA. Tapi tentunya bisa saja kesimpulan ini keliru.

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
Waktu: 1947
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Spaarnestad
Catatan:

Selasa, 17 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Wajah-wajah tentara KNIL

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

Kelompok sandiwara tentara Belanda di Ampenan.
Bandingkan dengan kelompok serupa semasa Perang Aceh di posting ini.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan Belanda di antara warga Sasak di rute Ampenan menuju Mataram
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Bivak pasukan Belanda di sekitar Ampenan.
Pada tanggal 26 Agustus 1894 area ini dihancurratakan dengan tanah.
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Gerbang masuk ke Mataram dalam kendali pasukan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Seorang Belanda di kampung warga Bali dekat Ampenan
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Letnan Satu H.J. Tromp de Haas yang menjadi dokter hewan urusan kuda perang
(klik untuk memperbesar | © NGA)
Pasukan KNIL lokal bersama seorang atasan Belanda
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Lombok
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan:

Senin, 16 Maret 2020

Kuburan pesawat militer Amerika di Papua setelah Perang Dunia II, 1947 (1)

PENGANTAR

Di awal Perang Dunia II, Amerika Serikat memiliki "hanya" sekitar 2.500 pesawat militer. Ketika PD II berakhir, jumlah itu sudah membengkak menjadi hampir 300.000 yang terutama digunakan di front Eropa dan Asia-Pasifik. Ketika perang berakhir, Amerika mengumpulkan pesawat-pesawat yang dianggap sudah tidak laik lagi di berbagai tempat, termasuk di Papua. Juru foto Belanda, Hugo Wilmar, yang foto-fotonya banyak merekam peristiwa pada masa perang kemerdekaan Indonesia, berkesempatan mengunjungi salah satu dari kuburan pesawat ini di Papua.

Lokasi tepatnya tidak disebutkan, tapi ada kemungkinan ini memang di Papua bagian barat. Kesimpulan ini didasarkan pada fakta bahwa sebagai orang Belanda dia lebih leluasa bergerak di bagian barat yang saat itu berada dalam kekuasaan NICA. Tapi tentunya bisa saja kesimpulan ini keliru.

(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / Spaarnestad)
Waktu: 1947
Tempat: Papua
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: Hugo Wilmar
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / Spaarnestad
Catatan:

Minggu, 15 Maret 2020

Lombok pada saat ekspedisi militer Belanda 1894: Pasukan kavaleri Belanda di Kali Jangkok

PENGANTAR

Di penghujung abad ke-19 Lombok dilanda pergolakan antara warga Sasak dan bangsawan Karangasem yang menguasai bagian barat pulau ini. Keterlibatan Belanda dalam pertikaian ini menghasilkan satu pemenang: Belanda, dan dua pengalah: Lombok dan Karangasem. Ekspedisi militer Belanda di tahun 1894 menjatuhkan kekuasaan Karangasem di Lombok, dan mengukuhkan kekuasaan Belanda atas pulau ini. Foto-foto berikut berasal dari saat ekspedisi ini.

(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)
(klik untuk memperbesar | © NGA)

Waktu: 1894
Tempat: Kali Jangkok (Ampenan, Lombok)
Tokoh:
Peristiwa:
Fotografer: C. Neeb
Sumber / Hak cipta: National Gallery of Australia / Charls, Van Es & Co
Catatan: Jembatan dan Kali Jangkok di atas menjadi objek foto beberapa kali sehingga menimbulkan pertanyaan apakah ada peristiwa khusus di lokasi tsb. Bandingkan posting sebelum ini yang menyebutkan perlawanan warga Lombok di sebuah jembatan.

Sabtu, 14 Maret 2020

Kedatangan jenazah Sutan Sjahrir di bandara Schiphol, 1966 (2)

PENGANTAR

Blog ini banyak memuat foto yang memperlihatkan andil Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu tragedi dalam sejarah republik ini adalah bahwa Sjahrir kemudian harus mengasingkan diri jauh dari negeri kelahirannya, dan menghembuskan nafas terakhirnya di negeri orang.

Ketika pemerintahan Soekarno mulai akhir 1950-an makin menunjukkan sifat otoriter, beberapa tokoh yang dianggap tidak sepaham dengan Soekarno ditangkap dan dipenjara, termasuk Sjahrir di tahun 1962. Kesehatan Perdana Menteri pertama ini memburuk di dalam tahanan, dan Sjahrir mengalami stroke di tahun 1965. Pahlawan yang mendapat julukan "Bung Kecil" ini —karena badannya memang tidak tinggi— kemudian mendapat izin untuk meninggalkan Indonesia menuju Swiss, dengan alasan demi perawatan kesehatan.

Di Swiss ini pula, Sjahrir beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 9 April 1966, meninggal dunia, tanpa sempat melihat kembali negeri yang kemerdekaannya dia perjuangkan. Jenazahnya diterbangkan dari Zurich ke Belanda, seperti yang akan ditampilkan di posting ini.

Jasad Sutan Sjahrir diturunkan dari pesawat ke mobil jenazah ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... kemudian dari mobil jenazah dipindahkan menuju ruang persemayaman ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... dengan disaksikan oleh warga masyarakat yang berdatangan ke bandara
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
Poppy Sjahrir menerima ucapan belasungkawa ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... termasuk dari Prof. Willem Schermerhorn ...
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)
... mantan Perdana Menteri Belanda yang merupakan "lawan" Sutan Sjahrir di perundingan Linggarjati
(klik untuk memperbesar | © Het Geheugen / ANP)

Waktu: 17 April 1966
Tempat: Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda
Tokoh: Willem Schermerhorn (Perdana Menteri Belanda 1945-1946 di saat awal pergolakan kemerdekaan Indonesia)
Peristiwa:
Fotografer: Ben Hansen (foto no. 1), Cor Mulder (foto no. 4-6)
Sumber / Hak cipta: Het Geheugen van Nederland / ANP Historisch Archief
Catatan: Sebelumnya di posting ini disebutkan bahwa istri Sjahrir di atas adalah "Maria Duchateau"; padahal seharusnya Siti Wahjunah Saleh (Poppy Sjahrir). Dengan ini informasi tsb. dibetulkan.